Mohammad Rondhi
Penulis adalah dosen Seni Rupa FBS UNNES, seorang magister bidang antropologi

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Imajinasi

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR SENI RUPA: KAJIAN DALAM KONTEKS KBK Rondhi, Mohammad
Imajinasi Vol 1, No 1 (2005): IMAJINASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat Kurikulum Depdiknas telah mengembangkan suatu kurikulum yang disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan reaksi terhadap praktek di mana program pendidikan direncanakan dan dilaksanakan dengan bertolak dari mata pelajaran atau disiplin ilmu. Sebaliknya KBK memberi tekanan khusus pada pembentukan kompetensi secara langsung dan sistematis, yaitu dengan mengkaji dan menguji kaitan antara materi pelajaran, pencapaian hasil belajar, kompetensi dan pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa. Pelaksanaan proses belajar mengajar kecuali ditentukan oleh program yang telah ditentukan juga tergantung pada pihak-pihak yang terkait termasuk guru. Persepsi guru atau pengajar terhadap suatu program pembelajaran menentukan bagaimana program tersebut dilaksanakan. Pemahaman yang keliru terhadap kurikulum akan dapat menyebabkan terjadinya ‘malpraktik’ pendidikan. Sesuai dengan landasan filosofi yang dianutnya, ada dua bentuk kurikulum pendidikan seni yaitu kurikulum kontekstual dan kurikulum esensial. Kedua bentuk kurikulum tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu penggabungan kedua bentuk kurikulum tersebut sangat tepat dan diharapkan sesuai dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi. Kata Kunci: kompetensi, kurikulum kontekstual, kurikulum esensial, homologi, paralogi , pranata,seni rupa
TUMPENG: SEBUAH KAJIAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ANTROPOLOGI Rondhi, Mohammad
Imajinasi Vol 3, No 1 (2007): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumpeng sebagai ekspresi budaya mengandung banyak makna. Melalui pendekatan psikologi antropologi kita dapat mengungkap makna-makna tersebut. Tentu saja pendekatan ini bukan yang terbaik tetapi paling tidak dapat memberi wawasan baru tentang perilaku manusia dan masyarakat lingkungannya. Dalam tulisan ini tidak begitu banyak mengupas hal tersebut kecuali untuk mengurangi redundansi juga agar tulisan ini lebih terfokus pada hal-hal yang belum banyak dibicarakan oleh para pakar. Ritual tumpengan merupakan tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang atau organisasi sosial tertentu berdasarkan pranata yang berlaku. Ritual tersebut kecuali merupakan realisasi dari sebuah sistem sosial juga merupakan sarana untuk mencapai tujuan dari sistem sosial itu sendiri. Makna ritual tumpengan berbeda bagi tiap orang meskipun keduanya berada dalam komunitas yang sama. Hal tersebut terjadi karena tiap orang mempunyai latar belakang sejarah dan kepribadian yang berbeda. Makna ritual tumpengan tidak bisa ditafsirkan secara seragam hanya dengan mengacu pada satu sistem simbol atau pranata yang berlaku. Bagi orang Jawa membuat tumpeng adalah kebiasaan atau tindakan berdasarkan tradisi. Meskipun demikian tujuan orang membuat tumpeng dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi. Pembuatan nasi tumpeng dengan bentuk kerucut atau gunungan bagi orang Jawa dapat dipahami sebagai simbolisasi dari kelamin laki-laki (phallus). Dengan kata lain, tumpeng adalah simbol kejantanan. Kerucut atau gunungan sering diabstraksikan menjadi bentuk segitiga dengan satu ujung di atas sebagai puncak. Ketiga titik dalam segitiga dapat diartikan dua titik pada garis horizontal sebagai posisi ibu dan ayah sedangkan yang di puncak diduduki oleh anak. Jadi gunungan yang berbentuk segitiga tersebut merupakan simbolisasi dari struktur keluarga Jawa. Gunung juga bisa berarti bumi atau ibu pertiwi yaitu tempat kita dilahirkan, dibesarkan dan bahkan setelah mati dikuburkan. Dengan demikian bentuk nasi tumpeng yang parabolik itumerupakan simbolisasi dari perut atau rahim seorang perempuan. Dorongan untuk kembali ke pelukan seorang ibu adalah dorongan bawah sadar yang diperoleh anak sejak masa kecil. Penyaluran terhadap hasrat bawah sadar tersebut bermacam-macam, bisa lewat mimpi, lewat karya seni atau melalui kegiatan lainnya. Dengan kata lain perilaku orang dewasa terhadap tumpeng tidak jauh berbeda dengan perilaku anak-anak. Membuat tumpeng, memotong dan kemudian memakannya merupakan ekspresi bawah sadar dan juga katarsis bagi orang Jawa.Kata kunci: Tumpeng, gunungan, skemata, psikoanalisis, katarsis