Ida Bagus Subanada
Department Of Child Health, Universitas Udayana Medical School/Sanglah Hospital, Denpasar, Bali

Published : 42 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Pneumonia Atipikal Budastra I Nyoman; Siadi Purniti Putu; Subanada Ida Bagus
Sari Pediatri Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.837 KB) | DOI: 10.14238/sp9.2.2007.138-44

Abstract

Pneumonia atipikal adalah pneumonia yang disebabkan oleh mikroorganisme yang tidak dapat diidentifikasidengan teknik diagnostik standar pneumonia pada umumnya dan tidak menunjukkan respon terhadapantibiotik b-laktam. Mikroorganisme patogen penyebab pneumonia atipikal pada umumnya adalahMycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila. Manifestasi klinik,pemeriksaan laboratorium dan radiologis pneumonia atipikal menunjukkan gambaran tidak spesifik.Manifestasi klinik pneumonia atipikal ditandai oleh perjalanan penyakit yang bersifat gradual, terdapatdemam yang tidak terlalu tinggi, batuk non produktif dan didominasi oleh gejala konstitusi. Satu-satunyacara untuk mengetahui penyebab dari pneumonia atipikal adalah pemeriksaan serologi dan polymerasechain reaction (PCR). Antibiotik golongan makrolid direkomendasikan sebagai terapi pneumonia atipikalpada anak. Prognosis umumnya baik, jarang berkembang menjadi kasus yang fatal
Surveilan Pneumokokus dan Dampak Pneumonia pada Anak Balita Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; I Komang Kari; BNP Arhana; Ida Sri Iswari; Ni Made Adi Tarini
Sari Pediatri Vol 12, No 5 (2011)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.5.2011.359-64

Abstract

Latar belakang. Streptococcus pneumonia (SP) adalah penyebab utama meningitis, pneumonia, danbakteremia pada bayi dan anak. Mikroorganisme tersebut adalah penyebab utama kematian yang dapatdicegah dengan imunisasi pada anak usia di bawah lima tahun. Data tentang insiden invasive pneumococcaldisease (IPD) di Indonesia masih terbatas.Tujuan. Mengetahui dampak pneumonia dan IPD pada populasi target di Rumah Sakit Umum PusatSanglah Denpasar, Bali, Indonesia.Metode. Surveilan aktif berbasis rumah sakit, prospektif selama satu tahun pada anak usia 28 hari sampai 60bulan. Seluruh anak yang tinggal dalam area cakupan penelitian, usia 28 hari sampai 􀁤36 bulan mengalamidemam 􀁴39°C atau menderita pneumonia, menunjukkan gejala IPDHasil. Subjek 736 anak dengan median usia 10 bulan (79,2% usia 28 hari sampai <24 bulan). S. pneumoniatidak terdeteksi dari seluruh subjek. Biakan darah dilakukan pada 736 subjek, 125 di antaranya (17,19%)menunjukkan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang diisolasi dari biakan darah antara lain Staphylococcus sp 58(46,4%), S. aureus 45 (36,0%), Pseudomonas sp 9 (7,2%), E. coli 3 (2,4%). Diagnosis awal terbanyak adalahpneumonia, 439 (59,7%). Insiden pneumonia 534,2/100000, usia 28 hari - <6 bulan 167,1/100000, danusia 28 hari - <24 bulan 839/100000. Angka insiden tertinggi pneumonia dengan foto dada usia 28 hari - <6bulan yaitu 10,9/100000, dan kelompok usia 28 hari - <24 bulan 19,4/100000. Angka insiden pneumoniadan foto dada dengan CRP 􀁴40 mg/L tertinggi pada kelompok usia 12 bulan - <24 bulan, 82,9/100000.Dilakukan pemeriksaan PCR S. pneumoniae terhadap 106 sampel, terdiri dari kasus meninggal, meningitis,sepsis dan pneumonia berat tidak terdeteksi S. pneumoniaeKesimpulan. Pneumonia mempunyai dampak yang cukup berarti bagi daerah cakupan RSUP Sanglah yangdisebabkan oleh pneumokokus, dan saat ini masih merupakan tantangan.
Korelasi antara Kadar Seng Serum dengan Kadar Interleukin-6 dan Skor PELOD-2 pada Sepsis Defranky Theodorus; Dyah Kanya Wati; I Gusti Ngurah Sanjaya Putra; Ida Bagus Subanada; Eka Gunawijaya; Komang Ayu Witarini; Wayan Gustawan
Sari Pediatri Vol 23, No 4 (2021)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp23.4.2021.262-9

