Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : NALARs

PEMBAYANGAN BIOKLIMATIK PADA FASAD BANGUNAN (STUDI KASUS: RUMAH HEINZ FRICK SEMARANG) Hari Utama; Eddy Prianto
NALARs Vol 22, No 2 (2023): NALARs Volume 22 Nomor 2 Juli 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.22.2.93-102

Abstract

ABSTRAK. Iklim meso Kota Semarang yang relatif panas membuat bangunan-bangunan harus dirancang adaptif terhadap kondisi tersebut. Pembayangan merupakan salah satu strategi desain bioklimatik untuk dapat merespon kondisi lingkungan luar yang tidak bersahabat. Pembayangan bioklimatik bermanfaat untuk mengontrol penyerapan panas sehingga kenyamanan dalam bangunan tetap terjaga. Penelitian ini menerapkan metode simulasi komputer menggunakan program Google SketchUp Pro 2019 untuk melakukan pemodelan dan simulasi pembayangan bangunan dengan variasi orientasi bangunan menghadap empat arah mata angin yang berbeda. Obyek studi kasus penelitian adalah Rumah Heinz Frick di Semarang, sebuah rumah tinggal yang didesain dengan pendekatan bioklimatik. Lokasi dan tanggal simulasi diatur sedemikian rupa sehingga diharapkan memperoleh hasil simulasi yang seakurat mungkin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui orientasi bangunan terbaik supaya mendapatkan profil pembayangan maksimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangunan mendapatkan profil pembayangan paling optimal ketika disimulasikan menghadap arah timur. Pada orientasi tersebut, rata-rata profil pembayangan harian mencapai 97,42%. Dari hasil simulasi ini juga diketahui bahwa elemen pembayangan bangunan berpengaruh secara signifikan dalam memberikan profil pembayangan bangunan yang optimal. Adanya kesamaan antara hasil penelitian dan kondisi eksisting, menandakan bahwa Rumah Heinz Frick telah didesain adaptif dengan kondisi alam setempat.Kata kunci: Bioklimatik, Orientasi bangunan, Pembayangan, SimulasiABSTRACT. The microclimate of Semarang City is relatively hot, making the buildings have to be designed adaptively to these conditions. Shading is one of the bioclimatic design strategies to respond to hostile external environmental conditions. Bioclimatic shading is useful for controlling heat absorption to maintain building comfort. This study applies a computer simulation method using the Google SketchUp Pro 2019 program to model and simulate building shading with variations in the orientation of the building facing four different points of the compass directions. The object of the research study is Heinz Frick House in Semarang, a residential house designed with a bioclimatic approach. The location and date of the simulation are set in such a way that it is expected that the simulation results will be as accurate as possible. This study aimed to determine the best building orientation to obtain the maximum shading profile. The results showed that the building got the most optimal shading profile when simulated facing east. In this orientation, the average daily shading profile reaches 97.42%. From the simulation results, it is also known that the building shading element has a significant effect in providing an optimal building shading profile. The similarities between the research result and the existing condition indicate that Heinz Frick's House has been designed to be adaptive to local natural needs. Keywords: Bioclimatic, Building orientation, Shading, Simulation
TRANSFORMASI MATERIAL PELINGGIH MERAJAN/SANGGAH DI BALI PERIODE TAHUN 1970 SAMPAI DENGAN 2024 Gunawan, I Gusti Ngurah Anom; Prianto, Eddy
