Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Penggunaan Media Kotak Cahaya Berbantuan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid Sekolah Dasar pada Mata Pelajaran IPAS Dwi Aswiya Is. Ibrahim; Isnanto Isnanto; Irvin Novita Arifin; Nurfadliah Nurfadliah; Gamar Abdullah
Cokroaminoto Journal of Primary Education Vol. 9 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/cjpe.9.3.2026.9139

Abstract

Rendahnya hasil belajar murid pada mata pelajaran IPAS khususnya materi cahaya dan sifat-sifatnya di kelas V SDN 2 Talaga Jaya menjadi permasalahan yang mendasari penelitian ini yang disebabkan antara lain oleh kurangnya penggunaan media pembelajaran konkret, model pembelajaran yang belum bervariasi, serta rendahnya partisipasi aktif murid selama proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar murid pada mata pelajaran IPAS di kelas V SDN 2 Talaga Jaya melalui penerapan media pembelajaran kotak cahaya berbantuan model Problem Based Learning (PBL). Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri dari dua pertemuan dengan empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 17 murid, terdiri dari 12 laki-laki dan 5 perempuan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi lembar observasi guru dan lembar observasi murid untuk mengamati aktivitas pembelajaran, tes tertulis berupa 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian untuk mengukur hasil belajar murid, serta dokumentasi sebagai bukti pelaksanaan penelitian. Pada siklus I, hanya 5 murid (29,41%) yang mencapai Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP ≥75), sementara 12 murid (70,58%) belum memenuhi ketuntasan. Setelah dilakukan perbaikan pada siklus II, hasil belajar murid meningkat signifikan, dengan 16 murid (94,11%) telah mencapai ketuntasan dan hanya 1 murid (5,88%) yang belum. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media kotak cahaya berbantuan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar murid di kelas V SDN 2 Talaga Jaya. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya guru mengembangkan dan memanfaatkan media pembelajaran konkret dan inovatif yang dipadukan dengan model pembelajaran yang relevan, khususnya PBL sebagai alternatif strategi pembelajaran IPAS untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar murid sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dalam menyusun kebijakan terkait pengembangan media dan model pembelajaran yang inovatif.
Pengembangan Media SIBILAH Materi Penjumlahan dan Pengurangan Bilangan Cacah pada Pembelajaran Matematika Siswa Sekolah Dasar Siti Nur Fadila Y. Kasim; Isnanto Isnanto; Andi Marshanawiah; Nur Sakinah Aries; Hadi Yamin Assel
Cokroaminoto Journal of Primary Education Vol. 9 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/cjpe.9.3.2026.9184

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat, motivasi, dan hasil belajar siswa pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah, serta kurang optimalnya penggunaan media pembelajaran yang variatif dan interaktif dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran SIBILAH (Spinner Bilangan Cacah) yang memenuhi kriteria kelayakan, kepraktisan, dan keefektifan. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang terdiri atas tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Subjek penelitian adalah 21 siswa kelas IV SDN 2 Kota Barat Kota Gorontalo. Data dikumpulkan melalui observasi, angket, tes, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media SIBILAH memperoleh rata-rata validasi sebesar 91,9% dengan kategori sangat layak. Hasil uji kepraktisan menunjukkan persentase respon guru sebesar 97,5% dan respon siswa sebesar 95,1% dengan kategori sangat praktis. Hasil uji keefektifan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pre-test dari 50 menjadi 90 pada post-test dengan nilai N-Gain sebesar 0,80 berkategori tinggi dan tingkat efektivitas sebesar 80%. Dengan demikian, media SIBILAH dinyatakan layak, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran matematika pada materi penjumlahan dan pengurangan bilangan cacah di sekolah dasar.
Pengembangan E-LKM Berbasis PjBL Terintegrasi Joyfull Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Murid pada Pembelajaran IPAS di Sekolah Dasar Ni Ketut Anggi Sugiarti; Gamar Abdullah; Rifda Mardian Arif; Isnanto Isnanto; Kudus Kudus
Cokroaminoto Journal of Primary Education Vol. 9 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/cjpe.9.3.2026.9271

