Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pemberian Kegel Exercise Terhadap Kepuasan Seksualpada Wanita Menopause di Kota Pekalongan Remilda Armika Vianti; Nur Susanti
PENA NURSING Vol 2, No 1 (2023): PENA NURSING
Publisher : LPPM UNIKAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pn.v2i1.3113

Abstract

Perubahan seksualitas yang terjadi pada masa menopause cukup menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan intim dengan pasangannya. Beberapa intervensi yang bisa dilakukan untuk membantu permasalahan seksualitas pada menopause diantaranya adalah Kegel Exercise. Kegel Exercise merupakan salah satu terapi non farmakologi yang bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dalam upaya mengatasi dispereunia dan kesulitan orgasme pada perempuan menopause. Latihan Kegel adalah latihan pada otot-otot pelvis dengan cara mengerutkan (kontraksi) dan mengendurkan (rileksasi) yang dilakukan secara kontinyu atau berulang-ulang. Tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh pemberian Kegel Exercise terhadap kepuasan seksualitas wanita menopause. Desain penelitian yang digunakan adalah pre experiment dengan rancangan one gruoup pretest-posttest. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 30 responden yang diambil dengan metode purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan observasi dan kuesioner, uji analisis data menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil penelitian terdapat perubahan peningkatan kepuasan seksual antara sebelum dan sesudah dilakukan Kegel Exercise dengan p=0,02. Dalam penelitian ini dapat dinyatakan terdapat pengaruh Kegel Exercise terhadap kepuasan seksualitas wanita menopause. Peneliti menyarankan kepada subjek penelitian yang mengalami gangguan kepuasan seksualitas bisa melanjutkan Kegel Exercise dirumah dengan dibantu suami.         Kata kunci: Kegel Exercise, menopause, kepuasan seksualitas
PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA POST OP ORIFFRAKTUR 1/3 RADIUS DISTAL SINISTRA DENGAN MODALITAS INFRA RED (IR) DAN TERAPI LATIHAN Nur Susanti; Rindang Trie Damayanti
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 1 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v3i1.17544

Abstract

Latar Belakang : Fraktur radius distal merupakan fraktur yang paling sering ditemukan dalam bidang kegawatdaruratan ortopedik yang melibatkan ektremitas atas. Problematika pada Fraktur Radius Distal adalah adanya nyeri, adanya penurunan kekuatan otot, adanya keterbatasan lingkup gerak sendi, dan adanya penurunan aktivitas fungsional. Dalam kasus ini teknologi intervensi yang dipilih untuk mengatasi permasalahan diatas menggunakan Infra Red (IR) dan Terapi Latihan. Penelitian ini dilakukan  di RSUD Bendan Kota Pekalongan. Tujuan : Mengetahui pengaruh management Fisioterapi terhadap post op orif fraktur 1/3 radius distal sinistra dengan  IR dan terapi latihan. Metode : desain penelitian deskriptif analitik dengan rancangan studi kasus. Subyek penelitian ini adalah pasien dengan kondisi Fraktur Radius Distal akan diberikan intervensi fisioterapi dengan Infra Red (IR) dan Terapi Latihan. Metode pengumpulan data dan analisa data menggunakan metode interview autoanamnesis. Instrumen penelitian terdiri dari VAS (Visual Analogue Scale), MMT (Manual Muscle Teste), Goneometer, WHDI (Wrist And Hand Disability Index). Hasil : (1) terdapat penurunan nyeri T1=4 menjadi T6=2, (2) peningkatan kekuatan otot T1=3 menjadi T6=4, (3) lingkup gerak sendi dorso fleksi T1=30 menjadi T6=40, palmar fleksi T1=40 menjadi T=50, radial deviasi T1=15 menjadi T6=20, ulnar deviasi T1=20 menjadi T6=30, (4) peningkatan aktivitas fungsional T1=50% menjadi T6=24%. Simpulan penelitian ini bahwa modalitas fisioterapi dengan  Infra Red (IR) dan Terapi Latihan dapat membantu permasalahan yang timbul pada Fraktur Radius Distal.
STUDI KASUS : PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI DENGAN KOMBINASI KONSEP DYNAMIC NEUROMUSCULAR STABILIZATION (DNS) DAN SENSORY INTEGRATION (SI) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERJALAN PADA ANAK DOWN SYNDROME Ayu Pangestuningtyas; Nur Susanti
Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Ilmiah Fisioterapi Muhammadiyah (JarFisMU)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jar.v2i2.19671

