Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN DAN PRODUK MATA KULIAH INTI PREREQUISITEPERANCANGAN ARSITEKTUR BERBASIS WORKSHOP / ATELIER Riskiyanto, Resza
MODUL Vol 15, No 2 (2015): Modul Volume 15 Nomer 2 Tahun 2015
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.757 KB) | DOI: 10.14710/mdl.15.2.2015.171-192

Abstract

Penelitian “Peningkatan Kualitas Pembelajaran dan Produk Mata Kuliah Inti Prerequisite Perancangan Arsitektur Berbasis Workshop/Atelier” bertujuan agar hasilnya dapat diterapkan dalam proses pembelajaran mata kuliah Perancangan Arsitektur [termasuk mata kuliah Trimatra I Semester I dan Trimatra II Semester II].Sebagai mata kuliah inti dalam pendidikan di jurusan arsitektur, pelaksanaan mata kuliah Perancangan Arsitektur mengutamakan pada proses pembelajaran yang diterapkan pada proses perancangan dalam wujud pembuatan tugas. Sejak Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Diponegoro berdiri pada tahun 1962, proses pembuatan tugas  sebagai latihan/praktikum dari proses perancangan arsitektur, selalu dilakukan dengan sistem studio. Dalam proses pengerjaan tugas perancangan di studio, ruang studio yang disediakan tidak dipergunakan secara maksimal oleh mahasiswa, dan proses diskusi dengan para dosen pembimbingnya juga tidak optimal dapat dilakukan. Penelitian ini akan mengunakan metode penganalisisan secara deskriptif dan komparasi. Deskriptif didasarkan pada kondisi eksisting yang berlangsung di Program Studi Strata-1 Arsitektur Universitas Diponegoro, dengan komparasi terhadap kondisi yang sama yang diterapkan pada beberapa jurusan arsitektur di perguruan tinggi lain yang sudah menerapkan sistem workshop/atelier
PENINGKATAN FUNGSI GUNA BANGUNAN DI KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG Harani, Arnis Rochma; Werdiningsih, Hermin; Riskiyanto, Resza
MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.031 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.1.2017.22-26

Abstract

Kawasan kota lama Semarang merupakan kawasan konservasi yang dipertahankan keasliannya olehpemerintah kota Semarang. Kawasan kota lama Semarang merupakan pusat perdagangan pada abad ke 19-20.Karena merupakan kawasan peninggalan pada masa belanda, maka bangunan yang ada dikawasan ini bergayakolonial. Namun seiring berkembangnya kota Semarang, kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi inimulai ditinggalkan, sehingga menjadi kawasan mati. kawasan kota lama yang masih aktif hanya seperempatnya,sisanya berupa bangunan kosong/gudang
PEMETAAN POTENSI DESA MENUJU DESA WISATA YANG BERKARAKTER (Study kasus : Desa Pesantren Kec Ulujami Kab Pemalang) harani, arnis rochma; Arifan, Fahmi; Werdiningsih, Hermin; riskiyanto, resza
MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.914 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.1.2017.42-47

Abstract

Pengembangan desa wisata menjadi salah satu program pemerintah untuk menjadikan desa-desa tertinggal menjadi desa yang maju, Dalam perkembangannya beberapa desa yang memiliki potensi mulai berubah, namun jika tidak diadakan pemetaan potensi yang ada akan menjadikan desa wisata dimana saja sama, tanpa ada kekhasan khusus. Sehingga diperlukan pemetaan potensi desa yang nantinya akan menjadi salah satu ciri dan dapat dikembangkan menjadi acuan desa wisata. Sehingga setiap desa memiliki karakter yang khas serta dapat menjadikan nilai jual tersendiri. Desa pesantren merupakan desa di daerah pesisir pantai yang lokasinya berada di Kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang. Desa ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata, sehingga dibutuhkan pemetaan potensi yang ada.
PEMILIHAN TAPAK ALTERNATIF BAGI PENGEMBANGAN KANTOR KECAMATAN WINDUSARI Harani, Arnis Rochma; Indarto, Eddy; Riskiyanto, Resza; Sholih, Muhammad Najieb
MODUL Vol 19, No 2 (2019): MODUL vol 19 nomor 2 tahun 2019 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.739 KB) | DOI: 10.14710/mdl.19.2.2019.95-115