Abstract

Latar belakang. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak dengan penyakit kritis yang dirawat di unit perawatan intensif anak (UPIA). Pada 24 jam sepsis, terjadi penurunan kadar seng serum dan secara bersamaan terjadi peningkatan kadar interleukin-6 (IL-6) dan skor PELOD-2. Hasil sebaliknya terjadi pada 72 jam sepsis.Tujuan. Untuk membuktikan korelasi negatif antara kadar seng serum dengan IL-6 dan skor PELOD-2 pada sepsis.Metode. Penelitian dengan rancangan potong lintang dua kali pengukuran dari Januari - Desember 2019 di UPIA RSUP Sanglah Denpasar. Subjek penelitian adalah anak berusia 29 hari sampai 18 tahun dengan sepsis berdasarkan skor PELOD-2 > 7 menggunakan metode consecutive sampling. Uji korelasi Pearson untuk menilai korelasi bivariat dan uji multivariat menggunakan uji korelasi parsial.Hasil. Empatpuluh subjek memenuhi kriteria inklusi. Rerata kadar seng serum pada 24 dan 72 jam adalah 59,5 µg/dl versus 64,2 µg/dl. Median IL-6 pada 24 dan 72 jam adalah 8,6 pg/dL versus 4,4 pg/dL, rerata skor PELOD-2 24 dan 72 jam adalah 11,2 versus 11,0. Korelasi Pearson kadar seng serum dengan kadar IL-6 pada 24 dan 72 jam adalah r= -0,078, p= 0,632 versus r= -0,218, p= 0,178. Korelasi Pearson kadar seng serum dengan skor PELOD-2 pada 24 dan 72 jam adalah r= -0,513, p= 0,001 versus r= 0,242, p= 0,132. Analisis korelasi parsial kadar seng serum dengan PELOD-2 pada 24 jam adalah r= -0,493, p= 0,002.Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif sedang bermakna pada 24 jam sepsis antara kadar seng serum dengan skor PELOD-2 setelah mengontrol variabel kendali.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Bronkiolitis Akut Ida Bagus Subanada; Darmawan B Setyanto; Bambang Supriyatno
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.392-6

Abstract

Latar belakang. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya bronkiolitis akut. Seperti halnya usia, jenis kelamin, lahir kurang bulan, berat lahir rendah, jumlah keluarga serumah, status gizi, air susu ibu (ASI), paparan asap rokok, riwayat atopi, dan imunisasi BCG.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara ASI, paparan asap rokok, riwayat atopi, dan BCG dengan bronkiolitis akut.Metode. Desain potong lintang, data didapat dari rekam medis pasien yang dirawat. Analisis data dengan metode univariat dan multivariat, tingkat kemaknaan α=0,05 (IK95%).Hasil. ASI dan paparan asap rokok tidak berhubungan dengan bronkiolitis akut, sedangkan riwayat atopi pada orangtua, parut BCG, dan jenis kelamin berhubungan dengan bronkiolitis akut{RP 20,41 (IK95% 1,09;333,33), p=0,043, RP 0,23 (IK95% 0,07; 0,79), p=0,019, dan RP 3,42 (IK95% 1,10;10,64), p=0,034)}.Kesimpulan. Riwayat atopi pada orangtua, parut BCG, dan jenis kelamin berhubungan dengan bronkiolitis akut.
Pneumonia Pneumosistis I Wayan Gustawan; BNP Arhana; Putu Siadi Purniti; IB Subanada; K Dewi Kumara Wati
Sari Pediatri Vol 9, No 5 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp9.5.2008.328-34

