Claim Missing Document
Check
Articles

The implementation of effective communication principles in the tuberculosis cadre re-training activity Santoso, Windu; Sudarsih, Sri
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 4, No 2 (2019): December
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.85 KB) | DOI: 10.30604/jika.v4i2.202

Abstract

Effective communication is one of the abilities that must be possessed by TB cadres (tuberculosis) in carrying out their duties. This ability must always be honed so that we need a form of re-training to improve communication skills in providing counseling and training in the community. This research aims to measure the effective communication skills of TB cadres (tuberculosis) in the Re-Training Activity which is carried out for 4 days. The method used in this research is descriptive. Retrieval of data with an observation sheet in the form of a checklist designed according to seven components in effective communication. The population was all TB cadres who participated in the Re training and a sample of 27 cadres. The results showed 59.3 percent had effective communication skills. Based on the criteria of effective communication on the criteria of the suitability of messages with the needs of respondents, the use of communion channels, empathy is above 81.5 percent, while the components of message clarity, completeness of planning and organizing messages, feedback and understanding of messages as well as the contents of messages delivered on average still not enough. The results of this research are very useful as a basis for determining the follow up of cadre re training so that cadres will be more trustworthy and able to improve their abilities in carrying out their duties. ABSTRAKKomunikasi Efektif merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh kader TB (tuberkulosis) dalam melaksanakan tugas. Kemampuan ini harus selalu terasah sehingga diperlukan sebuah bentuk re-training untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dalam memberikan penyuluhan dan pelatihan dimasyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan komunikasi efektif pada kader TB (tuberkulosis) dalam Kegiatan Re-Training yang dilaksanakan selama 4 hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif. Pengambilan data dengan lembar observasi berupa ceklis yang di rancang sesuai tujuh komponen dalam komunikasi efektif. Populasi adalah seluruh kader TB yang mengikuti Re training dan sampel sebesar 27 orang kader. Hasil penelitian menunjukkan 59,3 persen memiliki kemampuan komunikasi efektif. Berdasarkan kritria komunikasi efektif pada kriteria kesesuaian pesan dengan kebutuhan responden, penggunaan saluran komuni, sikap empati di atas 81,5 persen, sedangkan pada komponen kejelasan pesan, kelengkapan perencanaan dan pengorganisasian pesan, umpan balik dan pemahaman pesan serta isi pesan yang disampaikan rata-rata masih kurang. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat sebagai dasar dalam menentukan tindak lanjut re training kader sehingga kader akan lebih percaya dari dan mampu meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugasnya.
PENILAIAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT BERDASARKAN GLOBAL INTERPROFESIONAL THERAPEUTIC COMMUNICATION SCALE : Assessment of Nurses` Therapeutic Communication Based on The Global Interprofessional Therapeutic Communication Scale Sudarsih, Sri; Santoso, Windu
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 10 No. 2 (2024): JIKep | Juni 2024
Publisher : UPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33023/jikep.v10i2.2141

Abstract

Pendahuluan : Komunikasi terapeutik memiliki peranan penting dalam mencapai hasil layanan kesehatan yang optimal bagi pasien. Komunikasi yang tidak memadai berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi pasien, termasuk kesalahan pengobatan dan bahaya lain yang tidak disengaja. Tujuan:  Penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi terapeutik perawat yang dinilai dengan Global Interprofessional Therapeutic Communication Scale. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, dimana sampel penelitiannya adalah perawat di beberapa rumah sakit di Jawa Timur. Purposive sampling digunakan untuk memilih sampel penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 113 perawat.  Instrumen penelitian ini menggunakan instrumen Global Interprofessional Therapeutic Communication Scale (GITCS). Hasil:  Penelitian didapatkan bahwa 47,8% responden memiliki kemampuan komunikasi terapeutik pada level rendah dan hanya sebagian kecil responden yang memiliki kemampuan komunikasi terapeutik pada level tinggi yaitu sebesar 12,4% responden. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa nilai rata-rata beberapa indikator diantaranya building trust, patient cantered dan potential barriers masih berada di bawah rata-rata sehingga mempengaruhi penilaian komunikasi terapeutik perawat.Kesimpulan:  Dasar dari hubungan perawat-pasien dalam komunikasi terapeutik diantaranya adalah kepercayaan. Komunikasi yang berpusat pada pasien, yang mencerminkan nilai-nilai keperawatan serta perawat harus mampu mengidentifikasi hambatan dalam komunikasi terapeutik.
PERAN SAPTA PESONA BAGI PENGEMBANGAN PARIWISATA DI YOGYAKARTA Sudarsih, Sri; Widisuseno, Iriyanto
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 1 (2024): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.8.1.36-40