Abstract

Kawasan kecamatan di Indonesia pada saat ini harus mampu mewadahi kegiatan masyarakat tingkat kecamatan tersebut, baik itu formal dan informal. Kebutuhan ruangan dan kelayakan tapak untuk kantor kecamatan mengalami tren yang meningkat. Sehingga bangunan saat iniyang  hanya mampu menampung kegiatan-kegiatan bagi staffnya dan ruang yang sudah ada, harus dikembangkan agar dapat menampung masyarakat. Kebencanaan juga berkembang dalam kondisi Indonesia yang terletak pada lingkaran gunung api (ring of fire). Berbagai masalah yang timbul di lokasi memerlukan suatu studi untuk mengetahui kecamatan untuk dapat dikembangkan. Studi berlangsung dengan paradigma kuantitatif dengan pendekatan deduktif melalui analisis pustaka, studi observasi lapangan dan studi kasus kecamatan. Tujuan dari studi ini adalah untuk menentukan kelaikan tapak yang sedang digunakan sebagai kantor kecamatan. Hasil dari studi ini menemukan bahwa tapak eksisting masih layak untuk dikembangkan.
MUSEUM GUNUNG KRAKATAU DI ANYER, BANTEN bayu aditya; resza Riskiyanto; Djoko Indrosaptono
IMAJI Vol 4, No 1 (2015): IMAJI Jurnal Desain Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1543.483 KB)

Abstract

Gunung Krakatau terletak ditengah laut. Tepatnya di Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Berjarak +45 km dari bibir pantai Desa Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang. Keberadaan Gunung Anak Krakatau ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan domestic dan mancanegara. Ditambah lagi Gunung Anak Krakatau ini terletak di Kawasan Wisata Pantai Anyer.  Mengingat dalam sejarah peradaban manusia modern saat ini  Letusan Gunung Krakatau pada 1883 adalah letusan gunung berapi paling dahsyat sepanjang sejarah (Sumber: Guiness Book Of Record).Maka perlu dibangun sebuah museum untuk mengenang bencana alam paling mengerikan yang pernah terjadi dalam sejarah. Dan juga untuk memberikan informasi dan pengetahuan kepada seluruh lapisan masyarakat, wisatawan domestic & mancanegara berkaitan tentang sejarah letusan Gunung Krakatau dan apa potensi bencana yang terjadi bila sewaktu-waktu Gunung Anak Krakatau meletus lagi. Tentunya menambah pengetahuan tentang evakuasi bencana bagi masyarakat, terutama masyarakat yang tinggal di pesisir pantai anyer dan sekitarnya. 
BOUTIQUE HOSTEL DI SOLO nurinda khusnul; resza riskiyanto; djoko indrosaptono
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6389.772 KB)

Abstract

Dalam beberapa waktu terakhir, tren generasi muda untuk berwisata secara backpacking semakin meningkat. Kota Solo termasuk salah satu kota yang sering dijadikan destinasi bagi para backpacker. Selama di Solo tentunya para backpacker akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengunjungi berbagai tempat wisata, sehingga diperlukan tempat menginap yang layak dengan biaya terjangkau. Tempat menginap yang paling cocok untuk para backpacker adalah hostel. Hostel adalah tempat penginapan yang berupa dormitory di mana satu kamar terdiri dari beberapa tempat tidur, yang biasanya berupa tempat tidur bertingkat (bunk bed). Hostel tidak lagi hanya sekedar tren. Hostel berkembang di seluruh dunia karena banyaknya wisatawan yang mencari fasilitas penginapan yang menggabungkan kekuatan dari hotel dan hostel. Hostel menjadi sebuah tempat menginap dengan gaya dan desain yang trendi. Tipe hostel yang berfokus pada interior dengan kualitas yang lebih ini lebih umum disebut dengan Boutique Hostel.
RUMAH SUSUN MILIK DI JAKARTA sevi maulani; djoko indrosaptono; resza riskiyanto
IMAJI Vol 4, No 1 (2015): IMAJI Jurnal Desain Arsitektur
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.125 KB)

