Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penilaian Manfaat Ekowisata Hutan Mangrove Desa Budo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara Awali, Kifli Riyaldy; Saroinsong, Fabiola B.; Kalitouw, Devitha Windy
AGRI-SOSIOEKONOMI Vol. 19 No. 1 (2023): Agri-Sosioekonomi
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.137 KB) | DOI: 10.35791/agrsosek.v19i1.46855

Abstract

This research aims to analyze the benefits of mangrove ecotourism using the approach of visitors and the community around the mangrove forest ecotourism in Budo Village. This research was conducted in February-April 2022. The method used in this study is a quantitative descriptive method. Data regarding the benefits of mangrove forest ecotourism were carried out using direct interview techniques to 40 respondents from mangrove forest ecotourism visitors and 13 communities around mangrove forest ecotourism who were in guard VI. The data obtained were analyzed using a descriptive method which was tabulated in the form of a table. Based on the results of ecotourism research, mangrove forests are used by visitors as tourist attractions. 65% of respondents considered that access / ease of reach to the location of mangrove forest ecotourism in Budo Village was very easy to reach, 78% of respondents considered that mangrove debt ecotourism in Budo Village had a very beautiful view, 49% of respondents assessed that ecotourism in the mangrove forest of Budo Village had a variety of objects/ the number of spots varies greatly, 47% of respondents rated the ecotourism of the mangrove forest of Budo Village as very clean, 63% of respondents rated the service and safety of ecotourism of the mangrove forest of Budo village as very satisfactory, 48% of respondents rated the service of eating places for ecotourism of the mangrove forest of Budo village as very satisfactory, and 78 %. Budo Village mangrove forest ecotourism provides many benefits for the community around Budo Village mangrove forest ecotourism, both direct and indirect benefits. The direct benefits for the people of Budo Village can be used as a place for entrepreneurship in the form of MSMEs, home stays, parking lots, and cafes that can increase the income of the community around the Budo Village mangrove forest, the physical indirect benefits of mangrove forests are useful as a barrier to coastal abrasion, intrusion barriers ( infiltration) seawater, and windbreaks.
Perencanaan Lanskap Ekowisata Hutan Mangrove di Tapak Meras Taman Nasional Bunaken Paembonan, Mutiara Piekarsa; Saroinsong, Fabiola B.; Kalangi, Josephus I.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.49591

Abstract

Meras merupakan salah satu Kelurahan yang terletak di Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Kelurahan Meras memiliki ekosistem pesisir yang lengkap dan beragam seperti hutan mangrove namun belum dioptimalkan untuk menjadi kawasan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana lanskap atau penataan kawasan ekowisata hutan mangrove di Tapak Meras. Pengamatan dilakukan dengan metode observasi langsung ke lapangan yang bertujuan untuk melihat kondisi nyata yaitu potensi dan kendala dari kawasan kemudian mendokumentasikan keadaan hutan mangrove Tapak Meras untuk perbandingan sebelum dan sesudah perencanaan. Hasil penelitian mendapatkan masyarakat setempat mendukung penuh pengembangan ekowisata di hutan mangrove Tapak Meras. Masyarakat juga akan berpartisipasi dalam membantu memelihara kelestarian hutan mangrove. Perencanaan ekowisata di hutan mangrove Tapak Meras dikembangkan melalui pembagian tata ruang wilayah ekowisata yang terdiri dari ruang penerimaan seluas 0,4 ha, ruang pelayanan seluas 1,2 ha, ruang penyangga seluas 8,3 ha, dan ruang ekowisata seluas 4,8 ha.
Persepsi Masyarakat terhadap Lanskap Tapak Meras, Taman Nasional Bunaken Paimin, Natalia Cynthia Monica; Saroinsong, Fabiola B.; Lasut, Marthen T.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.57649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras Taman Nasional Bunaken. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling (sampel bertujuan) melalui penetapan kategori profil responden dengan teknik wawancara langsung melalui kuesioner yang diajukan kepada 96 responden. Selanjutnya, analisis persepsi masyarakat menggunakan Skala Likert yang kemudian diubah menjadi tiga kategori tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan Standar Deviasi. Analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan analisis statistik non parametrik Chi Square dan analisis inferensial menggunakan uji statistik non parametrik Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras termasuk dalam kategori baik. Persepsi masyarakat terhadap lanskap tidak memiliki hubungan dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Persepsi masyarakat lebih dipengaruhi oleh nilai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu Sebagai Penunjang Ekowisata di Gunung Manado Tua, Kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara Larenggam, Omega; Saroinsong, Fabiola B.; Langi, Martina A.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.44277

