Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU MENGKONSUMSI MAKAN MAKANAN MANIS DAN PERILAKU MENGGOSOK GIGI DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK TK PERTIWI 37 GUNUNG PATI Ernawati -; Arwani -; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.503 KB)

Abstract

Penyakit gigi dan mulut adalah suatu penyakit yang tidak kalah pentingnya dengan penyakit lain. Karies gigi dan gangguan gigi berlubang merupakan gangguan kesehatan gigi yang paling umum dan tersebar luas di sebagian penduduk dunia. Tingginya angka karies gigi dapat dipengaruhi berbagai faktor.Karies gigi dapat disebabkan oleh faktor distribusi penduduk, lingkungan, perilaku dan faktor pelayanan kesehatan gigi. Pada anak prasekolah, karies gigi banyak disebabkan karena adanya kebiasaan yang kurang baik. Pada umumnya anak usia prasekolah tersebut mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan yang manis atau yang mengandung gula murni seperti permen, cokelat, dan donat.Di lain pihak anak prasekolah memiliki kebiasaan menggosok gigi hanya dua kali sehari yaitupada waktu pagi hari dan sore hari. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif korelasi, Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cros sectional (belah lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu siswa di TK Pertiwi 37 Gunung berjumlah 47 siswa. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi square.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang sering mengkonsumsi makanan manis. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, melakukan gosok gigi dengan buruk. Sebagian besar anak pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang, mengalami karies gigi. Ada hubungan antara perilaku konsumsi makanan manis dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,007).Ada hubungan antara perilaku menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak TK Pertiwi 37 Gunungpati Semarang (p = 0,001).Saran yang diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki anak sebaiknya mengurangi konsumsi makanan manis-manis pada anak-anak dengan cara memberikan bekal makanan ke sekolah sehingga akan mengurangi konsumsi makanan jajanan yang manis-manis sehingga karies gigi dapat terkurangi.Kata kunci : Perilaku konsumsi makanan manis, perilaku gosok gigi, kejadian karies gigi
PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH SEBELUM DAN SETELAH DI BERIKAN PENDIDIKAN SEKS DI SMA N 2 MRANGGEN TAHUN 2010 Boediono -; Arwani -; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 1 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.27 KB)

Abstract

Perilaku seksual merupakan perilaku yang melibatkan sentuhan secara fisik anggota badan antara pria dan wanita yang telah mencapai pada tahap hubungan intim, yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Remaja Indonesia (SKRI) yang dilakukan pada tahun 2002-2003 oleh BPS menyebutkan laki-laki berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 57,5 persen dan yang berusia 15-19 tahun sebanyak 43,8 persen. Sedangkan perempuan berusia 20-24 tahun belum menikah yang memiliki teman dan pernah melakukan hubungan seksual sebanyak 63 persen. Sementara itu perempuan berusia 15-19 tahun belum menikah yang memiliki teman dan pernah melakukan hubungan seksual mencapai angka sebesar 42,3 persen. Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan perubahan sikap remaja tentang perilaku seksual pranikah, salah satunya melalui kegiatan pendidikan kesehatan. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah SMA N 2 Mranggen masih terdapat siswi yang hamil diluar nikah, salah satu faktor yang menyebabkannya adalah kurangnya informasi perilaku seksual pranikah. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang hubungan sekspranikah di SMA N 2 Mranggen tahun Ajaran 2009/2010 sebelum dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan.jenis Penelitian ini merupakan penilaian pra ekspirimen. Rancangan penelitian menggunakan one group pra test post test dengan populasi siswa kelas XI di SMA N 2 Mranggen sebanyak 226 orang dan sampel yang diambil adalah sampel yang di pilih secara proposonat random sampling dari seluruh total populasi yang berjumlah 70 orang. Variabel independent adalah pendidikan seks Variabel dependent adalah tingkat pengetahuandan sikap remaja tentang seksual pranikah. Uji statistik yang digunakan t-dependent/ paired t-test. Hasil penelitian: Sebagian besar tingkat pengetahuan remaja sebelum diberi pendidikan kesehatan seks adalah cukup yaitu sebesar 33 orang (55%) dan sikap remaja tentang perilaku seksual pranikah sebagian besar adalah sangat tidak setuju yaitu 53 orang (83,3%), sedangkan tingkat pengetahuan remaja sesudah diberi pendidikan kesehatan sebagian besar adalah baik yaitu sebesar 50 orang (83,3%) dan sikap remaja sebagian besar sangat tidak setuju yaitu 58 orang ( 96,7% ). Hasil analisis data pengaruh pendidikan kesehatan seksual pranikah terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang perilaku seksual pranikah terdapat pengaruh yang signifikan ditunjukkan dengan hasil nilai P-Value = 0,000 < 0,05.Simpulan: Pendidikan kesehatan seks berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan sikap remaja tentang perilaku seksual pranikah. Hal ini ditunjukkan dengan nilai P-value = 0,000 < 0,05. Kata kunci: Pendidikan seks, pengetahuan dan sikap remaja, perilaku seksual
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA TENTANG STIMULASI VERBAL DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK PGRI 116 BANGETAYU WETAN Anik Handayani; Amin Samiasih; Mariyam -
FIKkeS Vol 6, No 2 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.626 KB)

