Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

EDUCATING CHILDREN WITH HEART AND SELF-QUALITY: IMPLICATIONS OF KI HADJAR DEWANTARA'S THINKING ON PRIMARY SCHOOL CHARACTER EDUCATION Yusuf Siswantara; Ace Suryadi; Mupid Hidayat; Ganjar Muhammad Ganeswara; Asnita Sirait
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i2.4566

Abstract

The problem of bad behavior of the younger generation in the form of juvenile delinquency is a major concern in character education in elementary schools. Using qualitative methods, this study aims to raise character education in the educational paradigm of Ki Hadjar Dewantara as a fundamental solution to the problem of juvenile delinquency. The results showed that both the inner interiority in Neng, Ning, Nung, and Nang, the person (will and heart) who is "antêp, mantêp, têtêp," the child's attitude that is "Ngandel, Kandêl, Kêndêl, Bandêl" (attitude area), and the educational method "Among" with spirit: "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani" can be an effective choice in developing character education. The recommendation for future research is to evaluate the effectiveness of the "Among, Momong, Ngemong" method by focusing on the factors of influence of family environment, peers, and school culture. The concrete solution for primary school education is the preparation of a curriculum that is more focused on building student character by incorporating eastern values and moral education as well as training and developing teacher competencies in carrying out character education in the daily learning process. Masalah perilaku buruk generasi muda dalam bentuk kenakalan remaja menjadi perhatian utama dalam pendidikan karakter di sekolah dasar. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat pendidikan karakter dalam paradigma pendidikan Ki Hadjar Dewantara sebagai solusi mendasar atas masalah kenakalan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter baik dalam interioritas batin dalam Neng, Ning, Nung, dan Nang, pribadi (kehendak dan hati) yang "antêp, mantêp, têtêp," sikap anak yang "Ngandel, Kandêl, Kêndêl, Bandêl" (area sikap), dan metode pendidikan “Among” dengan semangat: “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dapat menjadi pilihan efektif dalam mengembangkan pendidikan karakter. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah untuk mengevaluasi efektivitas metode "Among, Momong, Ngemong" dengan memfokuskan pada faktor-faktor pengaruh lingkungan keluarga, teman sebaya, dan budaya sekolah. Solusi konkret untuk pendidikan sekolah dasar adalah penyusunan kurikulum yang lebih terfokus pada pembentukan karakter siswa dengan memasukkan nilai-nilai ketimuran dan pendidikan moral serta pelatihan dan pengembangan kompetensi guru dalam melaksanakan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Kesadaran Digital Sebagai Pengembangan Karakter Kebangsaan Di Abad 21 Siswantara, Yusuf
Linggau Journal Science Education Vol. 1 No. 1 (2021): Linggau Journal Science Education
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.093 KB)

Abstract

Peradaban menuntut penyesuaian karakter generasi bangsa. Dunia digital dalam revolusi industri 4.0 di abad 21 menuntut kompetensi yang relevan. Hoax dan relativitas kebenaran menjadi tantangan bangsa sebab rupanya mampu menghadirkan potensi disintegrasi masyarakat atau bangsa. Dengan metode literatur review, penelitian ini melakukan studi awal tentang fenomena digital dalam kaitannya dengan karakter kebangsaan. Kesadaran digital merupakan karakter khas abad 21 dengan mengedepankan kesadaran kritis dan kompetensi literasi data, teknologi, dan humanitas. Hasil yang ditawarkan adalah bahwa kesadaran digital mampu mengembangkan karakter kebangsaan dalam dunia digital di abad 21. Kata Kunci: Digital, Karakter, kebangsaan, abad 21
Pengembangan Nilai Religius Nasionalis Berbasis Budaya Lokal Melalui Kesenian Seni Reak Yusuf Siswantara
Linggau Journal Science Education Vol. 1 No. 2 (2021): Linggau Journal Science Education
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.309 KB)

Abstract

Kebudayaan merupakan salah satu komponen yang menunjukkan jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Namun, perjumpaan budaya lokal dan budaya modern bisa mengancam budaya lokal beserta dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Revitalisasi nilai budaya lokal menjadi celah penelitian pendidikan nilai berbasis kebijaksanaan lokal. Dengan metode etnografi kritis, penelitian ini mengkaji dan menelaah kesenian Reak untuk mengangkat nilai religius nasionalis berbasis budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan nilai religius nasionalis bisa terdapat dalam kesenian Reak.
INKLUSIF: PERTOBATAN EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS Siswantara, Yusuf; Dian Tika Sujata; Ludovica Dewi Indah Setiawati
Kajian Sastra Nusantara Linggau Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Kastral
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.242 KB) | DOI: 10.55526/kastral.v2i2.297

