Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENINGKATAN POPULASI DAN PEMANFAATAN AYAM LOKAL BENGKULU MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI MIKRONUTRISI DAN PENETASAN SEDERHANA UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN MASYARAKAT Nurmeiliasari .; Heri Dwi Putranto; Urip Santoso; Apri Andani
DHARMA RAFLESIA Vol 12, No 1 (2014): JUNI
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v12i1.3381

Abstract

The program aims to increase the community interest to local genetic wealth of Burgochicken. The long term goal of this training is to make the village Sumber Rejo as centersof production, marketing and research activities of Burgo chicken. The method used in thisservice activity is a demonstration plot. The group is the group members who have beenprovided the knowledge and skills regarding the operation of the hatching machine. In theaspect of feed, farmers are given knowledge about the type of food, kathuk leaf supplementand ration formulation and feed mixing practices. This method is applied to support theacceleration of population growth of Burgo chicken. Extension and practice of usinghatching machine, as well as kathuk leaf extract supplementation, also introduce to targetfarmer groups as a holistic effort in increasing Burgo chicken population. Theimplementation of this activity shows some facts that (1) Burgo chicken is relatively hardto find and can be sold at high prices. (2) During the culture treatment of feed that hasbeen tested in previous studies, the production of eggs produced relatively high at anaverage of 48 eggs per head per egg-laying period, with low egg weight at an average of35 grams per egg. (3) Power of hatching eggs based on observations is still in the goodrange at 41 %. (4) The DOC mortality rate reaches 50 %. Egg production data showsgood potential. It can be seen from the total eggs produced within three months of culture(48 eggs) from five Burgo hens. High mortality and unmaximally hatchability will beincreased along with the increasing skill in the culture farming and operation of thehatching machine.Key words: Burgo Chicken, Hatching, Katuk Leaf Extract, Revenue
Analisis Keuntungan Usaha Penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus) Di Kota Bengkulu Heri Dwi Putranto; Yossie Yumiati; Alven Syahril Muslim; Ahmad Saleh Harahap
Wahana Peternakan Vol. 6 No. 2 (2022): Wahana Peternakan
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37090/jwputb.v6i2.601

Abstract

Abstract Nowadays, breeding captivity of white-rumped shama (Copsychus malabaricus) becomes a popular business among bird lovers in Bengkulu. It has been directed to create an independent livestock business. This captivity business aims to increase household income and gain profits. Captivity breeding has developed into a promising  and potential business. This study aimed to analyze the profits of white-rumped shama breeding captivity business in Bengkulu city. The research was purposively conducted in Bengkulu City. A snowball sampling method was used to determine respondents. Total of 19 respondents were interviewed based on  questionairres to determine the characteristics of respondents, total cost, total revenue and R/C ratio. The results showed that the majority of white-rumped shama breeders in Bengkulu city were male (95%) and classified into a productive age group. The average total revenue was Rp 150,744,354/year per respondent. The average  of R/C ratio was 2.47, which means that white-rumped shama breeding captivity business in Bengkulu is feasible to be developed. Key words: Bengkulu City, Breeding Captivity, Profit Analyses, White-rumped Shama
Pengenalan Hijauan Makanan Ternak Unggul untuk Peningkatan Produksi Sapi Potong di Desa Marga Sakti Kecamatan Margajaya Kabupaten Bengkulu Utara Nurmeiliasari, Nurmeiliasari; Putranto, Heri Dwi; Suherman, Dadang; Rangkuti, Nur Jamiah; Prasetyo, Arjun Dwi; Sanjaya, Andy
DHARMA RAFLESIA Vol 22 No 1 (2024): JUNI (ACCREDITED SINTA 5)
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/dr.v22i1.28946

