Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Konsultasi Teknis Perencanaan Masjid di Kantor Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Wilayah IVA Jawa Barat Muhsin, Ardhiana; Rahadian, Erwin Yuniar; Hendrarto, Tecky
Lentera Karya Edukasi Vol 4, No 2 (2024): Jurnal LENTERA KARYA EDUKASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Pusat Pengembangan dan Kajian Sarana dan Prasarana Pendidikan (P2K Sarprasdik)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/lekaedu.v4i2.73704

Abstract

The Association of Indonesian Private Universities Region IVA West Java office needs to build a mosque with an available site next to the main building. This community service activity aims to facilitate this requirement by providing technical discussion to providing architectural drawings. The method used in the design process is a feedback method and the comparative method during the survey stage. The results are not only providing an architectural drawing but also detailed drawings and budget plans in general. In order to provide architectural drawings and detailed drawings, a simple course is also set for vocational high school students 
PERUBAHAN PENGGUNAAN MATERIAL PLAT KONVENSIONAL DENGAN PLAT HOLLOW CORE SLAB PADA PROYEK BASICS Alistya , Ersalina; Rahadian, Erwin Yuniar
Jurnal Arsitektur Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada rancangan bangunan yang memanjang lebih dari 60 meter atau pada pertemuan dua blok massa bangunan, perlu dipisahkan dengan adanya dilatasi yang direncanakan dalam rancangan dan diimplementasikan dalam tahap konstruksi. Dilatasi adalah pemisahan atau pemotongan sistem struktur pada bagian-bagian tertentu dengan arah memanjang untuk menghindari kerusakan-kerusakan yang lebih parah pada bangunan akibat beban atau gaya-gaya luar yang bekerja pada bangunan, misalnya: gempa bumi, angin, suhu, pergerakan lapisan tanah, proses pemadatan tanah yang tidak stabil, beban dinamis kendaraan atau mesin. Pemisahan dimaksud untuk mengantisipasi pergerakan massa bangunan pada arah horizontal maupun arah vertikal. Pada pembangunan Proyek Bandung Advanced Science and Creative Engineering Space (BASICS) (Paket 3), telah direncanakan adanya penghubung antara gedung tower 1 dan gedung tower 2, berupa jembatan penghubung (Connecting Tower), sebagai dilatasi bangunan melalui pemasangan Expansion Joint. Lokasi jembatan penghubung antar bangunan ini berada pada dasar bangunan yang tidak rata di area ramp tower 1 dan akan dipasang pada ketinggian elevasi 12 meter. Sehingga jika menggunakan metoda konstruksi cor setempat akan membutuhkan perancah yang cukup tinggi, dan terdapat potensi kegagalan temporary structure. Dengan pertimbangan aspek workability pelaksanaan sangat sulit dilakukan dan sangat berisiko tinggi terhadap pekerja, maka pada tahap konstruksi dilapangan, diusulkan menggunakan material HCS (Hollow Core Slab), berupa material plat beton prestressed precast berongga yang berfungsi sebagai pengganti pelat lantai beton cor setempat.
Konsultasi Teknis Perencanaan Kawasan Latihan Militer Dan Wisata Di Cipelah, Kabupaten Bandung Machdi, Ardhiana Muhsin; Erwin Yuniar Rahadian; Oktavia, Triani; Naja, Muhammad Farhat; Adyuta, Francisca; Sani, Faza Raufa; Ramdhani, Mursyid Abdul Aziz; Fathurraziqin, Habib
IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa Vol. 3 No. 1 (2024): IKHLAS: Jurnal Pengabdian Dosen dan Mahasiswa
Publisher : Indra Institute Research & Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58707/ikhlas.v3i1.993

Abstract

Komando Latihan (KOLAT) militer berfungsi sebagai tempat berkumpul untuk persiapan latihan dan tempat binaan personel TNI AD. Fungsi seperti ini umumnya menempati area yang cukup luas dan merupakan daerah yang masih alami serta belum terjamah tangan manusia sebagai simulasi kondisi pertempuran yang menuntut kewaspadaan dan fisik yang prima. Seiring dengan berkembangnya wisata petualang, pihak Kodam III/Siliwangi menginginkan agar tempat komando latihan militer ini dapat berfungsi ganda saat tidak digunakan latihan. Kawasan ini juga harus fleksibel akan kebutuhan fasilitas wisata yang kekinian dan akan selalu menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk berkunjung. Desa Cipelah sendiri berada di antara dua kawasan wisata dengan kondisi perekonomian masyarakatnya yang kurang baik hingga memicu terjadinya tindakan kriminal bagi pengendara yang melintasi desa tersebut. Hal ini disampaikan oleh Pangdam III/Siliwangi yang saat kegiatan ini berlangsung masih dijabat oleh Mayjen Kunto Arief Wibowo, S.I.P. Permasalahan inilah yang kemudian menjadi alasan utama dipilihnya kegiatan pengabdian masyarakat ini
Energy Saving Building Strategies through The Application of Solar Control Glass LATIFAH, NUR LAELA; RAHADIAN, ERWIN YUNIAR
ELKOMIKA: Jurnal Teknik Energi Elektrik, Teknik Telekomunikasi, & Teknik Elektronika Vol 8, No 2: Published May 2020
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/elkomika.v8i2.388

