Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Pada Guru Pembina dan Anggota PMR Nurul Huda; Ida Zuhroidah; Mukhammad Toha; Mokh Sujarwadi
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 2 April 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i2.3746

Abstract

ABSTRAK Pertolongan pertama adalah penanganan atau perawatan  awal dari terjadinya suatu penyakit atau kecelakaan. Hal ini dapat biasanya dilakukan oleh orang yang bukan ahli dalam menangani kejadian sakit atau cedera, sampai menunggu pengobatan definitif dapat diakses. Sehingga diperlukan suatu anggota non medis yang  mempunyai kemampuan dan pengetahuan tentang metode penopang hidup dan pertolongan pertama. Dan yang lebih penting lagi adalah diperlukan  tindakan  cepat dan efektif dalam mempertahankan hidup dan dapat  meminimalkan terjadinya kecacatan. Di Pondok Pesantren Siswa 24 jam berada di Asrama sehingga perlu di lakukan pelatihan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan terutama pada anggota PMR dan guru Pembina PMR. Pemberian pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan sangat penting mengingat pusat kesehatan pesantren tidak buka 24 jam dan akses ke Rumah Sakit di tempuh lebih dari 15 menit. Kegiatan ini dilakukan dengan metode pelatihan dengan 45 peserta. Hasil yang didapatkan sebagian besar anggota PMR (80%) memahami dan mengerti tentang pertolongan pertama pada kecelakaan secara umum  serta cedera jaringan lunak, patah tulang, jenis luka, cedera pada otot dan mampu mempraktekkan menghentikan perdarahan dan balut bidai serta penanganan gigitan ular. Kata Kunci : Pertolongan pertama pada kecelakaan, anggota PMR, guru  Pembina PMR  ABSTRACT First aid is the initial treatment or treatment of an illness or accident. This can usually be done by a person who is not an expert in managing a disease or injury until definitive treatment can be accessed. So we need a non-medical member who has the ability and knowledge of life support and first aid methods. And more importantly, the action is needed quickly and effectively to maintain life and minimize the occurrence of disability. At the Islamic boarding school, the students are in the dormitory 24 hours, so it is necessary to conduct training on first aid for accidents, especially for members of the youth red cross and the youth red cross's guidance teachers. Providing knowledge and skills through first aid training is very important considering the pesantren health center is not open 24 hours and access to the hospital takes more than 15 minutes. This activity was carried out using a training method with 45 participants. The results obtained were that most of the PMR members (80%) understood and understood first aid in general accidents and soft tissue injuries, fractures, types of injuries, injuries to muscles and were able to practice stopping bleeding and splint dressing and handling snake bites. Keywords: first aid, PMR members, PMR supervisors
Pengabdian Kepada Masyarakat Bantuan Hidup Dasar Pada Santri Ida Zuhroidah; Mukhammad Toha; Mokh Sujarwadi; Nurul Huda
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 2 April 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i2.3733

