Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

EVALUASI TINGKAT KEKUMUHAN PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN TUMINTING KOTA MANADO Alhabsyi, Usman; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahun 2016 Kecamatan Tuminting teridentifikasi memiliki luasan kawasan permukiman kumuh terbesar di Kota Manado yakni sebesar 49.15 Ha (31.24 % dari total luas kawasan kumuh) yang terbagi atas 5 Kawasan yakni Kawasan Maasing (7,83 Ha), Kawasan Mahawu (19,68 Ha), Kawasan Sindulang Satu (14,17 Ha) dengan kategori Kumuh Berat, Kawasan Sumompo (4,52 Ha) dengan kategori Kumuh Sedang, dan Kawasan Sindulang Dua (3,20 Ha) dengan kategori Kumuh Ringan. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi tingkat kekumuhan dan kondisi aspek permukiman di Kecamatan Tuminting pada tahun 2016 dan 2018 setelah adanya penanganan melalui program RP2KPKP. Metode yang digunakan adalah metode analisis deskriptif dan analisis skoring dengan 7 indikator yaitu kondisi bangunan, kondisi jalan, kondisi air minum, kondisi drainase, kondisi air limbah, kondisi persampahan, dan kondisi proteksi kebakaran untuk menghasilkan penilaian tingkat kekumuhan di Kecamatan Tuminting pada tahun 2018. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi diketahui bahwa sebanyak 4 kawasan mengalami penurunan tingkat kekumuhan yaitu Kawasan Sindulang Satu dari kumuh berat menjadi kumuh sedang, Kawasan Maasing dan Kawasan Mahawu dari kumuh berat menjadi kumuh ringan, dan Kawasan Sumompo dari kumuh sedang menjadi kumuh ringan, serta 1 kawasan memiliki tingkat kekumuhan yang tetap yaitu Kawasan Sindulang Dua dengan tingkat kekumuhan ringan. Adapun aspek permukiman yang mengalami peningkatan signifikan sehingga memberikan dampak terhadap tingkat kekumuhan terdapat pada aspek infrastruktur permukimannya yaitu jalan lingkungan dan drainase lingkungan.Kata Kunci : Kawasan Permukiman, Tingkat Kekumuhan, Kota Manado
SEKOLAH ALAM TERPADU DI MINAHASA UTARA “ADAPTASI KONSEP INTERSECTION MULTICUTURAL PADA ARSITEKTUR” Tatundu, Alfina R.; E., Surjono; Sembel, Amanda
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Minahasa Utara merupakan daerah yang subur dan berpotensi besar di masa mendatang untuk pengembangan sentra-sentra produksi seperti, pertanian, perkebunan, dan perikanan guna perkembangan kemajuan daerah kedepannya. Untuk mendukung hal tersebut, maka dibutuhkan sarana dan prasarana yang dapat mencetak sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya ke satu arah saja yaitu, kepribadian, ketrampilan dan  ilmu pengetahuan. Sekolah Alam Terpadu dibangun untuk mendukung pengembangan potensi daerah melalui pendidikan pada tiga arah yaitu, kognitif, afektif, dan psikomotorik. Adaptasi Konsep Intersetion multicultural pada Arsitektur menjadi konsep yang akan mendukung pengembangan sekolah  ini bagi anak usia SMA yang beragam karakternya. Tempat yang edukatif, dan sebuah karya arsitektur yang asri dan berkualitas  merupakan tujuan di bangunan Sekolah Alam Terpadu di Minahasa Utara ini dengan konsep Adaptasi Konsep Intersection Multicultural pada Arsitektur. Fasilitas yang tersedia dalam objek perancangan ini terdiri dari Fasilitas Kognitif, Afektif yang merupakan Fasilitas intersection, dan Psikomotorik. Secara keseluruhan, Sekolah Alam Terpadu ini merupakan perancangan bangunan yang memberi kesan menyatu dengan alam dengan menggunakan sebagian besar materialnya adalah bambu dan ditambahkan dengan beton.   Keyword: intersection multicultural, Sekolah Alam Terpadu.
