Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Keberadaan Logam Berat Pb Dan Cu Pada Bycatch Perikanan Bagan Tancap Di Perairan Banyuasin, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Agustriani, Fitri; Harahap, Diny Novita Sari; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Fauziyah, Fauziyah; Meiyerani, Jeni
Journal of Tropical Marine Science Vol 8 No 1 (2025): Journal of Tropical Marine Science (on going)
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jour.trop.mar.sci.v8i1.5682

Abstract

Fish and some groups of shrimps and crabs are one of the economically important biota that live in the waters. Accumulation of heavy metals in fish can affect the economic value of marine fishery products. There are several types of fish that contain heavy metals and are harmful when consumed by humans. The purpose of this study was to determine the dominant bycatch fish species and the accumulation of heavy metals Pb and Cu in the bycatch of stationary lift net Pesisir Banyuasin. This study was conducted in November 2019 and the dominant bycatch included japuh fish (Dussumieria acuta), tembang fish (Sardinella fimbriata) and parang-parang fish (Chirocentrus dorab). Samples were taken from one stationary lift net then analysed using SSA (Atomic Absorption Spectrophotometry) with 3 repetitions. The results of the analysis found the average concentration of heavy metals Pb and Cu in japuh fish was 0.65 mg/kg Pb; 0.16 mg/kg Cu. In tembang fish 0.70 mg/kg Pb and 0.03 mg/kg Cu. The parang-parang fish was 0.50 mg/kg and 0.17 mg/kg Cu. Based on the quality standards of SNI, Directorate General of Food and Drug Administration and FAO, the Pb and Cu concentrations of the three types of by-catch fish are still below the quality standard threshold and safe for human consumption.
Persebaran Mikroplastik di Lintas Ekosistem Sumatera Selatan Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Putri, Wike Ayu Eka; Melki, Melki; Barus, Beta Susanto; Suteja, Yulianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 14, No 3 (2025): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v14i3.75654

Abstract

Penelitian ini mengkaji keberadaan dan distribusi mikroplastik di muara dan sepanjang Sungai Musi di Sumatera Selatan, Indonesia—suatu kawasan yang terdampak berat oleh pencemaran industri, domestik, dan pertanian. Sampel diambil dari lima stasiun, dengan hasil menunjukkan rata-rata konsentrasi mikroplastik sebesar 33,8 partikel/m3. Konsentrasi tertinggi ditemukan di pertemuan Sungai Upang, kemungkinan akibat limpasan perkotaan dan buangan industri, sementara konsentrasi terendah terdeteksi di sekitar Jembatan Ampera dan Pulau Kemaro, di mana turbulensi air lokal dapat mendorong terjadinya sedimentasi mikroplastik. Mikroplastik yang teridentifikasi didominasi oleh fragmen (77,5%) dan serat (22,5%), dengan sebagian besar partikel berada dalam kisaran ukuran 301–500 µm. Jenis polimer yang paling dominan adalah Low-Density Polyethylene (LDPE), yang umumnya berasal dari limbah kemasan konsumen. Temuan ini menegaskan peran Sungai Musi sebagai jalur transportasi mikroplastik dari daratan menuju ekosistem laut, yang berpotensi menimbulkan risiko besar terhadap keanekaragaman hayati akuatik dan rantai makanan. Selain merusak habitat perairan, mikroplastik juga dapat menjadi media pembawa logam berat dan zat beracun lainnya, sehingga memperparah dampak ekologisnya.
Logam Berat Cd di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Diansyah, Gusti; Rozirwan, Rozirwan; Fauziyah, Fauziyah; Agustriani, Fitri; Haryati, Ani; Gusri, Ariqoh Athallah
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 1 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i1.56751