Abstract

ABSTRAK Angka kejadian henti jantung atau cardiac arrest ini berkisar 10 dari 100.000 orang normal yang berusia dibawah 35 tahun dan per tahunnya mencapai sekitar 300.000-350.000 kejadian. Pertolongan pertama yang tepat pada kasus henti jantung adalah bantuan hidup dasar (BHD). Tindakan yang bisa dilakukan adalah  resusitasi jantung paru (RJP). Tujuan dari resusitasi jantung paru adalah mengembalikan sirkulasi spontan serta mempertahankan fungsi organ vital pada henti jantung dan henti nafas dengan melakukan kompresi dada dan bantuan nafas. Tujuan setelah dilakukan pelatihan ini diharapkan santri dapat berperan aktif dan dapat memberikan pertolongan pertama henti jantung dan henti nafas secara tepat serta mampu melakukan RJP. Kegiatan ini dilakukan dengan metode pemaparan teori tentang anatomi fisiologi sistem respirasi dan sistem sirkulasi, dampak dari henti nafas dan henti jantung, bantuan hidup dasar dan pada hari kedua dilanjutkan dengan praktik RJP melalui manekin. Hasil yang didapatkan sebagian besar santri (80%) memahami dan mengerti tentang bantuan hidup dasar dan mampu mempraktekkan RJP kepada manekin meskipun masih butuh pendampingan. Kata Kunci : bantuan hidup dasar, santri, pondok pesantren  ABSTRACT The incidence of cardiac arrest or cardiac arrest ranges from 10 out of 100,000 ordinary people aged under 35 years and annually reaches around 300,000-350,000 events. Appropriate first aid in cases of cardiac arrest is basic life support (BLS). Action that can be done is cardiopulmonary resuscitation (CPR). Cardiopulmonary resuscitation aims to restore spontaneous circulation and maintain vital organ function in cardiac arrest and stop breathing by performing chest compressions and breath support. After this training, the goal is that students will be able to play an active role and be able to provide first aid for cardiac arrest and stopping breathing appropriately and be able to perform CPR. This activity was carried out using the method of presenting theories on the respiratory system's physiological anatomy and the circulatory system, the impact of respiratory and cardiac arrest, basic life support, and on the second day, continued with the practice of CPR through mannequins. The results obtained were most of the students (80%) understood and understood basic life support and were able to practice CPR to the mannequins even though they still needed assistance. Keyword: basic life support, student, Islamic boarding school
Pemberdayaan Guru Pembina PMR dan Santri Melalui Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) Mokh. Sujarwadi; Ida Zuhroidah; Mukhammad Toha; Nurul Huda
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i5.4267

Abstract

 ABSTRAK Pertolongan pertama merupakan perawatan pertama yang diberikan sebelum pertolongan medis datang. Prinsip-prinsip P3K adalah tindakan yang dilakukan segera, mempertahankan hidup korban, mengurangi penderitaan, mencegah pengotoran luka dan penderitaan lanjutan serta merujuk korban ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. Palang merah remaja merupakan kegiatan remaja di sekolah dalam bentuk extrakulikuler. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan guru Pembina PMR dan santri tentang pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi serta pelatihan. Terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan pelatihan dengan adanya peningkatan pengetahuan 90% dari hasil pre test. Peserta juga memapu mempraktekkan cara menghentikan perdarahan, pembidaian, perawatan luka serta penanganan gigitan ular. Kata Kunci : pemberdayaan, guru pembina PMR, santri, P3K  ABSTRACT First aid is the first treatment given before medical help arrives. The principles of P3K are actions that are taken immediately, maintain the victim's life, reduce suffering, prevent fouling wounds and further suffering and refer the victim to the nearest health service place. The youth red cross is an activity of youth in schools in the form of extracurricular activities. This service activity aims to increase the knowledge of PMR guidance teachers and students about first aid training. The methods used are lectures, discussions, and training. There was an increase in knowledge before and after training with an increase in knowledge of 90% from the pre-test results. The participants also practiced how to stop bleeding, splinting, treating wounds, and handling snake bites. Keywords: empowerment of PMR supervisors, students, first aid
Penguatan Perilaku New Normal Covid 19 Melalui Kontrol Teman Sebaya Mokh. Sujarwadi; Mukhammad Toha; Ida Zuhroidah
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 2 April 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i2.3739

