Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Perencanaan Lanskap Ekowisata Hutan Mangrove di Tapak Meras Taman Nasional Bunaken Paembonan, Mutiara Piekarsa; Saroinsong, Fabiola B.; Kalangi, Josephus I.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.49591

Abstract

Meras merupakan salah satu Kelurahan yang terletak di Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara. Kelurahan Meras memiliki ekosistem pesisir yang lengkap dan beragam seperti hutan mangrove namun belum dioptimalkan untuk menjadi kawasan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana lanskap atau penataan kawasan ekowisata hutan mangrove di Tapak Meras. Pengamatan dilakukan dengan metode observasi langsung ke lapangan yang bertujuan untuk melihat kondisi nyata yaitu potensi dan kendala dari kawasan kemudian mendokumentasikan keadaan hutan mangrove Tapak Meras untuk perbandingan sebelum dan sesudah perencanaan. Hasil penelitian mendapatkan masyarakat setempat mendukung penuh pengembangan ekowisata di hutan mangrove Tapak Meras. Masyarakat juga akan berpartisipasi dalam membantu memelihara kelestarian hutan mangrove. Perencanaan ekowisata di hutan mangrove Tapak Meras dikembangkan melalui pembagian tata ruang wilayah ekowisata yang terdiri dari ruang penerimaan seluas 0,4 ha, ruang pelayanan seluas 1,2 ha, ruang penyangga seluas 8,3 ha, dan ruang ekowisata seluas 4,8 ha.
Persepsi Masyarakat terhadap Lanskap Tapak Meras, Taman Nasional Bunaken Paimin, Natalia Cynthia Monica; Saroinsong, Fabiola B.; Lasut, Marthen T.
Silvarum Vol. 3 No. 2 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i2.57649

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras Taman Nasional Bunaken. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling (sampel bertujuan) melalui penetapan kategori profil responden dengan teknik wawancara langsung melalui kuesioner yang diajukan kepada 96 responden. Selanjutnya, analisis persepsi masyarakat menggunakan Skala Likert yang kemudian diubah menjadi tiga kategori tinggi, sedang, dan rendah berdasarkan Standar Deviasi. Analisis data dilakukan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan analisis statistik non parametrik Chi Square dan analisis inferensial menggunakan uji statistik non parametrik Kendall Tau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penilaian persepsi masyarakat terhadap lanskap Tapak Meras termasuk dalam kategori baik. Persepsi masyarakat terhadap lanskap tidak memiliki hubungan dengan tingkat umur, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Persepsi masyarakat lebih dipengaruhi oleh nilai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu Sebagai Penunjang Ekowisata di Gunung Manado Tua, Kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara Larenggam, Omega; Saroinsong, Fabiola B.; Langi, Martina A.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.44277

Abstract

Pulau Manado Tua adalah salah satu pulau yang berada di kawasan Taman Nasional Bunaken dan merupakan pulau terbesar dari kelompok pulau-pulau yang berada dalam batas teluk Manado. Pulau ini memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi dan memiliki pesona pariwisata yang eksotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu sebagai penunjang dan daya tarik ekowisata di Gunung Manado Tua. Metode penelitian yang digunakan ialah Metode pathway count dengan mengikuti jalur yang ada. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kupu-kupu yang diperoleh berjumlah 20 jenis dengan total individu berjumlah 517 individu dari 5 famili yang berbeda. dari 20 jenis individu yang berhasil ditemukan terdapat 3 jenis kupu-kupu yang dominan terlihat sepanjang jalur pendakian yaitu Papilio gigon yang berjumlah 91 individu, Junonia hedonia berjumblah 79 individu, dan Ideopsis juventa sebanyak 69 individu adapun jenis kupu-kupu yang dilindingi yaitu kupu-kupu Troides helena dari famili Papolionidae . Dari hasil analisis keanekaragaman Shannon-Wiener indeks keanekaragaman kupu-kupu di Gunung Manado Tua bernilai H’=2,56 yang menunjukan kriteria keanekaragaman jenis sedang, dan tingkat keseragaman/Equitabilitas (E) bernilai E= 0,85 yang menunjukan tingkat keseragaman stabil. Dari hasil yang diperoleh keanekaragaman jenis kupu-kupu di Gunung Manado tua dapat menjadi salah satu daya tarik wisata dalam mengembangkan ekowisata yang ada di Gunung Manado Tua. Adapun jenis tumbuhan inang pakan imago yang diketahui berjumlah 4 jenis tumbuhan antara lain Crassosephalum crepidioides, Chromolaena odorata, Ixora sp, dan Mussaenda sp..
Persepsi Masyarakat Terhadap Peran Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan Taman Nasional Bunaken Di Kelurahan Alung Banua Iriani, Iriani; Walangitan, Hengki D.; Saroinsong, Fabiola B.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.49044