Abstract

Pneumonia pnemosistis merupakan penyebab kesakitan yang serius dan kematian pada kasus gangguansistem imun. Pneumonia pnemosistis merupakan infeksi oportunistik tersering pada kasus yang terinfeksiHIV, leukemia dan anak yang menerima transplantasi organ. Organisme penyebab adalah Pneumocystiscarinii. Manifestasi klinis berupa gangguan pernapasan disertai penyakit dasarnya. Diagnosis pasti ditegakkandengan ditemukannya organisme dalam pemeriksaan mikroskopis. Pengobatan secara umum terdiri daritata laksana suportif dan spesifik. Trimetoprim-sulfametoksasol masih merupakan pilihan pertama baikuntuk terapi maupun profilaksis. Angka kematian masih tinggi, terutama yang terlambat mendapat terapi.
Surveilans Influeza pada Pasien Rawat Jalan Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ida Sri Iswari
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.688 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.278-82

Abstract

Latar belakang. Influenza merupakan infeksi yang sering terjadi dan memberikan dampak yang besar padakelompok usia anak. Informasi mengenai tingkat kunjungan pasien seasonal influenza diperlukan untukmenilai besarnya dampak yang ditimbulkan penyakit influenza Rapid influenza test dapat membantu diagnosisdan penanganan pasien yang datang dengan manifestasi klinis seasonal influenza.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat kunjungan pasien dengan seasonal influenza dan nilai diagnostik pemeriksaanrapid influenza test.Metode. Surveilans seasonal influenza dilaksanakan di Poliklinik Rawat Jalan Bagian//SMF Ilmu KesehatanAnak RSUP Sanglah Denpasar Bali selama periode 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2006. Pasien usia1 bulan sampai dengan 12 tahun dengan manifestasi klinis influenza like illness berdasarkan kriteria WHOdiikutsertakan dalam penelitian. Pada subyek penelitian dilakukan apusan hidung untuk pemeriksaan rapid influenzadan apusan tenggorok untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil. Didapatkan prevalensi seasonal influenza pada anak di RSUP Sanglah Denpasar Bali 16,8%. Duapuncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari sampai April dan September sampai Desember. Pemeriksaanrapid influenza memiliki sensitivitas 12,87% (IK 95%: 12,54-12,89%), spesifisitas 99,6% (IK 95%:99,59-99,61%), nilai duga positif 86,67% (IK 95%: 86,47-86,94%), nilai duga negatif 84,98% (IK 95%:82,18-87,78%), rasio kemungkinan positif 32,18% (IK 95%: 28,45-35,91%), dan rasio kemungkinannegatif 0,88% (IK 95%:62,1-113,8%).Kesimpulan. Prevalensi seasonal influenza pada penderita rawat jalan di Poliklinik anak RSUP SanglahDenpasar Bali 16,8%. Dua puncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari–April dan September–Desember. Pemeriksaan rapid influenza memiliki sensitivitas yang rendah tetapi spesifisitas dan nilai dugapositif yang tinggi
Risk factors of bronchiolitis I Gde Doddy Kurnia Indrawan; IB Subanada; Rina Triasih
Paediatrica Indonesiana Vol 53 No 1 (2013): January 2013
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.936 KB) | DOI: 10.14238/pi53.1.2013.21-5

Abstract

Background Bronchiolitis peak incidence is in children aged 2 -6months. History of atopy in parents, non-exclusive breastfeeding,exposure to cigarette smoke, and infants living in crowded areasmay be risk factors for bronchiolitis. Gestational of age at birth isalso influences the mortality oflower respiratory tract infection.Objective To evaluate the following conditions as possiblerisk factors for bronchiolitis: history of atopy, non-exclusivebreastfeeding, preterm infants, exposure to cigarette smoke, and2:: 6 persons residing in the home.Methods A sex-matched case-control study was conductedby collecting data from medical records at Sanglah Hospital,Denpasar. The case group subjects met the diagnostic criteriafor bronchiolitis and were aged 1-24 months. The control groupincluded patients with diagnoses unrelated to the respiratorysystem. Data was analyzed using bivariate (Mc.N emar) andmultivariate methods (logistic regression) with 95% confidenceintervals and statistical significance value of P <0 .05.Results There were 96 subjects in our study, consisted of 48subjects in the case group and 48 in the control group. Thecase and control groups were similar in baseline characteristics.The presence of history of atopy (OR 34.7; 95%CI 3 to 367,P=0.003), non-exclusive breastfeeding (OR 4.3; 95%CI 1.4 to13, P=0.010), exposure to cigarette smoke (OR 3; 95%CI 1 to9.2, P=0.047), and 2:: 6 persons living in the home (OR 7.9;95%CI 2.6 to 24, P<0.0001) were found to be significant riskfactors for bronchiolitis, while the preterm infants seem notsignificant as a risk factor of bronchiolitis (OR3; 95%CI 0.31 to78.99, P=0.625).Conclusion History of atopy, non-exclusive breastfeeding,exposure to cigarette smoke, and 2:: 6 persons living in the homeare found to be risk factors, while preterm infants seem not a riskfactor for bronchiolitis.
Correlation between C--reactive protein and serum iron levels in children with pneumonia I Gd. Oki Novi Purnawan; Ida Bagus Subanada; Sri Mulatsih
Paediatrica Indonesiana Vol 52 No 1 (2012): January 2012
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.187 KB) | DOI: 10.14238/pi52.1.2012.38-42