Abstract

Krisis ekologi merupakan kehancuran lingkungan akibat eksploitasi alam. Sebagai satu dari masalah global, krisis ekologi lahir sebagai tindakan dosa ekologis yang dilakukan manusia. Tanpa pertobatan ekologis, kerusakan alam akan merajalela dan bumi tidak layak huni. Melalui studi literatur, penelitian ini bermaksud untuk mengeksplorasi peran pendidikan dalam krisis ekologi. Hasilnya adalah 1) krisis ekologi mewajibkan pertobatan ekologi, 2) pertobatan ekologi adalah kesadaran ekologis yang mengandung unsur: kesetaraan, unitas, saling terkait, dan utuh; 3) inklusif merupakan karakter pertobatan ekologis yang berdimensi spiritual; 4) pendidikan religius menjadi metode pengembangan karakter inklusif ekologis bagi generasi muda.
Developing Inclusive Values and Character: A Systematic Literature Review on Education Strategy in Religious-Based Social Conflicts Siswantara, Yusuf
Kajian Sastra Nusantara Linggau Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Kastral
Publisher : LP3MKIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55526/kastral.v4i1.449

Abstract

The diversity of society is the wealth of a nation, but it can also be a source of social conflict. Value education becomes a strategy for developing inclusive character. Educational research indicates the urgency of inclusive values and character as a strategy for addressing exclusive values in religious-based social conflicts. To explore scientific research on inclusive values, a systematic literature review was conducted as a research methodology. The SLR focused on seven questions, including research, publication trends, publication patterns, backgrounds, institutional involvement, methods, and implications of inclusive values for education. The research results highlighted the problems in this field and provided three important recommendations for the development of inclusive values and character as a strategy for education in religious-based social conflicts. These recommendations can be used as a reference in building an inclusive, tolerant, and peaceful society.
Spiritual Intelligence: Vision, Mission, and Character Strengthening Strategies in Education Policy Hidayat, Mupid; Siswantara, Yusuf; Suryadi, Ace; Ganeswara, Ganjar Muhammad
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 7, No 3 (2022): November 2022
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.544 KB) | DOI: 10.17977/um019v7i3p692-700

Abstract

Spiritual intelligence is the soul of national education.  Forgetting this creates a gap between ideals and the reality of education.  Without mapping, educational understanding can be fragmented so that education is only seen partially.  The academic challenge is how to map the education, character, and context of the digital age as well as the threat of disintegration of the nation can be done. Using the method of literature review with descriptive analytics, this research reveals the essence of education as character formation. At the end of the study, the answer was presented with three things: character education is a vision of national education, continuing education as the times becomes the general mission of national education, and adaptive implementation supports the development of the nation's character.
EDUCATING CHILDREN WITH HEART AND SELF-QUALITY: IMPLICATIONS OF KI HADJAR DEWANTARA'S THINKING ON PRIMARY SCHOOL CHARACTER EDUCATION Yusuf Siswantara; Ace Suryadi; Mupid Hidayat; Ganjar Muhammad Ganeswara; Asnita Sirait
Jurnal Cakrawala Pendas Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jcp.v9i2.4566

Abstract

The problem of bad behavior of the younger generation in the form of juvenile delinquency is a major concern in character education in elementary schools. Using qualitative methods, this study aims to raise character education in the educational paradigm of Ki Hadjar Dewantara as a fundamental solution to the problem of juvenile delinquency. The results showed that both the inner interiority in Neng, Ning, Nung, and Nang, the person (will and heart) who is "antêp, mantêp, têtêp," the child's attitude that is "Ngandel, Kandêl, Kêndêl, Bandêl" (attitude area), and the educational method "Among" with spirit: "Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani" can be an effective choice in developing character education. The recommendation for future research is to evaluate the effectiveness of the "Among, Momong, Ngemong" method by focusing on the factors of influence of family environment, peers, and school culture. The concrete solution for primary school education is the preparation of a curriculum that is more focused on building student character by incorporating eastern values and moral education as well as training and developing teacher competencies in carrying out character education in the daily learning process. Masalah perilaku buruk generasi muda dalam bentuk kenakalan remaja menjadi perhatian utama dalam pendidikan karakter di sekolah dasar. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk mengangkat pendidikan karakter dalam paradigma pendidikan Ki Hadjar Dewantara sebagai solusi mendasar atas masalah kenakalan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter baik dalam interioritas batin dalam Neng, Ning, Nung, dan Nang, pribadi (kehendak dan hati) yang "antêp, mantêp, têtêp," sikap anak yang "Ngandel, Kandêl, Kêndêl, Bandêl" (area sikap), dan metode pendidikan “Among” dengan semangat: “Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mbangun Karsa, Tut Wuri Handayani” dapat menjadi pilihan efektif dalam mengembangkan pendidikan karakter. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah untuk mengevaluasi efektivitas metode "Among, Momong, Ngemong" dengan memfokuskan pada faktor-faktor pengaruh lingkungan keluarga, teman sebaya, dan budaya sekolah. Solusi konkret untuk pendidikan sekolah dasar adalah penyusunan kurikulum yang lebih terfokus pada pembentukan karakter siswa dengan memasukkan nilai-nilai ketimuran dan pendidikan moral serta pelatihan dan pengembangan kompetensi guru dalam melaksanakan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Sewaka Darma: Pembelajaran Keutamaan Kehidupan dan Implikasi Pedagogisnya Siswantara, Yusuf
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 32 No. 1 (2016)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.906 KB) | DOI: 10.26593/mel.v32i1.1925.46-72

