Claim Missing Document
Check
Articles

Al-qur’an braille sebagai media dakwah kepada penyandang DSN dan untuk meningkatkan literasi Islam Rohimi, Primi; Nufus, Zahrotun
Islamic Communication Journal Vol 6, No 1 (2021): EDISI JANUARI-JUNI
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2021.6.1.7743

Abstract

People with blind sensory disabilities use da’wa media that make it easier to receive da’wa messages. The purpose of this study was to describe the dakwah among people with visually impaired sensory at the Pendowo Kudus Pendowo Pendowo Kudus Social Services for Sensory Disabilities which includes an overview of dakwah; the use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah; and the supporting and inhibiting factors. This research is field research that uses a qualitative approach. The process of collecting data using semi-structured interviews, observation, and documentation. This study concludes that dakwah at the Pendowo Kudus Pendowo Netra Sensory Disability Social Service Center includes an invitation to perform obligatory and sunnah worship. The use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah begins with teaching Braille Al-Qur'an reading and writing. The supporting factor of the Braille Qur'an as a medium of dakwah is to know the word of God not only through sound but the tactual nature (touchable/touchable and sound) in the Braille Qur'an which is considered appropriate for people with visually impaired persons. The letters in the Braille Qur'an have similarities with the Latin Braille letters so that they are easier to learn. The paper used also has a special standard, so it is not easily damaged. The inhibiting factor in the use of the Braille Qur'an is the determination to learn. The separated form per juz makes it less practical. Purchases of Braille Korans must go through an order because not every store provides Braille Korans. People with blind sensory disabilities who have wet hands can be an obstacle in the learning process. To be able to master reading in the Braille Qur'an, takes quite a long time because the letters and stakes are written separately in the Braille Qur'an. 
KERAGAMAN ISLAM DALAM FILM INDONESIA BERTEMA ISLAM Primi Rohimi
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 16, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.573 KB) | DOI: 10.14421/jd.2015.16206

Abstract

Tanggapan umat Islam terhadap film adalah positif selama film digunakan untuk perjuangan umat Islam dan bukan untuk menghancurkan umat. Simbol-simbol Islam ada di dalam perfilman internasional sudah sejak lama. Film Indonesia bertema Islam diproduksi sudah sejak tahun 1960-an.Kemudian pada tahun 1970-an dan 1980-an bermunculan film-film bertema Islam yang misinya serta inti ceritanya memang untuk dakwah Islam. Di antaranya film-film yang dibintangi dan dibuat oleh Rhoma Irama. Film tersebut penuh dengan simbol Islam, baik dalam dialog di antara para tokohnya maupun dalam kostum mereka. Film-film Indonesia bertema Islam bisa dilihat sebagai film sejarah, drama dan laga. Film Indonesia bertema Islam yang bermuatan sejarah tidak hanya membawa misi Islam, namun juga perjuangan, nasionalisme dan patriotisme. Dari film-film Indonesia bertema Islam yang ada, banyak pemikiran, aliran, mazhab dan warna Islam yang merupakan keragaman Islam. Islam yang ditafsirkan beragam oleh umatnya, hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari yang menunjukkan kekayaannya.Meskipun mendapatkan respon yang beragam baik dalam bentuk pro kontra, namun film bisa menjadi media alternatif yang damai dalam menyampaikan keragaman Islam. Makalah ini akan membuka wawasan studi keislaman dan analisis wacana tentang keragaman Islam yang tercapture oleh film Indonesia bertema Islam dari tahun 1980 hingga tahun 2014.
Dekonstruksi Media Sosial Sebagai Media Penyiaran Islam Primi Rohimi
Jurnal Dakwah: Media Komunikasi dan Dakwah Vol 19, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.846 KB) | DOI: 10.14421/jd.2018.19104

Abstract

Akun-akun beberapa ustadz yang aktif dalam media sosial tidak hanya menyiarkan teks agama literer, pesan dakwah yang sifatnya islami, tetapi juga menyiarkan promosi produk komersial. Penelitian ini melakukan dekonstruksi peran, fungsi, dan makna pesan dalam akun-akun ustadz di Twitter sebagai media penyiaran Islam. Selama ini penelitian tentang dekonstruksi lebih berfokus pada teks sastra. Padahal sebagai media sosial, Twitter pun menghasilkan teks yang menimbulkan konstruksi bahkan dekonstruksi. Posisi tulisan ini adalah mengkritisi media sosial sebagai media penyiaran Islam. Akun-akun ustadz @yusuf_mansyur dan @felixsiauw selain menyiarkan konten dakwah islami juga menyiarkan produk komersial milik mereka masing-masing. Akun twitter @yusuf_mansyur misalnya selain mendakwahkan sedekah, sering menyiarkan tentang Paytren yang merupakan aplikasi pembayaran berbagai tagihan. Bahkan ustadz Yusuf Mansyur pernah mendapatkan bully di Twitter karena cuitannya tentang menurunkan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika dengan cara berdoa. Akun twitter @felixsiauw selain menyiarkan pesan-pesan puitis islami juga sering menyiarkan promosi buku karyanya. Akun @felixsiauw pun pernah membuat kontroversi dengan menyiarkan pernyataan bahwa selfie adalah dosa. Penelitian ini menghasilkan temuan pokok tentang peran, fungsi, dan makna pesan dalam media sosial sebagai media penyiaran Islam sudah bukan lagi otoritas ustadz sebagai ustadz.
Al-qur’an braille sebagai media dakwah kepada penyandang DSN dan untuk meningkatkan literasi Islam Primi Rohimi; Zahrotun Nufus
Islamic Communication Journal Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2021.6.1.7743

