Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Women and the Transmission of the Quran: Marginalization, Legal Strategies, and Maqāṣid al-Sharī‘ah-Based Resolution Wibowo, Safrudin Edi; Fathiyaturrahmah, Fathiyaturrahmah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol 25, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i1.37944

Abstract

The duty to maintain the authenticity of the Quran through verbal transmission is a collective obligation for every Muslim. However, several groups of Muslim scholars marginalize the role of women in the transmission of the Quran due to some fiqh rules. Various ethical-legal-formal rules governing women's association in the public space have limited women's access to the transmission process. This study explains the biographical evidence of women's marginalization, the causal factors restricting women's access to the transmission, and the implications and legal strategies women used to overcome these fiqh rules constraints. This is library research with a feminist approach and descriptive analysis. Data collection was carried out by observing literature through library research related to the role of women in the transmission of the Quran. This study showed women's marginalization due to an understanding of gender-biased Islamic doctrines regarding seclusion, prohibitions on traveling and mixing with men (ikhtilāṭ), and the doctrine of women's voices as awrah. Under these conditions, women develop some legal stratagems to break through these religious doctrines. This study recommends using the maqashid al-sharī'ah approach in resolving the problem of marginalization of women in the transmission of the Qur'an.Abstrak:Kewajiban menjaga otentisitas Al-Qur’an melalui transmisi verbal merupakan kewajiban kolektif bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, peran perempuan dalam transmisi Al-Qur'an masih terpinggirkan karena adanya sejumlah pembatasan aturan fiqih yang yang membatasi akses perempuan dalam proses transmisi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk marginalisasi perempuan dalam transmisi Al-Qur’an, faktor-faktor penyebab, serta strategi hukum yang digunakan perempuan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Studi ini merupakan studi pustaka dengan pendekatan feminis. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan literatur melalui library research terkait peran perempuan dalam transmisi Al-Qur’an. Studi ini menunjukkan bahwa marginalisasi juru baca perempuan mewujud bentuk eksklusi nama-nama juru baca perempuan dari koleksi biografis juru baca Al-Qur’an dan mata rantai sanad Al-Qur’an, serta larangan perempuan untuk membaca Al-Qur’an di ruang publik. Marginalisasi terjadi akibat adanya sejumlah aturan fiqih yang membatasi pergaulan perempuan di ruang publik, seperti perintah pemingitan, larangan bepergian dan bercampur dengan laki-laki asing, serta stigma suara perempuan aurat. Meski demikian, pembatasan-pembatasan tersebut menginspirasi juru baca perempuan untuk mengembangkan strategi hukum guna mengatasi halangan-halangan normatif tersebut. Studi ini merekomendasikan penggunaan pendekatan maqashid al-shari’ah dalam menyelesaikan problem marginalisasi perempuan dalam transmisi Al-Qur’an.
Ajaran Jihad dalam Kurikulum Pesantren: Studi Kasus di Pondok Pesantren Al-Islah Bondowoso: The Teachings of Jihad in the Pesantren Curriculum: A Case Study at Al-Islah Islamic Boarding School, Bondowoso Wibowo, Safrudin Edi
Fenomena Vol 13 No 2 (2014): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v13i2.565