Abstract

Persepsi adalah proses komunal untuk memahami lingkungan, dan partisipasi dalam organisasi danintrepretasi merupakan stimulus untuk pengalaman psikologis. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan karakteristik responden dan menganalisis persepsi masyarakat Kelurahan Alung BanuaKawasan Taman Nasional Bunaken tentang peran ekosistem hutan mangrove bagi kehidupanmasyarakat lokal. Penelitian ini menggunakan metode acak sederhana yaitu sebagian dari jumlah dankarakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat persepsimasyarakat terhadap peran ekosistem hutan mangrove berdasarkan 3 kategori yaitu tinggi sebanyak 10responden ( 11,76%), kategori sedang sebanyak 59 responden (69,41%) dan kategori rendah sebanyak16 responden (18,82%). Tingkat persepsi masyarakat berada pada kategori sedang disebabkanmasyarakat memahami dengan kuesioner namun belum sepenuhnya ikut serta dalam kegiatanpelestarian ekosistem.
Pemanfaatan Hutan Kota Tomohon Oleh Masyarakat Tomohon Tengah Bato, Anugrah Nover; Saroinsong, Fabiola B.; Pangemanan, Euis F.S.
Silvarum Vol. 3 No. 1 (2024): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v3i1.49047

Abstract

Hutan Kota merupakan suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapatdi dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutankota oleh pejabat yang berwenang. Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pemanfaatanHutan Kota Tomohon oleh masyarakat Tomohon Tengah dan menganalisis persepsi masyarakatTomohon Tengah akan fungsi dan pemanfaatan Hutan Kota Tomohon serta rekomendasipengembangan. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner. Pengambilansampel dengan metode acak sederhana terhadap 100 responden.Hasil penelitian ini menunjukan pemanfaatan Hutan Kota Tomohon oleh masyarakat Tomohon Tengahuntuk tujuan rekreasi merupakan nilai paling tinggi yang didapatkan sedangkan nilai paling rendah padapenelitian ini adalah pemanfaatan dengan tujuan usaha atau berdagang. Persepsi masyarakat TomohonTengah akan fungsi Hutan Kota Tomohon merupakan kategori baik sekali sedangkan untuk pemanfaatantermasuk dalam kategori baik. Ketersediaan fasilitas seperti area parkir, tempat duduk, jalan setapak,ruang berinteraksi dan tempat bermain anak di Hutan Kota Tomohon adalah cukup dengan beberaparekomendasi seperti perawatan yang lebih maksimal dan juga perlu adanya perbaikan pada fasilitasyang rusak.
PENDIDIKAN KONSERVASI UNTUK SISWA SD DI KELURAHAN KLEAK KOTA MANADO TENTANG PENGENDALIAN BANJIR Saroinsong, Fabiola B.; Nurmawan, Wawan; Sendouw, Recky H. E.
Jurnal Dinamika Pengabdian Vol. 4 (2018): JURNAL DINAMIKA PENGABDIAN VOL. 4 NO. (EDISI KHUSUS) NOVEMBER 2018
Publisher : Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UNHAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jdp.v4iK.5400