Abstract

ABSTRAKSesuai dengan konsep Green Building, desain bangunan harus memperhatikan penghematan energi operasional bangunan. Semakin besar beban termal, maka semakin boros konsumsi energi listrik. Salah satu cara untuk menurunkan energi listrik adalah dengan mengurangi beban termal eksternal, sehingga pemilihan jenis solar control glass merupakan aspek yang sangat penting. Metoda analisis dilakukan secara kuantitatif. Sebagai kasus studi yaitu Gedung Kantor Pengelola Bendungan Sei Gong di Batam, dan berdasarkan perhitungan Calculator OTTV akan ditentukan alternatif solar control glass yang tepat agar memenuhi syarat dengan batas maksimal OTTV di Indonesia (45 Watt per meter persegi). Manfaat penelitian ini adalah memperoleh masukan pemilihan tipe kaca yang tepat berdasarkan SHGC, pada kasus bangunan kantor.Kata kunci: Hemat energi operasional bangunan, Overall Thermal Transfer Value, Solar Control Glass, Solar Heat Gain Coefficient ABSTRACTIn accordance with the Green Building concept, building designs must pay attention to building operational energy savings. The greater the thermal load, the more wasteful the electricity consumption of the AC system. One way to reduce AC loads is to reduce external thermal loads, then choosing the type of solar control glass is a very important aspect. The method of analysis is done quantitatively. As a case study is Sei Gong Dam Management Office Building in Batam, and based on OTTV Calculator calculation an appropriate solar control glass alternative will be determined to meet the requirements with the maximum OTTV limit in Indonesia (45 Watt per square meter). The benefit of this research is to get input on selection of the right type of glass based on SHGC, in the case of office buildings.Keywords: Energy saving on building operation, Overall Thermal Transfer Value, solar control glass, Solar Heat Gain Coefficient
PENGARUH PERBEDAAN PENGGUNAAN DIMENSI UBIN TERHADAP EFISIENSI BIAYA BANGUNAN Alan Purnama; Erwin Yuniar Rahadian
Jurnal Arsitektur Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada beberapa tahun terakhir perkembangan pembangunan pada dunia arsitektur mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Hal ini dapat terlihat dari keberagaman komponen arsitektural pada masa kini yang terus berkembang. Salah satunya adalah ubin keramik, hal ini dapat terlihat dari keberagaman teknologi, bentuk, motif, serta ukuran pada setiap ubin keramik yang tersedia dipasaran saat ini. Adapun penggunaan ubin keramik yang sering digunakan pada bangunan saat ini didominasi oleh ubin keramik dengan ukuran 30x30 cm, 40x40 cm dan 60x60 cm. Perbedaan ukuran ubin keramik juga disesuaikan dengan desain dan kebutuhan ruang yang tersedia pada suatu bangunan dimana hal ini juga akan mempengaruhi biaya pembangunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan penggunaan dimensi ubin keramik terhadap efisiensi biaya pembangunan. Penelitian ini menggunakan metodologi deskriptif kuantitatif, yang hasilnya akan menjelaskan data tentang perbedaan biaya pembangunan pada bangunan yang menggunakan ubin keramik ukuran 30x30 cm dengan yang menggunakan ubin keramik berukuran 40x40 cm serta 60x60 cm. Berdasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa pemasangan dimensi ubin yang efektif pada ruangan dipengaruhi oleh pemilihan ukuran ubin yang diterapkan pada ruangan.
KONTEKSTUAL DALAM ARSITEKTUR: Adaptasi Bangunan di Komplek Gedung Negara Cirebon Soewarno, Nurtati; Nurhidayah, Nurhidayah; Rahadian, Erwin Yuniar
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 6 No 2 (2022): Jurnal Arsitektur ARCADE Juli 2022