Abstract

Pemanfaatan daerah aliran sungai seringkali memberikan dampak negatif terhadap kualitas perairan. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak terhadap keamanan pangan yang berasal dari wilayah tersebut. Salah satu komponen bahan pencemar yang umum ditemukan di perairan dan menjadi ancaman bagi keamanan pangan adalah logam berat Cd. Penelitian bertujuan mengetahui konsentrasi logam berat Cd pada beberapa komponen ekosistem yang ada di Sungai Musi bagian hilir meliputi air, sedimen dan tiga organ ikan (insang, hati dan daging). Ikan yang menjadi objek penelitian adalah empat jenis ikan yang umum tertangkap meliputi ikan Juaro (Pangasius polyuranodon), ikan Sembilang (Paraplotosus albilabris), ikan Seluang (Rasbora sp) dan ikan Belanak (Mugil chepalus). Sampel air dan sedimen diambil dari sekitar Sungai Musi bagian hilir yang dibagi menjadi delapan (8) stasiun penelitian selama periode Maret, Mei dan November 2018. Adapun sampel ikan diambil dari nelayan sekitar yang menangkap ikan di kawasan tersebut. Sampel dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata logam berat Cd pada sampel air kecil dari 0,001 mg/l dan pada sedimen berkisar antara 0,223-0,419 mg/kg. Konsentrasi rata-rata Cd pada organ hati, insang dan daging ikan Seluang adalah 0,117, 0,034 dan 0,021 mg/kg, ikan Juaro 0,059, 0,051 dan 0,027 mg/kg, ikan Belanak 0,096, 0,031 dan 0,025 mg/kg, ikan Sembilang 0,102, 0,046 dan 0,032 mg/kg. Konsentrasi logam berat Cd pada sampel air, sedimen dan daging ikan Seluang, ikan Juaro, ikan Belanak dan ikan Sembilang masih dibawah baku mutu dan ambang batas yang ditetapkan.   Utilization of river often has a negative impact on water quality. This condition will influence on the security of food originating from this area. One component of pollutants that is commonly found in waters and poses a threat to food safety is heavy metal such as Cd. The research aims to determine the concentration of the heavy metal Cd in several ecosystem components in the Musi River Estuary, including water, sediment and three fish organs (gills, liver and meat). Object of this research are four types of fish that are commonly caught, such as Juaro fish (Pangasius polyuranodon), Sembilang fish (Paraplotosus albilabris), Seluang fish (Rasbora sp) and Belanak fish (Mugil chepalus). Water and sediment samples were taken from around the Musi River downstream, divided into eight (8) research stations during March, May and November 2018. Fish samples were taken from local fishermen who caught fish in the area. Samples were analyzed using the USEPA 30050B and AAS (atomic absorption spectrophotometer). The results showed that the average concentration of the heavy metal Cd in water samples was less than 0.001 mg/l, in sediments ranging from 0.223 to 0.419 mg/kg. The average concentration of Cd in the liver, gills and muscle of Seluang fish was 0.117, 0.034 and 0.021 mg/kg, Juaro fish 0.059, 0.051 and 0.027 mg/kg, Belanak fish 0.096, 0.031 and 0.025 mg/kg, Sembilang fish 0.102, 0.046 and 0.032 mg/kg. The concentration of the heavy metal Cd in samples of water, sediment and muscles of Seluang, Juaro, Belanak and Sembilang fish was still below some specified quality standards.
Evaluasi Eko-Teknis Struktur Habitat Lamun dan Kelimpahan Echinodermata di Pulau Pahawang Nurdiana, Nurdiana; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Aryawati, Riris; Isnaini, Isnaini; Hartoni, Hartoni
JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN Vol. 11 No. 4 (2025): JURNAL SAINS TEKNOLOGI & LINGKUNGAN
Publisher : LPPM Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jstl.v11i4.943

Abstract

Seagrass ecosystems serve as important habitats for various marine organisms, including Echinodermata. This study aims to examine the relationship between seagrass cover and the abundance of Echinodermata in the waters of Pahawang Island. Sampling was conducted at four stations using the transect–quadrat method, followed by species identification and measurements of seagrass cover. Three seagrass species were recorded: Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Halodule uninervis. Eight species of Echinodermata from four classes were found, with Diadema setosum being the most abundant and occurring at all stations. Other species appeared selectively, depending on local habitat conditions. Higher Echinodermata abundance was observed in areas with greater seagrass cover. Regression analysis revealed a positive relationship between seagrass cover and Echinodermata abundance, indicating that denser seagrass beds support higher population levels. Overall, the condition of seagrass ecosystems plays a key role in shaping the abundance and distribution of Echinodermata, highlighting the importance of conserving seagrass habitats around Pahawang Island.
Variasi Lingkungan Perairan dan Respons Komunitas Lamun di Pulau Pahawang Lestari, Tridyah; Aryawati, Riris; Aryawati, Wike Ayu Eka; Melki; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo
Biosel Biology Science and Education Vol. 15 No. 1 (2026): BIOSEL (Biology Science and Education: Jurnal Penelitian Sains dan Pendidikan)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI AMBON

