Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Profil HIV/AIDS di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Januari 2009 sampai dengan Desember 2018 Sumampouw, Yurissco B.; Rampengan, Novie H.; Mantik, Max F. J.
e-CliniC Vol 8, No 1 (2020): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.8.1.2020.27189

Abstract

Abstract: Human immunodeficiency virus (HIV) infection and acquired immunodpeficiency syndrome (AIDS) are health problems worldwide. Risk factors that are supposed to increase the incidence of HIV/AIDS include perinatal, homosexual, heterosexual, pattern of sexual relation, family with positive HIV/AIDS sufferers who do not use protective equipment, and injection drug users. This study was aimed to determine the profile of HIV/AIDS at the Department of Pediatrics Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. This was a descriptive and retrospective study using data of Voluntary Counseling Test (VCT) from January 2009 to December 2018. The results showed that there were 75 patients, most were 13-18 years (32%) and male sex (50.67%). The most common transmission was perinatal transmission (68%). Stage III had the highest percentage (80%). First-line therapy was found as the most common (68%), albeit 23 patients (30.7%) had not received ARV therapy. There were 28 patients (37.33%) who lived with HIV/AIDS. In conclusion, the highest prevalence of HIV was in 2018 and the most common patients were male, aged 13-18 <18 years, and had perinatal transmission. and 28 children living with HIV. Some patients still lived with HIV/AIDS.Keywords: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome Abstrak: Infeksi human immunodeficiency virus (HIV) dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) merupakan masalah kesehatan di dunia. Faktor-faktor risiko yang diperkirakan meningkatkan angka kejadian HIV/AIDS antara lain: perinatal, homoseksual, heteroseksual, pola hubungan seks, keluarga dengan pengidap HIV/AIDS positif yang tidak menggunakan pelindung, dan pemakai alat suntik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil HIV-AIDS di Bagiaan Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif. Penelitian ini menggunakan data dari Voluntary Counseling Test (VCT) RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado selama Januari 2009-Desember 2018. Hasil penelitian mendapatkan 75 pasien dan yang terbanyak ialah usia 13-18 tahun (32%), dan jenis kelamin laki-laki (50,67%). Penularan terbanyak ialah perinatal (68%) Stadium terbanyak ialah stadium III (80%) dan terapi lini I yang terbanyak (68%) namun terdapat 23 pasien (30,7%) yang belum mendapatkan terapi ARV. Terdapat 28 pasien (37,33%) yang hidup dengan HIV/AIDS. Simpulan penelitian ini ialah prevalensi tertinggi HIV pada tahun 2018 dan pasien yang terbanyak berjenis kelamin laki-laki, usia 13-<18 tahun, dengan penularan perinatal. Sebagian pasien hidup dengan HIV/AIDS.Kata kunci: human immunodeficiency virus, acquired immunodeficiency syndrome
Hubungan Status Gizi dan Gangguan Tidur pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado Simarmata, Inrike Y.S.; Mantik, Max F.J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 5, No 2 (2017): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v5i2.18569