PEMETAAN MASALAH PENYEDIAAN AIR MINUM DI PERKOTAAN TOBELO KABUPATEN HALMAHERA Silangen, Marcelino Gerry; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air minum sebagai infrastruktur kota sangat berperan dalam menunjang perkembangan kota, diantaranya membutuhkan sistem penyediaan air minum yang baik sehingga mampu memenuhi kebutuhan sehari- hari penduduknya. Ketersediaan air minum di Perkotaan Tobelo semakin menipis yang sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, serta pencemaran sumber air yang semakin parah. Berdasarkan database air minum Cipta Karya Halmahera Utara tahun 2019  terdapat 9 kelurahan/desa yang penyediaan air minumnya masih dibawah 50 % atau belum memenuhi standar pelayanan minimum air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penyediaan air minum di kawasan Perkotaan Tobelo dan tingkat masalah penyediaan air minum di Kawasan Perkotaan Tobelo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif kondisi kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum, dan menggunakan analisis skoring untuk memetakan tingkat masalah penyediaan air minum yang ada di Perkotaan Tobelo. Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi eksisting  penyediaan air minum dimana persentase pelayanan air minum, infrastruktur air minum, dan kondisi kualitas air minum menjadi masalah utama dalam penyediaan air minum di Perkotaan Tobelo. Hasil dari skoring tingkat masalah penyediaan air minum terbagi dalam 3 kriteria yaitu Tingkat masalah tinggi terdapat pada Desa Popilo Utara, Tolonuo, Luari, Kokota Jaya, Gorua, Gura, Kakara, Kumo, Wko, Kali Pitu, Upa, Lina Ino. Kali Upa, Tanjung Niara, Tingkat masalah sedang terdapat pada Desa Popilo, Gorua Selatan, Ruko, Gorua Utara, Gamsungi, Rawajaya, dan Desa Mahia, dan Tingkat masalah rendah terdapat pada Desa Gosoma, Wari Ino, dan Mkcm.Kata Kunci: Pemetaan, Masalah Penyediaan Air Minum, Perkotaan Tobelo.
PERENCANAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK DI PERMUKAN PADAT KECAMATAN AMURANG Daun, Almer Aziz Mukmin Pratama; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka publik secara umum tidak hanya berfungsi untuk masyarakat umum saja, melainkan ruang publik yang benar-benar sesuai untuk anak bermain dan beraktivitas baik dari kondisi area ruang publik maupun dari segi fasilitas yang benar-benar ramah anak, Adapun konsep RTPRA sendiri berawal dari konsep Kota Ramah Anak (Child Friendly City) yang muncul sebagai dampak dari beberapa tren penting diantaranya, transformasi cepat dan urbanisasi masyarakat global. Tujuannya untuk menentukan lokasi sebagai area perencanaan ruang terbuka public terpadu anak di Kecamatan Amurang. Untuk menentuka fasilitas apa saja yang cocok untuk dalam perencanaan ruang terbuka public terpadu ramah anak, peneltian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil survey menentukan lokasi yang bisa di jadikan sebagai alternative perencanaan ruang terbuka public ramah anak. Dari hasil observasi survey dan wawancara langsung di lapangan di temukan bahawa beberapa fasilitas ruang terbuka yang sesuai kebutuhan masyarakat di tiap kelurahan yang ada. Kata Kunci : Perencanaan, Ruang terbuka ramah anak, Kecamatan Amurang. 