Abstract

Education has been developed in the western part as well as in the eastern part of the world, although each might have brought forth quite different methods and values. Education also has evolved in Indonesia since long before the contemporary systems. Sewaka Darma, an ancient Sundanese text, contains a particular model of education by way of teaching the wisdom of life. This text inspires further discussion on how education has been understood long time ago in its particular Sundanese context. Sewaka Darma is a kind of textbook for teaching that contains discourses between a teacher and his or her student. The teacher presents the teachings in a form of kawih (advice). By implementing a narrative model, the teacher conveys philosophy of life, the way of perfection, and moksha. The core of these teachings could be summarized: (a) that life is about suffering, being mortal, and a temporary condition, and (b) that life moves towards the perfection in moksha. On the level of practical everydayness, in order to gain perfection human strives to be a knowing and integral person. Sewaka Darma shows particular educational elements, that is, (a) virtue teachings for the sake of finding the basis of life through a spiritual outlook and (b) virtue advices that insinuate a learning methodology: on the wholeness and integrity of the self, on the character education by way of nyantrik (to be a follower in order to learn) method, on teachers as the role-model, and on the educational community.
INTEGRASI AJARAN SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN DAN KRISTIANI DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI INDONESIA Yusuf Siswantara; Angga Satya Bhakti
Jurnal Reinha Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v15i2.356

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai dalam Sanghyang Siksakandang Karesian (SSK) ke dalam pendidikan agama Katolik, dengan fokus pada pengembangan karakter siswa. SSK, sebagai naskah moralitas Sunda, menawarkan pedoman hidup yang mengedepankan tanggung jawab sosial dan etika moral. Metodologi yang digunakan mencakup pendekatan kualitatif dengan analisis mendalam terhadap tiga bagian utama SSK: Dasa Kreta, Dasa Prebakti, dan karma ning hulun. Penelitian juga menelisik korelasi antara ajaran moral dalam SSK dan ajaran Katolik untuk menarik implementasinya dalam konteks pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesamaan signifikan antara ajaran moral dalam SSK dan prinsip-prinsip ajaran Katolik, terutama dalam hal tanggung jawab individu dan pengabdian kepada masyarakat. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi nilai-nilai ini dalam kurikulum pendidikan agama Katolik dapat mendorong siswa untuk lebih aktif berkontribusi dalam masyarakat, serta mengembangkan rasa empati dan kepedulian terhadap lingkungan sosial mereka. Signifikansi dari penelitian ini terletak pada kontribusinya terhadap pengembangan pendidikan agama yang relevan dengan konteks budaya lokal. Dengan memasukkan kearifan lokal, pendidikan agama Katolik tidak hanya menjadi proses transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berintegritas dan peduli terhadap kesejahteraan sosial. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar bagi pengembangan kurikulum pendidikan agama yang lebih holistik dan kontekstual.
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN BERBASIS PANCASILA UNTUK KEPEMIMPINAN ANTI-KORUPSI: STUDI KUALITATIF TENTANG NILAI DAN IMPLEMENTASI DI INDONESI Siswantara, Yusuf
Jurnal Pembumian Pancasila Vol 3 No 1 (2023): Urgensi Kepemimpinan Pancasila dalam Kaitannya dengan Tahun Politik Kebangsaan
Publisher : Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pembumian Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji nilai-nilai dan implementasi pendidikan berbasis Pancasila dalam menghadapi masalah korupsi di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif-reflektif, penelitian ini menganalisis profil kepemimpinan berbasis Pancasila sebagai upaya untuk membangun pemimpin yang berintegritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis nilai Pancasila, seperti integritas, etika, dan anti-korupsi, harus ditanamkan secara mendalam dalam sistem pendidikan untuk menghasilkan pemimpin dan masyarakat yang berkualitas dan terhindar dari korupsi. Implementasi pendidikan anti-korupsi yang telah dilakukan di Indonesia juga menjadi fokus penelitian ini, sebagai langkah nyata dalam menangani masalah korupsi dan membangun kepemimpinan yang berlandaskan Pancasila.