Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ANALISIS SEMIOTIKA BALE PADA ADAT PERNIKAHAN MELAYU PESISIR Naia Rencani Suci; Tanti Kurnia Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14238

Abstract

Bale is an important component of Coastal Malay traditional weddings that contains various symbolic meanings and cultural values. Social changes and modernization have caused some members of the community, particularly younger generations, to recognize Bale merely as part of the wedding ceremony without fully understanding the meanings embedded in its components. Research on Bale using Roland Barthes’s semiotic approach among the Coastal Malay community in Langkat Regency remains limited. This study aims to analyze the denotative, connotative, and mythical meanings embedded in Bale used in Coastal Malay traditional weddings. The study employed a descriptive qualitative method with Roland Barthes’s semiotic analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The participants consisted of 12 informants selected through purposive sampling, including five parents, two married individuals who had conducted their weddings according to Malay customs, three adolescents, one traditional wedding facilitator (telangkai), and one Bale maker. The findings indicate that eight Bale components contain symbolic meanings: the structure and tiers of Bale, yellow glutinous rice, kemuncak flowers, eggs and egg flowers, inti, chicken, golden-yellow color, and flags. These meanings are associated with marital harmony, unity, happiness, prosperity, offspring, responsibility, honor, and cultural identity. This study demonstrates that Bale functions not merely as a traditional wedding accessory but also as a cultural sign system integrating Malay customary values, family life, and Islamic teachings through Roland Barthes’s three levels of meaning. These findings emphasize the importance of understanding the symbolic meanings of Bale as part of efforts to preserve Coastal Malay cultural heritage. ABSTRAK Bale merupakan salah satu perlengkapan penting dalam adat pernikahan Melayu Pesisir yang mengandung berbagai makna simbolik dan nilai budaya. Perubahan sosial dan perkembangan zaman menyebabkan sebagian masyarakat, terutama generasi muda, masih mengenal Bale sebagai bagian dari upacara tanpa memahami makna yang terkandung dalam setiap komponennya. Penelitian mengenai Bale dengan pendekatan semiotika Roland Barthes pada masyarakat Melayu Pesisir Kabupaten Langkat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam Bale pada pernikahan adat Melayu Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan penelitian berjumlah 12 orang yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas lima orang tua, dua orang yang telah menikah dan menggunakan adat Melayu, tiga orang remaja, satu orang telangkai, dan satu orang pembuat Bale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan komponen Bale yang memiliki makna simbolik, yaitu struktur dan tingkatan Bale, pulut kuning, bunga kemuncak, telur dan bunga telur, inti, ayam, warna kuning keemasan, dan bendera. Makna tersebut berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga, persatuan, kebahagiaan, kesejahteraan, keturunan, tanggung jawab, kehormatan, dan identitas budaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bale tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan adat, tetapi juga membentuk sistem tanda budaya yang mengintegrasikan nilai adat Melayu, kehidupan kekeluargaan, dan ajaran Islam melalui tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman makna simbolik Bale sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu Pesisir.
ANALISIS SEMIOTIKA TRADISI MAKAN BERADAB PADA PERNIKAHAN ADAT MELAYU DI KABUPATEN LANGKAT Miftahul Jannah; Tanti Kurnia Sari
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v6i3.14240

Abstract

The makan beradab tradition is an integral part of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency and serves as a medium for transmitting cultural values through a series of symbolic practices. However, social and cultural changes brought about by modernization have increasingly led this tradition to be perceived merely as a ceremonial procession, while the symbolic meanings embedded in each stage have gradually diminished, particularly among younger generations. This phenomenon highlights the need for an in-depth study to uncover the symbolic meanings preserved within the makan beradab tradition as an effort to preserve Malay cultural heritage. This study aims to describe the denotative, connotative, and mythical meanings represented in the makan beradab tradition of the Malay traditional wedding ceremony in Langkat Regency based on Roland Barthes' semiotic theory. This research employed a qualitative approach using a cultural semiotic study design. Data were collected through observations, interviews with Malay traditional leaders and other informants knowledgeable about the makan beradab tradition, documentation, and a literature review. The data were analyzed using the qualitative data analysis model proposed by Miles, Huberman, and Saldaña, combined with Roland Barthes' concepts of denotation, connotation, and myth. The findings reveal that every stage of the makan beradab tradition embodies symbolic meanings associated with responsibility, cooperation, affection, respect, mutual care, gratitude, and family harmony. Furthermore, these meanings have evolved into cultural myths that are transmitted across generations as moral guidelines for building harmonious family life in accordance with Malay cultural values. Therefore, the makan beradab tradition should not merely be regarded as a component of the wedding ceremony but also as a medium for transmitting cultural values and strengthening the cultural identity of the Malay community in Langkat Regency. ABSTRAK Tradisi makan beradab merupakan salah satu rangkaian penting dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat yang sarat dengan makna simbolik dan berfungsi sebagai media pewarisan nilai-nilai budaya. Namun, perkembangan modernisasi dan perubahan pola pikir masyarakat menyebabkan tradisi ini semakin sering dipahami hanya sebagai bagian dari prosesi seremonial, sementara makna simbolik yang terkandung dalam setiap tahapannya mulai mengalami pendangkalan, terutama di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kajian yang mampu mengungkap kembali makna simbolik yang terkandung dalam tradisi makan beradab sebagai upaya pelestarian budaya Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna denotatif, konotatif, dan mitos pada tradisi makan beradab dalam upacara pernikahan adat Melayu di Kabupaten Langkat berdasarkan teori semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi semiotika budaya. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan tokoh adat dan informan yang memahami tradisi makan beradab, dokumentasi, serta studi pustaka. Data dianalisis menggunakan model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña yang dipadukan dengan konsep denotasi, konotasi, dan mitos Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap tahapan dalam tradisi makan beradab mengandung makna simbolik yang merepresentasikan nilai tanggung jawab, kerja sama, kasih sayang, penghormatan, kepedulian, rasa syukur, dan keharmonisan dalam kehidupan rumah tangga. Makna-makna tersebut selanjutnya membentuk mitos budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai pedoman moral masyarakat Melayu dalam membangun keluarga. Dengan demikian, tradisi makan beradab tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian upacara pernikahan, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai budaya dan penguatan identitas masyarakat Melayu di Kabupaten Langkat.