Abstract

Penelitian ini memiliki latar belakang yaitu ada beberapa anak usia prasekolah yang mengalami gangguan dalam perkembangan bahasanya yang disebabkan karena faktor pengetahuan orang tua. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi verbal dengan perkembangan bahasa pada anak prasekolah di TK PGRI 116 Bangetayu Wetan. Desain penelitian ini adalahdescriptive correlation dengan pendekatan cross sectional. Besarnya populasi sebanyak 30 orang tua, karena jumlah populasi kurang dari 100 maka jumlah tersebut diambil semua sehingga teknik penelitian ini adalah total sampling. Untuk membuktikan adanya hubungan tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi verbal dengan perkembangan bahasa pada anak prasekolah dilakukan dengan Fisher Exact Test. Berdasarkan hasil analisis Fisher Exact Test diperoleh p-value sebesar 0,001 dengan koefisien korelasi Fisher Exact Test besarnya 0,537 (p < 0,05). Ada hubungan bermakna tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi verbal dengan perkembangan bahasa anak prasekolah di TK PGRI 116 Bangetayu Wetan 2012.Kata kunci :pengetahuan orang tua perkembangan bahasa anak prasekolah
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 3-4 TAHUN DI POSYANDU BUDI LESTARI DESA TLOGOREJO GUNTUR DEMAK Abdul Muchid; Amin Samiasih; Mariyam -
FIKkeS Vol 6, No 1 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.531 KB)

Abstract

Latar belakang: Pencapaian suatu kemampuan setiap anak bisa berbeda-beda, namun ada patokan umur tentang kemampuan apa saja yang perlu dicapai seorang anak pada umur tertentu. Salah satu aspek penting pada proses tumbuh kembang adalah perkembangan psikomotorik karena merupakan awal dari kecerdasan dan emosi sosialnya. Semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu tentang motorik kasar maka akan semakin baik perkembangan motorik kasar pada anak. Sebaliknya bila ibu mempunyai pengetahuan kurang akan berakibat pada kemampuan ibu dalam merawat dan memantau perkembangan motorik kasar pada anak. Tujuan: mengetahui hubungan pengetahuan ibu dengan perkembangan motorik kasar anak usia 3-4 tahun di Posyandu Budi Lestari Desa Tlogorejo Guntur Demak. Metode: penelitian ini adalah corelatif research dengan pendekatan cross sectional. Besarnya populasi sebanyak 32 ibu, karena jumlah populasi kurang dari 100 maka jumlah tersebut diambil semua sehingga tehnik penelitian ini adalah total sampling. Uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Chi Square. Hasil: Berdasarkan hasil analisis diperoleh p-value sebesar 0,028 dengan koefisien korelasi 0,389. Simpulan: disimpukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan perkembangan motorik kasar anak usia 3-4 tahun dan disarankan meningkatkan pelayanan kesehatan sehingga kader di posyandu bisa memberikan informasi dan pengetahuan perkembangan anak serta dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran kepada ibu - ibu yang memiliki anak usia 3 - 4 tahun bahwa perkembangan motorik kasar anak itu penting.Kata kunci : Pengetahuan ibu, Perkembangan motorik kasar, Anak usia 3-4 tahun
PENGARUH TERAPI BERMAIN TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK USIA PRASEKOTAH SETAMA TINDAKAN KEPERAWATAN DI RUANG TUKMAN RUMAH SAKIT ROEMANI SEMARANG Dera Alfiyanti; Tri Hartiti; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Keperawatan
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5549.319 KB)

