Jonidius Illu
Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Perintisan Gereja di Era Digital: Strategi Membangun Komunitas Iman Kristen bagi Generasi Z Intan Sari Telaumbanua; Jonidius Illu
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 1 (2025): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i1.69

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membentuk pola berpikir, cara berinteraksi, serta orientasi spiritual generasi Z, sehingga menuntut gereja untuk merumuskan strategi perintisan dan pembinaan iman yang kontekstual dan relevan. Artikel ini menganalisis dinamika Generasi Z sebagai generasi yang lahir dan bertumbuh dalam ekosistem digital, serta mengevaluasi tantangan yang dihadapi gereja-gereja yang masih berpegang pada pola pelayanan tradisional. Melalui pendekatan yang berfokus pada otoritas Alkitab, transformasi hidup melalui Injil, dan pemuridan yang holistik, tulisan ini mengusulkan sejumlah strategi perintisan gereja yang mampu menjangkau dan membangun komunitas iman yang kuat di tengah budaya digital. Strategi tersebut meliputi pengembangan pelayanan yang berpusat pada relasi, pemanfaatan teknologi secara kreatif dan bertanggung jawab, pembentukan ruang persekutuan yang otentik dan inklusif, serta penguatan praktik pemuridan yang relevan dengan kebutuhan spiritual gGenerasi Z. Artikel ini berkesimpulan bahwa gereja yang bersedia beradaptasi tanpa kehilangan inti Injil mempunyai peluang besar untuk memfasilitasi pertumbuhan iman kaum muda dan membangun komunitas Kristen yang tangguh, misioner, dan transformatif di era digital.
Meluruskan Makna Nazar: Antara Iman dan Dendam di Tengah Masyarakat Kabupaten Alor Harun Puling; Jonidius Illu
Jurnal Kala Nea Vol. 6 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Immanuel Sintang Kal-Bar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61295/kalanea.v6i2.196

Abstract

This study aims to examine the transformation of the meaning of vows (nazar) in Alor society from theological and sociocultural perspectives. The main issue addressed in this research concerns the shift in the practice of vows from an expression of commitment of faith to God into a social instrument that is often used to seek revenge or to reinforce group pressure. This study employs a descriptive qualitative method with a fieldwork approach, including in-depth interviews with church and customary leaders, as well as an analysis of biblical texts and anthropological literature on religion. The findings reveal a tension between biblical teachings that emphasize love, forgiveness, and personal commitment, and local customary practices that position vows as instruments of social sanction and symbols of power. In conclusion, the church needs to play an active role in realigning the meaning of vows through contextual congregational education, an inculturation approach, and open dialogue with customary communities. The main recommendation of this study is the development of culturally based pastoral strategies to restore vows as expressions of faith that promote peace and social harmony within Alor society.
Penguatan Pemahaman Tentang Harga Mengikut Yesus Kristus Berdasarkan Lukas 9:57–62 Melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat Di Gereja Oikumene “Jemaat Imanuel” Haul Sagu jenet selfiani sakey; Jonidius Illu; Petra Harys Alfredo Tampilang
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Mangentang Vol. 2 No. 2 (2025): MANGENTANG: November 2025
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/mangentang.v2i2.153

Abstract

Abstract This article aims to strengthen the understanding of the Oikumene Church "Jemaat Imanuel" Haul Sagu regarding the meaning and cost of following Jesus Christ as explained in Luke 9:57–62. The background of this activity stems from two years of observation, which revealed that most congregation members still perceive the Christian calling merely as formal attendance at worship services, without emphasizing the aspects of commitment, sacrifice, and faithfulness. This is evidenced by the low level of participation in spiritual activities, with members attending only Sunday services and major church holidays. Therefore, this Community Service (PkM) activity was designed to provide faith strengthening based on the Bible, emphasizing three important dimensions: the right motivation, obedience in participating in spiritual activities, and wholeheartedness in following Jesus Christ. The method used was a qualitative approach with observation techniques to gain a contextual understanding of the congregation, as well as lectures during the implementation of the faith-strengthening program. Meanwhile, a descriptive method was used in the writing of this article to systematically explain key biblical teachings on following Jesus. The activity was conducted at the Oikumene Church "Jemaat Imanuel" Haul Sagu building on August 7, 2025, with approximately 30 congregation members participating. The results showed an increased awareness among the congregation regarding the consequences of faith. The members understood that following Jesus Christ is not merely a formal status as Christians, but a life decision that demands faithfulness, obedience, and willingness to sacrifice. Through this activity, the congregation was encouraged to renew their faith commitment, reject false motivations, and place the calling of Jesus Christ as the top priority in their daily lives. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman Gereja Oikumene ”Jemaat Imanuel” Haul Sagu mengenai makna dan harga mengikut Yesus Kristus sebagaimana dijelaskan dalam Lukas 9:57–62. Latar belakang kegiatan ini berangkat dari hasil observasi selama dua tahun yang menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat masih memahami panggilan Kristiani sebatas kehadiran formal dalam ibadah, tanpa menekankan aspek komitmen, pengorbanan, dan kesetiaan iman. Hal ini ditandai dengan minimnya keaktifan jemaat dalam mengikuti kegiatan rohani, jemaat hanya hadir dalam kebaktian minggu dan hari besar gerejawi lainnya. Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dirancang untuk memberikan penguatan iman yang didasarkan pada Alkitab, dengan menekankan tiga dimensi penting yaitu motivasi yang benar, ketaatan dalam mengikuti kegiatan rohani, dan sepenuh hati dalam mengikuti Yesus Kristus. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik observasi untuk memperoleh gambaran kontekstual jemaat, serta metode ceramah dalam pelaksanaan kegiatan penguatan iman. Sementara itu, metode deskriptif dipakai dalam penyusunan artikel guna menjelaskan secara sistematis pokok-pokok pengajaran Alkitab tentang mengikut Yesus. Kegiatan dilaksanakan di Gedung Gereja Oikumene ”Jemaat Imanuel” Haul Sagu pada 7 Agustus 2025, dengan jumlah peserta sekitar 30 orang jemaat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran jemaat mengenai konsekuensi iman. Jemaat memahami bahwa mengikut Yesus Kristus bukan sekadar status formal sebagai orang Kristen, melainkan keputusan hidup yang menuntut kesetiaan, ketaatan, dan kesediaan untuk berkorban. Melalui kegiatan ini, jemaat didorong untuk memperbarui komitmen iman, menolak motivasi yang salah, serta menempatkan panggilan Yesus Kristus sebagai prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari.
Pendampingan Berkelanjutan Berbasis Pemuridan Strategi Gereja Kristen Nazarene Agape dalam Menyeimbangkan Kehidupan Studi, Pelayanan, dan Peningkatan Kualitas Akademik Sulistiono; Jonidius Illu
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Mangentang Vol. 2 No. 2 (2025): MANGENTANG: November 2025
Publisher : Vieka Wahana Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63248/mangentang.v2i2.163

