Rina Rehayati
Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Ushuluddin

Minoritas Muslim: Belajar dari Kasus Minoritas Muslim di Filipina Rina Rehayati
Jurnal Ushuluddin Vol 17, No 2 (2011): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v17i2.694

Abstract

Minoritas adalah kelompok orang yang sejarahnya tidak tertulis, kondisi keberadaannya tidak dikenal, cita-cita dan aspirasinya tidak diapresiasi. Mereka orang-orang al-Mustadl’afin fi al-ardl (kaum tertindas di muka bumi). Filipina Selatan salah satu kategori minoritas muslim yang dikenal dengan nama Bangsa Moro. Mereka berjuang menentang kolonialis untuk melindungi integritas territorial dan independensi mereka. Wilayah minoritas muslim biasanya menggunakan istilah daar al-Islam, lawan kata dari daar al-harb. Untuk konteks saat ini, perlu dikembangkan istilah daar al-da’wah, suatu istilah untuk mengacu kepada situasi tatkala Rasulullah saw berada Mekkah. Pada masa itu Rasulullah bersama Sahabat dan kaumnya hidup sebagai minoritas dan dituntut untuk mempersaksikan keyakinan agama mereka (Islam) kepada masyarakat kafir Mekkah. Konsistensi sikap antara keyakinan, perkataan dan perbuatan membawa kesuksesan bagi umat Islam. Akhirnya, mereka diterima oleh masyarakat Mekkah, bahkan terjadi perubahan perubahan sosial, mereka yang semula minoritas berubah menjadi mayoritas.
Filsafat Multikulturalisme John Rawls Rina Rehayati
Jurnal Ushuluddin Vol 18, No 2 (2012): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v18i2.710

Abstract

Terjadinya konflik horizontal yang mengatasnamakan identitas kelompok (etnis, suku, keyakinan dan seterusnya) dikarenakan adanya phobia terhadap perbedaan. Padahal perbedaan suatu keniscayaan, karena manusia tidak akan mampu menyeragamkan atau menuntut orang lain untuk sama dengan dirinya, baik pada aspek pemikiran, keyakinan, etnis, suku, budaya, dan sebagainya. Filsafat multikulturalisme John Rawls merupakan alternatif tawaran politik kebudayaan untuk mengatasi konflik horizontal. Menurut Rawls, suatu masyarakat yang adil bukanlah hanya menjamin “the greatest happiness for the greatest number” yang selama ini terkenal dalam prinsip demokrasi. Tetapi, masyarakat yang adil menurutnya adalah adanya pengakuan dan penerimaan terhadap perbedaan dan keberagaman. Pendapatnya ini dia rangkai dalam pokok-pokok pemikirannya tentang keadilan, seperti: Justice as Fairness, Veil of Ignorance, Principle of Equal Liberty, Maximin Rule, Lexical Order dan Reflective Equilibrium.
TRANSMISI ISLAM MODERAT OLEH RAJA ALI HAJI DI KESULTANAN RIAU-LINGGA PADA ABAD KE-19 Rina Rehayati; Irzum Farihah
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 2 (2017): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i2.3890

Abstract

Islam di Nusantara dikenal sebagai Islam moderat dan terkait dengan budaya Nusantara. Adapun budaya Nusantara merupakan bagian dari nilai-nilai Islam. Sebagai ulama di Kesultanan Riau-Lingga pada masa itu, Raja Ali Haji berada pada posisi strategis, karena ia bagian dari pusaran kekuasaan. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, sekaligus belajar Islam di Makkah dan Madinah, ia dan ayahnya bersama dengan Yang Dipertuan Muda menggerakkan kegiatan keagamaan dengan mengundang beberapa ulama yang menjadi bagian dari jaringan ulama di Nusantara. Para ulama Nusantara yang menyebarkan Islam dan menggerakkan kegiatan keagamaan di Nusantara sudah diakui kredibilitasnya. Mereka para ulama yang sangat mengerti Islam dan memahami syariat Islam dengan baik. Para Ulama Nusantara tersebut, termasuk Raja Ali Haji, tentu mampu memilah bagian-bagian mana dari prinsip-prinsip ajaran Islam yang boleh dimodifikasi dan bagian-bagian mana saja yang tidak boleh dimodifikasi
Reframing The Period Of The Sahaba And Tabi`In In The Archipelago: Acceptance Of Tradition Hasbi, Ridwan; Rehayati, Rina; Martius, Martius; Kuakul, Yuttana
Jurnal Ushuluddin Vol 32, No 2 (2024): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v32i2.29070

Abstract

The presence of the Sahaba and Tabi`in in the archipelago is proven by the discovery of grave sites and historical records that corroborate the Arab theory of the entry of Islam. The period of the Sahaba and Tabi`in was the period that received the best certification from the Prophet with the phrase "Khair al-Qurun". This hadith becomes the basis for the continuity of traditions carried out by the Moslim archipelago, which cannot be separated from the assimilation and acculturation carried out by the Sahaba and the Tabi`in. This research uses qualitative methods that are formulated in historical and interconnection aspects. The elaboration of this method is related to content analysis that correlates with the descriptive hadith of the Prophet about the virtues of the period of the Sahaba and the Tabi`in. The movement of the Sahaba as the successor of the Prophet and followed by the Tabi`in in spreading the mission of preaching Islam throughout the world was assimilated with the traditions that already existed in the region. The revitalization of the framing of the period of the Sahaba and Tabi`in in the archipelago is related to the understanding that the period of the Sahaba and Tabi`in was only in the Arabian Peninsula. The thought is dismantled in the facts and data that the period of the Sahaba and Tabi`in existed in the archipelago as a construction that the Moslem religion is now going straight with the teachings of Islam