Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

KAJIAN ASPEK KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN JL. PIERE TENDEAN DI KOTA MANADO Feybe G. Kaliongga; Veronica A. Kumurur; Amanda Sembel
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 6 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v6i2.5280

Abstract

Analisis Kebutuhan Infrastruktur Di Perbatasan Pulau Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe Deysi Gatot; Raymond Tarore; Amanda Sembel
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 1 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i1.34459

Abstract

Infrastructure development has a vital role in fulfilling people's basic rights. The availability of infrastructure can have an effect on increasing Marore Island people's access to resources so as to increase access to resource productivity which in turn encourages economic growth. So it is necessary to do research on the analysis of infrastructure needs at the border of Marore Island, Sangihe Islands Regency, where this research aims to identify the existing infrastructure conditions on Marore Island and analyze the infrastructure needs on Marore Island as a national strategic area. The variables to be analyzed in this study include roads, electricity, telecommunications, clean water, waste water, solid waste, drainage, environmental facilities, educational facilities, health facilities, socio-cultural facilities, public service facilities and open space facilities using the distribution analysis method. frequency, comparison of minimum service standards (SPM), analysis of fulfillment of needs and spatial analysis. Based on the results of research and discussion regarding the analysis of infrastructure needs at the border of Marore Island, Sangihe Islands Regency, the conclusion that can be obtained is that the existing conditions of each infrastructure are available, but there are still some damaged infrastructure such as environmental facilities (markets), equipment desalination (distillation of salt water into fresh water), PLTS (solar power plant), ice storage equipment for fishermen, telecommunication tower transmitters and connecting roads between eastern settlements to western settlements. So it needs repairs again. Keywords: Border Areas, Infrastructure, Spatial Analysis
Evaluasi Ketersediaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan di Kecamatan Kauditan Sheren Suenaung; Surijadi Supardjo; Amanda Sembel
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 10 No. 1 (2021): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v10i1.34463

Abstract

According to RTRW of North Minahasa in 2013-2033, Kauditan subdistrict is designated as one of the subdistricts included in the Klabat Agropolitan Area. Besides having to have superior commodities, Agropolitan Areas must also be supported by adequate agricultural sector infrastructure. Lack of supporting infrastructure has overwhelmed farmers to increase their agricultural production. This study aims to identify the development of the agropolitan area’s infrastructure, as well as evaluate the availability of infrastructure in the agropolitan area in the Kauditan subdistrict. The analysis method used is Time Series analysis method, and qualitative descriptive analysis that will use a Likert Scale as a rating scale, with indicators such as infrastructure conditions, comparison with standards, and fulfillment of needs. The result of the analysis show that the infrastructure of the agropolitan area that has developed in the Kauditan subdistrict is farm road and irrigation, meanwhile the jetty and collecting sub-terminal are not experiencing any development, and the result of the evaluation of the agropolitan area’s infrastructure in Kauditan subdistrict show a value of 35,53% or in the “bad” category. This value occurs because even though the farm road already “very good”, the evaluation results for irrigation are still “bad”, the the unavailability of collecting sub-terminals are also affects the overall results. The jetty is not available inKauditan subdistrict, also actually not needed because the Kauditan subdistrict not near the lake or the sea. Keyword: Evaluation; Infrastructure; Agropolitan Areas
PUSAT KEBUDAYAAN TALAUD DI MELONGUANE. Arsitektur Metafora Ananta Y. Prasetia; Vicky H. Makarau; Amanda Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.25058

Abstract

Budaya adalah suatu pemikiran, adat istiadat, dan akal budi. Sedangkan turunan kata budaya yakni kebudayaan memiliki arti cara berpikir, bertindak manusia.Kabupaten Kepulauan Talaud adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara,  dengan ibu kota Melonguane. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten Kepulauan Talaud terletak di sebelah utara Pulau Sulawesi. Wilayah ini adalah kawasan paling utara di Indonesia timur, berbatasan dengan Kota Davao del Sur, Filipina di sebelah utara. Jumlah penduduknya sebanyak 91.067 jiwa.Kabupaten Kepulauan Talaud merupakan daerah bahari dengan luas lautnya sekitar 37.800 Km² (95,24%) dan luas wilayah daratan 1.251,02 Km2(4,76%). Terdapat tiga pulau utama di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pulau Karakelang, Pulau Salibabu, dan Pulau Kabaruan.Kondisi Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk dalam 199 daerah tertinggal di Indonesia dan masih terisolir karena berbagai keterbatasan infrastruktur dasar, ekonomi, sosial budaya, perhubungan, telekomunikasi dan informasi serta pertahanan keamanan.Oleh karena itu kebijakan pembangunan akan fasilitas yang memberikan dukungan terhadap seni dan budaya yang diharapkan dan memberikan sesuatu identitas baru terhadap suatu kabupaten dan sebagai katalisator perubahan dan pembaharuan lewat arsitektur. Juga diharapkan mampu memacu perkembangan pariwisata dan perekonomian Kabupaten Kepulauan Talaud.
Analisis Jalur Evakuasi Bencana Tsunami Di Kabupaten Minahasa Selatan (Studi Kasus: Kecamatan Amurang, Kecamatan Amurang Barat Dan Amurang Timur): Analysis of Tsunami Evacuation Routes in South Minahasa Regency (Study Case: Amurang, West Amurang And East Amurang District) Sangkoy, Josua Rifaldo; Mononimbar, Windy; Sembel, Amanda
Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur Vol. 11 No. 2 (2022): SABUA : JURNAL LINGKUNGAN BINAAN DAN ARSITEKTUR
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/sabua.v11i2.45988