Abstract

Latar Belakang : Down syndrome merupakan bentuk genetik dan gangguan perkembangan intelektual yang sering diidentifikasi dengan kelainan kromosom 21. Problematika fisioterapi dari Down syndrome adanya hipotonus, gangguan sensoris, gangguan reflek, penurunan kekuatan otot, penurunan aktivitas fungsional dan keterlambatan tumbuh kembang. pemeriksaan fisioterapi meliputi pemeriksaan hipotonus dengan palpasi, sensoris dengan blangko sensoris, reflek dengan blangko reflek, kekuatan otot dengan MMT, aktivitas fugsonal dengan GMFM dan tumbuh kembang dengan DDST. Teknologi interfensi yang dipilih adalah Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Dan Sensory Integration (SI). Tujuan penelitian mengetahui pengatruh penatalaksanaan fisioterapi pada anak kondisi Down syndrome dengan Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Dan Sensory Integration (SI). Penelitian ini di lakukan di YPAC Surakarta dengan desain pelatihan deskriptif analitik, rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan studi kasus. Subjek penelitian adalah pasien anak dengan kondisi Down syndrome dengan intervensi fisioterapi Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Dan Sensory Integration (SI). Metode pengumpulan data analisis data penelitian ini menggunakan metode heteroanamnesis. Instrumen penelitian berupa pemeriksaan tonus, sensory, reflek, kekuatan otot, aktifitas fungsional dan tumbuh kembang. Berdasarkan hasil terapi yang dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut: (1) terdapat peningkatan tonus postural dari T1=1 menjadi T5=0 (2) gangguan sensory berkurang dari T1=1 menjadi T5=2 (3) gangguan reflek masih ada T1=+  menjadi T5= + (4) peningkatan kekuatan otot dari T1=3 menjadi T5=4 (5) peningkatan aktivitas fungsional T1=48% menjadi T5=50% (6) peningkatan tumbuh kembang dari T1= TL menjadi T5=L. Simpulan penelitian bahwa intervensi fisioterapi dengan Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) Dan Sensory Integration (SI) dapat mengurangi masalah yang timbul pada kondisi Down syndrome.
Analisis Tingkat Penerimaan Tentang Penerapan Industri Hijau Pada Peraturan Pemerintah Sebagai Bentuk Eko-Efisiensi Dalam Meningkatkan Kinerja Hijau Wenti Ayu Sunarjo; Maghfiroh; Nur Susanti; Muhammad Milzam; Nur Ermawati; Yovita Christi; Alilisa Rahmawati
Entrepreneur: Jurnal Bisnis Manajemen dan Kewirausahaan Vol. 5 No. 2 (2024): JULI
Publisher : Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/entrepreneur.v5i2.10768

Abstract

Implementing eco-efficiency in the batik industry is important considering the currently developing environmental problems. In order to realize a sustainable batik industry with green performance, an analysis was carried out on the level of acceptance of applicable government regulations in order to change towards an independent green industry. In line with the research objective, it is to analyze the level of income of the batik industry regarding the implementation of government regulations relating to the green industry through the application of eco-efficiency in order to measure green performance in the batik industry. Through a survey method carried out on all batik industries by taking random samples from 500 batik industries in Pekalongan City. The research results show that for all respondents' answers to each question item, the results obtained were an average of 66.25% of batik industry players who had accepted the existence of a green industrial policy for the batik industry in accordance with the regulations stipulated in PERMENPERIN No. 10 of 2023. It appears as supporting data that results show that 60% of batik business actors also received training for the batik industry which has not received the title as a green industry.