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi ternak ruminansia adalah melalui pemenuhan kebutuhan pakan, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Pemenuhan kebutuhan pakan ternak sapi di masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan pakan dari alam berupa rumput lapang. Kuantitas dan kualitas rumput lapang sangat fluktuatif sehingga tidak memberikan jaminan performa produksi. Hal ini berdampak pada pendapatan peternak yang tidak menentu. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memperkenalkan hijauan makanan ternak yang berkualitas (HMT) berupa rumput odot untuk meningkatkan performa produksi ternak yang berdampak pada kesejahteraan peternak sapi di Desa Marga Sakti, Kecamatan Margajaya, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pemecahan masalah dilakukan dengan mengedukasi masyarakat peternak dengan muatan informasi mengenai jenis dan teknik budidaya rumput unggul. Bibit rumput odot diberikan kepada peternak dan penanaman dilakukan di lahan sekitar rumah peternak. Masyarakat juga diajarkan mengenai pengelolaan kebun rumput. Hasil dari kegiatan ini adalah peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai rumput unggul dan peserta program PKM mampu memproduksi rumput odot untuk ternak sapi mereka.
Red Jungle Fowl Offspring Maintenance System And Production In The Community In Bengkulu Sutriyono, Sutriyono; Santoso, Urip; Putranto, Heri Dwi; Suherman, Dadang
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.166-175

Abstract

The red junglefowl is a wild fowl and has been tamed and produces offspring, and is kept by the people of Bengkulu. The aim of the research is to identify and evaluate  rearing management and production  of red jungle fowl offspring in communities in Bengkulu. Research respondents were determined using the snowball sampling method, and fifty respondents were obtained. Data was obtained through observation, discussion and interviews, and filling in prepared forms; namely food management, housing, disease prevention, utilization and production. The results showed that the RJF offspring kept by the community were used for crossbreeding with local chickens (47%), production of chicks (28%), as hunting chickens (62%), and ornamental chickens (82%). Chickens are kept in 4 ways: (1) housed during the day and night, (2) chickens are kept free during the day and housed at night, (3) chickens are kept free at any time, and (4) chicken is placed on a perch. Feed given is commercial feed (BR1), corn, rice, brown rice, bran, crickets and ant eggs. Average egg production is 34 eggs/ hen/year, and chick production is estimated at 27 chicks/hen/year, and population growth is 2.68%/year. In conclusion, the community raising chicken is traditional, the quantity and quality of feed is not sufficient, the cages are very simple, disease prevention and safety protection are inadequate. As a local chicken, the average egg production is high, hatchability and chick production are high, but population development is slow. Poor chick rearing management and the aim of raising RJF offspring cause population development to be slow.   Keywords: Community, management and production, rearing, RJF Offspring   ABSTRAK Ayam hutan merah  merupakan unggas liar yang telah dijinakkan dan menghasilkan keturunan, serta dipelihara oleh masyarakat Bengkulu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi manajemen pemeliharaan dan produksi peranakan ayam hutan merah yang dipelihara oleh masyarakat Bengkulu. Responden penelitian ditentukan dengan metode snowball sampling, dan diperoleh lima puluh responden. Data diperoleh melalui observasi, diskusi dan wawancara, serta pengisian formulir yang telah disiapkan; meliputi pengelolaan pakan, kandang, pencegahan penyakit, pemanfaatan dan produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keturunan RJF yang dipelihara masyarakat digunakan untuk kawin silang dengan ayam lokal (47%), produksi anakan (28%), sebagai ayam berburu (62%), dan ayam hias (82%). Ayam dipelihara dengan 4 cara: (1) dikandangkan pada siang dan malam hari, (2) ayam dibebaskan  pada siang hari dan dikandangkan malam hari, (3) ayam dibebaskan pada siang dan malamnya, dan (4) ayam ditempatkan pada tenggeran. Pakan yang diberikan adalah pakan komersial (BR1), jagung, beras, beras merah, dedak, jangkrik dan telur semut. Produksi telur rata-rata 34 butir/ekor/tahun, produksi anak ayam diperkirakan 27 ekor/ekor/tahun, dan pertumbuhan populasi 2,68%/tahun. Kesimpulannya, peternakan ayam masyarakat masih bersifat tradisional, kuantitas dan kualitas pakan belum mencukupi, kandang sangat sederhana, pencegahan penyakit dan perlindungan keamanan belum memadai. Sebagai ayam lokal rata-rata produksi telurnya tinggi, daya tetas dan produksi anakannya tinggi, namun perkembangan populasinya lambat. Manajemen pemeliharaan anak ayam yang buruk dan tujuan membesarkan keturunan RJF menyebabkan perkembangan populasi menjadi lambat.   Kata kunci: Komunitas, Manajemen dan Produksi, Pemeliharaan, Keturunan ayam hutan merah
Deskripsi Manajemen Budidaya Burung Cinta (Love Bird) Sebagai Ternak Potensial Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Hakim, Nurmeilisari; Sutriyono, Sutriyono; Kurniati, Novitri; Yumiati, Yossie
Buletin Peternakan Tropis Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.4.2.127-134

