Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

DAMPAK PERKEMBANGAN KAWASAN PESISIR TERHADAP PERUBAHAN FUNGSI LAHAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI TAMBAK DI PESISIR TELUK KENDARI Limi, Muhammad Aswar; Sara, La; Ola, Taane La; Yunus, Lukman
AGRIPITA JOURNAL Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Agribisnis dan Pembangunan Pertanian
Publisher : Agripita Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.928 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine the impact of the development of coastal areas to changes in land use in the Coastal Kendari Bay and to determine the level of welfare of fish farmers in the Coastal Kendari Bay. The study was conducted in May-August 2016 for the coastal Kendari Bay and in the District Poasia Kendari. The location determination is done deliberately. Population and sample family head fish farmers in the district Poasia Kendari City by 11 households. The samples were conducted census of all the population used as a sample. Data analysis using descriptive analysis to determine the impact of the development of coastal areas to changes in land use and analysis of the revenue that will be used to determine the level of welfare of fish farmers. Based on the results of the study it can be concluded that the development of coastal areas, especially the development of infrastructure in the coastal kendari bay has resulted in a change of land use and land cover in coastal Kendari Bay where the land area of 205.5 ha of ponds decreases were converted into residential areas so that the settlement area and broader become 674.37 Ha and public space increased to 18.46 Ha. Land use resulted in the preservation of the coastal region of Kendari Bay decreased and high sedimentation rate causes changes in the environment and impacted upon the fishery resource and land productivity decreases and affect fish farmers income. The welfare of fish farmers are still determined by the coastal region of Kendari Bay so that fish farmers have a level of prosperity that is relatively poor.
Tinjauan Penerapan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) pada Alat Tangkap Sero dan Bagan Perahu di Perairan Tondonggeu, Kendari Marni, Marni; Sara, La; Tadjuddah, Muslim
JSIPi (Jurnal Sains dan Inovasi Perikanan) (Journal of Fishery Science and Innovation) Vol 4, No 2 (2020): JURNAL SAINS dan INOVASI PERIKANAN
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsipi.v4i2.13487

