Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Rupaning Vrihannala Listiawan, Ketut Tara; Ruastiti, Ni Made; Suartini, Ni Wayan
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 1 No 2 (2021): Terbitan Kedua Bulan Oktober tahun 2021
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.779 KB) | DOI: 10.59997/journalofdance.v1i2.866

Abstract

Rupaning Vrihannala Is A New Dance Creation Based On The Mahabharata In The Story Of Wirataparwa. This Work Is Presented In The Form Of A Duet Dance, By Two Male And Female Dancers, And Is Presented In The Form Of A Freelance Dance With A Performance Structure : Pengawit, Pengawak, Pengecet And Pakaad. This New Dance Creation, Which Was Developed Based On Local Balinese Wisdom, Shows The Love Story Of Arjuna And Dewi Utari During The Panca Pandawa Disguise In The Wirata Kingdom.The Purpose Of This Dance Work Is To Visualize The Truth Values Contained In The Mahabrata Epic, Especially Related To The Wisdom Of Arjuna As A Dance Teacher In The Kingdom Of Wirata. The Admiration For The Wise, Handsome, Good Archery, And Romantic Arjuna Has Inspired The Creation Of This New Dance Creation. The Romance Between Arjuna And Dewi Utari Is Accompanied By Gamelan Gong Kebyar, Supported By Gerong Vocals. This New Dance Creation Was Created Using The Method Of Creating Works Of Art, Which Was Carried Out In Stages, Namely Ngerencana, Nuasen, And Ngebah. All Data That Has Been Collected Through Observation, Interviews, And Literature Studies Were Analyzed Using Art Creation Theory, Symbol Theory, And Imagination Theory. The Process Of Creating This Dance Work Resulted In A New Creation Dance, Rupaning Vrihannala, About The Romance Of Arjuna And Dewi Utari When They Were Disguised As Dance Teachers In The Wirata Kingdom. To Support The Characterizations, Balinese Fashion Make-Up Is Used As A Characteristic, A Symbol Of Local Culture.Keywords: Rupaning Vrihannala, Proses Penciptaan, Struktur Pertunjukan, Tari Kreasi Baru.
Strategi Pembelajaran Gerak Dasar Tari Bali Untuk Anak-Anak di Sanggar Tari Warini Govardhana, Komang Ojas; Ruastiti, Ni Made; Kasih, Ni Nyoman
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 2 No 2 (2022): Terbitan Kedua Bulan November tahun 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.794 KB) | DOI: 10.59997/journalofdance.v2i2.1885

Abstract

Tujuan Penelitian ini dilakukan adalah untuk dapat memahami dan menjelaskan Strategi Pembelajaran Gerak Dasar Tari Bali untuk Anak-anak di Sanggar Tari Warini. Penelitian ini dilakukan karena dilatari oleh seringnya Sanggar Tari Warini menyabet juara dalam lomba-lomba tari Bali, padahal di Bali banyak terdapat kursus-kursus tari serupa yang tersebar di Bali.  Pertanyaannya adalah: (1) bagaimanakah strategi pembelajaran gerak dasar tari Bali yang dilakukan di Sanggar Tari Warini sehingga anak didiknya terus mendapatkan juara?; (2) metode apa yang digunakan oleh Ibu Arini?; (3) apa dampak dari proses pembelajaran gerak dasar tari Bali bagi anak-anak yang bersangkutan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode Kualitatif digunakan untuk mengkaji strategi pembelajaran. Dampaknya dikaji dengan menggunakan metode kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Sanggar Tari Warini suskes mendidik anak-anaknya menjadi penari andal karena sanggar tersebut menggunakan strategi pembelajaran pedagogi, heutagogi dan imitasi; (2) Untuk menghasilkan lulusan yang handal, Sanggar Tari Warini mengimplementasikan gerak-gerak dasar tari Bali dengan menggunakan tahapan pembelajaran Gerak Dasar Tari Bali I, Gerak Dasar Tari Bali II dan Gerak Dasar Tari Bali Putra; (3) penerapan Gerak Dasar Tari Bali yang dilakukan secara bertahap tersebut berdampak pada mantapnya penguasaan gerak dasar tari Bali dan tingginya rasa percaya diri anak-anak yang belajar di Sanggar Tari Warini untuk menari.   Kata Kunci :Strategi, Pembelajaran, Gerak Dasar Tari Bali, Anak-Anak, Sanggar Tari Warini
PROSES PENCIPTAAN, BENTUK DAN PESAN TARI GEN DI YAYASAN BUMI BAJRA SANDHI Apsari, Ketut Novia; Ruastiti, Ni Made; Artati, Anak Agung Ayu Mayun
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 2 No 2 (2022): Terbitan Kedua Bulan November tahun 2022
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/journalofdance.v2i2.1887

