Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analisis Faktor-Faktor Kesepian pada Lansia di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat Kota Kupang: Penelitian Magistra Handayani Banfatin; Yeni Damayanti; Shela C. Pello; Marylin Susanti Junias
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.6156

Abstract

Kesepian merupakan perasaan tersisihkan, terisolasi dari lingkungan sekitar akibat kurangnya interaksi yang baik, apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi sehingga adanya penarikan diri dari lingkungan sosial. Kesepian pada lansia sendiri berkaitan dengan kurang interaksi sosial, hingga kurangnya dukungan dari anggota keluarga oleh karena itu dukungan dari keluarga dan lingkungan sosial menjadi point penting dalam mengatasi kesepian pada lansia penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesepian pada lansia di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat Kota Kupang. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskripstif dengan menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan penelitian sebanyak 6 orang menggunakan metode wawancara mendalam kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data Miles and Huberman, uji kredebilitas dengan menggunakan member check. Hasil penelitian menemukan lansia di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat Kota Kupang mengalami kesepian akibat dari ditinggal anak pergi bekerja, adanya jarak antara lansia dengan anak dan cucu, hingga adanya konflik pada lansia dengan menantu. Tanpa disadari muncul kesepian akibat dari penolakan diri pada kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan lansia di Jemaat GMIT Alfa Omega Labat Kota Kupang.
Gambaran Regulasi Emosi Pada Siswa Angkatan 52 Sekolah Polisi Negara Polda NTT: Penelitian Eunike Adriana Ndoloe; Yeni Damayanti; Shela C. Pello; R. Pasifikus Christa Wijaya
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 April - Juni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.5882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan regulasi emosi pada siswa angkatan 52 Sekolah Polisi (SPN) Negara Polda NTT. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jumlah sampel 147 siswa. Instrumen yang digunakan adalah Skala skala Emotional Regulation Questionnaire (ERQ) oleh Gross and Jhon (2003) yang telah divalidasi konstruk oleh Radde, H. A. dkk (2021) mencakup dua aspek: cognitive reappraisal dan expressive suppression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tingkat regulasi emosi berada dalam kategori tinggi sebanyak 84%. Aspek-aspek regulasi emosi juga berada dalam kategori tinggi yaitu, cognitive reappraisal 78% dan expressive suppression 78%. Kesimpulan penelitian ini adalah regulasi emosi yang dimiliki siswa Angkatan 52 SPN Polda NTT pada Tingkat yang tinggi, serta saran dari penelitian ini diharapkan agar SPN Polda NTT dapat terus memaksimalkan program yang sudah berjalan guna meningkatkan dan mempertahankan kecerdasan regulasi emosi pada siswa untuk tetap berada di kategori tinggi.
Music Performance Anxiety (MPA) pada Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Richad A. Rihi; Yeni Damayanti; Dian L. Anakaka
Observasi : Jurnal Publikasi Ilmu Psikologi Vol. 4 No. 3 (2026): Agustus : Observasi: Jurnal Publikasi Ilmu Psikologi
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/observasi.v4i3.2300

Abstract

Music Performance Anxiety (MPA) is a form of anxiety experienced when individuals perform their musical abilities in front of an audience. This condition may affect performance quality, concentration, and musicians’ psychological well-being. This study aimed to describe the level of Music Performance Anxiety among students of Nusa Cendana University who had experience in musical performance activities. A quantitative approach with a descriptive design was employed. A total of 96 students were recruited using a convenience sampling technique. Data were collected using the Music Performance Anxiety Scale, consisting of 15 items covering somatic and cognitive symptoms, performance context, and performance evaluation. Data were analyzed using descriptive statistics through univariate analysis. The results revealed that 53.1% of respondents were categorized as having high Music Performance Anxiety, while 46.9% were categorized as moderate, with no respondents in the low category. The mean score of 2.53 and a standard deviation of 0.502 indicate a relatively high tendency of performance anxiety among the participants. These findings suggest that student musicians remain vulnerable to psychological pressure in performance settings and highlight the importance of emotional regulation and anxiety management strategies in musical performance contexts.
PSYCHOLOGICAL WELL-BEING GURU NON-PLB DI SLB Natalie Angel Lyke Batoek; Yeni Damayanti; Mernon Yerlinda C. Mage; R. Pasifikus Ch. Wijaya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9760

