Bale is an important component of Coastal Malay traditional weddings that contains various symbolic meanings and cultural values. Social changes and modernization have caused some members of the community, particularly younger generations, to recognize Bale merely as part of the wedding ceremony without fully understanding the meanings embedded in its components. Research on Bale using Roland Barthes’s semiotic approach among the Coastal Malay community in Langkat Regency remains limited. This study aims to analyze the denotative, connotative, and mythical meanings embedded in Bale used in Coastal Malay traditional weddings. The study employed a descriptive qualitative method with Roland Barthes’s semiotic analysis. Data were collected through observation, interviews, documentation, and literature review. The participants consisted of 12 informants selected through purposive sampling, including five parents, two married individuals who had conducted their weddings according to Malay customs, three adolescents, one traditional wedding facilitator (telangkai), and one Bale maker. The findings indicate that eight Bale components contain symbolic meanings: the structure and tiers of Bale, yellow glutinous rice, kemuncak flowers, eggs and egg flowers, inti, chicken, golden-yellow color, and flags. These meanings are associated with marital harmony, unity, happiness, prosperity, offspring, responsibility, honor, and cultural identity. This study demonstrates that Bale functions not merely as a traditional wedding accessory but also as a cultural sign system integrating Malay customary values, family life, and Islamic teachings through Roland Barthes’s three levels of meaning. These findings emphasize the importance of understanding the symbolic meanings of Bale as part of efforts to preserve Coastal Malay cultural heritage. ABSTRAK Bale merupakan salah satu perlengkapan penting dalam adat pernikahan Melayu Pesisir yang mengandung berbagai makna simbolik dan nilai budaya. Perubahan sosial dan perkembangan zaman menyebabkan sebagian masyarakat, terutama generasi muda, masih mengenal Bale sebagai bagian dari upacara tanpa memahami makna yang terkandung dalam setiap komponennya. Penelitian mengenai Bale dengan pendekatan semiotika Roland Barthes pada masyarakat Melayu Pesisir Kabupaten Langkat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos yang terkandung dalam Bale pada pernikahan adat Melayu Pesisir. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Informan penelitian berjumlah 12 orang yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas lima orang tua, dua orang yang telah menikah dan menggunakan adat Melayu, tiga orang remaja, satu orang telangkai, dan satu orang pembuat Bale. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat delapan komponen Bale yang memiliki makna simbolik, yaitu struktur dan tingkatan Bale, pulut kuning, bunga kemuncak, telur dan bunga telur, inti, ayam, warna kuning keemasan, dan bendera. Makna tersebut berkaitan dengan keharmonisan rumah tangga, persatuan, kebahagiaan, kesejahteraan, keturunan, tanggung jawab, kehormatan, dan identitas budaya. Penelitian ini menunjukkan bahwa Bale tidak hanya berfungsi sebagai perlengkapan adat, tetapi juga membentuk sistem tanda budaya yang mengintegrasikan nilai adat Melayu, kehidupan kekeluargaan, dan ajaran Islam melalui tiga tingkat pemaknaan Roland Barthes. Temuan ini menegaskan pentingnya pemahaman makna simbolik Bale sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya Melayu Pesisir.