REDESAIN PASAR TRADISIONAL 23 MARET DI KOTAMOBAGU. “ARCHITECTURE HYBRID ” Mokorimban, Fadhillah D.; Supardjo, Surijadi; Sembel, Amanda
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar tradisional seringkali di anggap memiliki citra buruk karena keadaan pasar yang semrawut, kotor dan tidak nyaman. Sama halnya dengan Pasar Tradisional 23 Maret yang lekat dengan image pasar tradisional pada umumnya. Sarana dan rasarana pasar yang buruk serta gagalnya peran revitalisasi pasa pasar akibat tidak meratanya pengaturan tempat berjual yang berdampak pada ditinggalkannya gedung pasar oleh penjual. Namun, eksistensi pasar tradisional ini masih menjadi pilihan umum masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari karena barang yang ada di pasar tradisional relatif lebih murah dan bisa ditawar. Olehnya keberadaan Pasar Tradisional 23 Maret ini sangat penting sebagai Sumber Pendapatan Asli Daerah khususnya Kotamobagu, maka perlu dilakukan Redesain pada Pasar Tradisional 23 Maret ini dengan tema Architecture Hybrid dengan menggabungkan konsep tradisional dan modern diharapkan mampu memberikan citra baru pada pasar dengan memaksimalkan seluruh aspek pendukung dan penunjang aktivitas pada pasar sehingga pasar tradisional dapat turut serta dalam perkembangan perekonomian daerah. Kata kunci            : Architecture Hybrid, Pasar Tradisional, Redesain.
IDENTIFIKASI POTENSI ZONA-ZONA “TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT” DI KOTA MANADO Sondakh, Sharon Costansye; Rogi, Octavianus H. A.; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan jumlah kendaraan di Kota Manado terus meningkat setiap tahunnya sehingga menimbulkan kemacetan di beberapa tempat. Penyebab terjadinya kemacetan di Manado yang makin parah juga diantaranya peningkatan pembangunan  pusat-pusat kegiatan dalam sektor ekonomi yang terus meningkat, bertambahnya penggunaan kendaraan roda dua.  TOD merupakan salah satu alternative konsep yang mendukung pertumbuhan pengembangan kota dengan mengoptimalkan penggunaan lahan , meningkatkan penggunaan moda transportasi umum, serta desain kawasan yang ramah terhadap pejalan kaki. Penelitian ini menggunakan metode analisis yakni : analisis spasial  untuk menghitung rata- rata KDB, KLB, luas penggunaan lahan, panjang jalur pejalan kaki. Analisis skalogram untuk mengetahui hirarki zona-zona yang berpotensi menjadi alternative zona TOD.  Setelah dilakukan analisis didapat hasil yakni  Hirarki I Zona C (Mantos), Zona D (Mega Mall) dan Zona E (Zero Point), Hirarki II : Zona F (Kantor Gubernur) dan Zona G (Balai Kota), Hirarki III: Zona B (Bahu Mall), Hirarki IV: Zona A (Terminal Malalayang), Zona H (Terminal Paal Dua) dan Zona J (Bandara Sam Ratulangi), Hirarki V: Zona I (Transmart). Diperlukan perbaikan, pembenahan dan peningkatan infrastruktur dan struktur ruang sesuai dengan konsep TOD.Kata Kunci: Potensi Zona, Transit Oriented Development,Kota Manado
ANALISIS RESIKO BENCANA LONGSOR DI KOTA BITUNG Reppi, Eygen Imanuel; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Kota Bitung untuk mengetahui tingkat kerawanan. Kerentanan Kapasitas dan Resiko Bencana berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana No.02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana. Metode yang di gunakan adalah metode analisis deskriptif dan overlay, dimana untuk mendapat resiko bencana perlu melakukan penggabungan pada berbagai peta dasar yaitu kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan dan penggunaan lahan untuk mendapatkan tingkat kerawanan serta tingkat kerentanan yang di dapat dari kerentanan social, ekonomi, fisik dan lingkungan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Kota Bitung masuk kedalam kategori resiko bencana sedang, dimana seluruh wilayah permukiman yang ada di Kota Bitung masih masuk kategori layak untuk pembangunan.Kata Kunci: Kerawanan Bencana, Resiko Bencana, Kota Bitung
ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BANJIR DI KECAMATAN SANGTOMBOLANG KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Ka'u, Anggrayni Aghnesya; Takumansang, Esli D; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Sangtombolang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Bolaang Mongondow yang memiliki luas area 776,31 km²  sekaligus berada  di  Provinsi Sulawesi Utara. Kecamatan Sangtombolang merupakan salah satu Kecamatan yang berada pada wilayah administrasi Kabupaten Bolaang Mongondow yang masuk dalam kategori rawan banjir, sebagian besar daerah tersebut berada di bantaran sungai, dan pegunungan  seperti yang terjadi pada Bulan Maret 2020 dimana Banjir Bandang Melanda Kecamatan Sangtombolang khususnya desa pangi, desa pangi timur, dan desa domisil, dampak banjir yang telah mengakibatkan kerugian fisik dan material yang cukup tinggi. Risiko dan dampak terhadap timbulnya bencana banjir yang sering terjadi di kecamatan Sangtombolang dapat di kurangi atau diminimalkan dengan melakukan kesiapan dan pencegahan terhadap bencana banjir, salah satu yang di lakukan adalah mengenal dan mengetahui wilayah yang berpotensi banjir. Tujuan ipenelitian iini iyaitu imengidentifikasi tingkat kerawanan banjir di Kecamatan Sangtombolang, idan menganalisis  kerentanan banjir di kecamatan Sangtombolang  dengan menggunakan sistem informasi geografis, berdasarkan parameter banjir yaitu, kemiringan lereng, topografi, penggunaan lahan. iMetode iyang idi igunakan iadalah imetode ianalisis deskriptif ikuantitatif idan ioverlay, idengan tujuan untuk mendeskripsikan objek penelitian atau hasil penelitian serta mencakup analisis spasial dan skoring untuk menentukan tingkat kerawanan banjir dan kerentanan banjir pada wilayah permukiman kecamatan Sangtombolang.Kata iKunci: iBencana,Banjir, iKecamatan iSangtombolang, iKerawanan banjir, ispasial
DEVELOPMENT OF INFRASTRUCTURE AND SUPPORTING FACILITIES FOR THE MINAPOLITAN AREA (Case Study: Kecamatan Pinogaluman Kabupaten Bolaang Mongondow Utara Provinsi Sulawesi Utara) Alamri, Siti Aviva Mustika; Supardjo, Surijadi; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia has a coastal area that will be known for its enormous resource potential, biodiversity, the potential for aquaculture and marine tourism potential which can be found in almost every corner of the area in its aquatic ecosystem. The basic concept of developing the minapolitan area is an effort to create balanced development between regions, especially by increasing the urban-rural linkage, namely the development of rural areas that are integrated into the urban system functionally and spatially. The fisheries sector has a comparative advantage compared to other sectors, in the form of the availability of very large natural resources and is able to produce highly competitive products and services. Most fishermen in Pinogaluman District are still far from the level of welfare, there are still obstacles experienced in the development of the Minapolitan area, one of which is the problem of the availability of infrastructure and facilities to support the development of the Minapolitan area in Pinogaluman District which is not sufficient, so it cannot support the Minapolitan area. The method used is a qualitative descriptive analysis method which is used to describe the existing condition of the infrastructure and supporting facilities of the Minapolitan area, the GAP analysis is used to provide a description related to the condition of the infrastructure and facilities of the Minapolitan area, and the analysis of development directions is used to determine the development method by analyzing external factors in the form of opportunities and threats and internal factors in the form of strengths and weaknesses. The results of the matrix analysis of the development of infrastructure and supporting facilities for the minapolitan area in Pinogaluman District are in quadrant I by looking at the strengths and opportunities in resources, providing a special strategy for the form of development of the minapolitan area. In the SO strategy, with full support from government efforts, it is hoped that there will be appropriate spatial planning. In addition, more resources are needed to repair damaged infrastructure and facilities. There are also publications regarding the minapolitan area so that this area can be paid more attention by the government. The last is to provide easy accessibility for people who are involved in Minapolitan activities, so that production activities will increase and will not be recorded. Keywords : Minapolitan, Infrastructure and Facilities, Development
ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DASAR PERMUKIMANDI KELURAHAN MAASING, KECAMATAN TUMINTING, KOTA MANADO Alfath S.N. Syaban; Sonny Tilaar; Amanda Sembel
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 6 No. 1 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v6i1.5260

Abstract