Abstract

Psychological well-being is a fundamental pillar that ensures the sustainability of teachers' careers and the quality of instruction. However, educators with non-special education (non-PLB) backgrounds who work in Special Needs Schools (SLB) face significant challenges. These teachers often experience mental stress and technical obstacles due to limited specific knowledge in guiding children with special needs. This study aims to explore the picture of psychological well-being and identify the determinants that influence it in the SLB Negeri Pembina Kupang environment. Using descriptive qualitative methods, this study collected data through semi-structured interviews with four non-PLB teachers with less than five years of service, which were analyzed in depth using thematic analysis procedures. The research findings indicate that psychological well-being is significantly influenced by internal factors, including perseverance, resilience, emotional regulation skills, motivation for personal growth, and the meaning of the profession as a life calling that provides emotional satisfaction from student progress. In addition, external factors such as strong social support from colleagues, the principal, and parents are also crucial elements. The main conclusion is that the psychological well-being of these educators is the result of a dynamic interaction between personal capacity and socio-environmental support. These findings recommend the need for mental health strengthening programs for non-special education teachers to ensure the creation of a higher-quality inclusive education ecosystem. ABSTRAK Kesejahteraan psikologis merupakan pilar fundamental yang menjamin keberlanjutan karier serta kualitas instruksional guru, namun tantangan besar dihadapi oleh tenaga pendidik berlatar belakang non-pendidikan luar biasa (non-PLB) yang bertugas di Sekolah Luar Biasa (SLB). Para guru ini sering kali mengalami tekanan mental dan hambatan teknis karena keterbatasan pengetahuan spesifik dalam membimbing anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran kesejahteraan psikologis serta mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhinya di lingkungan SLB Negeri Pembina Kupang. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, penelitian ini mengumpulkan data melalui teknik wawancara semi-terstruktur terhadap empat guru non-PLB dengan masa pengabdian kurang dari lima tahun, yang dianalisis secara mendalam menggunakan prosedur analisis tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi secara signifikan oleh faktor internal, yang meliputi aspek ketekunan, resiliensi, kemampuan regulasi emosi, motivasi pertumbuhan pribadi, serta pemaknaan profesi sebagai panggilan hidup yang memberikan kepuasan emosional atas kemajuan siswa. Selain itu, faktor eksternal berupa dukungan sosial yang kuat dari rekan sejawat, kepala sekolah, dan orang tua siswa turut menjadi elemen krusial. Sebagai simpulan utama, kesejahteraan psikologis para pendidik ini merupakan hasil interaksi dinamis antara kapasitas personal dan dukungan lingkungan sosial-lingkungan. Temuan ini merekomendasikan perlunya program penguatan mental bagi guru non-PLB guna memastikan terciptanya ekosistem pendidikan inklusif yang lebih berkualitas.    
Gambaran Intensi Menikah Kaum Gay Pada Komunitas Independent Man of Flobamora di Kota Kupang Eunike Melinda Fointuna; M.K.P. Abdi Keraf; Yeni Damayanti; Indra Yohanes Kiling
Jurnal Media Informatika Vol. 6 No. 3 (2025): Jurnal Media Informatika
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jumin.v6i3.6100

