Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

UNJUK KERJA MOTOR BENSIN GENERATOR-SET BERBAHAN BAKAR CAMPURAN BIOETANOL NIRA TEBU Abdi Hanra Sebayang; Aditya Pangestu; Rico Aditia Prahmana
Scientific Journal of Mechanical Engineering Kinematika Vol 7 No 2 (2022): SJME Kinematika Desember 2022
Publisher : Mechanical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/sjmekinematika.v7i2.233

Abstract

An increase in fuel oil consumption occurs every year, and an increase in population causes this. To overcome these problems, developed alternative fuels such as bioethanol. This research was conducted using an experimental method to analyze the performance of a single-cylinder SI motor fueled with a mixture of bioethanol. Bioethanol is produced from raw sugarcane juice through fermentation with the help of the bacterium Saccharomyces cerevisiae. The composition of the fuel mixture used is 5% bioethanol+95% Premium (Ron 88), 5% bioethanol+95% Pertalite (Ron 90) and 5% bioethanol+95% Pertamax (Ron 92), which is then analyzed for the performance of the motor gasoline generator sets. The results showed that a Premium of 240.9 W obtains the highest power of the bioethanol mixture. The specific fuel consumption was reduced, obtained for Premium of 1.417 kg/Wh, and the highest power of bioethanol mixture was obtained for Pertalite. The result shows that the highest power is 218.67 W and, the torque is 0.803 Nm. Thermal efficiency is obtained at 38.711% for Pertalite. The Pertamax bioethanol mixture has power, and torques are 220 W and 0.875 Nm, respectively. Moreover, the fuel consumption value obtained is 1.573 kg/Wh, and the mixture's thermal efficiency is 42,524%. The outcome of this study would provide insight into the potential use of bioethanol mixture for generator engine applications and offer a pathway for future studies in different ratios of bioethanol to realize the significant benefits of generator engines for internal combustion engines.
Pengujian Kinerja Mesin Pencetak Keripik Tempe Sistem Pneumatik Bambang Sugiyanto; Abdi Hanra Sebayang; Joko Kusmanto
Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Teknologi Pengolahan Pertanian
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jtpp.v5i1.7476

Abstract

Tempe is a typical Indonesian food which is widely consumed by the public as a side dish to increase appetite, as well as as a snack that has its own flavor for its fans. Tempe artisans in Karanganyar Village, Secanggang District, Langkat Regency, North Sumatra Province, still maintain the method of making tempe chips by printing tempe one by one while it is still dough. typical. This is done because connoisseurs of tempe chips, especially their customers, state that tempe chips printed individually from the dough will have a distinctive taste The research was carried out by designing a tempe chip printing machine with a pneumatic system to control all mechanical movements of the machine and test the performance of the machine after the machine was built. The results of machine testing show that the machine can operate and the pneumatic system functions properly, the pneumatic pressure to move the dough scraper/leveler ranges from 0.9 to 1.0 bar, while the pneumatic pressure to open and close the dough pouring door above the mold ranges from 1.2 up to 1.5 bar, the operating capacity is up to 40 prints per hour or 400 sheets (plates) of tempe chips per hour.  
POTENSI LIMBAH CANGKANG KERANG SEBAGAI KATALIS HETEROGEN UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL Sebayang, Abdi Hanra; Pulungan, Muhammad Anhar; Siahaan, Sihar; Benu, Siti Maretia; Ibrahim, Husin; Siregar, Munawar Alfansury; Silitonga, Arridina Susan
Jurnal Rekayasa Mesin Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jrm.v15i1.1428