Abstract

Abstract New students often struggle to balance academic demands, service commitments, and personal development needs. These conditions often cause stress, which affects academic achievement and character development. To address these issues, the Agape Nazarene Christian Church implemented a Continuous Discipleship-Based Mentoring program. The program aims to develop a mentoring pattern that helps new students balance their studies, service, and academic performance through a focused discipleship strategy. The research method is a descriptive qualitative case study, and the implementation methods include small group meetings, spiritual mentoring, and student involvement in social service. Activities were carried out twice a week, focusing on Bible teaching, discussion, and ministry practice. The results showed increases in discipline, time management, and academic skills, as well as a strengthening of students' spiritual character. Students also experienced growth in social awareness and positive community bonds. The program's outputs were contextual discipleship modules and program documentation that could be used to sustain the program. Thus, this program demonstrated the effectiveness of continuous discipleship as a holistic development strategy for new students while strengthening the identity of the Nazarene Church as a community that shapes Christ's disciples.  Abstrak Mahasiswa baru kerap menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik, komitmen pelayanan, dan kebutuhan pengembangan diri. Kondisi tersebut sering menimbulkan tekanan yang berdampak pada capaian studi dan pembentukan karakter. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk menjawab persoalan tersebut melalui program Pendampingan Berkelanjutan Berbasis Pemuridan di Gereja Kristen Nazarene Agape. Tujuan program ini adalah membangun pola pembinaan yang menolong mahasiswa baru menyeimbangkan studi, pelayanan, dan kualitas akademik melalui strategi pemuridan yang terarah. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, sedangkan metode pelaksanaan meliputi pertemuan kelompok kecil, mentoring rohani, serta keterlibatan mahasiswa dalam pelayanan sosial. Kegiatan dilaksanakan secara rutin dua kali seminggu, dengan fokus pada pengajaran Alkitab, diskusi, dan praktik pelayanan. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan kedisiplinan, manajemen waktu, keterampilan akademik, serta penguatan karakter spiritual mahasiswa. Mahasiswa juga mengalami pertumbuhan dalam kepedulian sosial dan ikatan komunitas yang positif. Luaran kegiatan berupa modul pemuridan kontekstual dan dokumentasi program yang dapat digunakan untuk keberlanjutan kegiatan. Dengan demikian, program ini membuktikan bahwa pemuridan berkelanjutan efektif sebagai strategi pengembangan holistik mahasiswa baru, sekaligus memperkuat jati diri Gereja Nazarene sebagai komunitas pembentuk murid Kristus.
Kesempatan Misiologis Dalam Religiositas Primal Noriken Waruwu; Ronaldo V. Siregar; Jelita Lumbantobing; Jonidius Illu
Jurnal Teologi Trinity Vol. 3 No. 2 (2026): Regular Issue
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Trinity Parapat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62494/jtt.v3i2.89

Abstract

Tulisan ini mengkaji agama suku dalam perspektif teologis-antropologis melalui analisis religiositas primal di dalam Yesus Kristus. Religiositas primal mencerminkan kesadaran dasar manusia terhadap realitas ilahi melalui kepercayaan kepada kuasa supranatural, roh leluhur, ritus, dan nilai adat. Secara antropologis, hal ini menunjukkan manusia sebagai homo religiosus yang mencari makna dan relasi dengan yang transenden. Secara teologis, religiositas primal dipahami sebagai refleksi manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei), meskipun pengenalannya terhadap Allah masih terbatas oleh dosa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa religiositas primal dapat dipahami sebagai manifestasi wahyu umum Allah dalam budaya dan kesadaran manusia. Namun, religiositas primal juga memiliki keterbatasan karena sering berpusat pada ketakutan terhadap kuasa supranatural dan praktik simbolik. Karena itu, Yesus Kristus menjadi kepenuhan dan koreksi atas religiositas primal melalui relasi yang didasarkan pada kasih karunia, kebenaran, dan kasih Allah.