Abstract

Pulau Manado Tua adalah salah satu pulau yang berada di kawasan Taman Nasional Bunaken dan merupakan pulau terbesar dari kelompok pulau-pulau yang berada dalam batas teluk Manado. Pulau ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi dan memiliki pesona pariwisata yang eksotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu sebagai penunjang dan daya tarik ekowisata di Gunung Manado Tua. Metode penelitian yang digunakan ialah Metode pathway count dengan mengikuti jalur yang ada. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kupu-kupu yang diperoleh berjumlah 20 jenis dengan total individu berjumlah 517 individu dari 5 famili yang berbeda. dari 20 jenis individu yang berhasil ditemukan terdapat 3 jenis kupu-kupu yang dominan terlihat sepanjang jalur pendakian yaitu Papilio gigon yang berjumlah 91 individu, Junonia hedonia berjumblah 79 individu, dan Ideopsis juventa sebanyak 69 individu adapun jenis kupu-kupu yang dilindingi yaitu kupu-kupu Troides helena dari famili Papolionidae . Dari hasil analisis keanekaragaman Shannon-Wiener indeks keanekaragaman kupu-kupu di Gunung Manado Tua bernilai H’=2,56 yang menunjukan kriteria keanekaragaman jenis sedang, dan tingkat keseragaman/Equitabilitas (E) bernilai E= 0,85 yang menunjukan tingkat keseragaman stabil. Dari hasil yang diperoleh keanekaragaman jenis kupu-kupu di Gunung Manado tua dapat menjadi salah satu daya tarik wisata dalam mengembangkan ekowisata yang ada di Gunung Manado Tua. Adapun jenis tumbuhan inang pakan imago yang diketahui berjumlah 4 jenis tumbuhan antara lain Crassosephalum crepidioides, Chromolaena odorata, Ixora sp, dan Mussaenda sp..
Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Taman Nasional Bunaken Di Kelurahan Alung Banua Iriani, Iriani; Walangitan, Hengki D.; Saroinsong, Fabiola B.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.49044

Abstract

Persepsi adalah proses komunal untuk memahami lingkungan, dan partisipasi dalam organisasi danintrepretasi merupakan stimulus untuk pengalaman psikologis. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan karakteristik responden dan menganalisis persepsi masyarakat Kelurahan Alung BanuaKawasan Taman Nasional Bunaken tentang peran ekosistem hutan mangrove bagi kehidupanmasyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan metode acak sederhana yaitu sebagian dari jumlah dankarakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat persepsimasyarakat terhadap peran ekosistem hutan mangrove berdasarkan 3 kategori yaitu tinggi sebanyak 10responden ( 11,76%), kategori sedang sebanyak 59 responden (69,41%) dan kategori rendah sebanyak16 responden (18,82%). Tingkat persepsi masyarakat berada pada kategori sedang disebabkanmasyarakat memahami dengan kuesioner namun belum sepenuhnya ikut serta dalam kegiatanpelestarian ekosistem.
Pemanfaatan Hutan Kota Tomohon Oleh Masyarakat Tomohon Tengah Bato, Anugrah Nover; Saroinsong, Fabiola B.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.49047

Abstract

Hutan Kota merupakan suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapatdi dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutankota oleh pejabat yang berwenang. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pemanfaatanHutan Kota Tomohon oleh masyarakat Tomohon Tengah dan menganalisis persepsi masyarakatTomohon Tengah akan fungsi dan pemanfaatan Hutan Kota Tomohon serta rekomendasipengembangan. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilansampel dengan metode acak sederhana terhadap 100 responden.Hasil penelitian ini menunjukan pemanfaatan Hutan Kota Tomohon oleh masyarakat Tomohon Tengahuntuk tujuan rekreasi merupakan nilai paling tinggi yang didapatkan sedangkan nilai paling rendah padapenelitian ini adalah pemanfaatan dengan tujuan usaha atau berdagang. Persepsi masyarakat TomohonTengah akan fungsi Hutan Kota Tomohon merupakan kategori baik sekali sedangkan untuk pemanfaatantermasuk dalam kategori baik. Ketersediaan fasilitas seperti area parkir, tempat duduk, jalan setapak,ruang berinteraksi dan tempat bermain anak di Hutan Kota Tomohon adalah cukup dengan beberaparekomendasi seperti perawatan yang lebih maksimal dan juga perlu adanya perbaikan pada fasilitasyang rusak.
PENDIDIKAN KONSERVASI UNTUK SISWA SD DI KELURAHAN KLEAK KOTA MANADO TENTANG PENGENDALIAN BANJIR Saroinsong, Fabiola B.; Nurmawan, Wawan; Sendouw, Recky H. E.
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 4 (2018): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 4 NO. (EDISI KHUSUS) NOVEMBER 2018
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v4iK.5400

