Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Antinociceptive Activity of Aqueous Fraction of Kratom Leaves Mitragyna speciosa Korth.) on Male Swiss Albino Mice Widia Indri Nugraha; Robiyanto Robiyanto; Sri Luliana
Majalah Obat Tradisional Vol 23, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.544 KB) | DOI: 10.22146/mot.32085

Abstract

Kratom (Mitragyna speciosa Korth.) has been known to have an analgesic opioid effect (antinociceptive). The major compound of kratom leaf is mitraginin, which has strong affinity on opioid receptor. The aim of this research is to prove antinociceptive effect of aqueous fraction of kratom leaf and its effective dose. The simplicia of kratom leaf was extracted with methanol 96%. Methanol extract fractioned with n-hexane, dichloromethane, ethyl acetate, and aquadest. This research used hot plate method on male Swiss Albino mice. The subject divided to 5 groups, negative control group, morphine 5,46 mg/kgBW, aqueous fraction 140, 240 and 560 mg/kgBW. Latency time was measured every 15 minutes over 2 hours period. Analytic statistical of latency time using One Way ANOVA shows that the aqueous fraction at the dose of 140, 280 and 560 mg/kgBW significantly differentiate with negative control group and positive control group. The antinociceptive effect increases with increasing doses. The three doses showed that the antinociceptive effect was no better than the positive control (Morphine)
Increasing Knowledge and Promoting Better Attitude towards Appropriate Self-Medication in Sungai Ambawang Community through CBIA eka kartika untari; Robiyanto Robiyanto; Pratiwi Apridamayanti; Muhammad Akib Yuswar; Rafika Sari; Nera Umilia Purwanti; Ressi Susanti
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 7, No 2 (2021): June
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2176.744 KB) | DOI: 10.22146/jpkm.41993

Abstract

Self-medication practice in the community tends to increase. One of the factors that influence this trend is the variation of non-prescription drugs and advertisements. Although in self-medication people are allowed to determine their own medication, but it has the potential to create problems. Sungai Ambawang Sub-district is one of the trans Kalimantan; accordingly the medicine products from outside West Kalimantan can be transported through this area. This community service activity (PKM) aimed to increase knowledge and encourage positive attitudes, so that their behavior of self-medication becomes appropriate. This PKM was carried out by the method of communitybased interactive approach (CBIA) in 2 steps. This activity involved 66 community health center cadres. The participants’ knowledge and attitude were measured twice (pretest and posttest) through questionnaires, then analyzed descriptively and statistically using the Wilcoxon test. The observations showed that most of the participants had bought medicines without a prescription for self-medication (78.7%), obtained the medicine from pharmacies (65.2%), purchased medicines over the counter (45.4%), and frequently used analgesic-antipyretics (77%). The results of the Wilcoxon test showed that there were significant differences between knowledge and attitudes before and after CBIA intervention. Based on the results of this intervention, it was concluded that the CBIA intervention done as the PKM activity could increase knowledge and encourage positive attitudes regarding appropriate self-medication practices.
KONTRIBUSI KELENTUKAN TERHADAP KECEPATAN TENDANGAN LINGKAR DALAM PADA ATLET TARUNG DERAJAT KABUPATEN GAYO LUES Robiyanto Robiyanto; Alfian Rinaldy; Nyak Amir
Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Rekreasi Vol 4, No 2 (2018): MEI 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.702 KB)

Abstract

Kelentukan merupakan salah satuaspek kondisi fisik yang sangat penting dalam mencapai prestasi yang optimal.Kecepatan ialah kemampuan dalam melakukan gerakan secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Permasalahan pada penelitian ini adalahapakah terdapat kontribusi kelentukan terhadap kecepatan tendangan lingkar dalam pada atlet tarung derajat di Kabupaten Gayo Lues. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikontribusi kelentukan terhadap kecepatan tendangan lingkar dalam pada atlet tarung derajat di Kabupaten Gayo Lues.Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini ialah seluruh atlet tarung derajat kurata I-IVKabupaten Gayo Lues. Sampel pada penelitian ini sebanyak 16 orang.Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah dengan pelaksanaan tes kelentukan dan tes kecepatan tendangan lingkar dalam. Pengolahan data dengan caraanalisis korelasi sederhana.Berdasarkan hasil penelitian ialah terdapat kontribusi yang signifikan antara kelentukan terhadapkecepatan tendanganlingkar dalam. Hasil pengujian didapat nilai r = 0,80sehingga koefesien determinasinya ialah (0,80)2 x100% =64%.Menjelaskan64% skor yang terjadi pada kecepatan tendangan lingkar dalamatlet tarung derajat Kabupaten Gayo Luesdibuktikan olehkelentukan, sehingga kontribusi dari faktor yang lain adalah 36%. Kata kunci:kelentukan, kecepatan tendangan lingkar dalam.
STUDI TINGKAT PENGETAHUAN DAN PERSEPSI TENAGA KESEHATAN MENGENAI PERANAN FARMAKOGENOMIK Muhammad Akib Yuswar; Robiyanto Robiyanto; Eka Kartika Untari; Shoma Rizkifani
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2021): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.255 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v6i2.640