Abstract

Pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan merupakan salah satu alternatif mengatasi dampak krisis ekonomi nasional di Indonesia. Penggunaan alat tangkap ikan yang menerapkan prinsip-prinsip Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) yang sudah diterapkan secara luas dapat menjadi cara mempertahankan populasi sumberdaya perikanan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis alat tangkap ikan sero dan bagan perahu yang dipakai nelayan sesuai kriteria CCRF di perairan Tondonggeu. Data dikumpulkan melalui wawancara dan pengamatan langsung yang dilaksanakan pada bulan April sampai Juni 2018. Data yang dikumpulkan meliputi jenis ikan, ukuran panjang ikan, daerah penangkapan ikan, metode pengoperasian alat tangkap, riwayat cidera yang pernah diderita nelayan dalam pengoperasian alat tangkap, kualitas hasil tangkapan, kondisi fisik ikan, kualitas ikan hasil tangkapan sampingan, sumberdaya terjaga kelangsungannya, jenis ikan yang dilindungi terjaga, dan tanggapan masyarakat terhadap alat tangkap sero dan bagan perahu. Data tersebut dianalisis menurut presentasi tingkat keramahan lingkungan setiap alat tangkap yang digunakan, yaitu: > 80% (sangat ramah lingkungan), 50 – 80% (ramah lingkungan), 25 – 50% (kurang ramah lingkungan), dan < 25% (tidak ramah lingkungan). Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua alat tangkap sero dan bagan perahu yang digunakan nelayan termasuk alat tangkap ramah lingkungan. Walaupun demikian, bagan perahu menunjukan lebih ramah dengan skor masing-masing 73,33% dan 88,33%.
Kelimpahan Dan Distribusi Spasial Zooplankton Di Perairan Danau Tailaronto’oge Kapota Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi Maniati, Maniati; Sara, La; Salwiyah, Salwiyah
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Danau “Tailaronto’oge” merupakan danau air asin yang terletak di sisi utara Pulau Kapota. Yang fungsi utamanya adalah sebagai penyedia kebutuhan masyarakat setempat. Danau ini memiliki kualitas air yang cukup jernih sehingga zooplankton dapat tumbuh memadai dan berkembang dengan baik karna makanan alaminya selalu tersedia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan distribusi spasial zooplankton di perairan ini. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - September 2019. Stasiun pengambilan sampel zooplankton meliputi bagian inlet danau (stasiun I), bagian tengah danau (stasiun II), dan bagian pinggir danau dekat pemukiman masyarakat (stasiun III). Sampel zooplankton dari setiap stasiun diperoleh dengan cara menyaring air sebanyak 20 l kedalam plankton net No. 25 . Sampel DO diperoleh dengan cara botol volume 150 ml dimasukan kedalam perairan dalam keadaan tertutup rapat, botol tersebut dibuka tutupnya dengan secara perlahan-lahan air masuk melalui mulut botol sampai terisi penuh, ditutup diangkat dan dipastikan tidak ada gelembung udara didalam botol. Sampal zooplankton dianalisis di Laboratoriu Penguji FPIK UHO menggunakan metode sedwick Rafter cell (SRC) yang diamati dibawah mikroskop. Data yang diperoleh dianalisis kelimpahannya (APHA, 2005) dan distribusi (Brower et al., 1990). Hubungannya kelimpahan zooplankton dengan perameter kualitas  air dianalisiss menggunakan persamaan korelasi persamaan (setiawan, 2015). Hasil yang diperoleh bahwa jenis zooplankton terdiri dari 8 kelas yaitu kelas Maxillopoda (3 genera), kelas Cilliata (1 genera), kelas Rotatoria (1 genera), kelas Polychaeta (1 genera), kelas Xexanauplia (1 genera) dan kelas Protozoa (1genera), kelas Rotifera (1 genera), dan Prostomatea (1 genera). Kelimpahan zooplankton berkisar antara 58,5-387 ind/L. Distribusi zooplankton berkisar antara 2.87 – 4.47 ind/L. Hasil pengukuran kualitas air saat penelitian kisaran suhu 27-29 °C, kecarahan 1,80-2,06 %, salinitas 26-29 ppt, kecepatan arus 0,006-0,0157 m/s, pH 7-8, DO 4,9-5,9 mg/L. Kelimpahan ini termaksud kelimpahan yang rendah dengan kriteria 100-500 ind/L dan memiliki pola distribusi mengelompok (Id>1) dengan nilai 1,44-4,47. Parameter fisika kimia di perairan Danau Tailaronto’oge masih layak untuk pertumbuhan dan perkembangan zooplankton. Berdasarkan uji korelasi  kecerahan memiliki hubungan yang nyata terhadap kelimpahan zooplankton dengan nilai 0,994.Kata Kunci : Distribusi, kelimpahan, Danau Tailaronto’oge, dan zooplankton
Preferensi Habitat Benih Lobster (Panulirus spp.) Di Kawasan Konservasi Teluk Staring, Kecamatan Moramo, Konawe Selatan Tasidale, Siti Nurhajja; Sara, La; Halili, Halili
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 5, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preferensi habitat menunjukkan kesukaan suatu organisme terhadap berbagai pilihan sumberdaya dalam habitat. Habitat lobster (Panulirus spp.) umumnya di perairan yang mempunyai terumbu karang yang kondisinya baik. Teluk Staring merupakan satu-satunya lokasi penangkapan benih lobster di perairan Sulawesi Tenggara, yaitu terdapat di perairan Bororo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi benih lobster pada habitat yang sering ditemukan di perairan Bororo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2019. Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di perairan ini sebagai tempat penangkapan benih lobster kemudian ditentukan 3 stasiun untuk pengambilan sampel dan pengukuran parameter kualitas air, yaitu di sekitar mangrove (stasiun I), perairan ditumbuhi lamun (stasiun II), dan perairan dekat terumbu karang (stasiun III). Masing-masing stasiun ditempatkan secara acak 15 alat tangkap “pocong-pocong”. Sample lobster yang ditemukan dari setiap stasiun dihitung jumlahnya untuk mengetahui kelimpahannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa benih lobster yang terbanyak (52 individu) ditemukan di stasiun III, kemudian disusul stasiun I (25 individu), sedang yang paling sedikit kelimpahannya ditemukan di stasiun II (13 individu). Data ini menjelaskan bahwa perairan yang berdekatan dengan terumbu karang lebih disukai (much preferred) oleh benih lobster dibandingkan dengan perairan disekitar hutan mangrove atau perairan yang ditumbuhi lamun. Hal ini menggambarkan pergerakan benih lobster di perairan ini kemungkinan tidak terlalu luas yaitu berkumpul disekitar terumbu karang dan bermigrasi disekitarnya di perairan dekat hutan mangrove dan padang lamun.Kata Kunci: Benih Lobster, perferensi habitat, terumbu karang, lamun dan mangrove
Tinjauan Penerapan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) pada Alat Tangkap Sero dan Bagan Perahu di Perairan Tondonggeu, Kendari Marni, Marni; Sara, La; Tadjuddah, Muslim
Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan Vol 5, No 1 (2020): Februari
Publisher : Jurnal Manajemen Sumber Daya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sustainability fisheries resources management is one of alternatives overcoming national economic crisis impact of Indonesia. The use of world wide fish capture according to the Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) principles is a way to maintain sustainability fisheries resources population. The aim of this study was to analyze stake trap and boat lift net fishing gears in Tondonggeu waters which had been used by fishermen according to CCRF criteria. The data collected was through interview and direct observation conducted from April to June 2018. The data collected consisted of species of fish, length of fish, fishing ground, fishing gears operation method, injury story of fishermen during the use of fishing gears, fish capture quality, main target of fish physical condition, by-catch fish quality, fish resources sustainability concerns, fish species ptotected, and response of local community on those fishing gears. The data obtained was analyzed according to the level of environmental friendly of fishing gears used i.e.> 80% (very much environmental friendly), 50 – 80% (environmental friendly), 25 – 50% (less environmental friendly), and < 25% (no environmental friendly). The result of study showed that those both fishing gears include fishing gears environmental friendly. However, boat lift net is very much environmental friendly with the score is 73,33% and 88.33%, respectively.Key words: Boat lift net, Code of Conduct for Responsible Fisheries, Stake trap
KONTAMINASI JENIS MIKROPLASTIK PADA TUBUH IKAN TEMBANG (SARDINELLA FIMBRIATA) DI PERAIRAN TELUK KENDARI Hatia, .; Sara, La; Emiyarti, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 2: Mei 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i2.19432