Abstract

Dalam kurun 3 tahun terakhir, terjadi beberapa banjir besar di wilayah Kota Manado. Tim Pelaksana PKM dan kedua Mitra yaitu SDN 36 dan SDN 70 menyepakati bahwa harus ada upaya pengendalian banjir dari berbagai pihak untuk menghindari dampak bencana yang ditimbulkan. Sementara, masih rendahnya tingkat pendidikan konservasi dari masyarakat menjadi salah satu kendala menggalang sikap, perilaku, dan partisipasi terkait pengendalian banjir. Pendidikan konservasi tentang pengendalian banjir diperlukan untuk menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam hal ini siswa SD, sebagai generasi penerus bangsa, di bidang pengelolaan lingkungan, memotivasi mereka untuk memecahkan atau mencegah masalah lingkungan tertentu dalam hal ini banjir. Diharapkan melalui PKM ini kelompok siswa SD kedua sekolah (sasaran utama) serta guru dan mahasiswa yang dilibatkan (sasaran tambahan) bertambah pemahamannya tentang masalah banjir dan dapat mempraktekkan tindakan-tindakan praktis pengendalian banjir. PKM dilaksanakan di SDN 36 dan SDN 70 Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kotamadya Manado. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dalam beberapa kegiatan sebagai berikut 1) Inventarisasi situasi lingkungan sekolah dan perilaku siswa berkaitan interaksi mereka dengan lingkungan hidup; 2) Penyusunan program bersama mitra; 3)  Penyiapan modul pengajaran, serta persiapan alat dan bahan demonstrasi dan praktek siswa; 4) Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dalam bentuk diskusi dan demonstrasi dengan pelibatan kelompok siswa SD secara aktif; dan  5) Penyusunan laporan dan penulisan artikel untuk publikasi ilmiah.Keywords: Pendidikan konservasi, pengendalian banjir, pengelolaan lingkungan, manajemen penanggulangan kebencanaan, tindakan praktis konservasi.
Pelatihan Optimalisasi Area Kelapa dengan Pengembangan Kebun TOGA Mandiri  di Desa Ongkaw Satu, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan Euis F. S. Pangemanan; Josephus I. Kalangi; Fabiola B. Saroinsong; Wawan Nurmawan
Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Lentera: Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Bina Lentera Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57207/tge4fd50

Abstract

Pemanfaatan lahan di bawah tegakan kelapa seringkali belum optimal. Area di bawah pohon kelapa biasanya dibiarkan kosong atau hanya ditanami tanaman yang kurang produktif, sehingga potensi lahan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal.Salah satu solusi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan di bawah kelapa adalah dengan mengembangkan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Ongkaw Satu dalam mengelola lahan di bawah tegakan kelapa secara optimal. Tahapan kegiatan mencakup : persiapan, sosialisasi, diskusi, demonstrasi dan praktek. Kegiatan dilakukan di Desa Ongkaw Satu pada bulan Juli-Agustus 2025. Berdasarkan rangkaian kegiatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa program ini berhasil mengidentifikasi potensi pemanfaatan lahan yang belum optimal di Desa Ongkaw, yaitu area bawah tegakan kelapa. Mengembangkan kebun TOGA di bawah areal kelapa memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi sejumlah tantangan unik. Karena itu, meski berjalan sukses, kegiatan pelatihan ini tidak luput dari tantangan dan memerlukan strategi penanganan untuk perbaikan ke depan.
The Role of Understory Plants in Microclimate in Coconut-Based Agroforestry Pangemanan, Euis F.S.; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.; Ratag, Semuel P.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.64481

