This study aimed to compare the effects of target zone drill and squat thrust training on badminton smash accuracy among PB Gemilang Mataram athletes. This revised version strengthens the methodological description, clarifies the intervention procedure, adds effect-size interpretation, and avoids overclaiming the superiority of one method because the between-group comparison was not statistically significant. The study employed a quantitative quasi-experimental method with a two-group pretest-posttest design. The population consisted of 50 PB Gemilang Mataram athletes, and the sample consisted of 12 male athletes aged 11-15 years selected using purposive sampling. Participants were allocated into two groups using a lottery procedure after the pretest, with six athletes in the target zone drill group and six athletes in the squat thrust group. The intervention was conducted for 18 sessions, with equal training duration, warm-up, core activity, and cooling-down structure in both groups. The instrument was a badminton smash accuracy test using predetermined target zones. Data were analyzed using the Shapiro-Wilk normality test, Levene’s homogeneity test, paired-sample t-test, and independent-sample t-test using SPSS 26 at a significance level of 0.05. The results showed that target zone drill significantly improved smash accuracy from 53.83 to 75.50 (t = 16.37; p < 0.001), while squat thrust also significantly improved smash accuracy from 48.50 to 66.83 (t = 10.62; p < 0.001). The gain-score comparison showed no significant difference between the two methods (t = 1.287; p = 0.181), with a small mean difference based on the SPSS output. These findings indicate that both methods are effective training alternatives for improving badminton smash accuracy; however, target zone drill can only be interpreted as descriptively higher, not statistically superior, in this sample. Keywords: target zone drill, squat thrust, smash accuracy, badminton Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh latihan target zona drill dan squat thrust terhadap ketepatan pukulan smash atlet bulutangkis PB Gemilang Mataram. Versi revisi ini memperkuat uraian metode, memperjelas prosedur perlakuan, menambahkan interpretasi ukuran efek, serta menghindari klaim keunggulan salah satu metode secara berlebihan karena hasil perbandingan antarkelompok tidak signifikan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu dan desain two-group pretest-posttest. Populasi penelitian berjumlah 50 atlet PB Gemilang Mataram, sedangkan sampel terdiri atas 12 atlet putra usia 11-15 tahun yang dipilih menggunakan purposive sampling. Pembagian kelompok dilakukan dengan prosedur undian setelah pretest sehingga masing-masing kelompok terdiri atas enam atlet. Program latihan dilaksanakan selama 18 sesi dengan struktur durasi yang disetarakan, yaitu pemanasan, kegiatan inti, dan pendinginan pada kedua kelompok. Instrumen penelitian menggunakan tes ketepatan pukulan smash bulutangkis berbasis zona sasaran. Analisis data dilakukan menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji homogenitas Levene, paired-sample t-test, dan independent-sample t-test dengan bantuan SPSS 26 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan target zona drill meningkatkan ketepatan pukulan smash dari 53,83 menjadi 75,50 (t = 16,37; p < 0,001), sedangkan latihan squat thrust meningkatkan ketepatan pukulan smash dari 48,50 menjadi 66,83 (t = 10,62; p < 0,001). Hasil uji perbandingan gain score menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua metode latihan (t = 1,287; p = 0,181). Dengan demikian, kedua metode dapat digunakan sebagai alternatif latihan untuk meningkatkan ketepatan pukulan smash; namun, target zona drill hanya dapat disebut memiliki peningkatan deskriptif lebih tinggi, bukan lebih unggul secara statistik pada sampel penelitian ini. Kata kunci: target zona drill, squat thrust, ketepatan smash, bulutangkis