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/bs.v15i1.12453

Abstract

Seagrass ecosystems play a crucial role in maintaining coastal environmental stability, yet their presence in Pahawang Island shows a declining trend due to human activity pressures and changes in aquatic conditions. This study aims to describe the structure of the seagrass community and analyze its correlation with environmental parameters at four stations with different characteristics. Seagrass data collection was conducted using the transect-quadrant method to measure coverage, density, and species composition, while environmental parameters observed included temperature, salinity, pH, dissolved oxygen (DO), current, and water clarity. The results showed the presence of three seagrass species, namely Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, and Halodule uninervis, with varying coverage and density across locations; the best condition was found at the natural station and the lowest at the pier area. The diversity index was classified as low, while uniformity and dominance varied according to human activity levels around the water. PCA analysis indicated that salinity, current, clarity, DO, pH, and temperature contribute differently at each station and collectively influence the variation in the seagrass community. These findings emphasize that differences in environmental quality and the intensity of anthropogenic disturbances are key factors determining the condition of the seagrass beds in Pahawang Island.  Keywords: Seagrass, Water Quality, Community Structure, PCA, Pahawang Island
Penguatan Literasi Kelautan Melalui Edukasi Oseanografi dan Instrumentasi Kelautan pada Siswa Sekolah Menengah Atas Nur, Muhamad; Barus, Beta Susanto; Agustriani, Fitri; Diansyah, Gusti; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Ningsih, Ellis Nurjuliasti; Febrianti, Amanda Astri Pratiwi; Utami, Risnita Tri
Journal of Community Development Vol. 6 No. 3 (2026): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i2.1886

Abstract

  Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi sumber daya laut yang besar dan strategis, sehingga memerlukan sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki pemahaman memadai tentang sistem kelautan. Oseanografi dan instrumentasi kelautan berperan penting dalam memahami dinamika laut, pemantauan kualitas perairan, serta pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan. Namun, pemahaman dan minat generasi muda, khususnya siswa sekolah menengah atas (SMA), terhadap bidang tersebut masih tergolong rendah. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, membentuk persepsi positif, serta menumbuhkan minat siswa terhadap oseanografi dan instrumentasi kelautan. Kegiatan dilaksanakan pada Mei 2025 di SMA Nurul Yakin Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, dengan melibatkan dosen dan mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan FMIPA Universitas Sriwijaya. Metode yang digunakan meliputi edukasi melalui presentasi dan diskusi interaktif, demonstrasi alat kelautan sederhana, serta evaluasi menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Evaluasi difokuskan pada tiga dimensi, yaitu tingkat pengetahuan, persepsi terhadap urgensi dan daya tarik bidang oseanografi, serta minat siswa dalam kegiatan lanjutan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada seluruh dimensi yang diukur. Tingkat pengetahuan siswa pada kategori Sangat Mengetahui meningkat dari 2% menjadi 71%, sementara kategori Tidak Mengetahui menurun dari 87% menjadi 7%. Persepsi siswa terhadap urgensi bidang oseanografi menunjukkan peningkatan kategori Sangat Perlu dari 11% menjadi 73%. Selain itu, minat siswa pada kategori Sangat Tertarik meningkat dari 9% menjadi 69%. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan edukatif berbasis interaksi dan praktik sederhana efektif dalam meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan motivasi siswa terhadap bidang kelautan, serta berpotensi menjadi model pengenalan ilmu dan karier kelautan di tingkat sekolah menengah.
Logam Berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di Sungai Musi Bagian Hilir, Sumatera Selatan Putri, Wike Ayu Eka; Purwiyanto, Anna Ida Sunaryo; Meiyerani, Jeni; Melki, Melki; Rozirwan, Rozirwan; Barus, Beta Susanto; Diansyah, Gusti; Haryati, Ani; Suteja, Yulianto
Indonesian Journal of Oceanography Vol 8, No 1 (2026): Indonesian Journal of Oceanography
Publisher : University of Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijoce.v8i1.29900

Abstract

Logam berat merupakan salah satu komponen bahan pencemar yang umum dijumpai di perairan. Informasi tentang logam berat Nikel (Ni) dan Seng (Zn) di air dan sedimen Sungai Musi bagian hilir masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat Ni dan Zn pada air dan sedimen yang dipengaruhi aktivitas antropogenik di Sungai Musi bagian hilir. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Maret, September dan November di sepanjang Sungai Musi Bagian Hilir yang dibagi menjadi 3 zona penelitian atau 11 stasiun. Sampel air dan sedimen dianalisa merujuk pada metode USEPA 30050B dan dianalisa menggunakan AAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat dalam air berkisar berkisar antara 0,003-0,005 mg/L untuk logam Ni dan 0,002-0,017 mg/L untuk logam Zn. Adapun konsentrasi logam berat dalam sedimen ditemukan lebih tinggi yaitu 42,63-74 mg/Kg untuk logam Ni dan 10,33-20,56 mg/Kg untuk logam Zn. Secara keseluruhan konsentrasi logam berat Ni dan Zn dalam sampel air dan Zn dalam sedimen masih dibawah baku mutu, namun konsentrasi logam Ni dalam sampel sedimen telah melebihi baku mutu yang menjadi rujukan. Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan konsentrasi logam Ni maupun Zn baik pada sampel air maupun sampel sedimen antar 3 zona pengamatan.