Abstract

Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk dapat memahami dan menjelaskan karya seni pertunjukan Tari GEN. Tari GEN ini terinspirasi dari aksara sebagai proses penciptaan. Tari ini memiliki kekhasan dan keunikan sendiri mulai dari awal mula proses penciptaannya, bentuk pertunjukan dan pesan yang disampaikan Tari GEN. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan landasan teori estetika dan ikat kait. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, studi kepustakaan dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ide penciptaan dalam Tari GEN ini berawal dari keinginan pencipta mengangkat aksara sebagai proses penciptaan. Bentuk pertunjukan Tari GEN terdiri dari tiga struktur yakni: (1). Menggambarkan suasana yang magis. (2). Menggambarkan suasana yang ceria. (3). Semua penari melihat bulan sambil menyanyikan lagu Panedeng Masa Kartika. Gerak yang digunakan Tari GEN adalah gerakan yoga asanas, serta menggunakan beberapa gerakan Tari Bali. Pola lantai yang digunakan dalam Tari GEN adalah diagonal, vertikal, horizontal, spiral dan lingkaran yang dibantu menggunakan level tinggi, rendah dan sedang. Riasan pada wajah menggunakan corak berwarna putih ke beberapa penari saja sedangkan penari lainnya tampil tidak memakai riasan wajah atau natural. Busana yang berwarna-warni menjadikan kesan dari anak-anak jelas terlihat. Gending yang dinyanyikan pada tarian berjudul Panedeng Masa Kartika. Alat musik yang digunakan yaitu berupa selonding, riong, ceng-ceng, kendang, suling, kemong/kajar, rebab dan gong dengan digarap menyesuaiakan kebutuhan garapan. Artictic stage dan lighthing design Tari GEN menggunakan layar berlukiskan aksara bali visual art. Pesan pada Tari GEN adalah mengajak seluruh masyarakat khususnya di Bali agar melestarikan bahasa daerah atau aksara Bali.Kata Kunci: Tari GEN, Proses Penciptaan, bentuk, pesan
Kajian Bentuk Dan Fungsi Tari Gandrung Giri Kusuma Di Desa Ungasan, Badung. Dewi, Ni Luh Diah Candra; Ruastiti, Ni Made; Suminto, Suminto
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 4 No 1 (2024): Jurnal IGEL Vol 4 No 1 2024
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v4i1.3204

Abstract

Tari Gandrung Giri Kusuma merupakan salah satu tarian sakral yang berada di Pesambyangan Pura Batu Pageh Desa Adat Ungasan Kabupaten Badung, tari tersebut menjadi objek penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam Tari Gandrung Giri Kusuma dan memperkenalkan kepada masyarakat luas. Menggunakan metode kualitatif dan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Pada penelitian ini membahas mengenai bentuk dan fungsi Tari Gandrung Giri Kusuma, maka dalam penelitian ini menggunakan teori estetika dan teori fungsional untuk menganalisis objek. Tari Gandrung Giri Kusuma merupakan tari yang menggambarkan Sang Hyang Dedari, ditarikan oleh satu orang penari perempuan. Tari Gandrung Giri Kusuma menggunakan tata rias minimalis dan busana yang digunakan hampir sama dengan busana tari Legong. Tari Gandrung Giri Kusuma menggunakan musik iringan bambu atau Gamelan Gandrung. Tari Gandrung Giri Kusuma dipentaskan setiap rahina Kajeng Kliwon, Kliwon, dan Tumpek Wayang di Pesambyangan Pura Batu Pageh Desa Adat Ungasan. Adapun bentuk yang diuraikan yaitu mengenai penari, struktur, ragam gerak, tata rias, tata busana, musik iringan, tempat pementasan, properti. Adapun fungsi yang diuraikan yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.
THE WAYANG WONG ANAK-ANAK PERFORMANCE DEVELOPMENT Ruastiti, Ni Made; Rai S., I Wayan; Kharisma Pradana, Gede Yoga
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2023): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v7i2.1543