Abstract

Mikroplastik merupakan bagian dari sampah plastik yang memiliki ukuran partikel kurang dari 5 mm. Mikroplastik yang terdapat di dalam perairan kemungkinan dapat ditelan organisme laut, seperti ikan tembang (Sardinella fimbriata). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan jumlah setiap jenis mikroplastik yang ditemukan pada saluran pencernaan ikan tembang di Perairan Teluk Kendari. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni – September 2020. Lokasi pengambilan sampel ikan tembang berasal dari stasiun Perairan Kendari Beach, Perairan Masjid Al-Alam dan Perairan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari menggunakan gillnet, selanjutnya sampel ikan tembang dimasukkan dalam cool box untuk mempertahankan kesegarannya. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Unit Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo. Pengamatan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu tahap preparasi sampel dan identifikasi menggunakan mikroskop. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis mikroplastik yang ditemukan ada empat jenis yaitu jenis fiber, fragmen, film dan pellet. Mikroplastik paling tinggi ditemukan dalam saluran pencernaan ikan tembang pada penelitian ini adalah jenis film sebesar 208,6 partikel/individu (50,24%) dan terendah adalah jenis pellet yaitu 1 partikel/indindivu (0,24%). Berdasarkan lokasi penelitian, jumlah mikroplastik tertinggi ditemukan pada stasiun PPS Kendari yaitu 151,9 partikel/individu dan terendah didapatkan pada stasiun Masjid Al-Alam yaitu 123,7 partikel/individu.Kata Kunci: Mikroplastik, Ikan Tembang (Sardinella fimbriata), Perairan Teluk    Kendari.
KANDUNGAN MIKROPLASTIK PADA KERANG DARAH (ANADARA GRANOSA) DI PERAIRAN TELUK KENDARI Isjayanti, Wardha; Sara, La; Emiyarti, .
Jurnal Sapa Laut (Jurnal Ilmu Kelautan) Vol 6, No 3: Agustus 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsl.v6i3.20994

Abstract

Mikroplastik di perairan dapat mengganggu organisme yang berasosiasi salah satunya kerang darah (Anadara granosa). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan dan jenis mikroplastik yang terdapat pada tubuh kerang darah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni-September 2020. Lokasi pengambilan sampel kerang darah berasal dari stasiun perairan Lapulu, Masjid Al-Alam, dan Muara Sungai Wanggu. Pengambilan sampel dari setiap stasiun dilakukan secara acak. Jumlah sampel masing-masing stasiun tersebut adalah 30 individu. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Unit Produktivitas dan Lingkungan Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo. Hasil penelitian menunjukan bahwa jenis mikroplastik yang terdapat dalam tubuh kerang darah terdiri atas 4 jenis, yaitu fiber, film, fragmen dan pellet. Kandungan mikroplastik pada tubuh kerang darah tertinggi terdapat pada stasiun perairan Lapulu yaitu rata-rata 445,8 partikel/individu. Stasiun perairan Lapulu jenis mikroplastik yang tertinggi di dapatkan ialah jenis film 193,7 partikel/individu, Stasiun perairan Masjid Al-Alam jenis fiber 57,9 partikel/individu dan Stasiun perairan muara sungai Wanggu jenis fragmen 85,4 partikel/individuKata Kunci : Mikroplastik, Teluk Kendari, Kerang Darah (Anadara granosa)
Phytoplankton in the Anchialine Habitat of Red Shrimp (Parhippolyte uveae) at Mangrove Ecosystem Waters Findra, Muhammad Nur; Rahman, Arif; Sara, La; Cahyani, Waode Sitti; Meilana, Lusita
Media Konservasi Vol. 29 No. 2 (2024): Media Konservasi Vol 29 No 2 May 2024
Publisher : Department of Forest Resources Conservation and Ecotourism - IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/medkon.29.2.118

