Ediar Usman
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Jl. DR. Junjunan No. 236, Telp. 022 603 2020, 603 2201, Faksimile 022 601 7887, Bandung

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

DISTRIBUSI FORAMINIFERA BENTIK SEBAGAI INDIKATOR KONDISI LINGKUNGAN DI PERAIRAN SEKITAR PULAU BATAM-RIAU KEPULAUAN Luli Gustiantini; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1291.012 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.149

Abstract

Hasil analisis foraminifera bentik dari 42 percontoh sedimen dasar laut yang diambil dari Perairan Batam menunjukkan kelimpahan yang sangat tinggi, terdiri dari 123 spesies, yang terbagi menjadi 72 spesies dari Grup Rotaliina, 28 spesies Miliolina, dan 23 spesies Textulariina. Berdasarkan analisis cluster, lokasi penelitian terbagi menjadi 5 cluster, yang masing-masing didominasi oleh Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, dan Operculina ammonoides. Kelima spesies tersebut merupakan penciri lingkungan laut dangkal, sedimen kasar, dan berasosiasi dengan lingkungan berenergi tinggi dan terumbu karang. Penyebaran foraminifera bentik di lokasi penelitian dipengaruhi oleh pola arus, distribusi sedimen, dan terumbu karang. Ada perbedaan distribusi foraminifera bentik yang cukup signifikan antara wilayah sebelah barat dengan di sebelah utara dan timur penelitian. Ketiga area tersebut memiliki pola arus, tingkat energi dan distribusi sedimen yang cukup berbeda. Wilayah Perairan Batam dinilai masih memiliki kondisi lingkungan yang bagus, dilihat dari kelimpahan foraminifera bentik, serta dari nilai tingginya index diversitas yaitu >3. Kata kunci : foraminifera bentik; analisis cluster; indikator lingkungan; Perairan Batam - Riau Analysis of benthic foraminifera from 42 seafloor sediment samples from Batam Waters, shows very high abundance, consists of 123 species, which are 72 species belong to Rotaliina, 28 species of Miliolina, and 23 species of Textulariina. Based on cluster analysis, the study area is divided into 5 groups, each cluster is dominated by Asterorotalia trispinosa, Pseudorotalia annectens, Amphistegina radiata, Quinqueloculina cf. Q. philippinensis, and Operculina ammonoides. These five species of benthic foraminifera are indicators for shallow marine water environment, with coarse sediment fraction and associated with high energy environment and coral reef. The benthic foraminiferal distribution is influenced by current pattern, sediment distribution, and coral reef. There is a significant difference between benthic foraminiferal distribution in the western part with the northern and the eastern parts. These three parts of the study area have different current pattern, energy, and sediment distribution. Batam Waters is assumed still in good environment, derived from both high abundance of benthic foraminifera and the high value of diversity index (>3). Key words : benthic foraminifera; cluster analysis; environmental indicator; Batam Waters
KETIDAKSTABILAN PANTAI SEBAGAI KENDALA PENGEMBANGAN DAERAH PERUNTUKAN DI PERAIRAN LASEM JAWA TENGAH Delyuzar Ilahude; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 5, No 1 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.767 KB) | DOI: 10.32693/jgk.5.1.2007.131

Abstract

Lokasi daerah studi secara geografis terletak di pesisir utara Pulau Jawa dan termasuk pantai terbuka terhadap pengaruh energi gelombang dari arah barat laut dan timur laut. Proses abrasi di sepanjang garis pantai Lasem khususnya di bagian timur laut relatif besar. Pasokan sedimen dari pesisir pantai bagian timur laut Lasem tersebut cenderung diendapkan di bagian tengah dan barat daya daerah penelitian. Kata Kunci : abrasi, pasokan sedimen The study area is geographically located on the northern coast of Jawa, which is an open beach influenced by wave action from the northwest and northeast direction. The abrasion process occurre relatively at the northeastern coastline of the the Lasem area. Sediment supply from the northeastern of Lasem tend to be deposited in the central and the southwestern part of the study area. Key words : abrasion, sediment supplay
ANALISIS GEOTEKNIK KELAUTAN PADA SISI KETAPANG (SELAT BALI) UNTUK PENGEMBANGAN PENGHUBUNG JAWA - BALI Ediar Usman; Franto Novico; Kris Budiono; Purnomo Raharjo
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.055 KB) | DOI: 10.32693/jgk.2.2.2004.113