Abstract

Biodiesel is a potential energy source that has attracted attention recently because it can be produced from renewable energy sources and produces low pollutants. Biodiesel is produced by transesterifying edible or non-edible vegetable oils using a catalyst. Homogeneous catalytic processes have disadvantages, such as the catalyst residue cannot be reused. Therefore, heterogeneous or solid catalysts are used, which can be easily separated from the reaction mixture by filtration and reused. A waste cockle shell can be used as a green base catalyst to synthesize waste cooking oil into methyl ester (WCME). The free fatty acid content of used cooking oil (2.19% wt.) was initially reduced to 0.11% wt., using a methanol-oil ratio of 6:1, waste cockle shell 2% wt., reaction time 60 minutes and temperature 60 oC. The effectiveness of the developed waste cockle shell contains high CaO. The results of this study indicated the potential of clam waste cockle shells and used cooking oil as a source of raw materials available in the community for biodiesel production.
Teknologi Sistem Aquaponik untuk Budidaya Nila dan Tanaman Hidroponik di Desa Gelugur Rimbun Kecamatan Pancur Batu Hanra Sebayang, Abdi; Bahri Pratama, Angga; Maretia Benu, Siti; Silitonga, Arridina Susan
BERKAT: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 3 No 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : P3M Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan produksi budidaya sayur di Indonesia diupayakan dengan memanfaatkan lahan secara optimal. Selama ini, mitra menggunakan nutrisi kimia dalam proses penanaman sayuran dengan sistem hidroponik. Pemakaian nutrisi kimia bagi tanaman sayuran hidroponik dapat merusak mikroorganisme dan ekosistem air. Salah satu solusi untuk menanggulangi masalah tersebut adalah pengelolaan lingkungan budidaya sayuran dengan sistem aquaponik. Sistem akuaponik merupakan salah satu sistem terintegrasi antara akuakultur dengan hidroponik di mana limbah budidaya ikan, berupa sisa metabolisme dan sisa pakan, dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman. Kotoran ikan akan berfungsi sebagai filter vegetasi yang akan mengurai zat racun tersebut menjadi zat yang tidak berbahaya bagi tumbuhan dan air yang digunakan untuk memelihara ikan. Dengan siklus ini, akan terjadi siklus saling menguntungkan. Total nutrisi dipengaruhi rasio input pemberian unsur-unsur alami yang akan mempengaruhi tingkat produksi sayuran pada luas area tertentu. Adapun tujuan dari program ini adalah mengaplikasikan dan mengembangkan budidaya sayuran dan ikan melalui sistem aquaponik. Teknologi ini dapat memberikan solusi terhadap mitra di mana hasil budidaya sayuran dan budidaya ikan sistem aquaponik merupakan produk organik yang menghasilkan produksi tanaman yang bebas dari bahan kimia dan pestisida sehingga aman dikonsumsi bagi manusia. Tuntutan konsumen akan produk pertanian yang bebas bahan kimia dan pestisida menjadikan keunggulan teknologi aquaponik.
UNJUK KERJA MESIN DIESEL GENERATOR SET DENGAN VARIASI CAMPURAN DEXLITE-VIRGIN COCONUT OIL MELALUI METODE TANPA PEMANASAN Atmaja, Muhammad Setya; Hendrarsakti, Joneed; Riayatsyah, Teuku Meurah Indra; Syaukani, Muhammad; Sebayang, Abdi Hanra
SINERGI POLMED: Jurnal Ilmiah Teknik Mesin Vol. 5 No. 1 (2024): Edisi Februari
Publisher : Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51510/sinergipolmed.v5i1.1475

Abstract

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia semakin meningkat, namun cadangan minyak di Indonesia terus menurun setiap tahunnya. Energi terbarukan sangat diperlukan sebagai pengganti dari bahan bakar fosil. Virgin Coconut Oil (VCO) sebagai minyak nabati menjadi salah satu solusi pengganti bahan bakar fosil. Penelitian ini menggunakan dexlite murni dan campuran dexlite dengan VCO antara 10% - 50% sebagai bahan bakar uji. Selanjutnya dilakukan pengujian menggunakan mesin diesel berukuran 353 cc dan generator set sebagai alat ujinya dengan beban 1500 W dengan variasi kecepatan 1200 - 2000 rpm pada interval 200 rpm. Pengujian dilakukan selama 20 menit untuk setiap bahan bakar untuk meyakinkan nilai pengukuran sudah stabil. Penelitian menemukan bahwa nilai daya efektif generator terbaik ditemukan pada campuran dexlite dan VCO 10% (VS10) di 2000 rpm sebesar 3,9626 ± 0,23244 Kw, Nilai torsi tertinggi pada VS10 di 2000 rpm sebesar 18,9296 ± 1,11043 Nm, Nilai specific fuel consumption (SFC) terbaik pada campuran dexlite dan VCO 20% (VS20) di 2000 rpm sebesar 0,1561 ± 0,0093 kg/kWh, Nilai efisiensi termal pada VS20 di 2000 rpm sebesar 55,08 ± 3,28 %. Campuran VS10 menghasilkan nilai tertinggi pada tegangan, kuat arus, daya efektif generator, dan torsi. Sementara itu VS20 menghasilkan nilai tertinggi untuk waktu konsumsi bahan bakar, SFC, dan efisiensi termal.
TEKANAN PADA PENCETAKAN EMPING MELINJO MENGGUNAKAN MESIN PENCETAK SISTEM PNEUMATIK Sugiyanto, Bambang; Rahman, Abd; Bahri, Nisfan; Supriyanto; Sebayang, Abdi Hanra
JURNAL TEKNOLOGI PERTANIAN Vol. 12 No. 2 (2023)
Publisher : Prodi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/jtp.v12i2.2834