Abstract

Abstract: Undernutrition problem is still widespread in developing countries, including Indonesia. On the other hand, overnutrition which is the nutritional problem in developed country, is beginning to flourish in the developing countries. The nutrinitonal imbalances might be caused by inappropriate amount of sleep due to inhibition of appetite regulation and changes in hormone production. Some of the nutrients that affect sleep pattern are macronutrients and micronutrients such as vitamin B, calcium, magnesium, and iron. This study was aimed to find out the correlation between nutritional status and sleep disorder. This was an observational analytical survey study with a cross sectional design. This study was conducted at elementary schools at Tikala, Manado using purposive sampling method. Weight and height of the respondents were measured to obtain the nutritional status. Parents were asked to fill the SDSC questionnaire to obtain the sleep disorder status. Of 249 (100%) respondents, 1 respondent (0.4%) categorized as malnutrition; 44 respondents (17,7%) categorized as undernutrition; 129 respondents (52.8%) categorized as normal; 34 respondents (13.7%) categorized as overweight; and 41 respondents (16.5%) categorized as obese. There were 156 respondents (62.7%) had sleep disorder meanwhile 93 respondents (37.3%) had no sleep disorder. The Pearson correlation test showed no significant correlation between nutritional status and sleep disorder (P>0,05). Conclusion: There was no signicant correlation between nutritional status and sleep disorder.Keywords: sleep disturbance, SDSC questionnaire, nutritional status Abstrak: Masalah gizi kurang masih tersebar luas di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia namun masalah gizi lebih yang merupakan masalah gizi di negara maju mulai terlihat juga di negara-negara berkembang. Ketidakseimbangan gizi dapat disebabkan tidak sesuainya jumlah tidur dikarenakan dihambatnya regulasi nafsu makan dan perubahan produksi hormon. Beberapa nutrisi yang dikaitkan memengaruhi tidur ialah makronutrien dan mikronutrien seperti vitamin B, kalsium, magnesium, dan zat besi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara status gizi dan gangguan tidur. Jenis penelitian survei analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan di Sekolah Dasar di Kecamatan Tikala Manado menggunakan purposive sampling. Dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan untuk mengetahui status gizi dan pengisian kuesioner SDSC oleh orang tua untuk mengetahui status gangguan tidur. Dari 249 (100%) responden, 1 anak (0,4%) masuk dalam kategori gizi buruk, 44 anak (17,7%) masuk kategori gizi kurang, 129 anak (51,8%) masuk dalam kategori gizi normal, 34 anak (13,7%) masuk kategori overweight, dan 41 anak (16,5%) masuk kategori obesitas. Sebanyak 156 anak (62,7%) mengalami gangguan tidur sedangkan 93 anak (37,3%) tanpa gangguan tidur. Uji korelasi Pearson tidak mendapatkan hubungan bermakna antara status gizi dan gangguan tidur (P >0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan gangguan tidur.Kata kunci: status gizi, gangguan tidur, kuesioner SDCS
HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN BERAT RINGANNYA CAMPAK PADA ANAK Liwu, Teressa S.; Rampengan, Novie H.; Tatura, Suryadi N. N.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10961

Abstract

Abstract: Appendicitis is an inflammation of vermiform appendix. Acute inflammation of the appendix needs to be treated immediately to prevent fatal complications. The incidence among females and males is slightly comparable, however, the incidence is higher among males than females in the age range between 20-30 years. The fundamental clinical decision in the diagnosis of a patient with suspected appendicitis is whether to do an operation or not. The meaningful evaluation of acute appendicitis balances early operative intervention to prevent operative risks. This study aimed to obtain the incidence of appendicitis at Prof. Dr. R.D Kandou Hosiptal Manado from October 2012 to September 2015. This was a  retrospective descriptive study using data of the Department of Medical Record Prof. Dr. R.D Kandou Manado Hospital. The results showed that there were 650 patients. Most patients had acute appendicitis as many as 412 patients (63%) meanwhile chronic appendicitis was found in 38 patients (6%). Of 650 patients, 200 patients had complications; 193 patients (30%) with perforated appendicitis and 7 patients (1%) with appendicular mass. The most frequent age group to develop appendicitis was 20-29 years. The number of male patients was higher than the females. Keywords: appendicitis, incidence  Abstrak: Apendisitis adalah adanya peradangan pada apendiks vermiformis. Peradangan akut pada apendiks memerlukan tindak bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Insidens pada perempuan dan laki-laki umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun insidens pada laki-laki lebih tinggi. Keputusan klinis mendasar dalam mendiagnosis pasien dengan dugaan apendisitis ialah apakah perlu dilakukannya operasi atau tidak.  Evaluasi yang baik dari kasus apendisitis akut dapat mengurangi intervensi untuk operasi awal, dengan harapan dapat mengurangi risiko operasi yang tidak diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian apendisitis di RSUP Prof. Dr. R. D, Kandou Manado periode Oktober 2012 – September 2015. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode Oktober 2012 – September 2015 terdapat 650 pasien. Jumlah pasien terbanyak ialah apendisitis akut yaitu 412 pasien (63%) sedangkan apendisitis kronik sebanyak 38 pasien (6%). Dari 650 pasien, yang mengalami komplikasi sebanyak 200 pasien yang terdiri dari 193 pasien (30%) dengan komplikasi apendisitis perforasi dan 7 pasien (1%) dengan periapendikuler infiltrat. Kelompok umur tersering yang menderita apendisitis ialah 20-29 tahun. Jumlah pasien laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Kata kunci: apendisitis, angka kejadian
Profil Anak Dengan Sepsis dan Syok Sepsis yang dilakukan Kultur Darah Periode Januari 2010-Juni 2015 DI RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Supit, Prily; Mandei, Jose M.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.10982