Abstract

The use of land with a coconut-based agroforestry system is currently widely practiced in the South Minahasa region. In this agroforestry system, coconut trees are planted together with other plants on a single plot of land. The diversity of underplanting also plays a role in modifying the microclimate around the coconut trees, which in turn can affect the growth and productivity of the plants. Microclimate is the climatic conditions that occur around plants and is greatly influenced by various factors, including plant diversity. Coconut trees in coconut-based agroforestry systems bring about changes in the microclimate under the canopy and can lower air temperature, reduce radiation, and decrease wind speed under the canopy. This study aims to determine the effect of various types of vegetation on the microclimate in coconut-based agroforestry. The research was conducted in Ongkaw Village using a survey method. Microclimate measurements included solar radiation transmission, air temperature, air humidity, and wind speed at each observation plot. Data on underplant vegetation was observed using a purposive sampling plot method on coconut agroforestry land with different vegetation structures. The results showed that, compared to monoculture areas, the presence of understory plants significantly reduced air temperature, increased relative humidity, slowed wind speed, and reduced the intensity of light reaching the ground. Compared to other types of plants, plots with multi-strata fruit plants had the best microclimate conditions; shrub plots showed a moderate effect on microclimate moderation, while more open plots tended to have higher temperatures and lower humidity. The conclusion of this study is that the selection of understory plants in coconut agroforestry systems greatly influences microclimate conditions. Multi-strata fruit trees have been proven to be the most effective in creating a cooler and more humid microclimate, which can contribute to improved soil health and reduced stress on the main crop
PENYULUHAN PENGELOLAAN LANSKAP PEMUKIMAN BERBASIS KEANEKARAGAMAN HAYATI DI KELURAHAN WINANGUN DUA KECAMATAN MALALAYANG KOTA MANADO Saroinsong, Fabiola B.; Sumakud, Maria Y. M. A.; Kalangi, Josephus I.; Nurmawan, Wawan
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 11 NO. 2 JANUARI 2026
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v11i2.48401

Abstract

Mitra Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah masyarakat Kelurahan Winangun Dua Kecamatan Malalayang Kota Manado. Masalah mitra adalah ancaman menurunnya keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman akibat terbatasnya ruang terbuka hijau (RTH) dan tingginya stres lingkungan diantaranya yang disebabkan polusi. Hal ini terkait juga dengan masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai pemanfaatan keanekaragaman hayati dalam lanskap pemukiman.  Tujuan pelaksanaan kegiatan PKM ini yaitu memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pengelolaan lanskap pemukiman yang tepat untuk melestarikan sekaligus memanfaatkan keanekaragaman hayati. Solusi yang ingin dicapai adalah 1) meningkatkan pengetahuan beragam vegetasi dan desain lanskap pemukiman kawasan perkotaan untuk mendukung keanekaragaman hayati dan meningkatkan apresiasi dan motivasi untuk berkontribusi (luarannya adalah perbaikan tata nilai masyarakat yaitu pendidikan) dan 2) meningkatkan keterampilan pemanfaatan dan pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap pemukiman dengan memberikan demo beberapa tindakan praktis pemilihan vegetasi dan aplikasi desain lanskap pemukiman (luarannya adalah peningkatan penerapan IPTEK di masyarakat dalam hal ini manajemen). Lebih spesifik lagi, melalui penyuluhan Tim Pengusul memperkenalkan beragam vegetasi dan desain lanskap yang cocok untuk pemukiman perkotaan. Pelaksanaan penyuluhan dalam PKM ini terdiri dari ceramah, tanya jawab, dan demonstrasi dengan pelibatan peserta secara langsung. Secara lebih terperinci, tahapan pelaksanaan kegiatan penyuluhan yaitu : a) Tahap peningkatan kesadaran (awareness); b) Tahap peningkatan minat (interest); c) Tahap peningkatan kemampuan menilai (evaluation); d) Tahap stimulasi untuk mencoba (trial). Kegiatan PKM ini memberikan dampak positif berupa meningkatnya pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan lanskap pemukiman yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.    Kata kunci: Keanekaragaman hayati, lanskap pemukiman, pendidikan lingkungan, pengelolaan lanskap, penyuluhan.   ABSTRACT The community partner for this Community Partnership Program (PKM) is the residents of Winangun Dua Village, Malalayang District, Manado City. The partner's issue revolves around the threat of declining biodiversity in residential landscapes due to limited green open spaces (RTH) and high environmental stress, including pollution. This is also related to the still low level of adequate knowledge and skills concerning the utilization of biodiversity in residential landscapes. The objective of this PKM activity is to provide education to the community on the proper management of residential landscapes to conserve and utilize biodiversity. The solutions aimed to be achieved are 1) increasing knowledge of various vegetations and urban residential landscape design to support biodiversity and enhance appreciation and motivation to contribute (the outcome being the improvement of societal values, namely education), and 2) enhancing skills in utilizing and conserving biodiversity in residential landscapes by providing demonstrations of practical actions in selecting vegetation and applying residential landscape design (the outcome being the increase in the application of science and technology in the community, specifically in management). More specifically, through educational outreach, the Proposing Team will introduce various vegetation and landscape designs suitable for urban residential areas. The implementation of educational outreach in this PKM involves lectures, question-and-answer sessions, and demonstrations that engage participants directly. The detailed stages of the educational outreach activities are a) Awareness-raising stage; b) Interest enhancement stage; c) Evaluation skill improvement stage; d) Trial stimulation stage. Keywords: Biodiversity, residential landscape, environmental education, landscape management, outreach.