Abstract

Dalam kurun 3 tahun terakhir, terjadi beberapa banjir besar di wilayah Kota Manado. Tim Pelaksana PKM dan kedua Mitra yaitu SDN 36 dan SDN 70 menyepakati bahwa harus ada upaya pengendalian banjir dari berbagai pihak untuk menghindari dampak bencana yang ditimbulkan. Sementara, masih rendahnya tingkat pendidikan konservasi dari masyarakat menjadi salah satu kendala menggalang sikap, perilaku, dan partisipasi terkait pengendalian banjir. Pendidikan konservasi tentang pengendalian banjir diperlukan untuk menumbuhkembangkan pemahaman dan kesadaran masyarakat dalam hal ini siswa SD, sebagai generasi penerus bangsa, di bidang pengelolaan lingkungan, memotivasi mereka untuk memecahkan atau mencegah masalah lingkungan tertentu dalam hal ini banjir. Diharapkan melalui PKM ini kelompok siswa SD kedua sekolah (sasaran utama) serta guru dan mahasiswa yang dilibatkan (sasaran tambahan) bertambah pemahamannya tentang masalah banjir dan dapat mempraktekkan tindakan-tindakan praktis pengendalian banjir. PKM dilaksanakan di SDN 36 dan SDN 70 Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kotamadya Manado. Pelaksanaan pengabdian dilakukan dalam beberapa kegiatan sebagai berikut 1) Inventarisasi situasi lingkungan sekolah dan perilaku siswa berkaitan interaksi mereka dengan lingkungan hidup; 2) Penyusunan program bersama mitra; 3)  Penyiapan modul pengajaran, serta persiapan alat dan bahan demonstrasi dan praktek siswa; 4) Pelaksanaan kegiatan penyuluhan dalam bentuk diskusi dan demonstrasi dengan pelibatan kelompok siswa SD secara aktif; dan  5) Penyusunan laporan dan penulisan artikel untuk publikasi ilmiah.Keywords: Pendidikan konservasi, pengendalian banjir, pengelolaan lingkungan, manajemen penanggulangan kebencanaan, tindakan praktis konservasi.
The Role of Understory Plants in Microclimate in Coconut-Based Agroforestry Pangemanan, Euis F.S.; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.; Ratag, Semuel P.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (Applied Agroecotechnology Journal) Vol. 6 No. 2 (2025): ISSUE JULY-DECEMBER 2025
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v6i2.64481

Abstract

The use of land with a coconut-based agroforestry system is currently widely practiced in the South Minahasa region. In this agroforestry system, coconut trees are planted together with other plants on a single plot of land. The diversity of underplanting also plays a role in modifying the microclimate around the coconut trees, which in turn can affect the growth and productivity of the plants. Microclimate is the climatic conditions that occur around plants and is greatly influenced by various factors, including plant diversity. Coconut trees in coconut-based agroforestry systems bring about changes in the microclimate under the canopy and can lower air temperature, reduce radiation, and decrease wind speed under the canopy. This study aims to determine the effect of various types of vegetation on the microclimate in coconut-based agroforestry. The research was conducted in Ongkaw Village using a survey method. Microclimate measurements included solar radiation transmission, air temperature, air humidity, and wind speed at each observation plot. Data on underplant vegetation was observed using a purposive sampling plot method on coconut agroforestry land with different vegetation structures. The results showed that, compared to monoculture areas, the presence of understory plants significantly reduced air temperature, increased relative humidity, slowed wind speed, and reduced the intensity of light reaching the ground. Compared to other types of plants, plots with multi-strata fruit plants had the best microclimate conditions; shrub plots showed a moderate effect on microclimate moderation, while more open plots tended to have higher temperatures and lower humidity. The conclusion of this study is that the selection of understory plants in coconut agroforestry systems greatly influences microclimate conditions. Multi-strata fruit trees have been proven to be the most effective in creating a cooler and more humid microclimate, which can contribute to improved soil health and reduced stress on the main crop
Persepsi Persepsi Pengunjung terhadap Kualitas Lanskap dan Fasilitas di Destinasi Ekowisata di Bukit Doa Mahawu di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara Paembonan, Nista Paembonan; Saroinsong, Fabiola B.; Kalangi, Josephus I.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63587