Abstract

ABSTRAKPengabdian masyarakat ini menfokuskan pada peran sapta pesona bagi pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Pengabdian pada masyarakat ini ditujukan kepada pengemudi becak wisata sebagai salah satu pelaku pariwisata di Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah ceramah dan diskusi interaktif mengenai sapta pesona dan pariwisata. Ceramah dilakukan untuk para pengemudi becak wisata agar memahami tentang peran sapta pesona kaitannya dengan pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Sedangkan diskusi interaktif bertujuan agar para pengemudi becak wisata mudah memahami materi dan penerapannya sapta pesona dalam dunia pariwisata. Sapta pesona merupakan nilai-nilai yang mencerminkan rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan. Kondisi seperti ini sangat menetukan keberhasilan pembangunan dalam bidang pariwisata. Yogyakarta terkenal dengan tempat wisata yang sangat lengkap, bahkan diiringi kuliner khas daerah ini. Untuk mencapai terwujudnya sapta pesona di kota Yogyakarta ini maka setiap elemen masyarakat dan pemerintah senantiasa berbenah agar para wisatawan merasa nyaman yang ditunjang lingkungan sekitar yang mencerminkan nilai-nilai dasar kepariwisataan sehingga wisatawan merasa nyaman.Kata kunci: pariwisata, pengemudi becak, sapta pesona, nyaman ABSTRACTThis community service focuses on the role of Sapta Pesona for tourism development in Yogyakarta. This community service is aimed at tourist pedicab drivers as one of the tourism actors in Yogyakarta. The method used in this community service is lectures and interactive discussions regarding Sapta Pesona and tourism. The lecture was held for tourist pedicab drivers to understand the role of Sapta Pesona in relation to tourism development in Yogyakarta. Meanwhile, the interactive discussion aims to make it easy for tourist pedicab drivers to understand the material and its application of Sapta Pesona in the world of tourism. Sapta Pesona are values that reflect a sense of security, order, clean, cool, beautiful, friendly and memorable. Conditions like this really determine the success of development in the tourism sector. Yogyakarta is famous for its very complete tourist attractions, even accompanied by culinary specialties from this region. To achieve the realization of Sapta Pesona in the city of Yogyakarta, every element of society and government is always improving so that tourists feel comfortable, supported by the surrounding environment which reflects the basic values of tourism so that tourists feel comfortable.Keywords: tourism, rickshaw drivers, sapta pesona, comfortable
PENTINGNYA SIKAP BIJAK DALAM BERMEDIA SOSIAL Sudarsih, Sri; Widisuseno, Iriyanto
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2023): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.7.2.111-115