Abstract

As an Islamic educational institution, the role of Islamic boarding schools (pesantren) has been re-questioned following the emergence of numerous acts of terrorist violence in Indonesia, some of which were perpetrated by individuals who admitted to being graduates of such schools. These institutions are labeled as breeding grounds for terrorism due to their curriculum, which allegedly teaches jihad ideology that legitimizes violence. This stigmatization requires further analysis to objectively present the understanding of jihad within the pesantren world. This article is the result of research conducted at Al-Islah Islamic Boarding School in Dadapan Village, Grujugan District, Bondowoso Regency. Sebagai lembaga pendidikan Islam, peran pesantren mulai dipertanyakan kembali sejak munculnya berbagai aksi kekerasan terorisme di Indonesia, di mana sebagian pelakunya mengaku sebagai lulusan pesantren. Lembaga ini ditandai sebagai tempat berkembangnya terorisme karena kurikulumnya mengajarkan ideologi jihad yang melegalkan kekerasan. Stigmatisasi tersebut perlu dianalisis lebih lanjut agar paham jihad dalam dunia pesantren dapat ditampilkan secara objektif. Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Islah, Desa Dadapan, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso.
Critical Study Of Muhammad Syahrur's Hermeneutics On The Veil And Its Relevation In The Indonesian Context Robiatus Soleha, Robiatus Soleha; Safrudin Edi Wibowo; Uun Yusufa
International Journal of Educational Research & Social Sciences Vol. 4 No. 5 (2023): October 2023 ( Indonesia - Nigeria )
Publisher : CV. Inara in Colaboration with www.stie-sampit.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijersc.v4i5.706

Abstract

The developments that continued until the 19th century were the starting point for the revival of the Arab world. A strong desire to rise to what is called the era of modernity. One form of responding to the progress of knowledge in Islamic studies is the emergence of academics or researchers with various innovations they promote. One of them is Muhammad Syahrur. He is a well-known reformer in the world of interpretation of the Qur’an and Hadith. The breakthroughs made in reinterpreting the texts made him a barometer for analyzes in studying the texts of the Qur'an and Hadith. The empirical framework of thinking through the hudud theory approach which is used as an approach in interpreting the Qur’an makes him a progressive Islamic figure who tries to escape the influence of the hegemony of classical interpretation which he considers no longer able to answer the problems of the reality of a quite dynamic society. This research will focus on Syahrur's perspective in reinterpreting the concept of the veil in the Qur’an. This research will attempt to reveal the differences between Syahrur's interpretation and classical ulama and how it is relevant to the realities of contemporary society.
Women and the Transmission of the Quran: Marginalization, Legal Strategies, and Maqāṣid al-Sharī‘ah-Based Resolution Wibowo, Safrudin Edi; Fathiyaturrahmah, Fathiyaturrahmah
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 25 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v25i1.37944

Abstract

The duty to maintain the authenticity of the Quran through verbal transmission is a collective obligation for every Muslim. However, several groups of Muslim scholars marginalize the role of women in the transmission of the Quran due to some fiqh rules. Various ethical-legal-formal rules governing women's association in the public space have limited women's access to the transmission process. This study explains the biographical evidence of women's marginalization, the causal factors restricting women's access to the transmission, and the implications and legal strategies women used to overcome these fiqh rules constraints. This is library research with a feminist approach and descriptive analysis. Data collection was carried out by observing literature through library research related to the role of women in the transmission of the Quran. This study showed women's marginalization due to an understanding of gender-biased Islamic doctrines regarding seclusion, prohibitions on traveling and mixing with men (ikhtilāṭ), and the doctrine of women's voices as awrah. Under these conditions, women develop some legal stratagems to break through these religious doctrines. This study recommends using the maqashid al-sharī'ah approach in resolving the problem of marginalization of women in the transmission of the Qur'an. Abstrak Kewajiban menjaga otentisitas Al-Qur’an melalui transmisi verbal merupakan kewajiban kolektif bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, peran perempuan dalam transmisi Al-Qur'an masih terpinggirkan karena adanya sejumlah pembatasan aturan fiqih yang yang membatasi akses perempuan dalam proses transmisi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk marginalisasi perempuan dalam transmisi Al-Qur’an, faktor-faktor penyebab, serta strategi hukum yang digunakan perempuan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Studi ini merupakan studi pustaka dengan pendekatan feminis. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan literatur melalui library research terkait peran perempuan dalam transmisi Al-Qur’an. Studi ini menunjukkan bahwa marginalisasi juru baca perempuan mewujud bentuk eksklusi nama-nama juru baca perempuan dari koleksi biografis juru baca Al-Qur’an dan mata rantai sanad Al-Qur’an, serta larangan perempuan untuk membaca Al-Qur’an di ruang publik. Marginalisasi terjadi akibat adanya sejumlah aturan fiqih yang membatasi pergaulan perempuan di ruang publik, seperti perintah pemingitan, larangan bepergian dan bercampur dengan laki-laki asing, serta stigma suara perempuan aurat. Meski demikian, pembatasan-pembatasan tersebut menginspirasi juru baca perempuan untuk mengembangkan strategi hukum guna mengatasi halangan-halangan normatif tersebut. Studi ini merekomendasikan penggunaan pendekatan maqashid al-shari’ah dalam menyelesaikan problem marginalisasi perempuan dalam transmisi Al-Qur’an.  
Tekstualitas Al-Qur’an dan Konsep Ma’na Cum Maghza dalam Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd Pratama, Muhammad Aldiansyah; Wibowo, Safrudin Edi; Faizin, Khoirul
Instructional Development Journal Vol 7, No 1 (2024): IDJ
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idj.v7i1.29548