Abstract

People with blind sensory disabilities use da’wa media that make it easier to receive da’wa messages. The purpose of this study was to describe the dakwah among people with visually impaired sensory at the Pendowo Kudus Pendowo Pendowo Kudus Social Services for Sensory Disabilities which includes an overview of dakwah; the use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah; and the supporting and inhibiting factors. This research is field research that uses a qualitative approach. The process of collecting data using semi-structured interviews, observation, and documentation. This study concludes that dakwah at the Pendowo Kudus Pendowo Netra Sensory Disability Social Service Center includes an invitation to perform obligatory and sunnah worship. The use of the Braille Qur'an as a medium of dakwah begins with teaching Braille Al-Qur'an reading and writing. The supporting factor of the Braille Qur'an as a medium of dakwah is to know the word of God not only through sound but the tactual nature (touchable/touchable and sound) in the Braille Qur'an which is considered appropriate for people with visually impaired persons. The letters in the Braille Qur'an have similarities with the Latin Braille letters so that they are easier to learn. The paper used also has a special standard, so it is not easily damaged. The inhibiting factor in the use of the Braille Qur'an is the determination to learn. The separated form per juz makes it less practical. Purchases of Braille Korans must go through an order because not every store provides Braille Korans. People with blind sensory disabilities who have wet hands can be an obstacle in the learning process. To be able to master reading in the Braille Qur'an, takes quite a long time because the letters and stakes are written separately in the Braille Qur'an. 
MEMAKNAI TEKS-TEKS DAKWAH DALAM FILM; PERSPEKTIF KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM Primi Rohimi
An-Nida : Jurnal Komunikasi Islam Vol 5, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (45.916 KB) | DOI: 10.34001/an.v5i2.164

Abstract

Abstract One of the KPI students competences was mastering communication theories related to mass media. So one of the competence application form was able to interpret the texts of proselytizing in the films by using KPI perspective. This paper gave application of proselytizing texts of several Indonesian Islamic-themed films. As we all knew, Indonesian Islamic films had been widely produced. The films that was interpreted in this paper were taken from the different missions and story criteria. So far, a film was only meant as a entertaining spectacle. By using the perspective of Islamic Broadcast Communications imbued with the spirit of Islamic proselytizing, a film could be interpreted as a media of proselytizing. Proselytizing messages could be interpreted from the texts in film, i.e. scenes, dialogue, background, and others. Messages that can be interpreted from it are religious, social, moral and humanitarian values. Keywords: meaning, proselytizing text, film, islamic broadcast communications Salah satu kompetensi mahasiswa Program Studi KPI adalah menguasai teori-teori komunikasi terkait dengan media masa. Maka wujud dari aplikasi kompetensi ini salah satunya adalah bisa memaknai teks-teks dakwah dalam film dengan perspektif KPI. Tulisan ini memberikan aplikasi pemaknaan teks-teks dakwah dari beberapa film Indonesia bertema Islam. Seperti sudah jamak diketahui, film-film Indonesia bertema Islam sudah banyak diproduksi. Film-film yang dimaknai dalam tulisan ini diambil dengan kriteria perbedaan misi dan cerita. Selama ini film hanya dimaknai sebagai tontonan yang berfungsi menghibur. Dengan perspektif Komunikasi Penyiaran Islam yang dijiwai spirit dakwah, film bisa dimaknai sebagai media dakwah. Pesan-pesan dakwah bisa dimaknai dari teks-teks dalam film baik adegan, dialog, latar, dan lainnya. Pesan-pesan yang dapat dimaknai dari film di antaranya nilai-nilai religius, sosial, moral dan nilai-nilai kemanusiaan lainnya. Kata Kunci: memaknai, teks-dakwah, film, komunikasi penyiaran Islam
SNA DENGAN NETLYTIC PADA KOLOM KOMENTAR VIDEO YOUTUBE GUS MIFTAH CERAMAH DI GEREJA Primi Rohimi
Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era Vol 1 No 1 (2021): Proceeding of Conference on Strengthening Islamic Studies in The Digital Era
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.71 KB)