Abstract

Abstract: Sepsis and septic shock is a medical emergency that needs to be treated immediately in order to reduce mortality. Both of these circumstances are often found in the hospitals. The gold standar of diagnosis is the finding of bacteria in the blood through a blood culture examination. Clinicians need to ensure that antibiotics are used effectively against the germ that causes sepsis. This study aimed to obtain the profile of blood cultures of children diagnosed as sepsis or septic shock. This was a descriptive retrospective study using medical record data of patients in Pediatrics Department Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. There were 146 patients with sepsis and septic shock during the period of 2010-2015. Patients performed blood culture examination on them were as many as 33 children, however, the data only showed the results of 21 patients. Most patient aged <1 year , male gender. The types of germs frequently found were Citrobacter difesus, Staphylococcus aureus, and Enterobacter aerogenes. Most germs were sensitive to antibiotics ampicillin sulbactam and levofloxacin.Keywords: sepsis, septic shock, children, blood culture  Abstrak: Sepsis dan syok sepsis merupakan kedaruratan medik yang perlu mendapatkan penanganan yang segera untuk dapat menurunkan angka kematian. Kedua keadaan ini merupakan hal yang sering ditemukan dirumah sakit. Standar baku diagnosis sepsis ialah ditemukannya bakteri dalam darah melalui pemeriksaan kultur darah. Dalam terapi, klinisi perlu memastikan bahwa antibiotik yang digunakan efektif dalam mengatasi kuman penyebab sepsis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kultur darah pada anak yang di diagnosis sepsis dan syok sepsis sehingga dapat digunakan sebagai pedoman pengobatan sepsis. Jenis penelitian ini deskriptif retrospektif. Sebanyak 146 pasien sepsis dan syok sepsis periode tahun 2010 – tahun 2015 dan yang dilakukan pemeriksaan kultur sebanyak 33 anak, namun hasil kultur yang tercantum dalam rekam medik hanya 21 pasien. Pasien terbanyak berusia <1 tahun, jenis kelamin laki-laki. Jenis kuman penyebab yang paling sering yaitu Citrobacter difersus , Staphylococcus aureus, dan Enterobacter aerogenes, dan umumnya sensitif terhadap antibiotik ampicillin sulbactam, dan levofloxacin.Kata kunci: sepsis, syok sepsis, anak, kultur darah
Hubungan kelahiran prematur dengan penyakit jantung bawaan di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode tahun 2013-2014 Binalole, Vivi N.; Kaunang, Erling D.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 4, No 1 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i1.11002

Abstract

Abstract: Preterm birth is all births before 37 completed weeks of gestation since the first day of a woman's last menstrual period. In the maturation of all organs of preterm birth has not been achieved so well that it may cause disruption, one of them is called the heart of congenital heart disease. Congenital heart disease is a problem with the heart's structure and function that is present at birth. The study aimed is to examine the relationship between preterm birth with congenital heart disease. This studied was conducted using observational analytic study design with a retrospective approach. The studied sample was children who were born Preterm in the Section of Child Health Prof. Dr R. D Kandou Manado diagnosed with congenital heart disease in 2013-2014. The study population numbered 353 children born prematurely, the sample fulfilled inclusion criteria are children born prematurely with CHD totaling 35 samples, and 30 samples were taken comparators. The assay used in this study is the Fisher Exact Test, produces a value p = 0.011 <α = 0.05, which indicates there is a significant relationship between preterm birth with congenital heart disease. Conclusion: There was a significant relationship between preterm birth with congenital heart disease.Keywords: Preterm birth, congenital heart diseaseAbstrak: Kelahiran prematur adalah semua kelahiran sebelum 37 minggu masa kehamilan sejak hari pertama haid terakhir seorang wanita. Pada kelahiran prematur kematangan semua organ belum tercapai dengan baik sehingga dapat menyebabkan gangguan, salah satu diantaranya yaitu jantung yang disebut PJB. Penyakit jantung bawaan (PJB) sendiri adalah permasalahan pada struktur jantung yang tampak setelah kelahiran. Tujuan penelititan ini adalah mengetahui hubungan antara kelahiran prematur dengan penyakit jantung bawaan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan retrospektif. Sampel penelitian yaitu anak yang lahir prematur di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang terdiagnosis PJB pada tahun 2013-2014. Populasi penelitian berjumlah 353 anak yang lahir prematur, sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi yaitu anak yang lahir prematur dengan PJB berjumlah 35 sampel, dan diambil 30 sampel pembanding . Uji yang digunakan pada penelitian ini adalah Uji Fisher Exact, menghasilkan nilai p = 0,011 < α = 0,05, yang menunjukan ada hubungan yang bermakna antara kelahiran prematur dengan PJB. Simpulan: Ada hubungan yang bermakna antara kelahiran prematur dengan PJB.Kata kunci: Kelahiran prematur, PJB
Faktor Risiko Tuberkulosis pada Anak Wijaya, Muhammad S. D.; Mantik, Max F. J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol 9, No 1 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i1.32117

