Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Program live update pemberitaan risiko Covid-19 di televisi nasional Indonesia Evi Rosfiantika; Rangga Saptya Mohamad Permana; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 4, No 2 (2020): September 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v4i2.28758

Abstract

Penyebaran virus SARSCOV2 terjadi di seluruh dunia dalam waktu yang sangat cepat. Banyak warga dunia merasa khawatir dan panik terinfeksi virus salah satunya diakibatkan pemberitaan yang salah. Warga membutuhkan informasi yang akurat dan terpercaya terutama yang dikeluarkan oleh pemerintah.  Setiap negara melakukan pengendalian informasi, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 7 tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Gugus Tugas ini juga secara rutin menyajikan informasi dengan cara melakukan live update di stasiun televisi nasional setiap harinya. Tujuan penelitian dalam artikel ini adalah untuk mengetahui isi berita risiko penyebaran virus SARSCOV2 dalam upaya mengurangi risiko pandemi Covid-19 pada live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di televisi nasional dalam konteks komunikasi risiko. Penulis memakai metode studi kasus dengan teknik analisis teks guna menganalisis data-data yang telah dihimpun melalui observasi siaran televisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isi berita terkait update Covid-19 adalah yang paling banyak disampaikan (11 kali). Mayoritas makna isi berita yang dari siaran program live update televisi tersebut bersifat “menginformasikan” dan “mengingatkan”, yang berarti dalam tahap-tahap komunikasi risiko O’Neill, informasi dan pesan-pesan yang diberikan dalam siaran program televisi live update Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 ini sudah melewati tahapan sebelum bencana dan tahapan peringatan, serta berada dalam bilik non-partisipasi, manipulasi/terapi, dan informasi dalam konsep “Tangga Arnstein”.
REPRESENTATION OF FEMALE MASCULINITY IN NETFLIX SERIES’ SWEET HOME Lisa Oktiviani Tanaga; Eni Maryani; Evi Rosfiantika
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 16 No. 2 (2023)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v16i2.2640

Abstract

Sweet Home is a South Korean Netflix film series featuring predominantly masculine female characters. In South Korea, films or series with openly feminist issues receive backlash from parties who strongly oppose feminism. However, this film series gained success, and its masculine female characters received various praises. This study aims to identify the representation of female masculinity in the film. This study applied qualitative research using John Fiske’s semiotic analysis. It found that there are codes of masculinity in the female characters at the level of reality. The female characters are strong, athletic, active individuals, leaders, technicians, and adventurers. At the level of representation, the female characters are identified as masculinity as they are subjects who can determine attitudes and make decisions. Then, if the women in the film are allowed to speak, act, and behave like men, the women are superior to men. The female characters represent a belief that men are the opposite of women. The women need to appear to defeat or to be more significant, which can be categorized as radical feminism at the ideological level.
PERKEMBANGAN ARKETIPE DISNEY VILLAIN DALAM TIGA ERA FILM ANIMASI DISNEY PRINCESS Ikhtiary, Fadilla Audiya; Indriani, Sri Seti; Rosfiantika, Evi
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 9 No. 1 (2024): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v9i1.133

