Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Peran Gembala Berdasarkan Mazmur 23:1-6 Terhadap Pertumbuhan Iman Jemaat Di GGP Sanggabuana Molu, Serlina Baba; Sukarna, Timotius; Windarti, Maria Titik
Jurnal Silih Asah Vol. 2 No. 1 (2025): Februari : Jurnal Silih Asah
Publisher : LPPM - STT Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/silihasah.v2i1.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gembala dalam menumbuhkan iman jemaat berdasarkan Mazmur 23:1–6. Gembala dalam konteks Alkitab dipahami sebagai figur yang menuntun, melindungi, dan memelihara umat Allah, yang dalam pelayanan gereja diterjemahkan melalui pengajaran, konseling, teladan hidup, dan strategi pastoral. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana data diperoleh melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi di lingkungan Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) Sanggabuana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gembala memiliki peran penting sebagai teladan rohani, pembimbing iman, serta fasilitator transformasi jemaat melalui strategi penggembalaan yang efektif. Peran ini berdampak pada meningkatnya kesetiaan, kerendahan hati, serta keteguhan iman jemaat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan pertumbuhan iman jemaat sangat ditentukan oleh kualitas penggembalaan yang dijalankan oleh gembala sidang secara konsisten dan kontekstual.
PERANAN PEMBINAAN ROHANI KRISTEN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 CITEUREUP DI ERA MODERNISASI IPTEK Situmorang, Ganda Karya; Sukarna, Timotius
JURNAL KADESI Vol. 6 No. 2 (2024): Volume 6 Nomor 2 Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v6i2.96

Abstract

Terbentuknya Insan Bertaqwa, Sehat, Cerdas dan Cinta Lingkungan dalam Era Industri 4.0 dalam kehidupan manusia saling bersentuhan dengan kemajuan IPTEK. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan latar belakang masalah ini: Kurangnya nilai pendidikan rohani Kristen seperti kasih, kejujuran, kesabaran, dan belas kasihan. Pembinaan rohani dapat membantu peserta didik memahami perbedaan nilai-nilai Kristen dengan nilai-nilai dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana peranan pembinaan rohani Kristen dalam pembentukan karakter peserta didik, dan bagaimana caranya mengadakan pembinaan rohani Kristen kepada mereka. Membentuk karakter peserta didik dan pembinaan rohani Kristen memiliki latar belakang yang sangat penting dalam konteks pendidikan. Dalam penelitian ini akan mengunakan metode Kualitatif, dengan harapan dapat memberikan gambaran umum tentang temuan yang muncul berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, diantaranya: Hasil penelitian “Tetap teguh pada nilai-nilai Kristen di tengah pergolakan/pergeseran budaya dan moralitas yang terjadi”, “Membekali dengan landasan iman yang kuat sehingga mampu menghadapi dan mengatasi Tantangan dan Godaan dalam Kehidupan Modern dengan bijaksana.” dan hasil penelitian “Pentingnya pembentukan karakter yang kokoh, integritas, dan bertanggung jawab.” Lingkugan sekolah dan keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan spiritual dan moral yang konsisten dengan nilai-nilai Kristen; maka peranan pembinaan rohani Kristen dalam pembentukan karakter peserta didik menjadi semakin penting, dan dapat mendukung perkembangan holistik mereka sebagai individu.
Doktrin Roh Jahat: Dalam Perspektif Iman Kristen Aliadi, Frans; Sukarna, Timotius
JURNAL KADESI Vol. 7 No. 2 (2025): Volume 7 Nomor 2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v7i2.122

Abstract

This article discusses the doctrine of evil spirits from a Christian faith perspective, focusing on the existence and activities of supernatural beings that oppose the will of God. In Christian theology, evil spirits are associated with sin, temptation, and human suffering, and are considered a serious spiritual threat. Although the concept of evil spirits is often overlooked in the modern era, many people still experience negative spiritual phenomena, highlighting the importance of this topic. A lack of deep understanding of the doctrine of evil spirits can leave Christians vulnerable to spiritual attacks. This article aims to deepen theological understanding of the existence and role of evil spirits and to provide insights on how Christians can spiritually confront these negative influences. The research also emphasizes the relevance of this doctrine in daily life and spiritual practice, referencing the Bible, especially the New Testament, where Jesus Christ is depicted as having the authority to cast out evil spirits.
PERAN KAUM AWAM SEBAGAI KUNCI PERTUMBUHAN GEREJA DI GBIA JAKARTA BERDASARKAN SURAT EFESUS 4:11-16 Kadimin, Lukas; Sukarna, Timotius; Suharto, Daniel
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.36793