Abstract

Persepsi pengunjung sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan keberlanjutan destinasi ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi pengunjung terhadap kualitas lanskap dan fasilitas di Bukit Doa. Mahawu, destinasi wisata religi dan ekowisata populer yang terletak di kaki Gunung Mahawu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Indonesia. Sebanyak 51 responden disurvei menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup kualitas lanskap, kualitas fasilitas, dan kepuasan keseluruhan. Hasilnya menunjukkan bahwa pengunjung sangat menghargai keindahan alam, sudut pandang yang indah, dan suasana damai di lokasi tersebut, didukung oleh ruang hijau yang terawat baik dan lingkungan pegunungan yang segar. Lanskapnya secara umum dinilai estetis, bersih, dan tertata rapi. Dari segi fasilitas, pengunjung menyatakan kepuasan terhadap aksesibilitas, kebersihan, area tempat duduk, infrastruktur ibadah, pengelolaan sampah, dan ketersediaan tempat parkir. Keberadaan rambu petunjuk arah yang jelas semakin meningkatkan pengalaman pengunjung. Secara keseluruhan, sebagian besar responden melaporkan sangat puas dengan lanskap dan fasilitasnya, dengan banyak yang menunjukkan niat kuat untuk mengunjungi kembali dan merekomendasikan lokasi tersebut kepada orang lain. Temuan ini menyoroti pentingnya menjaga kualitas lanskap yang tinggi dan fasilitas yang memadai untuk meningkatkan kepuasan pengunjung dan loyalitas destinasi. Studi ini memberikan wawasan praktis bagi pengelola ekowisata dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan kualitas destinasi sekaligus melestarikan nilainilai lingkungan dan budaya Bukit Doa yang unik. Mahawu.
Kualitas Fasilitas Ekowisata di Makatete Hills, Minahasa Berdasarkan Perspektif Pengunjung Zega, Wina Arlina; Kalangi, Josephus I.; Saroinsong, Fabiola B.
Silvarum Vol. 4 No. 3 (2025): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v4i3.63824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi pengunjung terhadap fasilitas ekowisata di Makatete Hills, Kabupaten Minahasa, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kepuasannya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, dan observasi. Instrumen penelitian telah diuji validitas dan reliabilitasnya, dengan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,72 yang menunjukkan tingkat reliabilitas yang baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunjung memiliki persepsi yang baik terhadap fasilitas yang tersedia, khususnya dalam aspek kebersihan, ketersediaan fasilitas umum, pelayanan staf, dan aksesibilitas. Mayoritas responden menilai fasilitas yang ada telah memadai dan berkontribusi pada pengalaman wisata yang menyenangkan. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas fasilitas memiliki peran penting dalam membentuk kepuasan pengunjung dan memperkuat posisi Makatete Hills sebagai destinasi ekowisata unggulan di Sulawesi Utara.
Urban Forests as Nature-Based Solutions for Climate Resilience and Human Well-Being in Urban Landscapes. Saroinsong, Fabiola B.; Patinggi, Febi F.; Pangemanan, Euis F. S.; Nurmawan, Wawan; Kalangi, Josephus I.
Jurnal Agroekoteknologi Terapan (JAT) Vol. 7 No. 1 (2026): ISSUE JANUARY-JUNE 2026
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/jat.v7i1.49650

Abstract

Rapid urban expansion has increased environmental pressures in cities, including rising urban temperatures, declining air quality, higher stormwater runoff and flood risk, and growing public health concerns. Nature-based solutions have gained attention as cost-effective and multifunctional approaches to address these challenges, with urban forests representing one of the most strategic forms of green infrastructure. This study reviews recent scientific evidence on the role of urban forests as nature-based solutions for strengthening climate resilience and improving human well-being in urban landscapes. A structured literature review was conducted using Scopus, Web of Science, and Google Scholar, focusing on peer-reviewed journal articles published between 2021 and 2025 and indexed with a DOI. Findings were synthesized thematically across key ecosystem service pathways, including urban heat regulation, stormwater and runoff control, carbon storage and sequestration, air quality improvement, and wellbeing-related benefits. The reviewed literature indicates that urban forests contribute to climate adaptation by reducing heat exposure through shading and evapotranspiration and by supporting stormwater regulation through rainfall interception and improved infiltration. Urban forests also contribute to climate mitigation through carbon storage and ongoing sequestration, while providing co benefits for human health through recreation opportunities, psychological restoration, and improved quality of life. However, effectiveness depends on long term canopy continuity, appropriate species selection, maintenance capacity, and governance arrangements, with common challenges including limited land availability, funding constraints, and unequal access to green spaces. Overall, urban forests function as multifunctional nature-based infrastructure that can enhance urban resilience and human wellbeing when integrated into long-term planning and participatory management. Keywords: climate resilience, ecosystem services, human wellbeing, nature-based solutions, urban forest