Abstract

Perkembangan zaman dan perubahan kebutuhan pasar mendorong Disney untuk melakukan perubahan unsur intrinsik dalam cerita agar lebih sesuai dengan khalayak, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggambaran tokoh Disney Villain dalam film animasi Disney Princess yang dibagi ke tiga era: era klasik, era renaisans, dan era modern. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis isi, penelitian ini mengkaji adegan pada situasi awal, transformasi, situasi akhir yang menunjukkan tokoh Ratu Jahat dalam film Snow White and the Seven Dwarfs dari era klasik, Ursula dalam film The Little Mermaid dari era renaisans, dan Pangeran Hans dalam film Frozen dari era modern. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggambaran tokoh Disney Villain dari era ke era. Film di era klasik cenderung menggunakan metode langsung untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang sama sepanjang film, dan mengalami perkembangan tokoh statis. Sedangkan, film di era renaisans menggunakan metode langsung dan tidak langsung secara seimbang untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang berbeda di situasi awal namun kemudian berubah ke fungsi final dan memegang jenis karakter yang sama hingga situasi akhir, dan mengalami perkembangan tokoh dinamis. Untuk film di era modern mayoritas menggunakan metode tidak langsung untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang selalu berubah di tiap tahap film, dan mengalami perkembangan tokoh dinamis.
MENGHIJAUKAN HULU CITARUM: EDUKASI PENANAMAN POHON DI KAWASAN TITIK NOL SUNGAI CITARUM KABUPATEN BANDUNG Gustaman, Budi; Rosfiantika, Evi; Aunillah, Rinda
Midang Vol 2, No 2 (2024): Midang: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Juni 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i2.55439

Abstract

Pelestarian Sungai Citarum menjadi isu penting dalam satu dekade terakhir, salah satunya sejak Green Cross Switzerland and Blacksmith Institut, organisasi yang fokus pada pelestarian lingkungan, menyatakan bahwa Sungai Citarum merupakan salah satu tempat tercemar dan terkotor di dunia pada 2013. Faktanya, pencemaran sungai bukan satu-satunya permasalahan yang terjadi, Sungai Citarum dilanda masalah kerusakan hutan dan alih fungsi lahan di wilayah hulu, serta masalah banjir di bagian hilir. Hal ini menjadi pekerjaan bagi semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, militer, pelaku industri, komunitas, hingga akademisi. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, pemerintah pusat meluncurkan Program Citarum Harum pada 2018 dengan fokus pada penanganan praktis, penanganan praktik, riset, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat seputar pelestarian Sungai Citarum. Secara khusus, Universitas Padjadjaran juga terlibat aktif, yakni dengan adanya Pusat Riset Citarum atau Citarum Center of Research (CCR). Terlepas dari program tersebut, pada Januari-Februari 2023 dilakukan program Pengabdian Pada Masyarakat di wilayah hulu Sungai Citarum, yang berpayung pada program PPM Universitas Padjadjaran. Kegiatan yang dilaksanakan berupa edukasi penanaman pohon di Desa Tarumajaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Lokasi tersebut merupakan kilometer nol Sungai Citarum, yang memiliki permasalahan kerusakan hutan dan alih fungsi hutan. Kegiatan ini memfokuskan kepada pelibatan siswa sekolah dasar dan sekolah menengah, guru, mahasiswa, aparat desa, dan karang taruna dalam edukasi dan partisipasi aktif dalam penanaman pohon. Hasil yang didapat dari program ini adalah pewarisan ide dan praktik seputar pelibatan aktif generasi muda dengan program-program pelestarian lingkungan di Desa Tarumajaya. Realisasinya adalah mengikutsertakan siswa-siswa sekolah dan karang taruna dalam program pelestarian lingkungan yang dicanangkan oleh desa. Hasilnya, program PPM yang telah diselenggarakan diadopsi oleh pemerintah desa secara ide dan praktik dalam berbagai program pelestarian lingkungan di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
REPRESENTASI TRAUMA COPING DALAM DRAMA KOREA HOMETOWN CHA-CHA-CHA Fristiani, Annisa Nadira; Abdullah, Aceng; Rosfiantika, Evi
Sintesa Vol 3 No 02 (2024): Jurnal Sintesa Volume 3 No 02 Juli 2024
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/sintesa.v3i02.10598