Abstract

Pertumbuhan gereja sering dikaitkan dengan jumlah anggota, kualitas rohani, pelayanan, serta jumlah gereja yang didirikan. Namun, pertumbuhan seperti apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan? Artikel ini mengeksplorasi peran kaum awam dalam pertumbuhan gereja lokal, khususnya di GBIA Jakarta, dengan menganalisis Efesus 4:11-16. Dengan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menunjukkan bahwa memberdayakan kaum awam adalah kunci dalam pertumbuhan gereja, baik secara kualitas maupun kuantitas. Temuan menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemimpin dan jemaat dalam menciptakan sinergi pertumbuhan gereja.
Peranan Komunitas Sel sebagai Kegiatan Misi dalam Meningkatkan Pertumbuhan Jemaat Vriska Friyanti; Timotius Sukarna
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Vol. 1 No. 1 (2024): Juni : Prosiding Seminar Nasional Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/prosemnasipaf.v1i1.7

Abstract

This paper discusses Christ wanting His church to have firm trust/faith in Him. A church that has true knowledge of Him, remains true to the truth of the Bible, and grows in love for God and fellow human beings. A church that increasingly increases its personal relationship with God and is brave in assuming responsibility and church service. This paper analyzes how the existence of cell groups greatly contributes and influences a person's spiritual growth, especially in terms of maturing congregation members to participate in ministry. In cell groups there is two-way communication, there is interaction in it, which is different from sermons which are only one-way. In a group, all members of the congregation have more opportunities to study the Bible than in worship on Sundays which only involve listening. At the discussion stage, in the cell group there is two-way communication, there is interaction in it, which is different from sermons which are only one-way. In a group, all members of the congregation have more opportunities to study the Bible than in worship on Sundays which only involve listening.
Strategi Pengajaran Tuhan Yesus Berdasarkan Injil Matius Bagi Pola Pembentukkan Jemaat Rumah Ledi, Roslina Soli; Sukarna, Timotius; Sihombing, Mangapul
JURNAL KADESI Vol. 8 No. 1 (2025): Volume 8 Nomor 1
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v8i1.152

Abstract

This article discusses the importance of Jesus' teaching strategy in the Gospel of Matthew for the formation of house congregations. Strategy comes from the Greek word stratogos, which means a method, procedure, or trick applied to achieve a goal and to shape the character of its mature members. In improving the quality of Jesus' teaching, Jesus used strategy and it became very effective in the Gospel of Matthew. The problem in this study is how Jesus' teaching strategy for house congregations based on the Gospel of Matthew actualizes their faith in the midst of the majority. Through a qualitative approach with theological analysis and biblical studies of chapters such as Matthew 4:19-20, Matthew 9:35, Matthew 5:2, Matthew 14:29, and Matthew 28:19-20. This article emphasizes that in Jesus' teaching, He prepared His disciples through a personal approach. The Lord Jesus not only chose disciples but also took responsibility for teaching them to prepare them to become teachers for others in spreading the Gospel. Jesus trained His disciples by involving them in real and active actions such as Jesus telling Peter to walk on water.  The Lord Jesus performed signs and miracles before them with the sole purpose of training His disciples. The Lord Jesus also trained and taught them how to truly pray (Matthew 6:5-13). A house congregation is a group of people who gather and learn the truth of God's Word and participate in the proclamation of the Gospel. This means that the congregation is involved in spreading the good news about Jesus Christ, and the congregation perseveres in prayer and makes prayer a lifestyle. Therefore, Jesus' teaching in the Gospel of Matthew emphasizes the formation of a close community, experiential teaching, commissioning for ministry, and leading by example in daily life. Jesus not only taught in formal meetings but also built a close community with His disciples, who became models for the house congregation. Jesus chose, taught, trained, educated, and discipled His disciples by sending them out to serve directly. Jesus taught spiritual values through concrete actions, which confirms that the formation of a congregation is not only based on doctrine but also on living examples.
Nationalism vs. Christian Faith: A Bible Review Rajiman Andrianus Sirait; Timotius Sukarna
Green Philosophy: International Journal of Religious Education and Philosophy Vol. 1 No. 1 (2024): January: Green Philosophy: International Journal of Religious Education and Phi
Publisher : International Forum of Researchers and Lecturers

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70062/greenphilosophy.v1i1.30

Abstract

This article explores the relationship between nationalism and Christian faith from a biblical perspective. Nationalism is often defined as loyalty to nation and state, while Christian faith centres on loyalty to God and His kingdom. In the Indonesian context, churches participated in the nationalism movement from the colonialism era until independence. Based on theological studies, the Bible provides insight that believers' primary loyalty should be to God, although they are also expected to be good citizens. This article uses a literature study method with a qualitative approach to analyse relevant biblical texts as well as related theological literature. The concept of nation in the Bible is examined from the perspective of the Old Testament, which focuses on the ethnic identity of the nation of Israel, to the New Testament, which expands the nation's identity into an inclusive community of faith. The article also highlights the ethical implications of nationalism for Christians, who should reflect the values of justice, love and sacrifice, and avoid exclusionary and xenophobic attitudes.
Faith-Based Organization dalam Hubungan Internasional: Studi tentang Pengaruh Lembaga Compassion International terhadap Pendidikan di Indonesia dalam Perspektif Teologi Matius 5:14-16 Teofilus Setia Wahyudi; Timotius Sukarna
Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52489/juteolog.v6i2.333