Abstract

Abstract: Tuberculosis (TB) is still one of the biggest health problems worldwide due to high morbidity and mortality rates. Moreover, Indonesia has the third largest TB cases in the world after India and China. This study was aimed to evaluate the risk factors of TB in children. This was a literature review study using three databases, namely Google Scholar, ClinicalKey, and PubMed. The results showed that after being selected by inclusion and exclusion criteria, there were 10 literatures in this study consisting of 2 case control studies, 4 cross sectional studies, 1 difference test, 1 meta-analysis, 1 case report, and 1 cohort study. The 10 literatures reviewed factors or characteristics of age, sex, history of BCG immunization, malnutrition, history of contact with person suffering from TB, exposure to cigarette smoke, occupant density, and poverty. Risk factors obtained from the review were young age (0-5 years), male sex, malnutrition, history of contact, and poverty. The other risk factors specifically history of BCG immunization, exposure to cigarette smoke, and occupant density were still contradicting among literatures. In conclusion, the most dominant risk factor of TB in children is history of contact with person suffering from TB. Keywords: risk factors, tuberculosis, children.  Abstrak: Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di dunia dikarenakan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. selain itu Indonesia merupakan negara dengan kasus TB terbesar ketiga di dunia setelah India dan Tiongkok. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi faktor risiko tuberkulosis pada anak. Jenis penelitian ialah literature review dengan menggunakan tiga database, yakni Google Scholar, ClinicalKey, dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan bahwa diseleksi dengan kriteria inklusi dan eksklusi, didapatkan 10 literatur yang terdiri dari 2 case control study, 4 cross sectional study, 1 uji beda, 1 meta-analysis, 1 case report, dan 1 cohort study. Sepuluh literatur ini mengulas tentang pengaruh faktor atau karakteristik terhadap TB ada anak, yaitu: usia, jenis kelamin, riwayat imunisasi BCG, malnutrisi, riwayat kontak dengan pengidap TB, asap rokok, kepadatan hunian, dan kemiskinan. Faktor-faktor risiko yang diperoleh ialah usia muda (0-5 tahun), jenis kelamin laki-laki, malnutrisi, riwayat kontak, dan kemiskinan dapat memengaruhi kejadian TB pada anak. Faktor-faktor risiko lainnya yakni riwayat imunisasi BCG, paparan asap rokok, dan kepadatan hunian masih kontradiktif antar literatur. Simpulan penelitian ini ialah faktor risiko yang paling dominan menyebabkan penyakit TB pada anak ialah riwayat kontak.Kata kunci: faktor risiko, tuberculosis pada anak
Faktor Risiko Terjadinya Kejadian Demam Berdarah Dengue Pada Anak Tansil, Melissa G.; Rampengan, Novie H.; Wilar, Rocky
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 13, No 1 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.1.2021.31760

