Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Karakteristik Sosiodemografis Dengan Kejadian Depresi Pasca Persalinan Pada Ibu Nifas Ambarwati, Eny Retna; Pratiwi, Kurniasari; , Agnes; , Istichomah; Sinta, Riadinata
Jurnal Kesehatan Madani Medika Vol 16 No 2 (2025): Jurnal Kesehatan Madani Medika
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/jmm.v16i2.624

Abstract

Background: Postpartum depression (PPD) is a common mental health problem among postpartum mothers that adversely affects the well-being of both mother and child. The prevalence of PPD in Indonesia is considerably higher than in many other developing countries. Sociodemographic factors play a crucial role as primary determinants of PPD. However, a local predictive model that simultaneously considers these variables is still lacking. Objective: To examine the association between sociodemographic characteristics (education, income, parity, pregnancy status, and age) and the occurrence of postpartum depression. Methods: This analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 84 postpartum mothers in Indonesia between August 2024 and July 2025. Samples were obtained using accidental sampling. Data were collected using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). The Chi-square test and bivariate logistic regression were employed for data analysis. Results: Husbands’ income below the regional minimum wage increased the risk of PPD by 13.5 times (95% CI: 3.6–50.7; p<0.001). Low educational level increased the risk by 3.5 times (95% CI: 1.2–10.2; p=0.024), primiparity by 2.7 times (95% CI: 1.0–7.1; p=0.046), and unplanned pregnancy by 10.1 times (95% CI: 2.8–36.4; p<0.001). Maternal age was not significantly associated with PPD (p=0.65). Conclusion: Sociodemographic factors such as low income, low educational attainment, and primiparity are key determinants of postpartum depression. Early detection and interventions targeting social risk factors are essential to reduce the prevalence of PPD.
Rekonstruksi Perlindungan Hak Milik Perempuan: Telaah Kontradiksi Kawin Mokondo dan Tradisi Jawa Bedah Kutha Boyong Putri Wahyudi, Misran; Hidayah, Yayuk; Pratiwi, Kurniasari
IN RIGHT: Jurnal Agama dan Hak Azazi Manusia Vol. 14 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Contemporary millennial society experiences significant shifts in cultural values that affect the institution of marriage. In Javanese tradition, the concept of bedah kutha boyong putri embodies noble values regarding male dignity and responsibility in marriage, emphasizing moral, social, and economic readiness through the criteria of lineage, character, and social standing (bibit, bobot, and bebet). However, the emergence of the “Mokondo” marriage phenomenon in the modern era reflects marital practices that contradict these cultural values and potentially generate social problems and legal vulnerabilities, particularly for women. This article aims to analyze the nature of the contradiction between “Mokondo” marriage practices and the Javanese concept of bedah kutha boyong putri, as well as to examine the legal measures available to women to protect their property rights when marrying a “Mokondo” husband. Employing a socio-legal approach, this study utilizes role theory and contract theory as analytical frameworks. The findings reveal, first, that bedah kutha boyong putri positions men as dignified and responsible actors within marital relationships, whereas “Mokondo” marriages undermine and degrade male roles in the marital structure. Second, prenuptial agreements constitute a strategic legal instrument grounded in the principle of freedom of contract to safeguard women’s property rights prior to marriage. This study underscores the importance of integrating local cultural values with modern legal mechanisms in addressing contemporary challenges to marital justice and gender protection.   Realitas kehidupan masyarakat di era milenial menunjukkan terjadinya pergeseran nilai budaya yang berdampak pada institusi perkawinan. Dalam tradisi Jawa, konsep bedah kutha boyong putri merepresentasikan nilai luhur tentang martabat laki-laki dalam membangun rumah tangga, yang menekankan kesiapan moral, sosial, dan ekonomi melalui kriteria bibit, bobot, dan bebet. Namun, munculnya fenomena kawin “Mokondo” di era kontemporer memperlihatkan praktik perkawinan yang bertentangan dengan nilai budaya tersebut dan berpotensi menimbulkan problematika sosial serta kerentanan hukum, khususnya bagi perempuan. Artikel ini bertujuan menganalisis bentuk kontradiksi antara kawin “Mokondo” dan konsep Jawa bedah kutha boyong putri, serta mengkaji langkah hukum yang dapat ditempuh perempuan untuk melindungi hak miliknya dalam perkawinan dengan suami “Mokondo”. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-legal dengan pisau analisis teori peran dan teori kontrak. Hasil kajian menunjukkan bahwa, pertama, konsep bedah kutha boyong putri menempatkan laki-laki sebagai subjek yang bermartabat dan bertanggung jawab, sedangkan praktik kawin “Mokondo” justru mendegradasi peran dan posisi laki-laki dalam relasi perkawinan. Kedua, perjanjian perkawinan yang dibuat sebelum perkawinan merupakan instrumen hukum strategis yang selaras dengan prinsip kebebasan berkontrak untuk menjamin perlindungan hak milik perempuan. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi nilai budaya lokal dan mekanisme hukum modern dalam merespons tantangan perkawinan di era milenial.
ANALISIS DETERMINAN KEJADIAN ANEMIA ZAT BESI PADA BALITA BERDASARKAN TELENURSING KALKULATOR ZAT BESI DI PADUKUHAN KEMBANGPUTIHAN Tri Ariani; M. Muslim; Kurniasari Pratiwi
Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) Vol. 17 No. 02 (2026): Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Utama Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52299/jks.v17i02.687