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Indonesia has various of cultural heritages, both from local and immigrant culture. Gedung Negara, which previous called Residency Building, is one of the Dutch colonial government legacies in Cirebon city. Since its founding in 1865 until now this building has several times changed its name and function. This encourages various changes, additions, demolitions and transformations as an effort to adapt to new functions. The problem occurs if there is no context between new buildings and Gedung Negara as a cultural heritage building. This paper aims to determine the adaptation of architectural style of new buildings to Gedung Negara. By observing, a description of the function, form and architectural style of the new buildings around the Gedung Negara is obtained. Is there any architectural context betweem new buildings and Gedung Negara? How will the adaptation of these new buildings be? The architectural style context between new buildings and heritage buildings is highly recommended so that the new building can coexist in harmony with the cultural heritage building. It is hoped that the change of functions will not eliminate the uniqueness of the Indische Empire style and the Gedung Negara as a cultural heritage building in Cirebon city should be preserved well.Abstrak: Indonesia memiliki berbagai warisan budaya, baik yang berasal dari budaya lokal maupun budaya pendatang. Gedung Negara yang semula bernama Gedung Karesidenan adalah salah satu warisan Pemerintah Kolonial Belanda di kota Cirebon. Sejak didirikan tahun 1865 hingga saat ini gedung ini telah mengalami beberapa kali pergantian nama dan fungsi. Hal ini mendorong terjadinya berbagai perubahan, penambahan, pembongkaran maupun transformasi sebagai upaya adaptasi terhadap fungsi barunya. Permasalahan terjadi apabila tidak ada konteks antara bangunan baru dengan Gedung Negara sebagai bangunan cagar budaya. Makalah ini bertujuan untuk mengetahui adaptasi bentuk dan gaya arsitektur bangunan-bangunan baru terhadap Gedung Negara. Dengan melakukan observasi diperoleh gambaran fungsi, bentuk dan gaya arsitektur bangunan-bangunan baru di sekitar Gedung Negara. Apakah ada konteks gaya arsitektur antara bangunan baru dengan Gedung Negara? Bagaimana bentuk adaptasi bangunan-bangunan baru tersebut? Konteks gaya arsitektur antara bangunan baru dengan bangunan cagar budaya sangat disarankan agar bangunan baru dapat bersanding harmoni dengan bangunan cagar budaya. Diharapkan alih fungsi tidak menghilangkan keunikan gaya Indische Empire dan Gedung Negara sebagai bangunan cagar budaya di kota Cirebon sudah selayaknya dilestarikan dengan baik.
Evaluasi Penerapan Prinsip Arsitektur Tropis pada Rancangan Kantor di Ibu Kota Nusantara dan Kota Maros Prakoso, Dito Dwi Nasar; Rahadian, Erwin Yuniar
JALUR: Journal of Architecture, Landscape & Urban Design Vol. 2 No. 2 (2025): Maret
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu penyumbang terbesar pemanasan global disebabkan oleh konsumsi energi pada bangunan, khususnya untuk pencahayaan, pemanasan, dan pendinginan. Arsitektur tropis yang dirancang untuk beradaptasi dengan iklim tropis, menjadi solusi untuk mengurangi penggunaan energi berlebih dan dampak lingkungan dari bangunan. Saat ini  banyak dijumpai desain bangunan modern, yang sering menggunakan material dan teknologi asing sehingga tidak sesuai dengan iklim tropis. Penelitian ini mengevaluasi dua desain bangunan kantor di ibukota Nusantara dan Maros yang dirancang dengan pendekatan arsitektur tropis. Analisis dilakukan dengan menggunakan Metode kualitatif yang digunakan untuk mengevaluasi hasil rancangan terhadap kriteria bangunan tropis yang bersumber dari buku dan jurnal. Pada penelitian ini juga  dilakukan simulasi dengan software lightstanza dan climate consultant pada setiap desain bangunan. Setelah itu setiap desain dievaluasi berdasarkan kriteria bangunan tropis. Dari evaluasi tersebut diperoleh hasil bahwa desain kantor di Maros dinilai lebih memenuhi kriteria sebagai bangunan tropis dibandingkan dengan desain kantor di Ibu Kota Nusantara
Penerapan Arsitektur Ekologi Pada Perancangan Ekowisata Gunung Halu Zakaria, Reza; Rahadian, Erwin Yuniar; Suryadini, Widya
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i1.7608