Abstract

Daerah penelitian terletak di Perairan Ketapang, Selat Bali, ke arah timur dari pantai Banyuwangi. Di daerah ini akan dikembangkan jembatan penghubung Jawa dan Bali. Hasil penelitian geologi dan geofisika kelautan menunjukkan kondisi geologi dan geofisika yang komplek. Berdasarkan hasil pemboran inti dan nilai SPT memperlihatkan adanya sedimen tidak terkonsolidasi mencapai tebal 20 meter dari permukaan dasar laut yang tersusun dari fragmen terumbu koral dan cangkang foram. Analisis ini tanpa menggunakan metoda propertis keteknikan karena sedimen tak terkonsolidasi di dominasi oleh fragmen dan cangkang foram hampir 80%. Analisis nilai SPT menunjukkan kapasitas tiang pancang untuk diameter 50 cm mempunyai rata-rata 93.752 ton beban tekan dan 21.532 ton beban tarik. Untuk meningkatkan beban tersebut harus meningkatkan diameter tiang pancang lebih dari 50 cm dan kedalaman tiang pancang lebih dari 20 meter dari permukaan dasar laut. The area investigated is the Ketapang Waters of Bali Strait, easthward of the Banyuwangi Coast. This area will be developed a bredge between Java and Bali. Result of geological dan marine geophysical method shows the geologic and oseanograhic condition very complex. Based on coring data and Standard Penetration Test (SPT) value shows the unconsolidated sediments to reach 20 meters from seabed consist of coral fragments and foram shells. This analysis without engineering properties method because unconsolidated sediment is dominated by fragment and shell almost 80%. Analisys of Standard Penetration Test (SPT) value shows the bearingpile capacity of 50 cm of bearingpile diameters has avarage 93.752 ton of download and 21.532 ton of upload. For more then that value has to increasing the diameters more then 50 cm and ent bearingpile more then 20 meters thicknees in depth from seabed.
TINJAUAN GEOLOGI KELAUTAN PERAIRAN SEMENANJUNG MURIA TERHADAP RENCANA TAPAK KONSTRUKSI PLTN Ediar Usman; Wayan Lugra
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 6, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2077.956 KB) | DOI: 10.32693/jgk.6.1.2008.145

Abstract

Semenanjung Muria terletak di pantai utara Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Daerah ini akan dikembangkan menjadi daerah tapak Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Secara geologi, di daerah ini berkembang berbagai fenomena geologi seperti struktur sesar, gunungapi dan kegempaan. Berdasarkan hasil interpretasi rekaman seismik pantul di perairan Semenanjung Muria menunjukkan adanya struktur sesar pada penampang Lintasan L-1 dan L-3. Struktur sesar tersebut terbentuk pada Sekuen B dan di bawah Sekuen A. Adanya struktur sesar di laut tersebut perlu mendapat perhatian dalam perencanaan tapak kontruksi PLTN Muria, sehingga aspek yang dapat membahayakan konstruksi dapat diperhitungkan sebelumnya terhadap perencanaan kekuatan dan stabilitas konstruksi. Kata kunci : sesar, seismik pantul, perencanaan konstruksi, Semenanjung Muria. Muria Peninsula is located at the north coast of Jepara District, Central Java Province. This area will be developed for the foundation of Nuclear Energy Electrics Powers Station. Geologically, the study area has some geological phenomena such as fault structures, earthquakes and volcanisms. Based on seismic interpretation the Muria Peninsula waters shows the occurence of faults on L-1 and L-3. The fault structure formed at Sequence B and under Sequence A as a Quaternary sediment. These faults are seemly the continuation of faults present on land. Therefore, the construction of Muria station should be considered regarding the occurrence of these faults especially in the planning of stability and strength of foundation. Keyword : faults, reflection seismic, planning of construction, Muria Peninsula.
ANALISIS PERBANDINGAN GEOKIMIA GRANIT DAN SEDIMEN DASAR LAUT DI PULAU SINGKEP BAGIAN TIMUR, PROVINSI KEPULAUAN RIAU Moch. Akrom Mustafa; Ediar Usman
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 3 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (819.407 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.3.2013.237

Abstract

Hasil analisis kimia secara umum menunjukkan kesamaan antara granit dan sedimen permukaan dasar laut. Perbedaan hanya pada dua unsur, yaitu Al2O3 dan Fe2O3; kandungan Al2O3 pada granit antara 12,63 - 15,58% dan Fe2O3 antara 1,26 - 1,78%, sedangkan sedimen permukaan dasar laut Al2O3 berkisar antara 2,10 - 3,29% dan Fe2O3 antara 7,57 - 12,88%. Hasil analisis pada Diagram Harker menunjukkan penyebaran granit dan sedimen dasar laut membentuk pola searah, mengiindikasikan pola ko-magmatik. Selanjutnya, untuk menentukan tipe granit di P. Singkep dalam kaitannya dengan kandungan timah, dua diagram SiO2 vs FeOtot/MgO dan ACF telah digunakan. Hasilnya menunjukkan bahwa granit Singkep termasuk daerah transisi antara tipe A dan tipe I&S dan tipe S yang kaya ilmenit dan berassosiasi dengan konsentrat timah. Kata kunci: granit, sedimen dasar laut, kimia, tipe I&S, tipe S, timah, Pulau Singkep Results of chemical analyses generally show the similarities between the granites and the seafloor sediments. The difference is only in the two elements, namely Al2O3 and Fe2O3; Al2O3 contents. In the granite ranges between 12.63 to 15.58% and the Fe2O3 ranges between 1.26 to 1.78%; while the seafloor sediment shows Al2O3 between 2.10 to 3, 29% and Fe2O3 between 7.57 to 12.88%. Results of the analysis on the Harker Diagram shows the distribution of the granites and the seafloors sediments form the unidirectional pattern, indicates the co-magmatic pattern. Furthermore, to determine the type of granite in Singkep Island in relation with the tin content two diagram of SiO2 vs FeOtot/MgO and ACF are used. The result shows that the Singkep granite belong to the the transition area between the A and I&S and the S type which rich of ilmenite and associated with tin concentrate. Keywords: granite, sea floor sediments, chemicals, I&S type, S type, tin, Singkep Island