Abstract

Research on the extent to which health practitioners in West Kalimantan understand the important role of pharmacogenomics have not been reported to date. West Kalimantan (Kalbar) is known as a province characterized by three main ethnicities, namely Chinese, Malay and Dayak. Therefore, the potential application of pharmacogenomics for the treatment of patients in health facilities across the province is very possible. This study aimed to measure the level of knowledge and perceptions of health practitioners (participants) about the role of pharmacogenomics in patient treatment plans. This research is descriptive with a questionnaire-based survey method. The data analyzed is primary data from the answers of participants to the online questionnaire. Based on the responses of 106 participants (involving doctors, pharmacists, nurses, midwives, and others) from various cities and districts in West Kalimantan, it was found that the level of knowledge was very good (75.5%), good (17.0%), and not good. (7.5%). The level of participants' perceptions of the role of pharmacogenomics are those who have positive perceptions (97.2%) and negative perceptions (2.8%). It can be concluded that 75% of health practitioners in West Kalimantan have a very good level of knowledge and 97% of them own a positive perception of the importance of pharmacogenomics.
PELATIHAN PEMBUATAN SABUN CAIR LIDAH BUAYA PADA KELOMPOK ASPELIYA PONTIANAK Robiyanto Robiyanto; Rafika Sari; Pratiwi Apridamayanti; Eka Kartika Untari
GERVASI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2017): GERVASI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/gervasi.v1i1.664

Abstract

Kecamatan Pontianak Utara merupakan pusat industri di Kota Pontianak yang salah satunya dikenal sebagai produsen minuman lidah buaya. Hasil samping produk olahan lidah buaya adalah kulit lidah buaya yang sering tidak dimanfaatkan oleh pihak produsen. Limbah kulit lidah buaya diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri. Tujuan kegiatan pengabdian adalah untuk memanfaatkan limbah kulit lidah buaya menjadi sabun cair dalam bentuk pelatihan kepada produsen industri rumah tangga lidah buaya yang tergabung dalam kelompok Aspeliya (Asosiasi Pengusaha Lidah Buaya) Kota Pontianak. Formulasi sabun cair lidah buaya terdiri dari infusa kulit lidah buaya 30%, basis terdiri dari 3 minyak (minyak zaitun, minyak kelapa, dan minyak dengan perbandingan 1:1:1), asam stearate 2%, HPMC 3%, gliserin 18,75%, larutan KOH 10%, BHT 0,02%, dan akuades ad 100 ml. Uji pH, uji kadar asam lemak bebas dan alkali bebas, uji organoleptik, tinggi busa, viskositas serta bobot jenis dilakukan setelahnya. Saat pelatihan, peserta diminta untuk praktik langsung membuat sabun cair dengan bimbingan dari narasumber. Pelatihan diakhiri dengan sesi tanya jawab dan penyebaran kuesioner. Kesimpulan dari kegiatan pengabdian yaitu seluruh peserta merasakan manfaat dan termotivasi dengan adanya pelatihan. Para peserta juga berharap untuk mendapatkan pelatihan produk olahan lainnya untuk menambah pengetahuan. Kata Kunci: sabun cair, lidah buaya. AbstractPontianak Utara District is industrial centres of Pontianak city, one of them is known as aloe vera drink producing centre. Waste of the aloe vera drink product is the leave skin which is unused by producer. The aloe vera leave skin has been reported to have antibacterial effect. The purpose of this community service activity was to utilize unused aloe vera leave skin to be liquid soap by giving a workshop to home industry of aloe vera producers whom are members of Aspeliya group in Pontianak. The formulation of aloe vera liquid soap consisted of skin infusum 30%, bases (olive oil, coconut oil, and castor oil = 1:1:1), stearic acid 2%, HPMC 3%, glycerin 18,75%, KOH soln 10%, BHT 0,02%, and aquadest ad 100 ml. Acidity test (pH), free fatty acid level and free alkaline test, organoleptic test, foaming height, viscosity and density test were also conducted. During the workshop, participants were asked to practice making liquid soap with tutorial from the speaker.This workshop was finished with QA session and questionnaire distribution. The conclusion of this workshop was all participants feltthe benefit and motivated.They also expected to join another similar workshop to make other processed products to enrich their knowledge. Keywords:liquid soap, aloe vera.
Uji Fisikokimia dan Uji Iritasi Sabun Antiseptik Kulit Daun Aloe vera (L.) Burm. f Eka Kartika Untari; Robiyanto Robiyanto
Jurnal Jamu Indonesia Vol. 3 No. 2 (2018): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Tropical Biopharmaca Research Center, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1038.079 KB) | DOI: 10.29244/jji.v3i2.54