Abstract

ABSTRAK Wisata Alam Mount Halu memiliki banyak potensi sebagai destinasi wisata karena lokasinya di perdesaan dan memiliki pemandangan alam yang indah.  Dengan pertumbuhan tren pariwisata di seluruh dunia, ekowisata telah menjadi salah satu jenis wisata yang semakin diminati karena memiliki kemampuan untuk mendorong pelestarian budaya dan lingkungan serta memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.  Untuk menemukan prospek, masalah, dan kebutuhan area, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengumpulkan data literatur serta observasi langsung di lapangan.  Selama proses perancangan, prinsip-prinsip arsitektur ekologi digunakan untuk menanggapi bagaimana sumber daya alam terbatas dan bagaimana menjaga lingkungan secara berkelanjutan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan potensi tapak seperti iklim mikro, kontur, dan vegetasi dengan penggunaan material lokal dapat mengurangi kerusakan lingkungan.  Penggunaan bambu gombong sebagai lapisan kedua di bangunan, penerapan sirkulasi yang ramah lingkungan, dan pembatasan perkerasan di daerah tertentu adalah contoh implementasi desain berkelanjutan.  Hasilnya menunjukkan bahwa memasukkan prinsip ekologi ke dalam desain ecotourism Mount Halu dapat memperkuat karakter tempat itu sekaligus mengoptimalkan manfaat lingkungan sekitar. Kata kunci: arsitektur ekologi, ekowisata, gunung halu  ABSTRACT Mount Halu Nature Tourism possesses significant potential as a tourist destination due to its rural setting and scenic natural landscape. In line with global tourism trends, ecotourism has become increasingly popular for its capacity to encourage environmental and cultural conservation while generating positive impacts for surrounding communities. This study employs a qualitative approach by collecting data through literature review and direct field observation to identify the prospects, challenges, and needs of the area. During the design process, principles of ecological architecture are applied to address the limitations of natural resources and to promote environmental sustainability. The findings indicate that integrating site potentials—such as microclimate conditions, contour characteristics, and existing vegetation—with the use of local materials can effectively reduce environmental degradation. Examples of sustainable design implementation include the use of bambu gombong as a secondary skin for buildings, environmentally responsive circulation systems, and the restriction of hardscape areas in selected zones. Overall, the results demonstrate that incorporating ecological principles into the design of Mount Halu Ecotourism strengthens the character of the site while optimizing its environmental benefits. Keywords: ecological architecture, ecotourism, gunung halu
Penerapan Tema Arsitektur Organik Pada Rancangan Archaios Museum Di Goa Pawon Sulistianti, Erika Dwi; Rahadian, Erwin Yuniar; Yakin, Yuki Achmad
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 11, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v11i2.7620

Abstract

ABSTRAK Di kawasan Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah gua alami dan situs purbakala. Di Gua Pawon, ditemukan kerangka manusia purba yang konon merupakan nenek moyang orang Sunda. Adapun pertanyaan yang diajukan adalah tidak adanya tempat untuk menyimpan peninggalan purbakala tersebut, maka diusulkan untuk membangun museum arkeologi yang dapat dijadikan sebagai wadah bagi benda-benda tersebut untuk mengedukasi pengunjung, terutama bagaimana manusia pertama membuat sejarah. Diwariskan secara turun-temurun, penambahan fasilitas pariwisata untuk daya tarik museum arkeologi yang diusulkan diharapkan dapat menjadi salah satu sumber ekonomi bagi masyarakat di sekitar museum. Metode yang digunakan dalam perancangan adalah melakukan observasi lapangan, yaitu meninjau lapangan secara langsung dan mengumpulkan data dengan membaca jurnal dan artikel. Studi literatur dan studi banding pada bangunan yang selaras dengan bangunan yang diusulkan. Informasi dan data yang dikumpulkan, diolah dan disusun kemudian diidentifikasi sebagai pedoman yang dapat digunakan sebagai acuan dalam proses perencanaan bangunan. Berdasarkan pertanyaan dan data yang diperoleh, analisis menghasilkan desain bangunan yang mengadopsi pendekatan organik, yaitu dengan menerapkan eksterior dan interior bangunan yang mampu selaras dengan alam, seperti bangunan yang mengikuti kontur dan desain yang selaras dengan alam untuk menampung penemuan-penemuan yang bisa diselamatkan. Kata kunci: arsitektur organik, cipatat, museum ABSTRACT Located in Gunung Masigit Village area, Cipatat District, West Bandung Regency, there is a natural cave and archaeological site. In Pawon Cave, an ancient human skeleton was found which is said to be the ancestor of the Sundanese. The question posed is that there is no place to store these ancient relics, so it is proposed to build an archaeological museum that can be used as a place for these objects to educate visitors, especially how the first humans made history. Inherited from generation to generation, the addition of tourism facilities for the attraction of the proposed archaeological museum is expected to be one of the economic resources for the community around the museum. The method used in the design is to conduct field observations, namely to review the field directly and collect data by reading journals and articles. Literature studies and comparative studies on buildings that are in line with the proposed building. Information and data that are collected, processed and compiled are then identified as guidelines that can be used as a reference in the building planning process. Based on the questions and data obtained, the analysis results in building designs that adopt an organic approach, namely by applying buildings that are able to be in harmony with nature, such as buildings that follow contours and designs that are in harmony with nature to accommodate salvageable inventions. Keywords: organic architecture, cipatat, museum