Abstract

Pada masa dewasa awal, setiap manusia akan memiliki rasa tertarik dengan lawan jenis. Namun berbeda dengan kaum gay yang memilki rasa tertarik kepada sesama jenis. Pada umumnya, setiap pasangan akan menjadikan pernikahan sebagai final result, tetapi bagi pasangan gay, ini bukanlah suatu hal yang mudah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan prosedur pengumpulan data partisipan menggunakan metode wawancara mendalam tatap muka pada 5 partisipan dengan menggunakan teknik penentuan informan Purposive Sampling Technique. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelima partisipan memiliki intensi menikah yang rendah. Partisipan menghargai akan norma-norma yang berlaku di Indonesia baik dalam aspek agama, hukum yang berlaku, hingga budaya ketimuran yang dianut. Menurut partisipan, pernikahan bukanlah satu-satunya tujuan akhir dalam hubungan karena kebahagiaan dalam suatu hubungan tidak bergantung pada pernikahan. Hal ini dapat dilihat pada tingginya akan perceraian pada pasangan heterroseksual. Sebagian dari pasangan gay juga lebih mengutamakan hubungan yang berbasis cinta serta dukungan emosional.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI STIGMATISASI DENGAN SIKAP MENCARI BANTUAN PROFESIONAL PSIKOLOGI PADA MAHASISWA ARSITEKTUR Anna Larasanya Sogen; Feronika Ratu; Yeni Damayanti; Mardiana Artati
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14746

Abstract

Mental health issues among university students have received increasing attention due to the growing need for psychological services, yet the utilization of such services remains relatively low. One factor believed to influence this condition is perceived stigmatization toward individuals seeking professional psychological help, while studies examining this relationship among architecture students remain limited. This study aimed to examine the relationship between perceived stigmatization and attitudes toward seeking professional psychological help among students of the Architecture Study Program at Widya Mandira University, Kupang. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The population consisted of 281 active students from the Architecture Study Program at Widya Mandira University, Kupang. A total of 163 students were selected using the Krejcie and Morgan table with proportional random sampling. The instruments used were the Perceptions of Stigmatization by Others for Seeking Help (PSOSH) to measure perceived stigmatization and the Attitudes Toward Seeking Professional Psychological Help Scale–Short Form (ATSPPH-SF) to measure attitudes toward seeking professional psychological help. Data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro–Wilk normality test, linearity testing through scatterplots, and Spearman's rho correlation analysis. The descriptive analysis indicated that both perceived stigmatization and attitudes toward seeking professional psychological help were at a moderate level. The hypothesis testing revealed a strong, significant negative relationship between perceived stigmatization and attitudes toward seeking professional psychological help (ρ = −0.611, p < .001). These findings indicate that the higher the perceived stigmatization among students, the lower their attitudes toward seeking professional psychological help. Conversely, lower perceived stigmatization was associated with more positive attitudes toward seeking professional psychological help. ABSTRAK Masalah kesehatan mental pada mahasiswa semakin mendapat perhatian karena tingginya kebutuhan akan layanan psikologi, namun pemanfaatan layanan tersebut masih relatif rendah. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah persepsi stigmatisasi terhadap individu yang mencari bantuan profesional psikologi, sementara kajian mengenai hubungan kedua variabel tersebut pada mahasiswa Program Studi Arsitektur masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi stigmatisasi dengan sikap mencari bantuan profesional psikologi pada mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Widya Mandira Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Populasi penelitian berjumlah 281 mahasiswa aktif Program Studi Arsitektur Universitas Widya Mandira Kupang. Sampel penelitian berjumlah 163 mahasiswa yang ditentukan menggunakan tabel Krejcie dan Morgan dengan teknik proportional random sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perceptions of Stigmatization by Others for Seeking Help (PSOSH) untuk mengukur persepsi stigmatisasi dan Attitudes Toward Seeking Professional Psychological Help Scale–Short Form (ATSPPH-SF) untuk mengukur sikap mencari bantuan profesional psikologi. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas Shapiro–Wilk, uji linearitas melalui scatterplot, dan uji hipotesis menggunakan korelasi Spearman's rho. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa persepsi stigmatisasi maupun sikap mencari bantuan profesional psikologi berada pada kategori sedang. Hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan dengan kekuatan hubungan yang kuat antara persepsi stigmatisasi dan sikap mencari bantuan profesional psikologi (ρ = -0,611; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi stigmatisasi yang dimiliki mahasiswa, semakin rendah sikap mereka terhadap pencarian bantuan profesional psikologi. Sebaliknya, semakin rendah persepsi stigmatisasi, semakin positif sikap mahasiswa terhadap pencarian bantuan profesional psikologi.