Abstract

Tulisan ini membahas tentang pemikiran tokoh Nasr Hamid Abu Zayd tentang pandangannya mengenai tektualitas al-Qur’an dan konsep ma’na cum maghza-nya. Wacananya tentang tekstualitas al-Qur’an  yang menganggap teks al-Qur’an merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) selalu menjadi polemik tersendiri di kalangan pegiat tafsir Qur’an. Begitupun dengan konsep ma’na cum maghza yang ditawarkannya dianggap dapat mengkontekstualisasikan teks dengan masa kini dan menjadi trobosan solusi untuk menjawab persoalan-persoalan kekinian yang belum mampu terpecahkan. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk mengulas lebih dalam mengenai apa yang melatarbelakangi Nasr Hamid Abu Zaid dalam  pandangannya terhadap al-Qu’an, dan bagaimana pengertian konsep ma’na cum maghza serta penerapannya. Tulisan ini berjenis studi pustaka (library research), yakni tulisan yang penelusuran dan penelaahannya berasal dari bahan-bahan tertulis berupa buku, artikel jurnal, naskah-naskah dan karya tulis lainnya. Adapun kesimpulan dalam tulisan ini, Nasr Hamid dalam pandangannya mengenai tekstualitas al-Qur’an menganggap teks al-Qur’an merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi). Hal ini dikarenakan dalam pandangannya al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW selama lebih dari 20 tahun tidak pernah lepas dari situasi dan kondisi sosial-budaya masyarakat Arab yang melingkupinya yang menjadi objek diturunkannya al-Qur’an. sedangkan konsep ma’na cum maghza yang ditawarkan untuk menjadi pendekatan baru dalam memaknai teks al-Qur’an menjadi hal positif tersendiri dalam dunia tafsir kontemporer, hal ini lantaran teori ini dapat mengkontekstualisasikan teks dengan kondisi kekinian.
Tekstualitas Al-Qur’an dan Konsep Ma’na Cum Maghza dalam Pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd Pratama, Muhammad Aldiansyah; Wibowo, Safrudin Edi; Faizin, Khoirul
Instructional Development Journal Vol 7, No 1 (2024): IDJ
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/idj.v7i1.29553