Abstract

Terapi bermain adalah bentuk-bentuk pengalaman bermain yang direncanakan sebelum anak menghadapi tindakan keperawatan untuk membantu strategi koping mereka terhadap kemarahan, ketakutan, kecemasan, dan mengajarkan kepada mereka tentang tindakan keperawatan yang dilakukan selama hospitalisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama tindakan keperawatan di Ruang Lukman Rumah Sakit Roemani Semarang. Metode penelitian yang diterapkan adalah quasy experiment dengan one group pre test and post test design. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengobservasl dua puluh responden yang mengacu pada enam item pernyataan yang tercantum di lembar observasi. Tiap - tiap responden diobservasi dua kali, sebelum dan sesudah pemberian terapi bermain pada dua tindakan keperawatan yang sama. Alat pengolahan data yang digunakan adalah program SPSS 11.0 for windows release. Paired t-test digunakan untuk menganalisa pengaruh terapi bermain terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama tindakan keperawatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama tindakan keperawatan sebelum dan sesudah dilakukan terapi bermain (p value = 0,005 lebih kecil dari a = 0,05) Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terapi bermain berpengaruh terhadap tingkat kecemasan anak usia prasekolah selama tindakan keperawatan. Peneliti mengharapkan ada penelitian lebih lanjut untuk melengkapi hasil penelitian ini dengan sampel dan metode yang lebih representatif. Kata kunci : terapi bermain, tingkat kecemasan anak usia prasekolah
RELATION BETWEEN KNOWLEDGE AND ADOLESCENT POSITION ABOUT HIV-AIDS WITH BEHAVIOR OF SEX BEFORE MARRIEDINDIUM SMA PGRI 1 SEMARANG Sri Ernawati; Heryanto -; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 5, No 2 (2012): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (213.245 KB)

Abstract

Di era globalisasi, dengan tingkat kebebasan yang longgar dari para orang tua dan ketidaktahuan remaja tentang penyakit menular seksual yaitu salah satunya HIV-AIDS yang banyak terjadi di kalangan remaja. Perkembangan kasus HIV-AIDS sudah menghawatirkan. Jumlah kasus baru HIV-AIDS menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pemerintah bersama-sama masyarakat perlu memutus mata rantai penyebaran HIV-AIDS agar penularan penyakit yang berbahaya tersebut tidak semakin meningkat secara nasional dan membahayakan masa depan bangsa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja SMA PGRI 1 Semarang. Berdasarkan data jumlah siswa kelas X, XI dan XII adalah 84 siswa, maka pengambilan sampel menggunakan tehnik total sampling. Variabel indipendent adalah pengetahuan dan ikap remaja tentang HIV-AIDS, sedangkan variabl dependentnya adalah perilaku seks pranikah. Uji statistik yang digunakan adalah person product moment bila datanya normal, namun jika datanya tidak normal menggunakan uji Rank Spearman. Sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori cukup yaitu sebanyak 67 siswa (79,8%), sikap positif sebanyak 60 siswa (71,4%) dan perilaku seks pranikah positif sebanyak 69 siswa (82,1%). Hasil analisis data ada hubungan antara hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV-AIDS dengan perilaku seks pranikah. Ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja tentang HIV-AIDS dengan perilaku seks pranikah di SMA PGRI 1 Semarang. Disarankan hasil penelitian ini akan memacu peneliti untuk melakukan penelitian-penelitian sejenis sehingga literatur tentang kesehatan remaja dengan perilaku seks pranikah terus dapat dilengkapi.Kata kunci : pengetahuan, sikap, Human Imunodeficiency Virus Aqcuired Immuno Deficiency Syndrom, perilaku seks pranikah
LAMA WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DI USIA DINI DENGAN STATUS GIZI BAYI (6-12 BULAN) DI KELURAHAN TLOGOURANG WILAYAH KERJA PUSKESMAS BOJA Eko Widya Retno Wahyu Indriani; Tri Hartiti; Amin Samiasih
FIKkeS Vol 4, No 2 (2011): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.742 KB)