Abstract

So that the art of wayang wong in Bali can be maintained, the research team has created Wayang Wong Anak-Anak. As a vehicle for socializing cultural values, this model is very important to be developed. The development of this wayang Wong model intensively involves young Balinese people. The problems : 1) How is the process of fostering Wayang Wong Anak-Anak?; 2) What is the form of the Wayang Wong Anak-Anak?. As a result of applied research, a number of data collection have been carried out, including document studies, observations, exercises, and in-depth interviews with informants. The results : 1) The process of fostering Wayang Wong Anak-Anak has been carried out through : (a) applying the performance concepts; (b) conducting exercises to find a model of Wayang Wong Anak-Anak that suits the tastes and abilities of the youth, (c) a trial for a Wayang Wong Anak-Anak show, (d) finalizing a model for a Wayang Wong Anak-Anak; 2) the coaching in the development of wayang wong has succeeded in implementing the Wayang Wong Anak-Anak, namely : themes, variety of movements, and performances that are in accordance with the abilities and character of the youth.
KITES AS SYMBOLS IN BALINESE KARAWITAN MUSIC NEW CREATIONS: DECONSTRUCTING THE KITE TRADITION Agus Eko Sattvika, I Putu; Ruastiti, Ni Made; Gede, Yoga Kharisma Pradana
Lekesan: Interdisciplinary Journal of Asia Pacific Arts Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/lksn.v8i2.3561

Abstract

In Balinese gamelan art, a new Balinese musical creation featuring kites has been introduced. While kite-flying traditions had previously existed, there had been no Balinese gamelan musical works featuring. This phenomena reflects a transformational style that involves deconstructive techniques. The concerns are: 1) What is the shape of new kite building in Balinese karawitan art activities?; 2) Are there differences in kite traditions & in Balinese karawitan art activities?; 3) What is the purpose of deconstruction of kite traditions in Balinese karawitan art activities?. A qualitative methods was applied from a cultural studies standpoint. An interdisciplinary strategy was used to collect all data, which included document studies, participant observation, and interviews with Karawitan artists. All data were analyzed qualitatively-interpretively, with consideration given to deconstruction, aesthetics, and ethnomusicology theories. The results show tha t: 1) a new construction of kite tradition elements is seen in the sound patterns of new creative karawitan music; 2) the form of kite tradition is seen in the phase preceding the realization of new creative karawitan music works with a kite theme; and 3) artistic, religious, and communicative meanings are implied in the new creative karawitan artworks as a deconstruction of the kite tradition. These discoveries help to shape karawitan art based on local wisdom and create opportunity for discussion amongst traditional cultural forms.
Rekonstruksi Tari Rejang Dewa pada Tradisi Megebeg-Gebegan dalam Rangka Penguatan Identitas Budaya Tradisional Bali di Desa Tukad Mungga, Buleleng Ni Made Ruastiti; Gede Yoga Kharisma Pradana; Ni Kadek Suryani; Arya Pageh Wibawa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin Vol. 6 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/wrd.v6i1.927

Abstract

The Rejang Dewa is one of Bali's traditional cultures that has long been preserved in the Megebeg-Gebegan tradition. However, it is nonexistent as part of the Megebeg-Gebegan. This community service activity aims to reconstruct the Rejang Dewa Dance and strengthen local cultural identity. Specifically, this activity aims to reveal the crisis facing the Rejang Dewa dance in Megebeg-Gebegan (1), reconstruct the Rejang Dewa dance in the Megebeg-Gegeban (2), and analyze the contribution of Rejang Dewa in the Megebeg-Gebegan tradition (3). Data analysis was conducted qualitatively based on the achievements of participatory observation, interviews, choreography training, and workshops. The results: 1) the loss of pride among the local community and the difficulty in finding Rejang Dewa dancers indicate a crisis; 2) the reconstruction of the Rejang Dewa dance was carried out through replication and integration of art and education in PKM activities based on local cultural studies; 3) the reconstruction of the Rejang Dewa has impacted on strengthening the aesthetic aspects and the function of religion and fostering a sense of pride in the culture of the Tukad Mungga Village community.