Abstract

Gus Miftah, salah satu pendakwah dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dihujat netizen karena memberikan ceramah di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Amanat Agung, Jakarta. Video ceramah tersebut diunggah di kanal YouTube Gus Miftah official pada 03 Mei 2021 dan sudah ditonton sebanyak 231.240 kali serta mendapat 6.354 komentar. Komentar pengguna YouTube dapat dimaknai sebagai komentar mad’u karena video ceramah adalah video dakwah yang ditayangkan untuk sasaran dakwah tertentu dalam hal ini khalayak dakwah di YouTube. Studi ini akan menganalisis jejaring sosial yang terbentuk dari komentar dalam video Gus Miftah tentang ceramah di gereja. Untuk mengumpulkan komentar maka penelitian ini menggunakan penganalisis Netlytic. Dari hasil analisis jejaring sosial (SNA) didapatkan temuan tentang siapa menyebutkan siapa dan siapa membalas siapa dengan masing-masing hasil diameter, density, reciprocity, centralization, dan modularity. Yang menarik dari analisis ini adalah visualisasi jejaring sosial yang terpusat pada beberapa cluster. Temuan lainnya adalah akun r_alghifari terdapat pada top 10 posters dan users mentioned.
KERAGAMAN ISLAM DALAM FILM INDONESIA BERTEMA ISLAM Rohimi, Primi
Jurnal Dakwah Vol. 16 No. 2 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.2015.16206

Abstract

Tanggapan umat Islam terhadap film adalah positif selama film digunakan untuk perjuangan umat Islam dan bukan untuk menghancurkan umat. Simbol-simbol Islam ada di dalam perfilman internasional sudah sejak lama. Film Indonesia bertema Islam diproduksi sudah sejak tahun 1960-an.Kemudian pada tahun 1970-an dan 1980-an bermunculan film-film bertema Islam yang misinya serta inti ceritanya memang untuk dakwah Islam. Di antaranya film-film yang dibintangi dan dibuat oleh Rhoma Irama. Film tersebut penuh dengan simbol Islam, baik dalam dialog di antara para tokohnya maupun dalam kostum mereka. Film-film Indonesia bertema Islam bisa dilihat sebagai film sejarah, drama dan laga. Film Indonesia bertema Islam yang bermuatan sejarah tidak hanya membawa misi Islam, namun juga perjuangan, nasionalisme dan patriotisme. Dari film-film Indonesia bertema Islam yang ada, banyak pemikiran, aliran, mazhab dan warna Islam yang merupakan keragaman Islam. Islam yang ditafsirkan beragam oleh umatnya, hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari yang menunjukkan kekayaannya.Meskipun mendapatkan respon yang beragam baik dalam bentuk pro kontra, namun film bisa menjadi media alternatif yang damai dalam menyampaikan keragaman Islam. Makalah ini akan membuka wawasan studi keislaman dan analisis wacana tentang keragaman Islam yang tercapture oleh film Indonesia bertema Islam dari tahun 1980 hingga tahun 2014.
Dekonstruksi Media Sosial Sebagai Media Penyiaran Islam Rohimi, Primi
Jurnal Dakwah Vol. 19 No. 1 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jd.2018.19104

Abstract

Akun-akun beberapa ustadz yang aktif dalam media sosial tidak hanya menyiarkan teks agama literer, pesan dakwah yang sifatnya islami, tetapi juga menyiarkan promosi produk komersial. Penelitian ini melakukan dekonstruksi peran, fungsi, dan makna pesan dalam akun-akun ustadz di Twitter sebagai media penyiaran Islam. Selama ini penelitian tentang dekonstruksi lebih berfokus pada teks sastra. Padahal sebagai media sosial, Twitter pun menghasilkan teks yang menimbulkan konstruksi bahkan dekonstruksi. Posisi tulisan ini adalah mengkritisi media sosial sebagai media penyiaran Islam. Akun-akun ustadz @yusuf_mansyur dan @felixsiauw selain menyiarkan konten dakwah islami juga menyiarkan produk komersial milik mereka masing-masing. Akun twitter @yusuf_mansyur misalnya selain mendakwahkan sedekah, sering menyiarkan tentang Paytren yang merupakan aplikasi pembayaran berbagai tagihan. Bahkan ustadz Yusuf Mansyur pernah mendapatkan bully di Twitter karena cuitannya tentang menurunkan kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika dengan cara berdoa. Akun twitter @felixsiauw selain menyiarkan pesan-pesan puitis islami juga sering menyiarkan promosi buku karyanya. Akun @felixsiauw pun pernah membuat kontroversi dengan menyiarkan pernyataan bahwa selfie adalah dosa. Penelitian ini menghasilkan temuan pokok tentang peran, fungsi, dan makna pesan dalam media sosial sebagai media penyiaran Islam sudah bukan lagi otoritas ustadz sebagai ustadz.
UPAYA PEMBIASAAN PUBLIC SPEAKING ANAK MELALUI PELATIHAN SENI BACA AL-QUR'AN DI MASJID AGUNG KUDUS Ahmad Turmudzi; Primi Rohimi
Jurnal Tawadhu Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52802/twd.v8i2.1298