Abstract

ABSTRAK Berdasarkan laporan WHO, pada tanggal 30 Agustus 2020, terdapat 24.854.140 kasus konfirmasi Covid-19 di seluruh dunia dengan 838.924 kematian (CFR 3,4%). Wilayah Amerika memiliki kasus terkonfirmasi terbanyak, yaitu 13.138.912 kasus. Selanjutnya wilayah Eropa dengan 4.205.708 kasus, wilayah Asia Tenggara dengan 4.073.148 kasus, wilayah Mediterania Timur dengan 1.903.547 kasus, wilayah Afrika dengan 1.044.513 kasus, dan wilayah Pasifik Barat dengan 487.571 kasus. Pada kondisi Pandemic Covid 19, para santri tetap melaksanakan kegiatan di Pondok baik kegiatan sekolah umum, madrasah diniyah maupun kegiatan lain di pesantren. Pemberian pengetahuan dan keterampilan melalui penguatan perilaku new normal Covid 19 melalui kontrol teman sebaya merupakan hal yang sangat urgent untuk dimiliki oleh santri sehingga mereka yang sudah terlatih bisa menjadi polisi bagi teman-temannya dalam menerapkan protokol kesehatan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan asrama. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan dengan 27 peserta. Hasil yang didapatkan sebagian besar santri (85%) memahami dan mengerti tentang perilaku new normal covid 19 dan mampu mempraktekkan cara cuci tangan, menggunakan masker dan melepas masker. Kata Kunci : perilaku, new normal covid, teman sebaya ABSTRACT Based on the WHO report, as of August 30, 2020, there were 24,854,140 confirmed cases of Covid-19 worldwide, with 838,924 deaths (CFR 3.4%). The American region has the most confirmed cases, namely 13,138,912 cases. Furthermore, the European region with 4,205,708 cases, the Southeast Asia region with 4,073,148 cases, the East Mediterranean region with 1,903,547 cases, the African region with 1,044,513 cases, and the West Pacific region with 487,571 cases. During the Covid 19 Pandemic, the students continued to carry out activities at the Islamic boarding schools, both public school activities, primary school, and other activities at Islamic boarding schools. Providing knowledge and skills through strengthening the new normal Covid 19 behavior through peer control is very urgent for students to have. Those who are trained can become police for their friends in implementing health protocols both in the school environment and in the dormitory environment. This activity was carried out using the extension method with 27 participants. The results obtained by most of the students (85%) understood and understood the new normal covid 19 behavior and practiced how to wash hands, use masks and remove masks. Keywords: behavior, new normal covid, peers
Pemberdayaan Peran Wanita Menuju Desa Mandiri Bebas Stunting Ida Zuhroidah; Mukhammad Toha; Mokh. Sujarwadi; Nurfika Asmaningrum
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i10.7778