Abstract

Background Pneumonia is an infectious disease often occuringin children under five years of age. At the time of infection,pro-inflammatory cytokines are released. It is thought that thesepro-inflammatory cytokines cause changes to iron homeostasisin the body.Objective To determine a correlation between CRP and serumiron levels in children with pneumonia.Methods An analytical, cross-sectional study was performedin children aged 6 months-5 years with severe pneumonia atSanglah Hospital, Denpasar, Bali from April-November 2010.Laboratory examinations included CRP and serum iron levels.The correlation between CRP and serum iron levels was analyzedby Pearson's correlation.Results From 69 children with severe pneumonia, 23 childrenfulfilled the inclusion criteria. Subjects' median CRP level was9.22 mg/Land median serum iron level was 25.55 ug/dL. Thecoefficient correlation between CRP and serum iron levels was-0.580 (P=0.004). The determination coefficient value was0.316.Conclusion In children with severe pneumonia, CRP levelcorrelates negatively with serum iron levels. [Paediatr lndones.2012;52:38-42).
Risk factors for cefotaxime resistance in children with pneumonia Anak Agung Made Sucipta; Ida Bagus Subanada; Samik Wahab
Paediatrica Indonesiana Vol 52 No 5 (2012): September 2012
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.291 KB) | DOI: 10.14238/pi52.5.2012.255-9

Abstract

Background Pneumonia is a health problem in developingcountries, often caused by bacterial agents. The 'Widespreaduse of cefotaxime, a third􀁒generation of cephalosporin, may leadto increased incidence of resistance to this antibiotic. Severalstudies have reported on risk factors associated v.ith resistanceto cefotaxime.Objective To identify risk factors for cefotaxime resistance inchildren 'With pneumonia.Methods We performed a case􀁒control study at Sanglah Hospitalbetween January 2006􀁒December 2010. The case group includedchildren with blood culture􀁒positive pneumonia and resistanceto cefotaxime by sensitivity test. The control group was selectedfrom the same population as the case group, but the bacteriaisolated from these subjects were sensitive to cefotaxime. Wetested the folloMng risk factors for resistance to cefotaxime:age :53 years, microorganism species, history of antimicrobialuse, and history of hospitalization within the prior 3 months.Chi square test and logistic regression analysis were performedto determine any associations between the four potential riskfactors and resistance to cefotaxime. A P<0.05 was consideredto be statistically significant.Results Univariate analysis showed that the risk factors forresistance to cefotaxime were history of antimicrobial use in theprior 3 months (OR 2.79; 95%CI 1.40 to 5.55; P􀁓O.OOI) andhistory of hospitalization Mthin the prior 3 months (OR 5.57;95%CI 1.95 to 15.87; P=<O.OOOl). By multivariate analysis,risk factors associated Mth resistance to cefotaxime were historyof antimicrobial use in the prior 3 months (OR 2.4; 95%CI 1.18to 4.86; P=0.015), history of hospitalization within the prior 3months (OR 4.7; 95%CI 1.62 to 13.85; P􀁓0.004), and historyof breast feeding for less than 2 months (OR 2.3; 95%CI 1.0 to5.4; P􀁓0.042).Conclusion History of antimicrobial use and history ofhospitalization within the prior 3 monthsweresignificantrisk factors for resistance to cefotaxime in children Mth pneumonia.[Paediatr Indanes. 2012;52:255-9].
Neurological impairment of children with history of prematurity and neonatal hyperbilirubinemia Ida Bagus Subanada; I Komang Kari; Abdul Hamid
Paediatrica Indonesiana Vol 43 No 2 (2003): March 2003
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.661 KB) | DOI: 10.14238/pi43.2.2003.59-65