Abstract

 Pengabdian masyarakat ini konsentrasi pada urgensi sikap bijaksana dalam menggunakan media sosial bagi pengemudi becak pariwisata di Yogyakarta. Media sosial merupakan salah satu media yang dapat menunjang pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah sosialisasi dan diskusi interaktif. Sosialisasi ditujukan agar para pengemudi becak memahami mengenai sikap bijak dalam bermedia sosial. Diskusi interaktif bertujuan agar lebih mudah memahami materi dan realisasinya dalam masyarakat. Media sosial merupakan suatu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk sarana berkomunikasi. Sikap bijak bermedia sosial yang seharusnya ditunjukkan oleh pengemudi becak adalah media sosial seharusnya menjadikan seseorang semakin memahami makna hidupnya, mampu menyelesaikan persoalan hidupnya dengan bijaksana, memahami orang lain dengan berempati, dan mengedepankan integritas, sikap dan tingkah lakunya selalu mencerminkan nilai-nilai etika yang mendasari setiap aspek hidupnya. Integritas harus dijaga karena menentukan kualitas seseorang. Kata kunci: bijak, media sosial, pariwisata, pengemudi becak  This community service focuses on the urgency of being wise in using social media for tourist pedicab drivers in Yogyakarta. Social media is one of the media that can support tourism development in Yogyakarta. The methods used in this community service are socialization and interactive discussions. The outreach is intended so that pedicab drivers understand wise attitudes in using social media. The interactive discussion aims to make it easier to understand the material and its realization in society. Social media is a tool that can be used as a means of communication. The wise attitude in using social media that should be shown by rickshaw drivers is that social media should make a person understand the meaning of his life more, be able to solve his life problems wisely, understand other people with empathy, and prioritize integrity, his attitudes and behavior always reflect the underlying ethical values. every aspect of his life. Integrity must be maintained because it determines a person's quality.Keywords: wise, social media, tourist, rickshaw driver
PEMBERDAYAAN KEGIATAN WALKING TOUR DAN PENGUATAN KARAKTER GENERASI MUDA DI KOTA SEMARANG Widisuseno, Iriyanto; Sudarsih, Sri
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2023): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.7.2.%p

Abstract

ABSTRAK Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini fokus pada penguatan karakter generasi muda melalui Walking tour di kota Semarang. Tujuannya melakukan penguatan karakter pemuda melalui kegiatan Walking tour. Selain itu juga memberdayakan kegiatan Walking tour agar dapat mendorong pertumbuhan kegiatan ekonomi kreatif masyarakat setempat. Di saat era global ini para pemuda perlu memiliki kesiapan sikap mental yang menggambarkan sebuah karakter pemuda yang kuat dan berintegritas tinggi. Metode penguatan karakter menggunakan cara berwisata edukatif yang dikemas melalui kegiatan Walking tour di tempat wisata warisan budaya di wilayah kota Semarang. Peserta kegiatan adalah pemuda mahasiswa pencinta wisata budaya. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan, antusiasme pemuda dalam mengikuti kegiatan Walking tour, memahami keefektifan Walking tour sebagai cara edukatif dan promotive, tumbuh sikap apresiatif di kalangan pemuda terhadap nilai-nilai keluhuran budaya pada objek-objek wisata sebagai refleksi awal pertumbuhan sikap mental positif pemuda. Kata kunci: walking tour, penguatan karakter, generasi muda, era globalABSTRACTThis community service activity focuses on strengthening the character of the younger generation through a Walking tour in the city of Semarang. The aim is to strengthen youth character through Walking tour activities. Apart from that, it also empowers Walking tour activities to encourage the growth of creative economic activities in the local community. In this global era, young people need to have a prepared mental attitude that depicts a strong youth character and high integrity. The method of strengthening character uses educational tourism which is packaged through Walking tour activities at cultural heritage tourist attractions in the Semarang city area. The activity participants are young students who love cultural tourism. The results of this community service show that the enthusiasm of young people in participating in Walking tour activities, understanding the effectiveness of Walking tours as an educational and promotive method, growing appreciative attitudes among young people towards the noble cultural values of tourist attractions as an initial reflection of the growth of positive mental attitudes among young people.Keywords: walking tour, character strengthening, young generation, global era 
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia Berdasar pada Nilai-Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sudarsih, Sri
Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi Vol 8, No 2 (2024): Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/anuva.8.2.275-284