Abstract

Trauma is an experience that has been experienced or felt by almost all individuals. Prolonged trauma then encourages the emergence of a trauma coping phase, which is the process of recovering an individual from a trauma. The number of traumatic experiences encourages drama films to raise the issue of trauma coping, one of which is the drama series Hometown Cha-Cha-Cha. This film first aired on the Total Variety Network and received great attention about trauma coping, resulting in 347,000 search results on the Google search engine since 2022. This research tells the story of the protagonist Hong-Du Sik, who is trying to confront his trauma after being in a relationship with Yoon Hye-Jin. However, the trauma-coping process carried out by the main character becomes complex because trauma coping is closely related to self-concept, relationships and interpersonal perceptions, which will be influenced by perception, memory and thinking. The more negative the self-concept, relationships and interpersonal perceptions, the less easy the trauma-coping process will be. Through a qualitative approach and the semiotic method of Charles Sanders Pierce, the researcher intends to look at the representation of trauma in the drama series. Through this research, it was found that the drama Hometowan Cha-Cha-Cha focuses on the traumatic experience of Hong Du-Sik, who has lost his family, forming a negative self-concept, which causes him to have difficulty establishing new relationships with others. After meeting Yoon Hye-Jin, Hong Du-Sik exhibits trauma coping strategies: confrontation, isolation, and compromise. The character's trauma coping strategies are visualised through clothing, verbal dialogue, actions and facial expressions. Not only that, this film also represents trauma coping that occurs in South Korea, which has experienced trauma, so this film really describes the actual situation.. keyword: representation; semiotic; film; trauma coping
Hajat lembur: a disaster literacy on ritual communication on the Lembang fault Evi Rosfiantika; Rinda Aunillah; Budi Gustaman
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 8 No. 2 (2024)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v8i2.7972

Abstract

The Hajat Lembur is a yearly ritual by Batu Lonceng Villagers, in West Bandung-Indonesia, following the 1956 landslide disaster that occurred in the Lembang Fault area. A series of local wisdom emerged as important messages tucked into the procession that are related to the ritual communication concept. Based on the three interrelated terms of ritual communication: communication, communion, and commonality (Couldry,2003), this research seeks to reveal the meaning of the Hajat Lembur tradition as disaster risk reduction literacy. This research uses a case study approach, conducted by participatory observation in the Hajat Lembur ritual procession in 2023; in-depth interviews with two informants, in the form of opinion leaders who play a central role in the ritual procession; and literature reviews. The results showed that in terms of communication, the Hajat Lembur tradition is interpreted as a transcendent medium about the importance of maintaining harmonisation between humans, nature, and the Creator. In terms of communion, it is a celebration of the sacred Batu Wahyu that led to an agreement to establish a sacred forest, as an area that must be preserved. In terms of commonality, this ritual is a joint expression of the Batu Lonceng Village community about the importance of protecting nature and the environment inherited by the ancestors. Although there is a need for more established local knowledge in this area, this research contributes to the future of disaster mitigation management by emphasising rationality and local wisdom in dealing with natural disasters.
Pelatihan Jurnalisme Warga Untuk Membangun Kemampuan Reportase Risiko Kebencanaan Pada Relawan Peduli Bencana Lembang Kusmayadi, Ika Merdekawati; Rosfiantika, Evi; Aunillah, Rinda; Mahameruaji, Jimi Narotama
JE (Journal of Empowerment) Vol 6, No 1 (2025): JUNI
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/je.v6i1.4794