Abstract

ABSTRACT Melinjo chip is a typical Indonesian snack, which is high in nutrition, has a distinctive taste and is liked by many people. The process of producing melinjo chip manually requires a long time, long process, so the productivity is very low, it requires innovation in the procurement and development of equipment/machines for producing melinjo chip so that it can help the production process, lighten the burden on workers/craftsmen and increase the productivity of melinjo chip craftsmen. The research created a prototype of a melinjo chip molding machine, with the application of a pneumatic system to move the pressing tool while providing adequate thrust to flatten the melinjo core seeds in the melinjo chip production process which can replace manual work, the stages involved are designing the machine prototype construction, building machine prototype, tested the machine prototype, the test results showed that to get melinjo chips with a thickness of one millimeter, a pressure of six bars was needed, with four melinjos every once mold and the entire system on the machine could function properly. Keywords: Melinjo chip, pneumatic system, moulding machine Emping Melinjo adalah salah satu makanan ringan khas Indonesia, yang memiliki gizi tinggi, memiliki rasa yang khas dan disukai oleh banyak masyarakat. Proses produksi emping melinjo secara manual membutuhkan proses panjang, lama, sehingga produktifitasnya sangat rendah, perlu inovasi pengadaan dan pengembangan alat/mesin pencetak emping melinjo sehingga dapat membantu proses produksi, meringankan beban pekerja/perajin dan meningkatkan produktivitas perajin emping melinjo. Penelitian menciptakan protipe mesin pencetak emping melinjo, dengan aplikasi sistem pneumatik untuk menggerakkan alat penekan sekaligus memberikan gaya dorong yang memadai untuk memipihkan biji inti melinjo dalam proses produksi emping melinjo yang dapat menggantikan pekerjaan manual, tahapan-tahapan yang dilalui adalah merancang konstruksi prototipe mesin, membangun prototipe mesin, menguji prototipe mesin, hasil pengujian didapatkan bahwa untuk mendapatkan emping melinjo dengan tebal satu milimeter dibutuhkan tekanan sebesar enam bar, dengan empat biji melinjo setiap sekali cetak dan seluruh sistem pada mesin dapat berfungsi dengan baik. Kata Kunci: Emping melinjo, sistem pneumatik, mesin pencetak.
Rancang Bangun Prototype Alat Pemipih Emping Jagung dengan Sistem Pneumatik Sugiyanto, Bambang; Bahri, Nisfan; Manurung, Nelson; Ginting, Berta br; Sebayang, Abdi Hanra
JTPG (Jurnal Teknologi Pertanian Gorontalo) Vol 9 No 2 (2024): Jurnal JTPG (November)
Publisher : PROGRAM STUDI MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtpg.v9i2.1378

Abstract

Emping jagung adalah salah satu makanan ringan, yang memiliki gizi tinggi, memiliki rasa yang khas dan disukai oleh banyak masyarakat. Proses produksi emping jagung umumnya dilakukan secara tradisional, rangkaiannya cukup panjang, umumnya proses manual, sehingga produktifitasnya sangat rendah, perlu inovasi pengadaan dan pengembangan alat pemipih emping jagung sehingga dapat membantu proses produksi, meringankan beban pekerja/perajin dan meningkatkan produktivitas perajin emping jagung. Peralatan yang digerakkan oleh tenaga pneumatik direkayasa untuk memipihkan biji jagung yang telah direbus sehingga pipih menjadi emping jagung, alat alternatif yang akan dikembangkan menjadi alat pemipih emping jagung, tujuan peneliatan adalah mengetahui berapa tekanan yang dibutuhkan untuk memipihkan emping jagung menggunakan protipe alat pemipih emping jagung, tahapan-tahapan yang dilalui adalah merancang konstruksi prototipe alat, membangun prototipe alat, mencoba prototipe alat dengan memperhatikan beberapa parameter yaitu jumlah biji jagung, tekanan pneumatik yang dibutuhkan sehingga biji jagung pipih dengan tebal dua milimeter. Hasilnya untuk 32 biji jagung (grontol) yang diletakkan diatas patron cetakan ditekan menggunakan dua DAC berdiameter masing-masing 50 mm maka tekanan minimum yang dibutuhkan sebesar lima bar agar jagung menjadi pipih setebal dua milimeter, atau dengan gaya tekan sebesar 1,963 kN, maka jagung menjadi pipih setebal dua milimeter. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam merancang bangun alat pemipih emping jagung secara nyata.
Life Cycle Cost Analysis And Payback Period of 12-Kw Wind Turbine For a Remote Telecommunications Base Station In Malaysia Azmi, A.; Sebayang*, Abdi Hanra; Harjon, Aditiya
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 12, No 2 (2023): August 2023
Publisher : Graduate School of Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/aijst.12.2.33010