Abstract

Love birds are a species of bird which is endemic to the African continent. This study aimed to find out and analyze love bird management methods which are generally carried out by love bird keepers and breeders. The study site was determined purposively in Kepahiang Regency, Bengkulu Province. Field research in the form of interviews using questionnaires were conducted among 15 respondents. Data collection from respondents was carried out using the snowball sampling method. Data were recapitulated  and analyzed descriptively. Data shows that all breeders fed white millet (grains) combined with finely chopped vegetables ad libitum with a frequency of once aday (n = 14) and a frequency of 2 times/day (n = 1). As the main feed, millet is given an average of 72.5 g/bird/day. There were 31 cages used for cultivation based on 3 main functions, namely daily maintenance cages, holding cages and matchmaking cages. Based on the type or shape, there were capsule cages (23 units) and plot-shaped cages (8 units). Cage sanitation recorded in the form of cleaning the cage were carried out once aday by 12 breeders (80%) in the morning (07.00 - 08.00 WIB). A total of 2 breeders (13.33%) during the day (11.00-12.00 WIB) and 1 breeder (6.67%) in the afternoon (17.00-18.00 WIB).  Researchers noted that there was 1 management activity that is similar as the management activity for birds in general, namely the match making activity. Furthermore, no mastering, sun bathing or shower  activities were found. It can be concluded that the main food for lovebirds was grain which is given ad libitum and the birds were kept in cages that are adapted to their function and rearing activities.   Keywords: Management, Love Bird, Potential Animal   ABSTRAK Burung cinta merupakan spesies burung yang berhabitat asli di benua Afrika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menganalisis metode budidaya burung cinta yang secara umum dilakukan oleh peternak dan penangkar burung cinta. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu. Penelitian lapangan berupa wawancara mempergunakan kuisioner dilakukan pada 15 orang responden. Koleksi data dari responden dilakukan dengan metode snowball sampling. Data direkapitulasi dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Data menunjukkan bahwa seluruh peternak memberikan pakan milet putih (biji-bijian) dikombinasikan dengan sayuran yang dicacah kecil ad libitum dengan frekuensi pemberian sebanyak 1 kali/hari (n = 14) dan frekuensi 2 kali/hari (n = 1). Sebagai pakan utama, milet diberikan rerata sebanyak 72,5 gr/ekor/hari. Terdapat 31 buah kandang yang dipergunakan untuk budidaya berdasarkan atas 3 fungsi utama yaitu kandang pemeliharaan harian, kandang umbaran dan kandang penjodohan. Berdasarkan jenis atau bentuknya terdapat  kandang kapsul (23 buah), dan kandang berbentuk petak (8 buah). Tindakan sanitasi kandang berupa membersihkan kandang dilakukan 1 kali/hari oleh 12 peternak (80%) pada pagi hari (jam 07.00 - 08.00 WIB).  Sebanyak 2 peternak (13,33%) pada siang hari (11.00-12.00 WIB) dan 1 peternak (6,67%) pada sore hari ( 17.00-18.00 WIB). Jenis penyakit yang menyerang burung cinta budidaya antara lain penyakit mata (13,33%) dan gangguan pernapasan (6,67%) yang diatasi mempergunakan herbal berupa daun sirih (80%) dan obat Super N (20 %). Peneliti mencatat terdapat 1 aktifitas budidaya yang sama dengan aktifitas budidaya burung peliharaan secara umum yaitu aktifitas penjodohan (match making). Selanjutnya, tidak ditemukan aktifitas budidaya mastering, sun bathing atau shower. Dapat disimpulkan bahwa pakan utama burung cinta adalah biji-bijian yang diberikan ad libitum dan burung dipelihara dalam kandang yang disesuaikan dengan fungsi dan aktifitas pemeliharaannya.   Kata kunci: Budidaya, Burung Cinta, Manajemen, Ternak Potensial
Analisis Pola Sebaran Populasi Serta Alasan Pembudidayaan Burung Jenis Kelamin Betina: Stusi Kasus Burung Murai Batu Piaraan Di Kota Bengkulu. Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Sutriyono, Sutriyono; Nurmeilisari, Nurmeilisari; Indriani, Dinda
Buletin Peternakan Tropis Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.5.1.31-39