Abstract

Tanaman lidah buaya merupakan tanaman khas Kalimantan Barat yang memiliki sifat antibakteri, sehingga pada penelitian ini menjadi bahan baku utama pada sediaan sabun cair. Pada penelitian sebelumnya sediaan sabun cair antiseptik lidah buaya ini berpotensi sebagai antiseptik pada penderita ulkus diabetik, oleh karena itu diperlukan uji iritasi sebelum diberikan kepada penderita. Tujuan penelitian adalah untuk menguji sifat fisikokimia dan menentukan ada atau tidaknya efek iritasi akibat pemberian sabun cair lidah buaya pada partisipan sehat. Desain penelitian untuk uji iritasi adalah penelitian eksperimental one group pre-test and post test design yang melibatkan 12 orang partisipan. Formulasi sabun cair terdiri dari infus kulit daun lidah buaya, minyak jarak, KOH, HPMC, asam stearat, gliserin, BHT, dan akuades. Sabun cair diujikan sifat fisikokimia sebelum dilakukan uji iritasi. Uji iritasi menggunakan metode open patch test dengan mengoleskan satu kali sehari sebanyak 2 mL sabun cair ke daerah tengkuk selama 3 hari berturut-turut. Pengamatan efek iritasi pada 30 menit, 1 hari dan 3 hari setelah pengolesan. Hasil uji iritasi yang diperoleh bahwa tidak terdapat gejala iritasi berupa rasa gatal, kemerahan, kulit bengkak, dan rasa perih pada semua partisipan. Berdasarkan hasil uji tersebut dapat disimpulkan bahwa sabun cair lidah buaya tidak memiliki efek iritasi pada kulit partisipan sehat.
Keberadaan Tenaga Apoteker dan Evaluasi Pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Wilayah Kota Pontianak Robiyanto Robiyanto; Krianus Aspian; Nurmainah Nurmainah
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 6, No 2 (2019): J Sains Farm Klin 6(2), Agustus 2019
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.283 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.6.2.121-128.2019

Abstract

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor 74 Tahun 2016 Pasal 4 (empat) mewajibkan adanya tenaga Apoteker di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai (BMHP) serta pelayanan farmasi klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah apoteker dan persentase pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas wilayah Kota Pontianak. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasional dengan rancangan penelitian adalah survei deskriptif. Pengumpulan data dilakukan secara prospektif melalui lembar kuesioner berisi standar pelayanan kefarmasian yang sudah divalidasi. Responden penelitian yang dilibatkan mewakili 22 Puskesmas meliputi 6 Apoteker, 13 Tenaga Teknis Kefarmasian dan 3 Asisten Tenaga Kefarmasian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hanya 6 dari 22 Puskesmas yang memiliki Apoteker. Jumlah total Apoteker sebanyak 7 orang, di mana ada 1 Puskesmas memiliki 2 Apoteker. Pelaksanaan standar pengelolaan sediaan farmasi dan BMHP sebesar 94,16% dan pelayanan farmasi klinis sebesar 56,12%. Kesimpulan penelitian ini adalah belum semua Puskesmas di wilayah Kota Pontianak memiliki Apoteker dan keberadaan Apoteker di Puskesmas dapat meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di Puskesmas tersebut.
Kejadian Obat-Obatan Penginduksi Kerusakan Liver pada Pasien Sirosis Rawat Inap di RSUD Dokter Soedarso Kalimantan Barat Robiyanto Robiyanto; Jesica Liana; Nera Umilia Purwanti
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 6, No 3 (2019): J Sains Farm Klin 6(3), Desember 2019
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.567 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.6.3.274-285.2019