Abstract

Abstract: Dengue hemorrhagic fever (DHF) is an acute infectious disease caused by dengue virus, this disease often occurs and even more dangerous if it’s found in children. Until now, There are no real specifications regarding to handling DHF, so efforts are needed to control risk factors that cause the occurrence of DHF in children to reduce morbidity and mortality. This literature review aims to determine the risk factors of DHF in children. The method that is being used is in the form of a literature study with the method of searching, combining the essence and analyzing facts from several scientific sources that are accurate and valid regarding to the risk factors for the occurrence of DHF in children. The results found that there was an association between nutritional status, age, presence of vector, domicile, environment, breeding place, resting place, habit of hanging clothes, temperature, using mosquito repellent, occupation, knowledge, attitudes, and 3M practice, while there is no relationship with gender, humidity, and sleeping habits in the morning and evening. This study concludes the importance of public knowledge about risk factors that cause the occurrence of DHF so families can avoid and reduce the incidence of DHF.Keywords: Child, Risk Factor, DHF, Dengue Fever,dan Dengue Hemorrhagic Fever  Abstrak: Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue, penyakit ini sering terjadi dan bahkan lebih berbahaya manifestasinya jika ditemukan pada anak. Sampai saat ini belum ada spesifikasi yang nyata mengenai penanganan untuk penyakit DBD maka sangat dibutuhkan upaya pengendalian faktor risiko penyebab terjadinya kejadian DBD pada anak untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor risiko terjadinya kejadian DBD pada anak. Metode yang digunakan berupa studi literatur dengan metode mencari, menggabungkan intisari serta menganalisis fakta dari beberapa sumber ilmiah yang akurat dan valid mengenai faktor risiko terjadinya kejadian demam berdarah dengue pada anak. Hasil menemukan bahwa terdapat hubungan antara status gizi, umur, keberadaan vektor, domisili, environment, breeding place, resting place, kebiasaan menggantung pakaian, suhu, penggunaan obat anti nyamuk, pekerjaan, pengetahuan dan sikap, dan praktik 3M, sedangkan tidak terdapat hubungan dengan faktor jenis kelamin, kelembaban dan kebiasaan tidur pagi dan sore. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pentingnya pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko apa saja penyebab terjadinya kejadian DBD agar keluarga dapat terhindar dari penyakit DBD dan mengurangi angka kejadian DBD.Kata Kunci: DBD, Faktor Risiko terjadinya DBD, dan Anak
Behavioral and Emotional Changes in Early Childhood during the COVID-19 Pandemic Kairupan, Tiffani S.; Rokot, Natasya T.; Lestari, Hesti; Rampengan, Novie H.; Kairupan, Bernabas H. R.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.34014

Abstract

Abstrak: Pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) mengakibatkan perubahan yang besar terhadap gaya hidup sehari-hari, termasuk pada anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak lockdown (karantina wilayah) akibat pandemi Covid-19 pada perilaku dan emosi anak usia dini (usia 0-8 tahun), serta kegiatan rutin sehari-hari seperti aktivitas fisik, screen time, dan pola tidur. Penelitian ini merupakan suatu literature review dengan menggunakan database Google Scholar, ScienceDirect, dan PubMed. Terdapat 15 literatur yang dipublikasi dalam bahasa Ingggris atau Indonesiaselang April 2020 dan Maret 2021. Literatur dalam penelitian ini melaporkan tentang perubahan perilaku dan emosi pada anak usia dini. Peningkatan perilaku eksternalisasi dan internalisasi serta perubahan waktu aktivitas fisik dan pola tidur juga dilaporkan pada banyak studi tersebut. Selain itu, terdapat peningkatan screen time selama lockdown. Simpulan penelitian ini ialah lockdown dapat memengaruhi baik pola tidur dan aktivitas fisik maupun kemampuan mengontrol emosi pada anak usia dini.Kata kunci: COVID-19, lockdown, keterbatasan, anak usia dini, perubahan perilaku  Abstract: The coronavirus disease 2019 (COVID-19) pandemic demanded great changes in the everyday lifestyle of people, including children in their early years.This study was aimed toobtain the impact of COVID-19 confinement in young children’s (age 0-8 years) behavior and emotion, along with their daily routines such as physical activity, screen time, and sleep pattern. This was a literature review study using databases of Google Scholar, ScienceDirect, and PubMed. The results showed that there were 15 studies published in English or Indonesian between April 2020 and March 2021 included in this review. The studies reported behavioral and emotional changes in the early life of children. An increase in externalizing and internalizing behavior along with a shift in physical activity and sleep behavior was reported in many of the studies. There was an increase in screen time during lockdown. In conclusion, lockdown can affect not only children’s normal behavior in their sleep and physical activity but also their capability of controlling their emotion.Keywords: COVID-19, lockdown, confinement, early childhood, behavioral changes 
Analisis Pelaksanaan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Umum Daerah Anugerah Tomohon Pandeiroot, Irene; Niode, Nurdjanah J.; Rampengan, Novie H.
e-CliniC Vol. 12 No. 1 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i1.45864