Abstract

ABSTRAKBebas stunting adalah salah satu tujuan dari pembangunan nasional berkelanjutan (SDGs). Kerjasama lintas sector yang saling bersinergi melalui kegiatan promotive, preventif dan kuratif adalah upaya untuk mengatasi permasalahan stunting yang masih dijumpai di negeri ini. Mengatasi stunting perlu melibatkan peran serta keluarga. Upaya membangun keluarga sejahtera melalui program-program pemerintah adalah langkah strategis  mencegah terjadinya stunting. Keluarga sejahtera bebas dari kemiskinan merupakan bagian dari tujuan membangun desa mandiri. Sesuai amanah undang-undang No.6 tahun 2014 tentang desa, yang telah memberikan arah dan petunjuk dalam membangun dan memberdayakan masyarakat desa menuju mandiri dan sejahtera. Keluarga sejahtera adalah cerminan dari desa yang mandiri dan sejahtera. Kondisi jasmani, rohani dan ekonomi yang sehat dalam keluarga  adalah modal menuju keluarga sejahtera. Menurut kriteria Indeks Desa Membangun (IDM) Mojoparon adalah desa dengan kategori berkembang. Sumber daya alam di desa mojoparon sangat mendukung untuk menuju desa yang mandiri, namun ada beberapa hal yang perlu diperbaiki diantaranya adalah masih dijumpai sejumlah balita dengan permasalahan stunting, tidak adanya kelompok sebagai role model dalam transfer of knowledge pada pelayanan social dasar dan pemberdayaan perempuan, perilaku masyarakat membuang sampah pada tempatnya yang masih rendah, pembangunan ekonomi produktif berbasis keluarga masih rendah. Tujuan dari kegiatan ini menambah pengetahuan ibu rumah tangga tentang stunting dan penatalaksanaannya di keluarga, memperkuat peran kelompok masyarakat yang sudah terbentuk melalui upgrade pengetahuan dan keterampilan tentang stunting, memberdayakan peran ibu rumah tangga dalam mensupport fungsi ekonomi keluarga melalui pelatihan-pelatihan ekonomi kreatif. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini berupa mikro teaching pada kelompok ibu-ibu dengan masalah stunting. Pelatihan keterampilan assessment kader kesehatan desa tentang stunting, pelatihan ibu-ibu rumah tangga tentang pengolahan makan sehat dan bergizi bagi balita stunting, serta pelatihan keterampilan tentang peningkatkan ekonomi keluarga. Hasil yang didapatkan dari kegiatan ini adalah sebagian besar peserta (85%) memahami dan mengerti tentang stunting dan penatalaksanaannya di rumah tangga, Sebagian besar peserta (90%) memahami dan mampu tentang assessment balita dengan masalah stunting. Kata Kunci: Peran Wanita, Bebabas Stunting, Desa Mandiri ABSTRACTStunting free is one of the goals of sustainable national development (SDGs). Cross-sectoral collaboration that synergizes through promotive, preventive, and curative activities is an effort to overcome the stunting problem that is still found in this country. Overcoming stunting needs to involve family participation. Efforts to build prosperous families through government programs are strategic steps to prevent stunting. A successful family free from poverty is part of the goal of creating an independent village. The mandate of Law No. 6 of 2014 concerning villages, which has provided directions and instructions in building and empowering rural communities towards independence and prosperity. A prosperous family is a reflection of an independent and successful village. Healthy physical, spiritual and economic conditions in the family are the capital of a prosperous family. According to the Developing Village Index (IDM) criteria, Mojoparon is a developing village. Natural resources in Mojoparon village are very supportive of an independent village. However, several things need to be improved, including there are still several toddlers with stunting problems, the absence of groups as role models in the transfer of knowledge on basic social services, and women's empowerment, behavior people throwing garbage in its place which is still low, family-based productive economic development is still low. The purpose of this activity is to increase the knowledge of housewives about stunting and its management in the family, to strengthen the role of community groups that have been formed through upgrading knowledge and skills about stunting, to empower the role of housewives in supporting the family's economic function through creative economy training. The method used in this activity is micro-teaching to groups of mothers with stunting problems. Skills training for village health cadres on stunting, training for housewives on processing healthy and nutritious food for stunted toddlers, and skills training on improving the family economy. The results of this activity are that most participants (85%) understand stunting and its management in the household. Most participants (90%) understand and can assess toddlers with stunting problems.Keywords: The Role Of Women, Stunting Free, Independent Village
Pemanfaatan Bekam dalam Menurunkan Ketergantungan Penggunaan Analgetika pada Penderita dengan Gangguan Nyeri Persendian Mokh. Sujarwadi; Mukhammad Toha; Ida Zuhroidah; Indriana Noor Istiqomah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No S2 (2022): Jurnal Keperawatan: Supp Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.571 KB)

Abstract

Pola hidup yang tidak sehat dan lingkungan yang kurang menunjang kesehatan dapat memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan. Diperkirakan radikal bebas sebagai penyebab munculnya nyeri sendi kronis yang tidak kunjung sembuh meskipun dengan pemberian obat analgetika. Prevalensi nyeri persendian dengan berbagai penyebab penyakit masih tinggi sekitar 90 persen. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui manfaat bekam dalam menurunkan ketergantungan penggunaan analgetika pada penderita dengan gangguan nyeri sendi yang terus menerus di praktik mandiri perawat Sahara yang meliputi penilaian intensitas nyeri sendi, frekwensi penggunaan obat analgetika. Pra eksperimental adalah sebagai jenis penelitian ini memiliki rancang bangun one group pre-post test design, dengan memberikan perlakuan pada satu group/kelompok. Diperoleh data penelitian berupa data sebelum intervensi dan setelah intervensi diberikan, selanjutnya dibandingkan hasil pengukurannya menggunakan instrument penilaian nyeri. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan reumathoid arthritis yang periksa di praktik mandiri perawat Sahara ukuran sampelnya adalah 16 responden. Tekhnik pengambilan sampel yaitu total sampling mengingat keterbatasan jumlah populasi yang akan diteliti. Instrument pengambilan data penelitian menggunakan Visual Analog Scale. Data yang didapat kemudian diolah dan dianalisis menggunakan uji T berpasangan. Hasil analisis data penelitian menunjukkan terdapat perbedaan hasil yang significant sebelum dan sesudah perlakuan dengan tingkat kemaknaan sebesar 0,00 (p<0,05). Sebagai kesimpulan dari penelitian ini bahwa ada manfaat yang besar dari terapi bekam terhadap penurunan nyeri pada penderita rheumatoid arthritis, yang diharapkan dapat mengurangi penggunaan obat analgetika secara terus-menerus.
Mapping Masalah Kesehatan Kerja pada Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) Mokh. Sujarwadi; Muhammad Toha; Ida Zuhroidah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 4 (2022): Jurnal Keperawatan: Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.994 KB) | DOI: 10.32583/keperawatan.v14i4.424

