Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Elasticity of Growth in the Processing Industry Towards the Contribution of Labour Absorption in the Processing Industry in the City of Palu Alfiana, Alfiana; Nurnaningsih, Nurnaningsih; Sading, Yunus; Paembonan, Laendatu; Yohan, Yohan
JOURNAL OF HUMANITIES, SOCIAL SCIENCES AND BUSINESS Vol. 4 No. 4 (2025): AUGUST
Publisher : Transpublika Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55047/jhssb.v4i4.1915

Abstract

The manufacturing sector is a strategic pillar of regional economic development due to its significant role in generating added value and creating employment opportunities. However, in Palu City, the growth of this sector has not consistently translated into proportional increases in employment absorption. This study aims to analyze the elasticity of manufacturing sector growth with respect to its contribution to employment absorption in Palu City over the period 2019–2023. A descriptive quantitative approach was employed, utilizing secondary data obtained from the Central Bureau of Statistics (BPS) of Palu City and relevant agencies. The data set comprises the manufacturing sector’s Gross Regional Domestic Product (GRDP), the number of workers in the manufacturing sector, and the total workforce in Palu City. The analysis involved calculating both output and employment growth rates, followed by the computation of labor absorption elasticity using the elasticity ratio formula. The results reveal that the relationship between manufacturing output growth and employment absorption in Palu City is volatile and not always proportional, as indicated by the elasticity measurements of manufacturing GRDP growth relative to employment growth in the sector. Certain years recorded negative elasticity values, reflecting inverse relationships driven by internal sectoral dynamics such as efficiency gains, technological adoption, and external shocks including the COVID-19 pandemic. The study concludes that although the manufacturing sector makes a substantial contribution to economic growth, its impact on job creation remains suboptimal. As such, integrated policies are needed to align industrial growth with sustainable employment and improve regional welfare.
Korelasi antara Jumlah UMKM, Jumlah Penduduk, Tenaga Kerja dengan Pertumbuhan Ekonomi Kota Palu Tahun 2019-2023 Muliyani, Ni Kadek; Suirlan, Rita; Lutfi, Muhtar; Nurnaningsih, Nurnaningsih; Tallesang, Mukhtar
DIALEKTIKA: Jurnal Ekonomi dan Ilmu Sosial Vol 10 No 2 (2025): Dialektika: Jurnal Ekonomi dan Ilmu Sosial
Publisher : Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36636/dialektika.v10i2.7048

Abstract

Economic growth measures the progress of a region. In Palu City, economic development is influenced by various factors, including total of MSMEs, population, and workforce. MSMEs play a role as driver of the local economy, while the total of population and workforce reflects the potential of human resources that can contribute to economic growth. The purpose this study is analyze the relationship between the total of MSMEs, population and workforce with economic growth in Palu City in 2019-2023. The research method uses quantitative approach with correlational associative research type. The analysis method uses Pearson Correlation. The results of the analysis show that the total of MSMEs has positive but insignificant correlation with economic growth, with low level of closeness, the total of population has positive but insignificant correlation with economic growth, with moderate level of closeness and the workforce has a positive but insignificant correlation, with moderate level of closeness with economic growth.
Strategi Pengembangan Usaha Tani Jagung di Desa Tambu: Strategies for Developing Corn Farming in Tambu Village Risnawati; Armin Muis; Nurnaningsih; Yunus Sading; Rita Suirlan
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 8: Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8345

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan usaha tani jagung di Desa Tambu dengan menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi keberhasilannya. Pendekatan yang digunakan adalah analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi petani. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara kepada tujuh responden yang terdiri dari kepala desa dan petani jagung. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Tabel IFAS (Internal Factor Analysis Summary) dan EFAS (External Factor Analysis Summary) untuk menetapkan bobot dan rating pada setiap faktor strategis. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha tani jagung di Desa Tambu memiliki kekuatan seperti tanah subur, tenaga kerja melimpah, dan permintaan pasar tinggi, serta peluang berupa dukungan pemerintah dan infrastruktur distribusi. Namun, masih terdapat kelemahan seperti keterbatasan modal, teknologi tradisional, dan akses input yang rendah, serta ancaman dari perubahan iklim dan fluktuasi harga. Strategi yang dihasilkan terdiri dari empat jenis: SO, WO, ST, dan WT, yang disesuaikan dengan kondisi lokal. Penerapan strategi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan usaha tani jagung di Desa Tambu
Analisis Pendapatan Petani Kakao Di Kecamatan Parigi Selatan: Analysis Of Cocoa Farmers' Income in South Parigi District Anggi dela Puspita; Edhi Taqwa; Nurnaningsih; Andi Herman Jaya; Musdayanti
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 8: Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan petani kakao di Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan subsektor perkebunan yang berperan penting dalam perekonomian pedesaan dan ekspor nasional. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pengumpulan data primer melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner kepada 30 petani kakao. Data yang dikumpulkan meliputi biaya produksi, jumlah produksi, harga jual, dan total penerimaan. Analisis dilakukan dengan menghitung total biaya tetap, biaya variabel, total penerimaan, serta pendapatan bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total produksi kakao mencapai 36.160 kg dengan harga jual rata-rata Rp 148.000/kg, menghasilkan total penerimaan sebesar Rp 5.350.880.000. Total biaya produksi tercatat sebesar Rp 918.230.700, sehingga total pendapatan bersih petani sebesar Rp 4.432.649.300 atau rata-rata Rp 147.721.643 per petani per musim tanam. Temuan ini menunjukkan bahwa usahatani kakao di wilayah ini tergolong sangat menguntungkan. Faktor harga jual yang tinggi dan produktivitas yang optimal menjadi penentu utama pendapatan petani. Hasil studi ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk pengembangan kebijakan dan peningkatan kesejahteraan petani kakao di daerah potensial lainnya.
Komparasi Pendapatan Usahatani Jagung Di Desa Modo: Comparison of Corn Farming Income in Modo Village Dewi sartin; Nurnaningsih; Armin Muis; Yunus Sading; Rita Suirlan
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 8: Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8450

Abstract

Jalur hibrida (Zea mays L)memainkan peran penting dalam perekonomian nasional dan merupakan komoditas pertanian yang sangat penting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pendapatan petani jagung hibrida di Desa Modo, Kecamatan Bukal, yang menggunakan sistem olah tanah (OT) dan tanpa olah tanah (TOT). Metode deskriptif kualitatif digunakan, menggunakan analisis perbandingan. Data dikumpulkan melalui survei yang dilakukan terhadap 30 petani, yang terdiri dari 15 petani OT dan 15 petani TOT. Biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan dievaluasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani yang menggunakan sistem OT menghasilkan penerimaan sebesar Rp15.600.000 dan pendapatan bersih Rp4.751.000, sementara petani yang menggunakan sistem TOT menghasilkan penerimaan sebesar Rp11.700.000 dan pendapatan bersih Rp1.046.000. Meskipun biaya produksi sistem OT sedikit lebih tinggi, yaitu Rp10.849.000 dibandingkan dengan TOT Rp10.654.000, selisih penerimaan yang signifikan membuat sistem OT lebih menguntungkan, meskipun TOT mengalami kerugian Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem OT lebih efektif dan layak digunakan untuk meningkatkan pendapatan petani. Untuk memaksimalkan transisi ke sistem OT, diperlukan dukungan pelatihan, pendampingan teknis, dan akses ke sarana produksi.