Abstract

AbstrakAktivitas pengurangan risiko bencana di Kawasan Sesar Lembang saat ini banyak dilakukan oleh organisasi berbasis komunitas (CBO) kebencanaan, yang beroperasi di tingkat akar rumput dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Salah satu CBO yang aktif dalam aktivitas ini adalah Relawan Peduli Bencana Lembang (RPBL). Sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas komunitas, RPBL mengembangkan literasi pengurangan risiko bencana di kawasan tersebut. Produksi konten video menjadi salah satu bentuk literasi yang potensial untuk dikembangkan, namun masih terdapat keterbatasan dalam aspek teknis, konsep produksi, dan fasilitas pendukung. Hal ini berdampak pada rendahnya kualitas video yang dihasilkan. Untuk mengatasi kendala tersebut, diperlukan penguatan kapasitas CBO melalui peningkatan kesadaran peran komunitas dalam pengurangan risiko bencana serta pengembangan keterampilan produksi video dokumentasi dan edukasi. Atas dasar ini, dirancanglah program pelatihan jurnalisme warga dengan format video warga, yang dipilih karena kesederhanaannya dan relevansi dengan kebutuhan dokumentasi dan edukasi kebencanaan. Program ini meliputi dua komponen utama, yaitu peningkatan kesadaran anggota CBO dan pelatihan produksi video. Peserta kegiatan adalah anggota RPBL, yang mewakili 12 CBO aktif dalam pengurangan risiko bencana di kawasan Sesar Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan mencakup pelatihan, pendampingan produksi, evaluasi, dan monitoring keberlanjutan produksi video warga. Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah peningkatan kapasitas CBO dalam upaya pengurangan risiko bencana.AbstractDisaster risk reduction activities in the Lembang Fault Zone are currently carried out extensively by community-based disaster organizations (CBOs) operating at the grassroots level and interacting directly with local communities. One of the active CBOs in this effort is the Lembang Disaster Care Volunteers (RPBL). As part of strengthening community identity, RPBL has developed disaster risk reduction literacy in the area. Video content production has emerged as a promising form of literacy to be further developed; however, limitations exist in technical aspects, production concepts, and supporting facilities, resulting in low-quality video outputs. To address these challenges, capacity building for CBOs is necessary through raising awareness of the community’s role in disaster risk reduction and enhancing skills in documentary and educational video production. Based on this, a citizen journalism training program using a citizen video format was designed, chosen for its simplicity and relevance to disaster documentation and education needs. The program consists of two main components: increasing CBO members’ awareness and providing video production training. Participants included RPBL members representing 12 active CBOs engaged in disaster risk reduction in the Lembang Fault Zone, West Bandung Regency. Activities encompassed training sessions, production mentoring, evaluation, and monitoring of the sustainability of citizen video production. The expected outcome of this program is an enhanced capacity of CBOs in disaster risk reduction efforts.
TEATER KEBUDAYAAN SEBAGAI MEDIA PROMOSI WISATA KECAMATAN JATIGEDE, SUMEDANG Susanti, Santi; Saputra, Sandi Jaya; Indriani, Sri Seti; Mahameruaji, Jimi Narotama; Puspitasari, Lilis; Rosfiantika, Evi; Alam, Pandu Watu
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.349

Abstract

Gagasan pembangunan Teater Kebudayaan Kecamatan Jatigede (TKKJ) sebagai ruang kreatif dan media promosi wisata berbasis budaya lokal merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Prodi Televisi dan Film FIKOM Unpad. TKKJ dirancang sebagai pusat kolaborasi antara komunitas budaya, akademisi, dan pelaku industri kreatif, dengan fungsi utama menyajikan narasi lokal melalui pertunjukan teater dan konten multimedia. Meskipun belum direalisasikan, konsep ini menawarkan pendekatan inovatif dalam pengembangan pariwisata berbasis pengalaman dan partisipasi masyarakat.Metode yang digunakan meliputi produksi konten kreatif berupa video dan foto promosi, serta perencanaan pembangunan fisik Jatigede Display Room di sekitar Masjid Al-Kamil. Konten audiovisual dirancang untuk menampilkan kekayaan budaya lokal, seperti mitos, sejarah, dan ekspresi seni kontemporer, dengan prinsip multimedia learning untuk meningkatkan daya tarik dan retensi informasi wisatawan. TKKJ diharapkan menjadi creative hub yang memperkuat branding Jatigede sebagai destinasi budaya dan edukatif.Tantangan seperti keterbatasan SDM, pendanaan, dan keberlanjutan program diantisipasi melalui sinergi lintas sektor dan dukungan kebijakan. Dengan perencanaan yang matang dan pelibatan komunitas, TKKJ berpotensi menjadi model promosi wisata budaya yang berkelanjutan dan berdampak sosial.
REPRESENTASI KORBAN KEKERASAN SEKSUAL PADA FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK Muhammad Rizky Kusumawardana, Tubagus; Gemiharto, Ilham; Rosfiantika, Evi
Jurnal Komunikasi & Media Digital Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Komunikasi & Media Digital
Publisher : Program Studi Komunikasi Universitas Pertamina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70611/jkmd.v2i1.24