Abstract

Penerapan program kesehatan kerja pada tiap-tiap perusahaan memang sangat penting dilakukan untuk mengenali, mengukur, dan mengevaluasi berbagai factor penyebab gangguan kesehatan di lingkungan kerja. Kesehatan kerja merupakan hak bagi semua karyawan perusahaan dalam mencapai derajat kesehatan yang seoptimal mungkin. Tujuan menggambarkan masalah kesehatan kerja pada kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER). Populasi sebanyak 50 besar sample 14. Tehnik sampling adalah purposive. Wawancara dan pengamatan untuk memperoleh data selanjutnya data dianalisis secara deskriptif. Hasil: 55% penyakit ISPA, 15% Gastritis, 20% Demam, 10% luka lecet dan robek. Sakit ringan dan kecelakaan ringan ditangani di klinik perusahaan. Setiap tahun sekali karyawan perusahaan dilakukan medical cek up. Sebagian besar perusahaan memiliki klinik, mobil setara ambulance untuk mengirim pasien ke rumah sakit terdekat. Semua perusahan menerapkan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja seperti penanggulangan bahaya kebakaran, bahan kimia, terjepit mesin, pengawasan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan lingkungan kerja kondusif. Seluruh tenaga kerja memperoleh jaminan asuransi kesehatan seperti BPJS yang ditanggung oleh perusahaan sesuai peaturan perundangan yang berlaku. Hasil uji statistic deskriptif data berdistribusi normal. Kesimpulan dalam penelitian ini tidak terdapat masalah kesehatan yang diakibatkan oleh kerja dan tidak ditemukan masalah kecelakaan kerja serius yang berakibat fatal dan menimbulkan kerugian besar.
Efektifitas Tehnik Self Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap Penurunan Intensitas Nyeri pada Petani di Era Pandemi Covid 19 Ida Zuhroidah; Mukhammad Toha; Mokh. Sujarwadi
Jurnal Keperawatan Vol 14 No 3 (2022): Jurnal Keperawatan: Supp September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.234 KB)

Abstract

Bertani merupakan salah satu dari sekian banyak pekerjaan yang disandang masyarakat Indonesia. Sesuatu yang membanggakan bahwa Indonesia adalah negara berkembang penghasil beras tertinggi ke-3 di dunia. Pertanian menjadi sektor utama mata pencaharian. Mayoritas tenaga kerja Indonesia khususnya di daerah pedesaan, disisi lain, data menunjukkan sebagian besar usia petani sudah mendekati usia tua. Faktor degeneratif serta posisi ergonomic yang kurang baik ketika menjalankan aktifitas di sawah menimbulkan berbagai masalah kesehatan dan yang paling sering dialami adalah nyeri punggung. Pandemi Covid-19 berdampak pada kondisi eknomi para petani yang semakin lemah, sehingga menutut kerja keras tak kenal lelah meskipun usia sudah tidak muda lagi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhadap intensitas nyeri yang dialami Petani di era pandemic Covid-19. Desain penelitian ini adalah Pra Eksperimental dengan pendekatan one group pre-post test. Populasinya adalah Petani di Desa Mojoparon Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan. Besar sampel menggunakan rumus Slovan, sampel diambil menggunakan purposive sampling. Variable independen intensitas nyeri dan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) sebagai variable dependen. Instrument pengambilan data menggunakan VAS dan SOP terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Data diolah secara deskriptif dilanjutkan uji wilcoxon. Secara deskriptif terlihat adanya penurunan intensitas nyeri yang dialami petani atara sebelum dan setelah mendapat terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT). Hasil uji statistik menggunakan wilcoxon menunjukkan P Value : 0.00 < α (0.05) terdapat pengaruh yang signifikan pemberian terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) terhapat intensitas nyeri petani. Berdasar hasil temuan diatas, terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) menjadi metode alternatif mengatasi nyeri para Petani yang dapat dilakukan secara mandiri, aman dan murah.
Peningkatan Kepatuhan Minum Oat pada Petani Tuberculosis melalui Penerapan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) Mukhammad Toha; Mokh. Sujarwadi; Ida Zuhroidah; Nurfika Asmaningrum
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2023
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v5i1.1622