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji transformasi material pada pelinggih Merajan/Sanggah di Bali dari tahun 1970 hingga 2024, dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, faktor ekonomi, dan perubahan sosial-budaya. Pada periode 1970-1990, material tradisional seperti batu alam, kayu, dan ijuk mendominasi pembangunan pelinggih, dipilih karena nilai spiritual serta estetika yang melekat pada material tersebut. Namun, pada akhir periode ini, modernisasi mulai memperkenalkan material seperti beton dan bata press, yang lebih efisien dan mudah diakses. Pada periode 1991-2000, penggunaan material modern seperti beton cetakan dan genteng keramik meningkat seiring perkembangan teknologi konstruksi yang mempermudah proses pembangunan. Material modern ini menawarkan daya tahan dan efisiensi lebih tinggi, meskipun mengurangi keaslian nilai spiritual bangunan. Memasuki periode 2001-2024, muncul tren keberlanjutan yang mendorong penggunaan material ramah lingkungan, seperti bata daur ulang dan genteng berkelanjutan. Kesadaran terhadap pelestarian lingkungan semakin terintegrasi dalam proses pembangunan, dengan revitalisasi material lama yang berfokus pada pengurangan limbah konstruksi dan menjaga nilai budaya.Faktor-faktor yang mendorong perubahan material ini termasuk inovasi teknologi, pertimbangan ekonomi, dan globalisasi yang mempengaruhi preferensi masyarakat Bali. Kesimpulannya, perubahan material pada pelinggih Merajan/Sanggah mencerminkan adaptasi terhadap modernisasi dan upaya untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi, keberlanjutan lingkungan, serta pelestarian nilai budaya. Penelitian ini memberikan wawasan penting bagi pengembangan arsitektur tradisional yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan dan spiritualitas.   This study examines the transformation of materials in Merajan/Sanggah shrines in Bali from 1930 to 2024, influenced by technological developments, economic factors, and socio-cultural changes. During the 1930-1990 period, traditional materials such as natural stone, wood, and ijuk (palm fibre) dominated shrine construction due to their spiritual and aesthetic values. However, modernisation introduced materials such as concrete and pressed bricks, which were more efficient and accessible. In the 1991-2000 period, the use of modern materials like cast concrete and ceramic roof tiles increased as construction technology advanced. Entering the period of 2001-2024, sustainability trends encouraged the adoption of eco-friendly materials, such as recycled bricks and sustainable roof tiles. The primary factors driving these material changes included technological innovation, economic considerations, and globalisation, which have influenced the preferences of Balinese communities. To conduct the study, a qualitative descriptive research design with the case study approach was adopted. Data were collected through field observations, interviews with Balinese traditional architects (undagi) and local communities, and document analysis. The analysis techniques applied included thematic, comparative and sustainability analyses to assess the impact of material transformation on cultural values and environmental sustainability. Findings of the study denote the material changes in Merajan/Sanggah shrines that reflect an adaptation to modernisation while striving to maintain a balance between efficiency, environmental sustainability, and cultural preservation.
OPTIMALISASI DESAIN RUANG TERBUKA UNTUK MENINGKATKAN KENYAMANAN TERMAL (STUDI KASUS: TAMAN ALUMNI ARSITEKTUR UNIVERSITAS DIPONEGORO) Tsani, Nauvaldy Amru; Prianto, Eddy; Setyowati, Erni
NALARs Vol. 25 No. 1 (2026): NALARs Vol 25 No 1 Januari 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyamanan termal merupakan salah satu aspek krusial dalam desain ruang terbuka, terutama di wilayah berklim tropis lembab seperti Kota Semarang. Kenyamanan termal saat ini sulit didapatkan manusia saat berada di ruang luar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan termal dengan dilakukannya pengoptimalan desain ruang terbuka di Taman Alumni Departemen Arsitektur, Universitas Diponegoro. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif melalui observasi lapangan, analisis elemen-elemen desain yang mempengaruhi kenyamanan termal seperti vegetasi, elemen air, material, dan orentiasi taman, serta faktor-faktor kenyamanan termal. Hasil penelitian menunjukkan hasil pengukuran dan analisis data berupa penggunaan elemen vegetasi sebagai peneduh alami, elemen air berfungsi menurunkan suhu, material dengan albedo tinggi dan orientasi untuk mendapatkan pergerakan angin yang optimal. Hal-hal tersebut memberikan kesimpulan bahwa Pada Taman Alumni ini belum mendapatkan kenyamanan termal yang sesuai dengan standar Lippsmeier. Hal ini dikarenakan kurang optimalnya pada desain ruang terbuka, yaitu kurangnya elemen desain berupa air. Dengan adanya elemen air, temperatur atau suhu dalam taman tersebut akan mendapatkan efek pendinginan atau pengurangan suhu. Pengurangan suhu ini akan membantu meningkatkan kenyamanan termal di taman.Thermal comfort is one of the crucial aspects in open space design, especially in humid tropical climates like Semarang City. Thermal comfort is currently difficult for humans to obtain when in outdoor spaces. This study aims to analyze the level of thermal comfort with the optimization of open space design in the Alumni Park of the Department of Architecture, Diponegoro University. The method used is a quantitative method through field observations, analysis of design elements that affect thermal comfort such as vegetation, water elements, materials, and garden orentiation, as well as thermal comfort factors. The results showed the results of measurements and data analysis in the form of the use of vegetation elements as a natural shade, water elements serve to reduce temperature, materials with high albedo and orientation to get optimal wind movement. These things lead to the conclusion that the Alumni Park has not gotten thermal comfort in accordance with Lippsmeier standards. This is due to the less than optimal design of open space, namely the lack of design elements in the form of water. With the water element, the temperature or temperature in the park will get a cooling effect or temperature reduction. This temperature reduction will help improve thermal comfort in the park.
Co-Authors Abd. Rasyid Syamsuri Abdi kusuma, Abdi Abdul Malik Adela Carera Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Almesa Yuli Hasyyati, Almesa Yuli Amalia Alifiani, Amalia Amalia, Alifiani, Amalia, Amat Rahmat Anisa Anisa Ansari, Vira Arman Susilo Arta Okta listiani, Arta Okta ashim furqoni Astuti, Margaretnaning Dyah Atiek Suprapti Bagus Wicaksono Bakhtiar Bakhtiar Bambang Irawanto Bambang Setioko Bambang Sujono Bambang Supriyadi bambang suyono Bharoto Bharoto Carera, Adela desy ratna Dewantoro, Fajar Dewantoro, Fajar Dewi Murti Sari, Dewi Eddy Hermanto Eddy Indarto Edy Darmawan Eko Budihardjo Eko Budihardjo Erni Setyowati Furqoni, Ashim Gagoek Hardiman Gagoek Hardiman Gunawan, I Gusti Ngurah Anom Hardiman, Gagok Hari Utama Harianja, Bernard Hendro Trilistyo Henry Soleman Raubaba, Henry Soleman HERMAWAN Hermawan Hermawan Hidayatullah, Muhammad Irsyad Hilda, Syarifa ichsan ahmadi Ikhwanul Ahfadz, Ikhwanul Jono Wardoyo Jono Wardoyo jumratul akbar, jumratul Kusuma, Aditya Arya Margaretnaning Dyah Astuti Maria Carizza Pandora Raharjo MARIA ROSITA MAHARANI Muh Nur Muh Nur Muhammad Sahid Indraswara Muhammad, Huda Pandora Raharjo, Maria Carizza Pratama, Riza Adi Putri, Paskalia Utari Raharja, Maria Carizza Pandora Rahmadhani, Arisca Dian Rahmat, Amat Ruliyanto Ruliyanto, Ruliyanto Rusmaharani, Diyah Sahid, M salsabella, Syeril Satrio Nugroho Septana Bagus Pribadi Septana, Septana Septana, Septana Setia Budi Sasongko Setyowati , Erni Shofie, Athia Shofie, Athia Maulida Tsania Sigit Ashar Setyoaji, Sigit Ashar Sinaga, Gabriela Maibana Siti Zahra Arafah sukawi sukawi Titien Woro Murtini Totok Roesmanto Tsani, Nauvaldy Amru Utama, Hari Vira Ansari Wahyu Setia Budi Widiastuti, Ratih Windarta, Jaka Yoga Pratama, Syndu Muhammad Young, Hepi Duchovny Zafira, Salma Hafni