Abstract

Kebutuhan tempat  tinggal  merupakan kebutuhan primer manusia. Berbagai  macam upaya  pemenuhkebutuhan ini terwujud dengan semakin banyaknya proyek-proyek perumahan, rumah susun dan apartemen.Dengan melihat demografi penduduk di Indonesia yang cenderung terpusat di kota-kota besar sebagai efeksentralisasi  pemerintahan dan bisnis, kebutuhan rumah di kota-kota besar pun akan sulit  ditangani  melihatketerbatasan lahan yang terjadi  dari  waktu ke waktu. Sejak  tahun 2010,  Indonesia  terus  mengalamikekurangan pasokan perumahan yang bisa akan terus  bertambah seiring pertumbuhan penduduk.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Di  sisi  lain, tinggal  di  hunian vertikal  dewasa ini  juga mulai  menjadi  trend gaya  hidup masyarakatmodern di  kota-kota besar dan berkembang.  Perlahan paradigma bahwa apartemen atau hunian  vertikalhanya untuk kalangan elit sudah mulai berubah dengan banyak munculnya proyek apartemen dengan hargayang cukup variatif berkisar antara ratusan juta hingga milyaran rupiah Kebutuhan tempat  tinggal  merupakan kebutuhan primer manusia. Berbagai  macam upaya  pemenuhkebutuhan ini terwujud dengan semakin banyaknya proyek-proyek perumahan, rumah susun dan apartemen.Dengan melihat demografi penduduk di Indonesia yang cenderung terpusat di kota-kota besar sebagai efeksentralisasi  pemerintahan dan bisnis, kebutuhan rumah di kota-kota besar pun akan sulit  ditangani  melihatketerbatasan lahan yang terjadi  dari  waktu ke waktu. Sejak  tahun 2010,  Indonesia  terus  mengalamikekurangan pasokan perumahan yang bisa akan terus  bertambah seiring pertumbuhan penduduk.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Di  sisi  lain, tinggal  di  hunian vertikal  dewasa ini  juga mulai  menjadi  trend gaya  hidup masyarakatmodern di  kota-kota besar dan berkembang.  Perlahan paradigma bahwa apartemen atau hunian  vertikalhanya untuk kalangan elit sudah mulai berubah dengan banyak munculnya proyek apartemen dengan hargayang cukup variatif berkisar antara ratusan juta hingga milyaran rupiah
TERMINAL BUS TYPE A KABUPATEN PATI tri widayanto; dhanoe iswanto; resza riskiyanto
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1390.126 KB)

Abstract

Terminal bus merupakan sarana wadah yang penting untuk transportasi umum jalur darat. Sebuah terminal harus dapat menampung semua moda umum yang ada di setiap desa hingga kota. Terminal juga harus dapat memberi rasa nyaman pada pengguna maupun pengelolanya. Sebuah terminal dinyatakan layak operasional harus sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Kementrian Perhubungan. Terminal bus ada berbagai type A, B, C, dan Terminal khusus, semua itu mempunyai standarisasi berbeda dari luasan lahan, jumlah moda, dan fasilitas yang ada. Kabupaten Pati sendiri merupakan Kabupaten yang berada di jalur pantai utara jawa atau yang biasa disebut dengan pantura. Jalur pantura merupakan jalur utama dari transportasi umum dari Barat Indonesia sampai timur. Kabupaten Pati sudah mempunyai terminal type B tetapai dari segi pencapainan, luasan, fasilitas masih kurang dan belum sesuai dengan standar terminal type B. Pemerintah Kabupaten Pati sudah merencanakan proyek jangka untuk pembuatan terminal type A untuk menampung transportasi umum yang berada di Kabupaten Pati khususnya bus. dan sudah melakukan Study Relokasi untuk menentukan lokasi yang tepat yang berada di Kecamatan Sukokulon yang terletak di jalur lingkar selatan Kabupaten Pati.
SINEPLEKS IMAX DI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR POST MODERN harind putra; Dhanoe iswanto; resza riskiyanto
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1468.576 KB)

Abstract

Menonton film di bioskop merupakan kegiatan pengisi liburan yang cocok bagi keluarga yang memiliki sedikit waktu liburan. Menonton telah menjadi gaya hidup tersendiri bagi masyarakat kota yang membutuhkan hiburan. Hal ini juga didukung dengan semakin banyak film-film yang diproduksi baik dalam maupun film luar negeri. Kota Semarang saat ini memiliki tiga tempat menonton, yaitu XXI Paragon, 21 Ciputra, dan E-Plaza Cinema. Ketiga tempat ini masih menggunakan format film lama untuk penyajian filmnya. Teknologi IMAX menyajikan pengalaman menonton film yang berbeda dari teknologi lainnya. Saat ini, banyak film-film Hollywood yang dibuat dalam format IMAX. Karena itu, IMAX dapat menjadi pilihan yang menarik terutama bagi pecinta film di Semarang.
MUSEUM KONTEMPORER JAKARTA padmo prabowo; resza riskiyanto; djoko indrosaptono
IMAJI Vol 3, No 4 (2014): jurnal IMAJI - Oktober 2014
Publisher : Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1751.125 KB)

Abstract

Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang pesat pada Kota Jakarta menjadikan kota ini semakin dikenal oleh dunia internasional sebagai kota metropolitan. Kata metropolitan sangat sulit untuk dipisahkan dari Kota Jakarta, karena metropolitan adalah istilah untuk menggambarkan suatu kawasan perkotaan yang relatif besar, baik dari ukuran luas wilayah, jumlah penduduk, maupun skala aktivitas ekonomi dan sosial. Definisi kawasan metorpolitan yang relevan dalam konteks Negara Indonesia, yaitu berdasarkan Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Undang-Undang tersebut mendefinisikan kawasan metropolitan sebagai kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya satu juta jiwa (euforia-again.blogspot.com, di akses 13 April 2014).