Abstract

Until recently, keeping white-rumped shama bird as a pet is still a favorite option for Indonesia bird lovers. Study results showed that most bird breeders keep male birds, and the female population remains unknown. However, bird keeping and breeding efforts still require the existence of female birds as important parental factor. This research aims to analyze population distribution patterns and determine the reasons of breeder and bird lovers for cultivating female white-rumped shama. The location was determined purposively in Bengkulu City. Data was collected by snowball sampling method using questionnaire with respondent interview system in the field. Distribution pattern data was analyzed using the Variance Mean Ratio formula, while research data on reasons for cultivation were tabulated and analyzed descriptively. The results showed that the VMR value for the distribution pattern of the female white-rumped shama population was 7.55 and was classified as group distribution pattern. The reason for cultivating female white-rumped shama in Bengkulu city were economic value/profit (64% of respondents), followed by the reason for pleasure (36% of respondents). It can be concluded that most breeders' reason to keep white-rumped shama was for economic profit.
Populasi, Produksi, dan Skenario Pengembangan Ayam Hutan Merah Endemik Rejang Lebong Sutriyono, Sutriyono; Santoso, Urip; Putranto, Heri Dwi; Suherman, Dadang; Warnoto, Warnoto
Buletin Peternakan Tropis Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : BPFP Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/bpt.5.1.55-62

Abstract

The chicken endemic in Rejang Lebong Regency, Bengkulu Province, called burgo chicken, is the result of a cross between red jungle fowl and native chickens. The research aims to evaluate the production potential, population and population development scenarios of burgo chickens. The research was conducted in Rejang Lebong Regency, Bengkulu Province for 3 months. Fifteen breeders obtained using the snowball sampling method were used in this research. Data was obtained through interviews, filling out questionnaires, and observation; namely egg production, chick production, and population. Data is tabulated, discussed descriptively, and population development scenarios are prepared. The results of the research showed that the burgo population was 92 hens, 55 roosters, 17 hens, and 20 chicks. The productive hen was 13, producing 43.76 eggs/hen/year, a total of 744 eggs/13 hen/year, 386 (51.88%) were incubated by the hen, and 340 eggs (88.08%) hatched. In conclusion, egg production per individual is quite high, chick production is low, and population development is slow due to the low number of eggs laid, high chick mortality, being eaten by predators, sold and consumed by breeders. The scenario for increasing population and production is to increase the number of hens, the number of eggs laid, reduces mortality, protects chickens from predators, and improves rearing management.   Key words: Burgo Chicken, Production and Population, Development Scenarios   ABSTRAK Ayam endemik di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu yang disebut ayam burgo  merupakan hasil persilangan antara ayam hutan merah dengan ayam kampung. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi  potensi produksi, populasi dan skenario pengembangan populasi ayam burgo. Penelitian dilakukan  di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu selama 3 bulan. Lima belas peternak yang diperoleh dengan metode snowball sampling digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui wawancara, mengisi kuisioner, dan observasi; yaitu produksi telur,  produksi anak ayam, dan populasi. Data ditabulasi, dibahas secara deskriptif, dan disusun skenario pengembangan  populasi. Hasil penelitian,  populasi burgo adalah 92 ekor ayam terdiri dari ayam jantan 55 ekor,  induk ayam 17 ekor, dan anak ayam 20 ekor. Induk ayam produktif berjumlah 13 ekor, menghasilkan  telur 43,76 butir telur/induk ayam/tahun, total 744 butir telur/13 induk ayam/tahun. Jumlah telur dieram induk ayam adalah   386  (51,88%) dan  340 butir telur (88,08%) menetas.  Kesimpulan, produksi telur per individu cukup tinggi, produksi anak ayam rendah, dan  perkembangan populasi lambat yang disebabkan oleh rendahnya jumlah telur dieram, tingginya kematian anak ayam, dimakan predator, dijual dan dikonsumsi oleh peternak. Skenario peningkatan populasi dan produksi adalah meningkatkan jumlah induk ayam, jumlah telur dieram,  menurunkan angka kematian, melindungi ayam dari predator, dan memperbaiki manajemen pemeliharaan.   Kata kunci: Ayam Burgo, Produksi dan Populasi, Skenario Pengembangan
Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah dalam Pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor Di Kota Lubuklinggau Diputra, Opila Harta; Simarmata, Marulak; Brata, Bieng; Barchia, M. Faiz; Putranto, Heri Dwi
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.24255