Abstract

Abstract: Infection prevention and control (IPC) is an effort to prevent and minimize the occurrence of infections in patients, staff, visitors, and the community around health care facilities. The IPC unit in a hospital aims to improve the quality of health services, so as to protect the patients. community, and health workers from infectious diseases related to the health services provided. This study aimed to explore in depth the implementation of IPC in improving the quality of services at RSUD Anugerah Tomohon. This was a qualitative study using five informants. The results showed that there was still no commitment of all IPC members and all parties involved in the implementation of the IPC, therefore, the implementation of the IPC program was not in accordance with the SOP. Hospital management had provided facilities and infrastructures supporting the IPC but there were often vacancies/damages. Some alternative solutions included holding meetings with hospital management to provide support for the IPC team, funding follow-up training and seminars, taking an interpersonal approach, and providing education and motivation to health workers. In conclusion, the IPC program has generally been running well at RSUD Anugerah even though there are still obstacles faced by the IPC team. The hospital management has also provided facilities and infrastructure to support the implementation of the IPC program even though they have not met the standards.   Keywords: infection prevention and control; hospital management; quality of health services   Abstrak: Pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) merupakan upaya untuk mencegah dan meminimalkan terjadinya infeksi pada pasien, petugas, pengunjung, dan masyarakat sekitar fasilitas pelayanan kesehatan. Unit PPI Rumah Sakit bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sehingga dapat melindungi pasien, masyarakat, dan sumber daya kesehatan dari bahaya penyakit infeksi terkait pelayanan kesehatan yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam pelaksanaan PPI dalam meningkatkan mutu pelayanan di RSUD Anugerah Tomohon dengan menggunakan metode kualitatif dan sampel sebanyak lima informan. Hasil penelitian menunjukkan belum adanya komitmen dari seluruh anggota PPI dan semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PPI sehingga pelaksanaan program PPI belum sesuai dengan SOP. Manajemen Rumah Sakit telah menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan program PPI namun sering terjadi kekosongan/rusak. Beberapa alternatif pemecahan masalah antara lain mengadakan pertemuan dengan manajemen rumah sakit untuk memberikan dukungan bagi tim PPI, mendanai pelatihan lanjutan dan seminar, melakukan pendekatan interpersonal, serta memberikan edukasi dan motivasi kepada petugas kesehatan. Simpulan penelitian ini ialah proses pelaksanaan PPI umumnya sudah berjalan baik di RSUD Anugerah walaupun masih terdapat kendala yang dihadapi oleh tim PPI. Pihak manajemen Rumah Sakit juga telah menyediakan sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan program PPI walaupun belum memenuhi standar. Kata kunci: pencegahan dan pengendalian infeksi; manajemen rumah sakit; mutu pelayanan
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN INSTALASI GAWAT DARURAT RSU GMIM KALOORAN AMURANG PASCA PANDEMI COVID-19 Repi, Noviano B.; Rampengan, Novie H.; Wariki, Windy M. V.
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 2 (2024): AGUSTUS 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i2.13343

Abstract

Di era globalisasi kepuasan pasien merupakan indicator penting rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat ketika membutuhkan pengobatan dan sebagai cerminan kualitas pelayanan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien di IGD serta faktor yang paling mempengaruhi kepuasan pasien. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Data dikumpulkan dengan kuesioner. Penelitian ini melibatkan 100 sampel dengan menggunakan rumus Slovin. Dalam mengukur hubungan variabel digunakan analis uji chi square. Variabel bebas penelitian ini adalah responsiveness, assurance, tangible, empathy dan reliability. Variabel terikat penelitian ini adalah kepuasan pasien. Data hasil penelitian di analisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan tipe perawatan pasien rawat inap dari IGD sebesar 68% sedangkan rawat jalan sebesar 32%. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (64%). Umur responden paling banyak pada range 26-35 tahun (32%). Tingkat pendidikan responden terbanyak SMA (50%) dan pekerjaan responden mayoritas IRT (32%). Hasil uji Chi-square didapatkan hubungan responsiveness dengan kepuasan p=0,000. Hubungan assurance dengan kepuasan didapatkan p=0,002. Hubungan tangible dengan kepuasan didapatkan p=0,001. Hubungan empathy dengan kepuasan didapatkan p=0,000. Hubungan reliability dengan kepuasan didapatkan p=0,000. Hasil uji regresi  menunjukkan semua variabel memiliki nilai p > 0,05. Terdapat tiga variable yang paling berpengaruh yaitu empathy, responsiveness dan reliability. Kesimpulan, terdapat hubungan antara faktor responsiveness, assurance, tangible, empathy dan reliability dengan kepuasan pasien IGD RS GMIM Kalooran Amurang. Oleh karena itu diharapkan Rumah Sakit dapat meningkatkan lagi kualitas pelayanan khusunya empathy/sikap peduli oleh dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya yang bekerja di IGD RSU GMIM Kalooran Amurang.