Abstract

Background In premature infants, the incidence of hyperbiliru-binemia is still high. Bilirubin encephalopathy can develop withoutmarked hyperbilirubinemia.Objective To know the incidence of neurological impairment inpremature with hyperbilirubinemia and the association betweenneurological impairment and serum unconjugated billirubin con-centration.Methods A retrospective study was conducted on 54 prematureswith history of hyperbilirubinemia and 54 without history of hyper-bilirubinemia born between 1997 and 1998 and discharged fromSanglah Hospital. Consecutive sampling was done. After univariateanalysis, multivariate analysis was used to identify the associationbetween serum unconjugated bilirubin concentration and neuro-logical impairment at the adjusted age of 318 months.Results There were statistically significant differences in mean ofage and neurological impairment between subjects with and with-out hyperbilirubinemia (p<0.0001 and 0.026). In subjects with hy-perbilirubinemia, univariate analysis showed significant differencesin means of serum unconjugated bilirubin concentration, gesta-tional age, birth weight, and serum albumin concentration betweensubject who had neurological impairment and who had no neuro-logical impairment with p = 0.005; 0.001; 0.002; <0.0001, respec-tively. Multivariate analysis found there were association betweenneurological impairment and serum unconjugated bilirubin concen-tration, gestational age, and serum albumin concentration withp<0.0001; 0.004; and <0.0001, respectively.Conclusion Neurological impairment in subject with hyperbiliru-binemia was greater than subject without hyperbilirubinemia. Se-rum unconjugated bilirubin concentration is one of three factorsthat associated with neurological impairment
Co-Authors AA Raka Karsana ABDUL HAMID Anak Agung Made Sucipta Anak Agung Ngurah Ketut Putra Widnyana Anak Agung Wira Ryantama Ayu Setyorini Mestika Mayangsari Bagus Ngurah Putu Arhana Bambang Supriyatno BNP Arhana Budastra I Nyoman Carissa Lidia D. K. Wati, D. K. Darmawan B Setyanto Defranky Theodorus Dewi Aryawati Utami Dyah Kanya Wati Eka Gunawijaya Eko Kristanto Kunta Adjie Gusti Ayu Putu Nilawati I Gd. Oki Novi Purnawan I Gde Doddy Kurnia Indrawan I Gede Epi Paramarta I Gusti Agung Ngurah Sugitha Adnyana I Gusti Ayu Putu Eka Pratiwi I Gusti Lanang Sidiartha I Gusti Ngurah Made Suwarba I Gusti Ngurah Sanjaya Putra I Kadek Rai Suardita I Komang Kari I Komang Kari I Kompiang Gede Suandi I Made Ady Wirawan I Made Bakta I Made Jawi I Made Kardana I Nyoman Budi Hartawan I NYOMAN MANTIK ASTAWA I Nyoman Supadma I Wayan Gustawan Ida Ayu Okti Cahyani Putri Ida Bagus Gede Suparyatha Ida Sri Iswari Jumantini, Ni Komang Pasek Nurhyang Kadek Agus Rendy Surya Sentana Ketut Ariawati Ketut Dewi Kumara Wati Ketut Putu Yasa Kissinger Puguh Pramana, Kissinger Puguh Komang Ayu Witarini Lufyan, Reddy Luh Gde Ayu Pramitha Dewi M. R. Usman, M. R. Made Gede Dwi Lingga Utama Made Sukmawati Made Supartha Made Wiryana Manik Trisna Arysanti Ni Komang Diah Saputri Ni Made Adi Tarini Ni Putu Siadi Purniti Novita Purnamasari Assa NP Veny Kartika Yantie Putu Astawa Rina Triasih Roni Naning Samik Wahab Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Soetjiningsih Sri Mulatsih Suparyatha, Ida Bagus Gede Susilawati Susilawati Wayan Agustini Selumbung Yuliana Yuliana