Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEKAMBUHAN PASIEN SKIZOFRENIA Bratha, Shinta Dewi Kasih; Febristi, Anisa; Surahmat, Raden; Khoeriyah, Salis Miftahul; Rosyad, Yafi Sabila; Fitri, Ainil; Rias, Yohanes Andy
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 11 (2020): JURNAL KESEHATAN - Special Issue Hari Kesehatan Nasional 2020
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v11i0.399

Abstract

Latar Belakang: Penderita Skizofrenia seringkali mengalami kekambuhan setelah kembali ke masyarakat. Hal ini menjadi persoalan serius karena banyak faktor yang mennjadi pencetus kekambuhan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil-hasil penelitian terkait faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan pasien skizofrenia.Metode: Penelitian ini menggunakan strategi penelusuran artikel penelitian dari tahun 2015 hingga 2020 dengan database pubmed dan google scholar dan menggunakan kata kunci tertentu. Sebanyak 14 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dinilai dengan Duffy’s Critical Apraisal Approach sehingga terpilih 8 artikel yang masuk ke dalam superior average dengan rata-rata skor 278.Hasil: Hasil telaah pada 8 artikel menunjukkan bahwa  sebagian besar faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan antara lain karakteristik pasien, kepatuhan minum obat (6 artikel), dan dukungan sosial (5 artikel).Simpulan: Faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan skizofrenia antara lain karakteristik responden (pendidikan, pekerjaan, usia, riwayat keluarga), kepatuhan minum obat, dukungan social dan dukungan keluarga
PENGARUH TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF TERHADAP NILAI ANKLE BRACHIAL INDEX (ABI) PADA PASIEN DM TIPE II DI POLI PENYAKIT DALAM RSI SITI RAHMAH PADANG Nicen Suherlin; Anisa Febristi; Dian Rahmi
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 8, No 2 (2025): November 2025
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v8i2.30732

Abstract

Penyakit arteri perifer merupakan komplikasi makrovaskular diabetes melitus tipe II yang sering menyebabkan gangguan perfusi dan risiko amputasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh terapi relaksasi otot progresif terhadap nilai Ankle Brachial Index (ABI) pada pasien DM tipe II di Poli Penyakit Dalam RSI Siti Rahmah Padang. Penelitian quasi-eksperimen pretest-posttest without control group melibatkan 25 responden dengan intervensi PMR 2 kali/hari selama 6 hari (15 menit/sesi). Pengukuran ABI menggunakan sphygmomanometer manual, dianalisis dengan Paired T-test dan regresi linier (α=0,05). Rata-rata ABI pretest 0,76±0,12 meningkat menjadi 0,85±0,11 posttest (p=0,001), dengan kepatuhan PMR 86,7% berkorelasi positif kuat terhadap peningkatan ABI (r=0,62; p=0,001). Durasi DM memengaruhi baseline ABI (r=-0,48; p=0,015). Terapi relaksasi otot progresif efektif meningkatkan perfusi perifer pada pasien DM tipe II, terutama responden dengan kepatuhan tinggi.Kata kunci: ankle brachial index; diabetes melitus; relaksasi otot progresif
EDUKASI POST-TRAUMATIC STRESS DISORDER (PTSD) PADA PENYINTAS PASCA BENCANA DI PASIR PUTIH, KECAMATAN KOTO TANGAHKOTA PADANG Anisa Febristi; Nurhamidah Rahman; Alvira Dona Linda; Salwa Hafiza
Jurnal Abdimas Saintika Vol 7, No 2 (2025): November Jurnal Abdimas Saintika
Publisher : Stikes Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jas.v7i2.31043

Abstract

Bencana dapat menimbulkan dampak psikologis jangka panjang, salah satunya Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai PTSD dapat menyebabkan keterlambatan dalam mengenali gejala dan mencari pertolongan, sehingga diperlukan edukasi sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental pada penyintas pascabencana.Tujuan: Mengetahui edukasi PTSD dalam meningkatkan pengetahuan penyintas pasca bencana.Metode PKM dilaksanakan pada 5 Juli 2025 di Komplek Pasir Putih, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, dengan jumlah responden sebanyak 30 orang yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pemberian edukasi.Dengan Hasil Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan (63,3%), berusia 36–50 tahun (43,3%), berpendidikan SMA (36,7%), dan bekerja sebagai ibu rumah tangga (36,7%). Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 11,83 pada pretest menjadi 17,27 pada posttest, dengan peningkatan sebesar 5,44 poin (±46%). Proporsi responden dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 20,0% menjadi 86,7%, sedangkan kategori pengetahuan kurang menurun dari 30,0% menjadi 0%..Kesimpulan: Edukasi PTSD efektif meningkatkan pengetahuan penyintas pascabencana mengenai pengertian, gejala, faktor risiko, dan penanganan awal PTSD. Edukasi kesehatan mental perlu menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial pascabencana untuk meningkatkan deteksi dini, mengurangi stigma, dan mendorong pencarian bantuan secara tepat waktu.Kata kunci: edukasi, Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), penyintas bencana,kesehatan mental.