Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Membacakan Nyaring sebagai Upaya Peningkatan Minat Baca Anak Sejak Dini di Sekolah Bermain Matahari, Pondok Cina, Kota Depok Triwinarti, Wiwin
Bhakti: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Membacakan nyaring adalah kegiatan membaca dengan menyuarakan tulisan yang dibaca dengan pelafalan dan intonasi yang tepat dan menarik agar pendengar dapat menangkap informasi yang disampaikan oleh penulis, baik berupa pikiran, perasaan, sikap, maupun pengalaman penulis. Membacakan nyaring tidak hanya bertujuan untuk mengajari seseorang membaca, tetapi juga untuk membuat pendengarnya memiliki kegemararan dan kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca, terutama anak usia dini yang belum bisa atau mahir membaca. Kegiatan membacakan nyaring yang dilakukan di Sekolah Bermain Matahari (SBM), Pondok Cina, Kota Depok dilakukan dalam tiga tahapan: 1) persiapan, yaitu dengan mempersiapkan buku yang akan dibacakan dan latihan membaca nyaring oleh fasilitator; 2) pelaksanaan kegiatan di Sekolah Bermain Matahari, Pondok Cina, Kota Depok; dan 3) evaluasi kegiatan. Hasilnya menunjukkan bahwa minat membaca buku peserta didik tampak pada saat pelaksanaan dengan terlihatnya ekspresi yang sangat antusias ketika mendengarkan cerita yang dibacakan dari buku dan bahagia ketika berhasil menjawab pertanyaan yang diajukan fasilitator. Dari kegiatan tersebut, guru dan orang tua atau wali murid peserta didik diharapkan dapat lebih memperhatikan mereka dalam membiasakan diri untuk membaca dan menerapkan cara-cara yang dilakukan fasilitator dalam membacakan nyaring agar tercipta generasi yang berkualitas dan bahagia.
THE USE OF THE TERM UKHTI ON SOCIAL MEDIA PLATFORM X IN INDONESIA Sobada, Indah Putri; Triwinarti, Wiwin
International Review of Humanities Studies Vol. 11, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study traces the semantic transformation of the lexicon ukhti within Indonesia’s digital landscape. The term ukhti ( أُ خْ تِي ), derived from Arabic and meaning “my sister,” was initially used as a form of biological kinship address, later evolving into a fictional kinship address. However, in its current usage, the term increasingly conveys exclusivity and produces stereotypical perceptions of Muslim women. This study focuses on the use of ukhti on Indonesia's Social Media Platform X, examining how its meaning has become more specific and how this shift affects the representation of diverse Muslim female identities. Therefore, this study uses a qualitative approach, based on a literature review and a limited collocation analysis of social media posts on the X platform in Indonesia from September 2023 to June 2025. The data analysis is based on the lexical-semantic theory proposed by Abdul Chaer and the sociolinguistic identity theory articulated by Rob Drummond and Erik Schleef. The findings indicated that the use of ukhti maintains a positive kinship connotation within online Muslim communities, such as the Muslim Support Muslim Community. However, the emergence of collocations such as “ukhti nanggung” and “ukhti bau” reflects negative connotations that diverge from the term’s original meaning, including instances in which ukhti is misappropriated to disseminate adult content. These findings suggest that the meaning of ukhti on Social Media Platform X has undergone semantic change due to the platform’s dynamic nature and user interactions, resulting in complex implications for the representation of Muslim women’s identities.
BATIK DEPOK SEBAGAI <i>INVENTED TRADITION</i>: KONSTRUKSI WARISAN BUDAYA DI KOTA URBAN Solihat, Ade; Triwinarti, Wiwin; Ganiem, Leila Mona
Multikultura Vol. 5, No. 2
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Depok sebagai kota urban, sering menghadapi kesulitan dalam menampilkan identitas budaya yang khas dan mudah dikenali. Dalam konteks tersebut, Batik Depok hadir sebagai simbol budaya urban. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Batik Depok sebagai praktik budaya kontemporer kota urban dengan menggunakan konsep invented tradition. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara dengan pelaku budaya, pemerintah daerah setempat, dan warga Depok, serta studi media. Hasil penelitian menunjukkan,  dalam kerangka invented tradition, Batik Depok bukanlah tradisi yang diwariskan secara historis, tetapi suatu aktivitas kebudayaan yang dibentuk secara sadar dalam konteks perkotaan untuk merepresentasikan identitas bersama. Artikel ini juga menunjukkan bahwa pembentukan tradisi lokal di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan masa lalu, tetapi juga dengan kebutuhan komunikasi identitas dan pengelolaan budaya di masa kini, dengan melibatkan potensi translokal yang berada di ruang urban Kota Depok. Pemerintah daerah berperan sebagai aktor utama dalam orkestrasi penciptaan Batik Depok, dengan motivasi politis, simbolik, dan ekonomis. Diaspora Jawa di Depok menjadi pelaku budaya utama yang memungkinkan praktik membatik berjalan. Sinergi multiaktor penting untuk menjadikan Batik Depok diterima masyarakat urban Kota Depok sebagai identitas bersama.