Abstract

Usia awal bayi yaitu 0-6 bulan sering timbul masalah gizi, baik gizi kurang ataupun gizi lebih. Salah satu faktor penyebab timbulnya masalah gizi pada bayi adalah perilaku pemberian makanan, dalam hal ini pemberian makanan pendamping ASI secara dini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lama waktu pemberian makanan pendamping ASI di usia dini (0-6) dengan status gizi di Desa Tlogourang Wilayah Kerja Puskesmas Boja. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki bayi usia 6 bulan yang tinggal di Desa Tlogourang sebanyak 35 orang Teknik sampling yang digunakan adalah sampel jenuh. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar ibu memberikan MP ASI pada usia 5 bulan yaitu 25,7%. Sebagian besar bayi dalam status gizi baik yaitu 71,4%. Berdasarkan uji Chi Square didapatkan nilai p sebesar 0,036 (<0,05), maka dapat dinyatakan ada hubungan yang bermakna antara usia pemberian makanan pendamping ASI dengan status gizi anak di Desa Tlogourang Wilayah kerja Puskesmas Boja. Diharapkan kepada institusi kesehatan diharapkan dapat lebih meningkatkan penyuluhan kepada ibu bayi agar memberikan asupan gizi yang baik terutama ASI eksklusif selama 6 bulan agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung normal.Kata Kunci : Usia MP ASI, Status gizi
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN AKTUALISASI DIRI ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK ABA 31 NGALIYAN SEMARANG Afiyati Laili; Amin Samiasih; Mariyam -
FIKkeS Vol 6, No 1 (2013): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.945 KB)

Abstract

Anak merupakan generasi unggul penerus suatu bangsa yang pada dasarnya tidak akan tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan orang yang dianggap dewasa. Pertumbuhan merupakan perubaha yang terjadi terhadap fisik anak, sedangkan perkembangan merupakan segala perubahan yang terjadi baik secara fisik, kognitif, emosi maupun psikososial yang terjadi pada anak. Pencapaian seorang anak menjadi bibit yang unggul dalam suatu bangsa tentunya dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar dalam perjalanan hidup seorang anak. Dalam kebutuhan dasar Maslow disebutkan bahwa kebutuhan manusia meliputi kebutuhan biologis, rasa aman, kasih sayang, harga diri. Kebutuhan-kebutuhan tersebut pada hakikatnya harus terpenuhi sebelum anak mencapai tingkat kebutuhan dasar manusia yang paling tinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Dukungan dalam suatu keluarga merupakan cara yang dapat diberikan oleh keluarga terhadap anak dalam mencapai kebutuhan dasar Maslow yang paling tinggi yaitu kebutuhan Aktualisasi diri, dukungan yang dapat diberikan keleuarga terhadap anak yaitu berupa dukungan informasi, emosi, instrumental dan penilaian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan aktualisasi diri pada anak usia prasekolah di TK ABA 31 Ngaliyan Semarang. Jenis penelitian ini adalah Descriptive correlation . Pendekatan yang digunakan yaitu cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan metode total sampling jumlah sampel 48 responden. Hasil penelitian responden yang keluarganya mendukung 45 orang (93,8%) sedangkan responden yang tidak mendapatkan dukungan keluarga 3 orang (6,2%). Responden yang aktualisasi positif 45 anak (93,8) , dan yang aktualisasi negatif 3 anak (6,2%). Hasil uji statistik nilai p sebesar 0,018. Hasil ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan aktualisasi diri anak usia prasekolah di TK ABA 31 Ngaliyan Semarang.Kata kunci: Dukungan keluarga, aktualisasi diri prasekolah.
DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERILAKU MIRAS REMAJA DESA SAMBIREJO, KECAMATAN PLUPUH, SRAGEN Amin Samiasih; Nanad Triyunadi Putra
FIKkeS Vol 3, No 2 (2010): JURNAL KEPERAWATAN
Publisher : FIKkeS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.038 KB)