Abstract

Penataan ruang yang baik mengurangi risiko bencana tanah longsor sesuai dengan tujuan penataan ruang sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan. Perwujudan ruang tersebut seharusnya tertuang dalam dokumen-dokumen rencana tata ruang yang terkait dengan keadaan risiko terhadap bencana. Peningkatan aktivitas pembangunan membutuhkan ruang yang semakin besar dan dapat berimplikasi pada perubahan fungsi lahan secara signifikan. Bencana tanah longsor dapat terjadi karena alih fungsi lahan menjadi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai pengurangan risiko bencana tanah longsor akibat adanya rencana tata ruang wilayah. Penelitian bersifat kualitatif yaitu menganalisis rencana tata ruang dan kuantitatif yaitu analisis pemetaan risiko bencana. Hasil penelitian menunjukan bahwa Indeks bahaya/ ancaman bencana tanah longsor pada skenario eksisting berada pada kelas “bahaya sedang” karena mengalami pegurangan, namun pada skenario RTRW terjadi peningkatan pada kelas “bahaya tinggi” Meningkatknya luasan kelas bahaya longsor terjadi di enam dari delapan Kecamatan di Kota Lubuklinggau. Indeks Kerentanan bencana tanah longsor tidak mengalami perubahan yang signifikan antara skenario eksisting dengan skenario RTRW dimana semua skenario berada pada kelas kerentanan sedang. Indeks kapasitas bencana tanah longsor pada indeks kapasitas daerah berada pada level 2 yang berarti bahwa daerah telah melaksanakan beberapa tindakan pengurangan risiko bencana dengan pencapaian-pencapaian yang masih bersifat sporadis yang disebabkan belum adanya komitmen kelembagaan dan/atau kebijakan sistematis. RTRW Kota Lubuklinggau mengakibatkan kenaikan risiko bencana tanah longsor dengan Nilai Pengurangan Risiko (NPR) < 0 umumnya berada pada penggunaan lahan eksisting hutan alam atau pada kawasan rencana perkebunan. Luas area yang termasuk ke dalam NPR ini adalah sebesar 5.306,53 hektar atau 69,07 % dari luas Kota Lubuklinggau. Sedangkan Nilai Pengurangan Risiko (NPR) = 0 berarti wilayah tersebut tidak mengalami perubahan risiko akibat adanya RTR umumnya berada di penggunaan lahan eksisting sama dengan penggunaan lahan rencana (RTRW) misalnya kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat, hutan lindung Bukit Cogong, hutan produksi terbatas Hulu Tumpah, dan permukiman. Luas area yang termasuk ke dalam NPR ini adalah sebesar 11.334,93 hektar atau 30,93 % dari luas Kota Lubuklinggau. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan peningkatan kapasitas bencana melalui peningkatan kapasitas daerah dan kapasitas kesiapsiagaan bencana.
Dampak Penerapan Pola Penggaduhan Terhadap Pengembangan Ternak Sapi Potong Di Kecamatan Padang Jaya Bengkulu Utara Efendi, Zul; Brata, Bieng; Ishak , Andi; Putranto, Heri Dwi; Barchia, M. Faiz
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.27031