Abstract

Latar Belakang: Anemia defisiensi besi pada balita masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi tinggi yang berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan daya tahan tubuh anak. Pemanfaatan teknologi telenursing dan kalkulator zat besi berpotensi meningkatkan akses edukasi kesehatan serta membantu skrining risiko kekurangan zat besi secara dini. Tujuan: Menganalisis faktor yang memengaruhi kejadian anemia defisiensi besi pada balita menggunakan pendekatan teknologi telenursing berbasis kalkulator zat besi. Metode: Penelitian dilakukan pada 28 balita melalui wawancara dan pengisian kuesioner menggunakan aplikasi kalkulator zat besi berbasis telenursing. Data karakteristik responden, pola konsumsi sumber zat besi, dan risiko defisiensi besi dianalisis secara statistik untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia. Hasil: Responden berusia 9–55 bulan dengan variasi berat dan tinggi badan. Sebanyak 89,3% balita berisiko mengalami kekurangan zat besi, dengan risiko tertinggi pada kelompok usia 6–12 bulan dan 25–36 bulan. Sebagian besar (85,7%) termasuk kategori risiko tinggi, terutama dipengaruhi rendahnya konsumsi hati ayam dan sereal fortifikasi. Simpulan: Pendekatan telenursing melalui kalkulator zat besi efektif mengidentifikasi risiko anemia defisiensi besi pada balita dan berpotensi mendukung deteksi dini di layanan kesehatan primer. Integrasi aplikasi e-Nutrie ke dalam skrining gizi rutin di posyandu dan puskesmas direkomendasikan untuk meningkatkan upaya pencegahan anemia.
Membangun Keluarga Sehat: Peran Pkk Dalam Edukasi Kesehatan Reproduksi Pada Ibu Endang Khoirunnisa; Tri Ariani; Kurniasari Pratiwi
ABDIMAS Madani Vol 8 No 02 (2026): Jurnal Abdimas Madani
Publisher : LPPM STIKES Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36569/abdimas.v8i02.240

Abstract

Keluarga sehat adalah keluarga yang mampu menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan seluruh anggotanya secara fisik, mental, dan sosial. Keluarga sehat ditandai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Kesehatan keluarga tidak hanya ditentukan oleh ketiadaan penyakit, tetapi juga oleh kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar, menjaga keharmonisan, serta menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anggota keluarga. Konsep keluarga sehat menekankan pentingnya peran setiap anggota keluarga dalam menjaga kesehatan secara kolektif. Ayah, ibu, dan anak memiliki tanggung jawab yang saling berkaitan dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu tentang kesehatan reproduksi melalui peran aktif PKK, meningkatkan pemahaman ibu tentang konsep dasar kesehatan reproduksi. Kegiatan ini menggunakan pendekatan edukatif partisipatif dengan metode: koordinasi dengan kader PKK dan dasawisma. Penyuluhan langsung dengan media presentasi. Diskusi dan tanya jawab untuk mengevaluasi materi dan membuka ruang interaksi dengan peserta dasawisma. Sharing pengalaman oleh peserta PKK, beberapa media edukasi yang digunakan leaflet, poster, dan media presentasi. Pengabdian dilaksanakan di Kelurahan Bangunharjo dusun druwo rt 02. Pada hari rabu tanggal 10 desember 2025 pukul 13.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB. Pada acara ini dilakukan evaluasi dengan bertanya kembali tentang materi yang sudah disampaikan, tanggapan peserta terhadap pertanyaan yang diberikan baik, orangtua dapat menjawab pertanyaan dengan baik dan benar.