Abstract

Abstrak Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2014-2034, terdapat tiga kecamatan yaitu Kecamatan Amurang, Amurang Barat dan Amurang Timur termasuk dalam kawasan rawan bencana tsunami, hal ini disebabkan karena kecamatan tersebut memiliki pemukiman yang berada di kawasan pesisir pantai. Sebagai kawasan rawan bencana tsunami, maka harus memiliki jalur-jalur evakuasi bencana. Oleh karna itu, tujuan penelitian ini mengidentifikasi ketersediaan dan menganalisis kebutuhan jalur evakuasi bencana tsunami di tiga kecamatan tersebut. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode spasial dan metode deskrptif. Berdasarkan hasil penelitian, dari aspek penelitian ketersedian jalur evakuasi, sebaran jalur evakuasi di tiga kecamatan memiliki 7 jalur evakuasi dan 7 kelurahan/desa yang yang lain tidak memiliki jalur evakuasi, untuk kondis kondisi jalur evakuasi yang ada masih terdapat jalan rusak dan ada satu jalur evakuasi yang melintasi jembatan. sedangkan aspek kebutuhan jalur evakuasi di tiga kecamatan terdapat 3 kelurahan/desa yang belum sesuai dengan aturan dan 4 kelurahan/desa sudah sesuai dengan aturan yang ada. Kata kunci : Analisis, Bencana Tsunami Jalur Evakuasi, Minahasa Selatan Abstract Based on the South Minahasa Regency Spatial Plan for 2014-2034, there are three sub-districts, namely Amurang, West Amurang and East Amurang sub-districts, which are included in tsunami-prone areas, this is because these sub-districts have settlements located in coastal areas. As a tsunami-prone area, it must have disaster evacuation routes. Therefore, the purpose of this study is to identify the availability and analyze the need for tsunami evacuation routes in the three sub-districts. This study uses two methods, namely the spatial method and the descriptive method. Based on the results of the study, from the aspect of research on the availability of evacuation routes, the distribution of evacuation routes in three sub-districts has 7 evacuation routes and 7 other villages / villages do not have evacuation routes, for the condition of the existing evacuation routes there are still damaged roads and one evacuation route crossing the bridge. While the aspect of the need for evacuation routes in the three sub-districts, there are 3 sub-districts/villages that have not complied with the rules and 4 sub-districts/villages that have complied with existing regulations. Keyword: Analysis, Tsunami Disaster Evacuation Path, South Minahasa
ANALISIS KEBUTUHAN DAN PERMINTAAN RUMAH DI KOTA BITUNG Rumondor, Veren V; Lakat, Ricky M.S; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keperluan manusia yang paling fundamental adalah memiliki tempat tinggal, seperti yang diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Undang-undang tersebut menjelaskan bahwa rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat keluarga, dan mencerminkan martabat penghuninya, serta merupakan aset atau investasi bagi pemiliknya. Kota Bitung sering mengalami masalah klasik terkait perumahan dan permukiman, terutama karena urbanisasi yang terus meningkat, menyebabkan penyebaran permukiman kumuh di perkotaan. Penurunan rasio rumah layak huni di Kota Bitung disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang cepat, yang berdampak pada meningkatnya permintaan akan rumah tinggal. Faktor-faktor yang terkait dalam kebutuhan serta permintaan rumah adalah lahan efektif atau potensial dalam memenuhi jumlah rumah yang dibutuhkan. Dari permasalahan yang di angkat ini bertujuan untuk menghitung jumlah kebutuhan rumah di Kota Bitung, memahami permintaan rumah dari masyarakat setempat, dan menentukan lahan yang potensial untuk pengembangan perumahan dan permukiman. Metode analisis spasial digunakan untuk mengidentifikasi lahan yang cocok untuk pengembangan perumahan dan permukiman, sementara analisis backlog proyeksi Kepala Keluarga (KK) digunakan untuk memperkirakan kebutuhan rumah dalam 20 tahun ke depan. Selain itu, analisis preferensi Willingness to Pay (WTP) dan Ability to Pay (ATP) digunakan untuk menentukan seberapa besar kemauan dan kemampuan masyarakat dalam membeli rumah. Kata Kunci : Kebutuhan Rumah, Permintaan Rumah, Kemampuan Lahan
Evaluasi Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja Jalur Pedestrian Kawasan Boulevard on Business (BoB) di Kota Manado Wuwung, Shania; Sembel, Amanda; Karongkong, Hendriek
Fraktal : Jurnal Arsitektur, Kota dan Sains Vol. 9 No. 2 (2024): Vol 9, No 2 (2024): Volume 9 Nomor 2, November 2024
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/fraktal.v9i2.59129

Abstract

Jalur pedestrian pada Kawasan BoB Manado yang sebelumnya masih memiliki banyak kekurangan telah dilakukanpembangunan oleh Pemerintah Kota Manado menjadi lebih lebar secara dimensi dan sudah dilengkapi denganbeberapa fasilitas baru untuk menunjang kenyamanan dan keamanan pengguna jalur pedestrian. Tujuan utamaevaluasi ini untuk menganalisis bagaimana tingkat kepuasan masyarakat terhadap pembangunan tersebut denganvariabel penelitian menggunakan lima dimensi kualitas jasa (bukti fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, empati)yang sebelumnya dilakukan identifikasi kondisi eksisting dan identifikasi karakteristik masyarakat jalur pedestrian padaKawasan BoB Manado. Penelitian ini memiliki populasi sebanyak 271.013 orang yang diperoleh dari jumlah populasirentang usia 15-59 tahun (BPS Kota Manado tahun 2022). Jenis penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif. Metode analisisyang digunakan pada penelitian ini yaitu metode Customer Satisfaction Index (CSI). Kata-kunci: Dimensi Kualitas Jasa, Evaluasi, Kepuasan Masyarkat, Pedestrian, Pembangunan