Abstract

The anchialine habitat waters of this study is located at mangrove ecosystem around Koguna Beach area, Buton Island, Indonesia. It is a closed water, isolated from the sea, and inhabited by Parhippolyte uveae red shrimp. The existence of phytoplankton in this habitat can be used to determine the availability of natural food and the water quality of this shrimp’s habitat. This study was conducted to examine the presence of phytoplankton in the anchialine habitat of red shrimp. Phytoplankton samples were obtained by filtering water using Plankton Net. Meanwhile, several biological indexes such as the diversity index, evenness index, and dominance index were used to analyze the phytoplankton community. The result showed that this habitat was dominated by phytoplankton from the classes Bacillariophyceae, Florideophyceae, and Globothalamea with a total of 13 genera in September 2021 and Bacillariophyceae, Cyanophyceae, Dinophyceae, and Globothalamea with a total of 18 genera in December 2021. The most common type of phytoplankton found in the red shrimp habitat during the study was Navicula sp. with a ban of 1436 cells L-1 and 479 cells L-1 in September 2021 and December 2021, respectively. The diversity index of phytoplankton in this habitat was low, meanwhile, the index of evenness and dominance indicated that this habitat was of good quality (evenness index was high and dominance index was low). This study can be used as a basic information for further research on the management control for this species habitat.
Efisiensi distribusi pada bisnis komoditi rumput laut di Kabupaten Bombana Harfin, Wa Ode Shafira; Lawelle, Sjamsu Alam; Mansyur, Akhmad; Sara, La; Riani, Irdam
Jurnal Sosial Ekonomi Perikanan Vol 8 No 3 (2023): Jurnal Sosial Ekonomi Perikanan
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jsep.v8i3.21

Abstract

Seaweed distribution is the process of sending seaweed from producers to consumers. This study aimed to determine distribution, distribution patterns, and distribution efficiency in the seaweed commodity business. This research was conducted in Bombana Regency, from February to March 2022. Respondents were classified into 3 groups namely, seaweed farmers, small traders and big traders. Samples of each group were chosen purposively (purposive random sampling) the interview with each respondent used snowball sampling. The data collected includes the characteristics of the respondents, the characteristics of the seaweed business, and the minimum costs. The data were analyzed descriptively qualitative to answer the objective of how the distribution and pattern of distribution of seaweed in Bombana Regency was used, while the Least Cost method was used to answer the goal of seaweed distribution efficiency. The results showed that there were 4 seaweed distribution channels, namely: (1) seaweed farmers to small traders to big traders then to industry, (2) seaweed farmers to small traders to big traders then to exporters, (3) seaweed farmers to big traders then to industry, and (4) seaweed farmers to big traders then to the exporter. The amount of seaweed production distributed from seaweed farmers to small traders averaged 361.11 kg, while from small traders to wholesalers an averaged 3,817 kg, and from wholesalers to industry an average of 735 kg. The largest amount of seaweed production is from wholesalers to exporters with an average of 5,591 kg. The efficiency of distribution with the lowest cost occurs in distribution from seaweed farmers directly to big traders and from big traders to exporters
ANALYSIS OF PLANNING STUDY AND DEVELOPMENT OF INDIVIDUAL TRANSFERABLE QUOTA SYSTEM (ITQ) IN REALIZING QUOTA-BASED SUSTAINABLE FISHERIES Ramadian, Afzil; Sutyawan, Fery; Sara, La
Asian Journal of Aquatic Sciences Vol. 5 No. 3 (2022): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/

Abstract

Fish exploitation in Indonesia is already at a very alarming level. Catching at full capacity and even excess occurs in almost all fisheries management areas. One of the foreign government's efforts to overcome similar problems is by conducting ITQ. This research approach uses qualitative descriptive qualitative specifications. Data analysis techniques miles and huberman data triangulation: reduction, data presentation, verification carried out to find out the analysis of planning studies and the development of the Individual Transferable Quota (ITQ) system in realizing quota-based sustainable fisheries. This activity was carried out in collaboration with the grow fisheries training program and the university of Akureyri. The training was held from 19 - 28 May 2022 at the Marine and Freshwater Research Institute building and the University of Akureyri. The conclusion of this study is that the condition of the Indonesian seas, which is starting to deteriorate due to excessive and illegal fishing, requires firm action. It is hoped that the ITQ system can be implemented in Indonesia. So that when fishing is not done excessively.