Abstract

Tantangan nasional Indonesia dalam bidang ekonomi, kebudayaan, dan tata kelola sosial menempatkan negara ini dalam keterhubungan yang semakin intensif dengan sistem internasional. Dalam perspektif hubungan internasional kontemporer, interaksi lintas negara tidak hanya melibatkan distribusi kepentingan material, tetapi juga proses konstruksi norma, identitas, dan makna sosial. Artikel ini menganalisis peran Organisasi Berbasis Iman melalui studi kasus Compassion International dan pengaruhnya terhadap sektor pendidikan di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme, penelitian ini memandang Compassion sebagai aktor non-negara transnasional yang berperan dalam difusi norma dan pembentukan identitas kolektif melalui jaringan globalnya. Melalui program pendidikan berbasis komunitas, lembaga ini tidak hanya menyalurkan sumber daya material, tetapi juga mentransmisikan nilai-nilai tentang kepedulian anak, pemberdayaan, dan tanggung jawab sosial yang beroperasi dalam ruang masyarakat sipil global. Interaksi antara identitas religius lembaga, struktur pembangunan internasional, dan regulasi domestik menunjukkan adanya proses socialization dan internalisasi norma dalam praktik pendidikan di tingkat lokal. Perspektif teologis dari Injil Matius 5:14-16 tentang identitas “garam dan terang dunia” digunakan sebagai kerangka normatif untuk memahami konstruksi identitas moral lembaga dalam ruang publik internasional. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa Organisasi Berbasis Iman merupakan bagian dari dinamika hubungan internasional yang berkontribusi dalam pembentukan tatanan normatif global melalui praktik pendidikan lintas negara.
DEVOSI PAGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN SEBAGAI SARANA PEMBENTUKAN KARAKTER DI SDS DIAN HARAPAN DAAN MOGOT JAKARTA Ester Rahayu; Timotius Sukarna
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7 No 1 (2026): Vol 7 No 1(2026)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46558/bonafide.v7i1.481

Abstract

Christian Religious Education, also known as Pendidikan Agama Kristen or PAK is a way of teaching that helps students grow in all areas of life. The government wants schools to help students become mature in their spirit, morals and minds. Christian Religious Education plays a role in this by helping students develop spiritually in a school setting. This study looks at how well morning devotion activities help students develop character. We live in a time where many people are losing values, so this is very important. The study found that when students take part in morning devotion activities, they do not just learn about values they start to live with. This happens when these activities are done in a sustainable way. The study also found that the way morning devotion is done is very important. It needs to be managed in a way that makes sense for each school. It needs to be structured and reflective. When homeroom teachers are heavily involved and mentor their students closely it makes a difference. They act as guides for their students. So, morning devotion is not something that students have to do every day. It is a time for them to learn and live out Christian values in their daily lives. Christian Religious Education and morning devotion activities are important, for internalizing Christian values into students' daily behaviours.
Pengaruh Tradisi Ritual Yahudi Dan Kristen Terhadap Pembelajaran Spiritual Dalam Pendidikan Agama Kurikulum Merdeka Setiawan, Iwan; Sukarna, Timotius
JURNAL KADESI Vol. 8 No. 2 (2026): Volume 8 No.2
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54765/ejurnalkadesi.v8i2.147

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi tradisi pendidikan agama Yahudi terhadap pengembangan Pendidikan Agama Kristen dalam konteks Kurikulum Merdeka. Fokus penelitian diarahkan pada integrasi nilai-nilai pendidikan Yahudi, seperti pembelajaran berbasis teks, dialog reflektif, ritual keagamaan, dan keterlibatan komunitas, sebagai strategi untuk memperkuat pembelajaran spiritual dan pembentukan karakter peserta didik. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis komparatif melalui studi pustaka terhadap literatur pendidikan agama Yahudi, Pendidikan Agama Kristen, pembelajaran mendalam (deep learning), serta dokumen Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Yahudi memiliki keselarasan dengan paradigma Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran holistik, partisipatif, dan berpusat pada peserta didik. Metode dialogis dalam tradisi Talmud Torah, pembelajaran berbasis pengalaman religius, serta penggunaan ritual sebagai media pendidikan spiritual terbukti relevan untuk diterapkan dalam Pendidikan Agama Kristen. Pendekatan tersebut tidak hanya meningkatkan pemahaman kognitif peserta didik terhadap ajaran agama, tetapi juga memperkuat dimensi afektif, spiritual, dan moral melalui internalisasi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa pendekatan pembelajaran mendalam mampu mendorong pertumbuhan karakter religius, empati, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual peserta didik. Namun, implementasi metode pendidikan Yahudi dalam pendidikan Kristen perlu dilakukan secara kontekstual dengan mempertimbangkan aspek teologis, budaya, dan denominasi gerejawi. Dengan demikian, integrasi prinsip-prinsip pendidikan Yahudi dapat menjadi alternatif pedagogis yang mendukung pengembangan Pendidikan Agama Kristen yang lebih reflektif, kontekstual, dan transformatif di era Kurikulum Merdeka.