Abstract

Owing to the unavailability of electricity in many remote areas in Peninsular and East Malaysia, these areas do not have access to telephone signals. In remote areas, a diesel generator is used as the power source for the telecommunications base station. Hence, the continuous supply of diesel (which is a fossil fuel) is necessary in these remote areas. In this study, an attempt is made to assess the potential of replacing diesel-generated electricity with wind energy, which is renewable energy. Life cycle cost analysis is carried out, and the payback period of a wind energy system is determined for a remote telecommunications base station in Malaysia. The load characteristics and wind data are obtained from the Mersing Meteorological Station, Malaysia, and it was found that the annual load and base load are 12 kW. Hence, a 12-kW wind turbine is selected for the life cycle cost analysis at the site. The results show that the total specific cost of the 12-kW wind turbine is MYR 0.27/kWh based on a discount rate of 5% and electricity tariff in Malaysia of MYR 0.28/kWh. The payback period and discounted payback period of the 12-kW wind turbine are estimated to be 11.8 and 18.2 yr, respectively. Based on the load characteristics in Mersing, Malaysia, the 12-kW wind turbine is economically viable for the remote telecommunications base station. Nonetheless, the 12-kW wind turbine is not economically viable because the simple payback period is greater than 1/3 of the wind turbine's lifetime, which is 20 years. The 12-kW wind turbine, on the other hand, is suitable for use as a remote telecommunications base station.
Inovasi Teknologi Mesin Pencacah Limbah Organik Kambing Etawa Untuk Peternakan Kambing di Sei Gelugur Rimbun Kecamatan Pancur Batu Sumatera Utara Sebayang, Abdi Hanra; Silitonga, Arridina Susan; Siahaan, Sihar; Pratama, Angga Bahri; Pulungan, Muhammad Anhar; Benu, Siti Maretia
BERKAT: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 4 No 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : P3M Politeknik Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peternakan kambing etawa di Sei Gelugur Rimbun, Kecamatan Pancur Batu masih dikelola secara tradisional. Peternakan kambing dapat menghasilkan polusi berupa bau yang menyengat dari limbah organik kambing. Salah satu solusi inovatif untuk menanggulangi masalah tersebut yaitu melalui penggunaan mesin pencacah limbah organik kambing. Mesin ini membuat limbah organik kambing jadi lebih mudah terurai dan menjadi produk baru berupa pupuk organik. Pupuk organik ini dapat dimanfaatkan peternak pada tanaman sekitar kandang, perkebunan dan bahkan dijual kepasar sehingga dapat menambah keuntungan pada peternak. Adapun tujuan dari program ini adalah mengaplikasikan dan mengembangkan limbah ternak dari kambing etawa. Selain itu, dengan menggunakan mesin pencacah limbah juga meningkatkan ekonomi masyarakat peternak kambing mengalami peningkatan pendapatan melalui pemanfaatan pupuk organik yang dihasilkan. Teknologi ini dapat memberikan solusi terhadap mitra (Peternakan Kambing Etawa di Sei Gelugur Rimbun Kecamatan Pancur Batu Sumatera Utara) dimana dengan bantuan teknologi mesin ini, limbah organik kambing dapat langsung terurai tanpa waktu yang lama. Selain itu, melalui edukasi pada masyarakat khususnya peternak berupa tata cara memasarkan limbah organik kambing yang baik dan benar diharapkan dapat meningkatkan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru.
POTENSI LIMBAH CANGKANG KERANG SEBAGAI KATALIS HETEROGEN UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL Sebayang, Abdi Hanra; Pulungan, Muhammad Anhar; Siahaan, Sihar; Benu, Siti Maretia; Ibrahim, Husin; Siregar, Munawar Alfansury; Silitonga, Arridina Susan
Jurnal Rekayasa Mesin Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/jrm.v15i1.1428

Abstract

Biodiesel is a potential energy source that has attracted attention recently because it can be produced from renewable energy sources and produces low pollutants. Biodiesel is produced by transesterifying edible or non-edible vegetable oils using a catalyst. Homogeneous catalytic processes have disadvantages, such as the catalyst residue cannot be reused. Therefore, heterogeneous or solid catalysts are used, which can be easily separated from the reaction mixture by filtration and reused. A waste cockle shell can be used as a green base catalyst to synthesize waste cooking oil into methyl ester (WCME). The free fatty acid content of used cooking oil (2.19% wt.) was initially reduced to 0.11% wt., using a methanol-oil ratio of 6:1, waste cockle shell 2% wt., reaction time 60 minutes and temperature 60 oC. The effectiveness of the developed waste cockle shell contains high CaO. The results of this study indicated the potential of clam waste cockle shells and used cooking oil as a source of raw materials available in the community for biodiesel production.