Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : ALQALAM

POTENSI KONFLIK PADA TRADISI MERARIK DI PULAU LOMBOK AHMAD FATHAN ANIQ
Al Qalam Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1051.635 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v28i3.890

Abstract

Merarik is a marriage process of Sasak tradition in which a bridegroom runs away with the bride before marriage settlement or wedding procession is conducted lawfully based on both religion and national law. Initially, merarik is merely a term of an action running away with a girl to take in marriage. However, later on, it has a wider meaning. It is extensively used to name a whole series of marriage in Sasak community. Unfortunately, nowadays the tradition of merarik is frequently misapplied as a way to abduct a girl to be married even though without any agreement of her parents. It frequently causes conflicts between two families. In this regard, merarik becomes an interesting topic to discuss because at all events, several practices of such a tradition contravene the rights of women and their parents. Women cannot make a choice a bridefroom whom they love.Moreover, under-age marriages also often occur. As a consequence, most of women stop far schools. Why does the tradition of merarik still exist in a society This phenomenon shows as if there is a legitimation of the Sasak men who have a mind to maintain this tradition. This article tries to study how Sasak community as the majority of Muslim understand and interprete this phenomenon. Key Words: Merarik, Marriage, women forcefulness, Sasak Community
LOMBOK ISLAM IN THE EYES OF ANTHROPOLOGISTS AHMAD FATHAN ANIQ
Al Qalam Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1139.6 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v28i2.1372

Abstract

Sasak adalah kelompok suku terbesar di Lombok. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok,yaitu Wetu Telu dan Waktu Lima. Waktu Lima adalah sebuah komunitas yang mendefinisikan diri sebagai penganut Islam ortodoks. Sedangkan Watu Telu adalah komunitas suku sasak marjinal yang memiliki kepercayaan yang dianggap sinkretik karena mereka masih mempercayai roh-roh nenek moyang mereka. Akan tetapi, sekitar delapan dekade yang lalu, sebagian muslim Lombok masih menjadi penganut Islam Wetu Telu. Perubahan yang sangat cepat ini mengundang banyak sarjana untuk melakukan penelitian tentang hubungan sosial dan keberagamaan masyarakat Lombok. Secara khusus, mereka tertarik untuk mengkqji pembagian antara Wetu Telu dan Waktu Lima.Artikel ini merupakan kajian literatur yang bertujuan untuk mengkaji relasi kuasa antara Wetu Telu, Waktu Lima dan pemerintah. Artikel ini mencoba meninjau konflik-konflik yang timbul dari hubungan-hubungan tersebut. Selanjutnya, artikel ini juga akan mengkaji perubahan paradigma S uku Sasak dan paradigma pemerintah dalam memandang posisi Wetu Telu. Untuk memahami hal tersebut, penulis akan mencoba menggali kajian-kajian antropologi mengenai masyarakat. Banyak literatur yang sudah membahas mengenai masyarakat Wetu Telu dan Waktu Lima. Untuk menganalisis data, penulis menggunakan metode induktif dan metode deskriptif analitis.Kata Kunci: Sasak, islamisasi, konflik, polarisasi, relasi kuasa