Abstract

Public speaking is the skill of delivering oral messages in front of a crowd. This ability needs to be applied to children from an early age. One form of application can be through Qur'an recitation art training. By using descriptive qualitative method, this research aims to explain the practice of Al-Qur'an recitation art training held at the Great Mosque of Kudus, then analyzed the elements of public speaking contained therein. This study also aims to determine the benefits obtained by the participants, especially in familiarizing children with public speaking through Qur'an recitation training. The results showed that, 1) Qur'an recitation training at the Great Mosque of Kudus applies elements of public speaking in the learning process. It can be seen when the ustaz appoints one of the participants to recite the verses of the Qur'an with a loud voice or using a microphone in front of many people, which shows the practice of public speaking, 2) Qur'an recitation training has similarities with vocal techniques in public speaking, such as breathing techniques, articulation, and speaking speed or tempo, 3) This training also has a positive impact on children's public speaking skills, including improving vocal abilities, fostering courage and self-confidence, and developing social skills in interacting with others.
Konsumsi Media Dan Identitas Budaya Di Kalangan Remaja Juwana, Kabupaten Pati Tsania Mishbahun Naila; Primi Rohimi
Al-Jamahiria : Jurnal Komunikasi dan Dakwah Islam Vol. 2 No. 2 (2024): Juli - Desember 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/al-jamahiria.v2i2.8867

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara konsumsi media dan identitas budaya di kalangan remaja Juwana, Kabupaten Pati, dengan fokus pada pengaruh media terhadap pemahaman dan keterikatan remaja terhadap budaya lokal. Penelitian ini didorong oleh tren peningkatan penggunaan media sosial yang berpotensi mengubah cara remaja memahami nilai-nilai budaya daerah. Konsumsi media yang tidak terkontrol dapat memudarkan nilai-nilai lokal, sementara pemanfaatan yang tepat dapat memperkuat identitas budaya. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan kualitatif yang memadukan wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk menggali pengalaman remaja dalam menggunakan media. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur dengan remaja dan pengamatan terhadap pola interaksi mereka dengan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun media sosial mendorong kesadaran akan tradisi dan nilai budaya lokal, penggunaan bahasa gaul yang dominan menciptakan kesenjangan generasi yang dapat melemahkan keterikatan budaya. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam membangun literasi media yang bijak. Dengan literasi media yang baik, konsumsi media dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkuat identitas budaya remaja tanpa mengabaikan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, peran edukasi dalam mengarahkan pemanfaatan media menjadi sangat krusial demi pelestarian budaya lokal di era digital. This article explores the relationship between media consumption and cultural identity among the youth of Juwana, Pati Regency, with a focus on the influence of media on adolescents' understanding of and attachment to local culture. This research is motivated by the increasing trend of social media use that has the potential to change the way adolescents understand local cultural values. Uncontrolled media consumption can diminish local values, while proper utilization can strengthen cultural identity. The novelty of the research lies in the qualitative approach that combines in-depth interviews and participatory observation to explore adolescents' experiences in using media. Data was obtained through structured interviews with teenagers and observations of their interaction patterns with the media. The results show that although social media encourages awareness of local cultural traditions and values, the dominant use of slang creates a generation gap that can weaken cultural attachment. This research underscores the importance of synergy between families, schools and communities in building wise media literacy. With good media literacy, media consumption can be utilized as a means to strengthen adolescents' cultural identity without ignoring local values. Therefore, the role of education in directing media utilization is crucial for the preservation of local culture in the digital era. This research explores the relationship between media consumption and cultural identity among teenagers in Juwana, Pati Regency, with a focus on the main question regarding how media influences teenagers' understanding and attachment to local culture. The background to this problem arises from the increasing use of social media which has the potential to change the way teenagers understand regional cultural values. The novelty of this research lies in the qualitative approach which combines in-depth interviews and observations to explore teenagers' experiences in media consumption. The methodology used involves analysis of data from interviews with teenagers and observations of their interactions with the media. The main results show that teenagers who are active on social media tend to be more aware of local cultural traditions and values, although the use of slang creates a generation gap that can reduce attachment to that culture. This research emphasizes the importance of collaboration between families, schools and communities in educating teenagers so they can use media wisely. The conclusion of this discussion confirms that with the right approach, media consumption can strengthen cultural identity without ignoring local values, so it is important to increase media literacy among teenagers.