Abstract

Marlina the Murderer in Four Rounds is a movie released in Indonesia in 2017. Directed by Mouly Surya, this film became one of those that received a lot of attention at various international film festivals. The movie tells the story of a young widow who is left in the interior of the Indonesian island of Sumba. One night, a group of criminals come to her house to seize her property and rape her. This movie is not only about Marlina's struggle against oppressors and injustice but also about women's empowerment in the face of difficult and harsh situations. This research aims to find out the meaning of denotation, connotation, and myth that represent sexual violence from the perspective of fashion. The research method used in this study utilizes Roland Barthes' semiotic analysis in examining the nonverbal messages of fashion. The results of the research show that in the movie Marlina the Killer in Four Rounds denotatively, acts of sexual violence experienced by women cause loss and suffering; connotatively, victims of sexual violence are powerless against the perpetrators; and mythically sexual violence often occurs in the closest relationships, namely dating and households. Not only that, sexual violence occurs when there are many people in the victim's house.
KAJIAN KOMUNIKATOR POLITIK INDONESIA PERIODE 2009-2014: ANALISIS KOMUNIKASI POLITIK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO: KAJIAN KOMUNIKATOR POLITIK INDONESIA PERIODE 2009-2014: ANALISIS KOMUNIKASI POLITIK SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Mohamad Permana, Rangga Saptya; Rosfiantika, Evi
KABUYUTAN Vol 1 No 1 (2022): Kabuyutan, Maret 2022
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v1i1.33

Abstract

Komunikator politik adalah individu atau sekelompok individu yang menyampaikan pesan yang berkaitan dengan kekuasaan dan kebijakan/aturan/kewenangan pemerintah yang bertujuan untuk memengaruhi khalayak. Dalam hal ini, presiden termasuk ke dalam salah satu komunikator politik, tepatnya dalam tatanan suprastruktur komunikasi. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merupakan presiden Indonesia ke-6 yang memegang tampuk pimpinan kepala negara Indonesia selama dua periode kepemimpinan (2004-2009 dan 2009-2014). Jadi, bisa dibilang SBY adalah salah satu tokoh komunikator politik di Indonesia. Tujuan dari artikel ini adalah untuk menganalisis komunikasi politik SBY sebagai salah satu tokoh komunikator politik di Indonesia dengan menggunakan metode studi literatur untuk menggambarkan bagaimana fenomena komunikasi politik yang dilakukan oleh SBY pada periode kedua beliau menjabat sebagai presiden. Hasil menunjukkan bahwa sebagai komunikator politik, SBY termasuk ke dalam golongan politikus, di mana beliau berperan sebagai pemimpin politik negara sekaligus sebagai individu yang termasuk ke dalam sebuah partai (partisan). Gaya komunikasi politik SBY yang normatif seringkali dinilai oleh masyarakat sebagai keragu-raguan, rapuh, dan tidak tegas. Terbukti dengan friksi internal di dalam partai koalisi yang dipimpinnya saat itu (Partai Demokrat), dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai pengambil berbagai keputusan kontroversial yang bersebrangan dengan partai koalisi, di mana SBY tidak melakukan tindakan tegas terhadap PKS sebagai partai koalisi yang bercitarasa oposisi. Di balik berbagai anggapan negatif terhadap gaya komunikasi politiknya pada saat itu, ternyata SBY pun pernah dianugerahi Gold Standar Awards pada tahun 2010 oleh Public Policy Affairs sebagai Komunikator Politik Terbaik 2010. Ini merupakan salah satu penghargaan dari dunia internasional terhadap kinerja SBY dalam memimpin Indonesia.