Abstract

Cultivation of beef cattle in Indonesia is mostly carried out by smallholder farms. Therefore, the beef cattle assistance program from the government often involves farmer groups through a livestock raising system. This study aims to determine the impact of implementing various disturbance patterns applied by farmer groups on the development of beef cattle populations. The research was conducted from February to June 2021 in Padang Jaya District, North Bengkulu Regency. Data was collected through interviews with various informants, namely from the Agriculture Office of North Bengkulu Regency, Animal Husbandry Officers from Padang Jaya District, and Management of Farmer Groups. Reports on assistance for the livestock raising program in Padang Jaya District in the 2016-2020 period originating from the Agriculture Service became the basis for searching field information. Eight farmer groups from four recipient villages of the livestock raising program identified the patterns of disturbances and their impact on livestock population development. Secondary data related to this study were collected from BPS reports, Livestock and Animal Health Sector - North Bengkulu District Agriculture Service, and the Padang Jaya District Agricultural Extension Center. The data and information obtained are discussed descriptively. The results showed that there were four patterns of beef cattle raising applied by breeders, namely: (1) one calf deposit, (2) one calf deposit plus Rp. 300,000, (3) deposit of two children, and (4) patterns of rioting with a profit-sharing system. All of these rioting patterns increased the beef cattle population belonging to individual breeders, but only the rioting pattern with the deposit of two calves and a profit-sharing system was able to increase the population of ruminant livestock owned by farmer groups.
Strategi Pengembangan Peternakan Itik Petelur Di Kabupaten Lebong Gandi, Kardinal Alsepto; Putranto, Heri Dwi; Brata, Bieng; Nurmeiliasari , Nurmeiliasari; Badarina, Irma
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol. 12 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.12.1.27059

Abstract

The strategy for developing laying ducks in Lebong Regency aims to explore potential, formulate strategies and overcome existing problems, so that they can interpret plans and programs from the Government of Lebong Regency as contained in the Strategic Plan-DPP 2016-2021 to realize self-sufficiency in food and products with high added value based on local resources for food sovereignty and farmer welfare, from 25 respondents who were chosen purposively (purposive sampling) consisting of breeders and stakeholders. The data processing method uses a strategic management concept approach with qualitative analysis and quantitative analysis (internal and external factors) to formulate three stages of strategy, namely the input stage uses the IFE matrix (Internal Factor Evaluation) and the EFE matrix (External Factor Evaluation), the integration stage is carried out with the IE matrix. (Internal-External), SWOT matrix (Strength, Weakness, Opportunities, Threats), the decision-making stage uses QSPM (Quantitative Strategy Planning Matrix). From the analysis results IFE 3.0571 and EFE 3.1216 combined in the I-E Matrix are in cell I position, which means that the development of laying duck farms in Lebong Regency is in strong internal conditions and the response to external factors is relatively high, a strategy that can be applied to laying duck farms in the District Lebong, namely the Growth and Build strategy (grow and develop) either through an intensive strategy or an integration strategy, based on the SWOT line quadrant graph shows a positive position both the X axis = 6.40 (opportunities) and the Y axis = 8.12 (strength) strategy Appropriate marketing is aggressive. From the results of the QSPM with a score of 4.9761, the priority strategy for developing laying duck farms in Lebong Regency that can be implemented is increasing production capacity, increasing livestock capacity by increasing the number of laying duck populations and increasing the ability of human resources in the field of animal husbandry, especially laying ducks, with that an aggressive strategy can be implemented. carried out so that market demand for duck eggs can be fulfilled.   Keywords: Development strategy, laying Ducks, Lebong District