Abstract

Potensi terjadinya hepatotoksisitas karena penggunaan obat merupakan masalah klinis yang perlu diperliverkan. Risiko ini dapat menyebabkan bertambah parahnya penyakit liver yang diderita oleh pasien yang memang sudah menderita penyakit liver tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis obat yang paling berpotensi menginduksi kerusakan liver atau drug-induced liver injury (DILI) dan persentase peresepan obat berdasarkan kategori Likelihood Scores (A. B. C. D. E. E*. X). Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif melalui rekam medik pasien sirosis rawat inap tahun 2017. Sebanyak 36 pasien sirosis yang memenuhi kriteria inklusi diambil sebagai sampel penelitian. Analisa data menggunakan LiverTox database (https://livertox.nih.gov/) untuk mengetahui kategori Likelihood Scores dari masing-masing obat. Hasil penelitian menunjukkan jenis obat yang paling banyak diresepkan dan berpotensi menginduksi kerusakan liver adalah paracetamol (kategori A), ranitidin (B), cetirizin (C), spironolakton (D), furosemid (E), dan ketorolac (E*). Persentase peresepan obat berdasarkan Likelihood Scores kategori A=1.7%. B=11.6%. C=0.4%. D=13.7%. E=23.6%. E*=3.4% dan X=32.2%. Dapat disimpulkan bahwa peresepan obat yang berpotensi menginduksi keparahan fungsi liver (kategori A.B.C.D.E.E*) pada pasien sirosis rawat inap di RSUD dr. Soedarso Pontianak masih tergolong tinggi (54.4%) dan memerlukan pertimbangan klinis yang hati-hati.
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RUANGAN PENYAKIT DALAM TERHADAP PELAYANAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT PERIODE DESEMBER 2011-FEBRUARI 2012 Isnindar Isnindar; Ilham Saputra; Robiyanto Robiyanto
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 3, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.198

Abstract

Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang senantiasa dituntut untuk melakukan peningkatan kualitas pelayanan untuk memenuhi kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kepuasan pasien rawat inap di ruangan Penyakit Dalam terhadap pelayanan di Instalasi Farmasi RSUD dr. Soedarso Pontianak periode Desember 2011 – Ferbruari 2012. Responden dalam penelitian ini adalah pasien maupun keluarga pasien yang pernah mendapatkan pelayanan di Instalasi Farmasi RSUD dr. Soedarso Pontianak. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 172 orang. Proses pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan instrumen penelitian dalam bentuk kuesioner dan  pengolahan data untuk mengetahui validitas dan reliabilitas kuesioner menggunakan program SPSS 17 forwindows. Variabel  bebas yang digunakan yaitu dimensi berwujud, dimensi keandalan, dimensi ketanggapan, dimensi jaminan, dan dimensi  empati. Sedangkan variabel terikatnya yaitu tingkat kepuasan  pasien rawat inap di ruangan Penyakit Dalam terhadap pelayanan  di Instalasi Farmasi RSUD dr. Soedarso. Analisis kepuasan pada  penelitian ini menggunakan model Weighted Servqual. Hasil  penelitian diperoleh indeks kepuasan secara keseluruhan sebesar  -0.92. Sedangkan indeks kepuasan untuk setiap dimensi adalah  sebagai berikut: -1.15 untuk dimensi jaminan, -0.91 dimensi  keandalan, -0.88 dimensi empati, -0.86 dimensi berwujud dan -0.76 untuk dimensi ketanggapan. Indeks kepuasan baik secara  keseluruhan maupun setiap dimensi menunjukkan nilai negatif  yang berarti pasien masih belum merasa puas terhadap pelayanan  di Instalasi Farmasi RSUD dr. Soedarso Pontianak. Kata kunci: tingkat kepuasan, harapan, kenyataan, dimensi kepuasan
Validity and Reliability Test of Indonesian Version B-IPQ to CRF Outpatients in RSUD Soedarso Pontianak Nurul Hadisa; Ressi Susanti; Robiyanto Robiyanto
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 7, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.33340

Abstract

Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) Instrument is a questionnaire to identify and assess the patient's perception of the disease, especially patients with chronic diseases. Chronic renal failure (CRF) is one of incurable diseases with the expensive cost of care and treatment. B-IPQ instrument has never been used yet in Indonesia to assess patients’ perceptions of chronic renal failure which have experience haemodialysis especially in Pontianak, West Kalimantan. The aim of this study was to determine the validity and reliability of B-IPQ instrument in Indonesian version on CRF patients at haemodialysis room RSUD Dokter Soedarso Pontianak. This study was a non-experimental study using cross-sectional method and prospective data collection. The sample is selected using non-probability sampling method rather purposive sampling technique, 30 CRF patients who had haemodialysis in November-December 2016 were taken as respondent. The validity test was conducted using Pearson correlation (correlation values ≥0.3) and reliability test using internal consistency (Cronbach alpha coefficient ≥0.7) technique. Validity test results showed a correlation value of each question was >0.3 (p: 0.05) and reliability test results showed Cronbach alpha coefficient was 0.755>0.7 (p: 0.05). The conclusion of this study was the B-IPQ instrument in Indonesian version is valid and reliable to measure the chronic renal failure patients’perception at haemodialysis room RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Hence B-IPQ Indonesian version can be used directly to measure the perception of the disease in patients with CRF in order to help improve the quality of life of patients.