Abstract

Berdasarkan survey awal yang di lakukan peneliti di desa Sambirejo, kecamatan Plupuh, Sragen terhadap 7 responden remaja laki - laki yang berperilaku mengkonsumsi miras didapatkan bahwa dari 7 remaja yang mengkonsumsi alkohot 4 diantaranya mengatakan karena keluarganya tidak pernah menegur dan melarangnya, sedangkan 3 remaja mengatakan mengkonsumsi alkohol sebagai protes atas aturan ketat yang diberlakukan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan perilaku minum - minuman keras remaja Desa Sambirejo, Kecamatan Plupuh, Sragen. penelitiain ini adalah jenis penelitian deskriptil korelasi. Rancangan penetitian yang digunakan adalah Cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 64 responden. Metode pengambilan sampel menggunakan sample random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 64 responden. Variabel bebas dukungan keluarga dan variabel terikat adalah perilaku miras remaja. Uji statistik yang digunakan Rank Spearman, dengan taraf signifikan 5 %. Hasil penetitian didapat dukungan keluarga rendah sebesar 50 %, sedang sebesar 39,1 % dan tinggi sebesar 10,9 %. Remaja yang berperilaku miras berat sebesar 14,1 %, perilaku miras sedang sebesar 45,3 % dan perilaku miras ringan sebesar 40,6 %. Hasil uji statlstik dengan Rank Spearman didapatkan ada hubungan secara signifikan (bermakna) antara dukungan keluarga dengan perilaku miras di kalangan remaja, dengan nilai r hitung sebesar 0,351 dan p = 0,005. menuniukkan bahwa semakin tinggi dukungan keluarga maka perilaku miras dikalangan remaja akan semakin ringan demikian sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga yang diberikan maka semakin berat tingkat perilaku miras di kalangan remaja. Kata Kunci : Dukungan Keluarga, Remaja, Perilaku Miras.  
BEKAM BASAH MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP SOSIAL HUMANIORA PASIEN MIGREN Amin Samiasih; Tri Hartiti
Jurnal Keperawatan Medikal Bedah Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan Medikal Bedah
Publisher : Jurnal Keperawatan Medikal Bedah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.782 KB)

Abstract

Migren kejadiannya mulai meningkat. Kejadian terbanyak pada perempuan usia 35-45 tahun. Keadaan migren sangat mengganggu belajar, bekerja dan aktifitas sehari-hari, sehingga menurunkan kualitas hidup pasien. Bekam basah adalah teknik pengobatan komplementer, telah menurunkan nyeri pada 66% pasien nyeri kepala. Tujuan penelitian  untuk mengetahui pengaruh bekam basah terhadap kualitas hidup pasien migren. Metode penelitian adalah   quasi eksperimen, disain   one group pre test and post test design. Tempat penelitian adalah klinik bekam sinergi di wilayah Semarang teknik pengambilan sampel consecutive sampling, Hasil: Rata-rata gangguan ADL pasien Migren sebelum dilakukan bekam 73.40, termasuk Migren berdampak parah pada ADL. Hal ini menunjukkan kualitas hidup sosial humaniora buruk. Rata-rata gangguan  ADL pasien  Migren  1 minggu setelah  dilakukan bekam 52.67, termasuk Migren berdampak ringan pada ADL. Hal ini menunjukkan kualitas hidup sosial humaniora sedang. Simpulan penelitian ini ada pengaruh bekam basah terhadap kualitas hidup sosial humaniora pasien migren nilai p 0.000.