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang masih banyak diderita masyarakat khususnya para petani di wilayah Pasuruan. Mycobacterium tuberculosis adalah penyebabnya, bakteri ini memiliki sifat tahan asam sehingga perlu pengobatan secara konsisten dan persisten dalam waktu yang relative lama. Banyaknya obat yang harus diminum secara rutin dengan jangka waktu yang lama seringkali membuat penderita jenuh, minum obat menjadi tidak rutin, melanggar jadwal dan bahkan tidak sedikit yang drop out. Proses penyembuhan menjadi tertunda bahkan beresiko terjadi resisten obat dan kuman dapat menyebar ke organ lain di luar paru bahkan tidak sedikit yang berakhir dengan kematian. Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dilakukan melalui pemberian ceramah dan latihan spiritual emotional freedom technique sebagai upaya untuk mereduksi kebosanan minum obat anti Tuberculosis Instrument yang digunakan adalah leflet panduan prosedur spiritual emotional freedom technique. Subyek dalam kegaiatan ini adalah Petani penderita Tuberculosis di Desa Logowok, Warungdowo Pasuruan Jawa-Timur berjumlah 20 orang. Kegiatan ini diawali dengan penyampaian tujuan, ceramah dan diskusi seputar tuberkculosis dilanjutkan dengan praktik pelaksanaan spiritual emotional freedom technique. Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan pelaksanaan spiritual emotional freedom technique serta peningkatan kesanggupan untuk lebih patuh minum obat Tuberculosis sesuai jadwal. spiritual emotional freedom technique menjadi alternative terapi mengatasi kejenuhan minum obat pada penderita Tuberculosis.
Analisis Tingkat Pengetahuan Pasien TBC dalam Mengantisipasi Penularan Penyakit di Era Pandemi Covid-19 Mukhammad Toha; Mokh. Sujarwadi; Ida Zuhroidah
Jurnal Keperawatan Vol 14 No S1 (2022): Jurnal Keperawatan: Supp Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v14iS1.80

Abstract

Prevalensi penderita tuberkulosis di Jawa Timur sebanyak 57.442 menempati posisi ke dua di Indonesia. Perlu upaya memutus rantai penularan agar tidak bertambah meluas kasusnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan pengetahuan pasien TBC dalam upaya mengantisipasi penularan penyakit di UPT Kesehatan Puskesmas Pasuruan. Rancangan penelitian ini Corelation menggunakan metode cross sectional. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua pasien tuberkulosis yang ada di UPT Kesehatan Puskesmas Pasuruan. Besar sampel sebanyak 30 responden. Teknik samplingnya adalah total sampling. Instrumen dalam pengambilan data menggunakan kuesioner dan observasi yang valid dan reliable dengan uji product momet 0.364 dan alfa cronbach >0.6. Data yang diperoleh selanjutnya dianilsis dengan spearman rank α = 0,05 untuk mengetahui hubungan dari variable yang diukur. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden, sebagian besar yaitu 16 responden (53,3%) berpengetahuan cukup dan sebagian besar mempunyai tindakan yang cukup yaitu 17 responden (56,6%). Dalam peringkat spearman rank menunjukkan hasil yang signifikan dari 0,004 di α = 0,05 dan r = 0,515. Kesimpulan dalam penelitian ini ada hubungan pengetahuan dengan antisipasi penularan penyakit pada penderita tuberculosis di era pandemi Covid-19.