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan E-LKM berbasis Project-Based Learning (PjBL) terintegrasi Joyfull Learning yang memenuhi kriteria kelayakan, kepraktisan, dan keefektifan pada pembelajaran IPAS materi Wujud Zat dan Perubahannya. Kebaruan produk terletak pada pemaduan sintaks PjBL dengan aktivitas pembelajaran yang menyenangkan, seperti video pembelajaran, Joyfull Quiz, kegiatan proyek, dan refleksi murid, sehingga E-LKM tidak hanya berfungsi sebagai lembar kerja digital, tetapi juga sebagai bahan ajar interaktif yang mendorong keterlibatan aktif murid. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, angket, tes, dokumentasi, dan lembar validasi. Validasi produk dilakukan oleh tiga validator, yaitu ahli media, ahli materi, dan ahli pengguna. Sementara itu, uji coba terbatas untuk menilai kepraktisan dan keefektifan melibatkan 21 murid kelas IV SD Negeri 2 Tilango. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa E-LKM memperoleh rata-rata persentase sebesar 97,71%, yang dihitung berdasarkan rata-rata persentase penilaian dari masing-masing validator, dan termasuk kategori “sangat layak”. Hasil uji kepraktisan menunjukkan persentase respon guru sebesar 97,5% dan respon murid sebesar 97,85%, sehingga termasuk kategori “sangat praktis”. Hasil uji keefektifan menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pre-test dari 46,38 menjadi 88,00 pada post-test, dengan selisih 41,62 poin. Skor N-Gain sebesar 0,77 termasuk kategori tinggi, sedangkan N-Gain persen sebesar 77,62% menunjukkan bahwa E-LKM berada pada kategori efektif. Dengan demikian, E-LKM berbasis PjBL terintegrasi Joyfull Learning dinyatakan layak, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPAS di sekolah dasar.
EVALUASI PEMBELAJARAN IPA BERBASIS HOTS DI SD LABORATORIUM UNG Gamar Abdullah; Isnanto Isnanto; Andi Marshanawiah; Muh. Sahman Rahman
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i3.6927

Abstract

Implementing science learning based on Higher Order Thinking Skills (HOTS) is a strategic effort to improve the quality of education in elementary schools. HOTS itself refers to higher-order thinking skills that include analysis, evaluation, and creativity, which are crucial for equipping students to face the challenges of the 21st century. In the context of science learning, the application of HOTS not only requires teachers to deliver material factually but also develops students' abilities to connect concepts, solve problems, and examine scientific phenomena critically and creatively. The purpose of this study is to evaluate HOTS-based science learning in elementary schools (SD) based on Permendikbudristek No. 16 of 2022, which includes learning planning and implementation. This research is a descriptive study using a quantitative approach. The research was conducted at SD Laboratorium UNG in phases B and C, namely grades III, IV, V, and VI, consisting of 12 classes. Based on the research findings on the planning and implementation of HOTS-based science learning at UNG Laboratory Elementary School, it can be concluded that overall, HOTS implementation has been successful, although several aspects still require strengthening. Overall, HOTS-based learning at UNG Laboratory Elementary School has shown positive results, particularly in terms of learning media and student engagement strategies. However, several aspects that need strengthening include HOTS assessment and the integration of lesson plans to ensure better coordination between objectives and assessments, enabling students to maximize their higher-order thinking skills. ABSTRAKPelaksanaan pembelajaran IPA yang berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar. HOTS sendiri merujuk pada kemampuan berpikir tingkat tinggi yang meliputi analisis, evaluasi, dan kreasi, yang sangat penting untuk membekali siswa menghadapi tantangan abad ke-21. Dalam konteks pembelajaran IPA, penerapan HOTS tidak hanya menuntut guru untuk menyampaikan materi secara faktual, tetapi juga mengembangkan kemampuan siswa dalam menghubungkan konsep, memecahkan masalah, serta mengkaji fenomena ilmiah secara kritis dan kreatif. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pembelajaran IPA berbasis HOTS di Sekolah Dasar (SD) berdasarkan Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022 yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan di SD Laboratorium UNG pada jenjang fase B dan C, yaitu kelas III, IV, V dan VI yang terdiri dari 12 kelas. Berdasarkan hasil penelitian mengenai perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran IPA berbasis HOTS di SD Laboratorium UNG, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, implementasi HOTS telah diterapkan dengan baik, meskipun terdapat beberapa aspek yang masih memerlukan penguatan. Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis HOTS di SD Laboratorium UNG menunjukkan hasil yang positif, terutama dalam hal media pembelajaran dan strategi keterlibatan siswa. Namun, beberapa aspek a yang perlu diperkuat adalah penilaian HOTS dan keterpaduan rencana pembelajaran agar tujuan dan asesmen dapat lebih terkoordinasi dengan baik, sehingga siswa dapat berkembang dengan lebih maksimal dalam keterampilan berpikir tingkat tinggi.