Abstract

 Tulisan ini membahas tentang pemikiran tokoh Nasr Hamid Abu Zayd tentang pandangannya mengenai tektualitas al-Qur’an dan konsep ma’na cum maghza-nya. Wacananya tentang tekstualitas al-Qur’an  yang menganggap teks al-Qur’an merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) selalu menjadi polemik tersendiri di kalangan pegiat tafsir Qur’an. Begitupun dengan konsep ma’na cum maghza yang ditawarkannya dianggap dapat mengkontekstualisasikan teks dengan masa kini dan menjadi trobosan solusi untuk menjawab persoalan-persoalan kekinian yang belum mampu terpecahkan. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk mengulas lebih dalam mengenai apa yang melatarbelakangi Nasr Hamid Abu Zaid dalam  pandangannya terhadap al-Qu’an, dan bagaimana pengertian konsep ma’na cum maghza serta penerapannya. Tulisan ini berjenis studi pustaka (library research), yakni tulisan yang penelusuran dan penelaahannya berasal dari bahan-bahan tertulis berupa buku, artikel jurnal, naskah-naskah dan karya tulis lainnya. Adapun kesimpulan dalam tulisan ini, Nasr Hamid dalam pandangannya mengenai tekstualitas al-Qur’an menganggap teks al-Qur’an merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi). Hal ini dikarenakan dalam pandangannya al-Qur’an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW selama lebih dari 20 tahun tidak pernah lepas dari situasi dan kondisi sosial-budaya masyarakat Arab yang melingkupinya yang menjadi objek diturunkannya al-Qur’an. sedangkan konsep ma’na cum maghza yang ditawarkan untuk menjadi pendekatan baru dalam memaknai teks al-Qur’an menjadi hal positif tersendiri dalam dunia tafsir kontemporer, hal ini lantaran teori ini dapat mengkontekstualisasikan teks dengan kondisi kekinian.
Tranquility (Tuma’ninah) Amid Crisis: The Concept of Mental Health and Resilience from the Perspective of Tafsir Al-Munir Farhah, Farhah; Wibowo, Safrudin Edi; Faizin, Khoirul
The Eastasouth Journal of Social Science and Humanities Vol. 3 No. 02 (2026): The Eastasouth Journal of Social Science and Humanities (ESSSH)
Publisher : Eastasouth Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/esssh.v3i02.942

Abstract

The phenomenon of mental health, especially among the younger generation, is characterized by many modern people experiencing emotional disorders, high rates of anxiety, depression, and so on, triggered by exposure to social media, economic uncertainty, and environmental pressures. The Qur'an, as a source of law, also serves as a guide for Muslims in overcoming life's problems, including mental health. This study aims to: 1) Describe the concept of mental health in al-Munir's interpretation, 2) Describe efforts to manifest mental health in al-Munir's interpretation, 3) Determine the relevance of mental health applications in al-Munir's interpretation and contemporary anxieties of modern society. This study uses a descriptive qualitative method with a literature review type of research. The research data sources were obtained from various primary and secondary data sources, namely books, literature, reports, and other documentation materials that are relevant to the research. The results of the study show that 1) The concept of mental health contained in al-Munir's interpretation includes behaviors and attitudes that are ingrained in a person's mind, which are manifested in the form of happiness, calm, and peace of mind, 2) Efforts to manifest mental health in the interpretation of al-Munir can be realized through patience when overcoming life's difficulties, happiness, calm and relaxation, as well as healing the soul, 3). The applicable relevance of mental health in the interpretation of al-Munir and contemporary anxiety of modern society can be imprinted from mental health problems which include anxiety disorders, stress, depression and so on which have occurred a lot and cannot be considered trivial, this matter requires an approach to Allah SWT so that it can achieve ketuma'ninahan in life.
MENYOAL KHILAFAH: TELAAH ATAS PEMIKIRAN POLITIK ALI ABD AR-RAZIQ Wibowo, Safrudin Edi
JURNAL AT-TURAS Vol 2, No 2 (2015): Filsafat dan Studi Agama
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.177 KB) | DOI: 10.33650/at-turas.v2i2.173

Abstract

Ali Abdul Raziq rejected a logical axiom that building khilafah is a requirement for getting religious and common goods. For him, it is not merely khilafah, but every social system in the certain community needs a common good. Every country, whatever religion they mostly embraced, needs a certain system of organizing the common goods. The system could be based on every ideological underpinning, including khilafah. Furthermore, a claim that khilafah is the only religious system is unacceptable. Ali Abdul Raziq argues that religion has nothing to do with this system. There is no Islamic law which ruled khilafah, neither rejected it. All types of constitution and the ways they kept maintaining them are based on logical capability and living experience.