Abstract

Penelitian ini terfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Tujuan penelitian ini adalah mengungkapkan peran penting nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai landasan pijak dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif bidang filsafat. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis sintesis dengan unsur metodis interpretasi. Rumusan hasil dalam penelitian ini adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan manfaat bagi manusia, tetapi di sisi lain menunjukkan ketidakjelasan orientasi kemanusiaan. Oleh karena itu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia harus dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan sehingga tujuannya dapat tercapai. Tujuan dikembangkannya ilmu pengetahuan dan teknologi adalah untuk tujuan kemanusiaan (menyejahterakan, mencerdaskan, dan memartabatkan). Nilai-nilai kemanusiaan memiliki peran penting sebagai dasar moralitas agar ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia berkembang secara adil dan beradab. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus memberikan keadilan, baik keadilan terhadap Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, dan alam semesta.  Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya berkembang sesuai dengan hakikat manusia monopluralis, yaitu keseimbangan, keselarasan, dan keharmonisan antara monodualis susunan kodrat, monodualis sifat kodrat, dan monodualis kedudukan kodrat. Seorang ilmuwan seharusnya memiliki integritas moral dan intelektual yang tercermin dalam sifat kejujuran, kepantasan, dan kepatutan, serta sikap objektif dan juga terbuka terhadap kritik.
HUMAN EVOLUTION OF PIERRE TEILHARD DE CHARDIN AND ITS CONTRIBUTION TO THE UNDERSTANDING OF HARMONIOUS FAMILIES IN INDONESIA Sudarsih, Sri; Soeprapto, Sri; Siswanto, Joko
Journal of Islam and Science Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.613 KB) | DOI: 10.24252/jis.v3i2.4404

Abstract

A harmonious community life will bring a positive logical consequence for national development. The harmony society is determined by the relationship between individuals of one with the other individual. A sense of belonging, mutual respect, and respect is an important factor for the creation of a harmonious community life. Such values that should be fundamental in any behavior in daily life began to be abandoned. Evolution according to Teilhard de Chardin at the fact is that the motion is continuously development from simple led to the perfection. Humans will continue to evolve toward perfection, i.e. Point Omega. The Omega point is God. God is the Alpha and Omega.  Perfection will be achieved through personalized with love in the presence of inverting.  Chastity value in theory of human evolution according to Chardin will base the vital value. Love is the energy that will be capable of carrying a human on personalized, therefore love must be present in every activity of individuals as members of a family in Indonesia so that it will reach the personalization that will bring a logical consequence in harmony and happiness.
Peran Perempuan Dalam Melestarikan Nilai-Nilai Moral Tradisional Pada Masyarakat Jepang Sudarsih, Sri
KIRYOKU Vol 5, No 2 (2021): Jurnal Kiryoku
Publisher : Vocational College of Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/kiryoku.v5i2.283-300

Abstract

The purpose of this study is to explore traditional moral values in Japanese society that are able to survive and be implemented in everyday life in the modern era. In addition, it is able to shape the distinctive character of the Japanese, including the role of women who contribute to maintaining traditional moral values. This research is a qualitative research field of philosophy with the object of formal values and the material object is the development of women's position in Japanese society. The results achieved in the study: Japanese women played an important role in the history of the struggle until Japan achieved prosperity and glory until now. This is based on the reason that Japanese women are able to maintain and preserve traditional moral values that still exist through early education in the family environment. These values can shape the character of children from an early age in the family. A family with character brings logical consequences to the life of a community with character so that it affects the culture as a whole.
ETIKA BERKOMUNIKASI BAGI PENGEMUDI BECAK SEBAGAI PELAKU PARIWISATA DI YOGYAKARTA Sudarsih, Sri; Widisuseno, Iriyanto; Wiyatasari, Reny; Mulyadi, Budi; Rahmah, Yuliani
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.388 KB) | DOI: 10.14710/nmjn.v%vi%i.17205

Abstract

Yogyakarta merupakan kota pariwisata dengan kekayaan budayanya. Pariwisata dikembangkan secara meneyeluruh dengan berbasis pada budaya. Artinya pengembangan pariwisata yang tetap didasarkan pada nilai-nilai budaya Yogyakarta. Becak sebagai alat transportasi tradisional merupakan salah satu icon pariwisata di Yogyakarta. Desain becak dengan pengemudinya turut serta menentukan perkembangan pariwisata di Yogyakarta. Salah satu hal terpenting adalah etika berkomunikasi dengan para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Etika komunikasi harus dikedepankan karena menentukan makna pariwisata secara keseluruhan. Komunikasi yang mengedepankan etika akan menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan damai sehingga para wisatawan merasa ingin berlama-lama berwisata di Yogyakarta. Harapan ke depannya adalah wisatawan yang datang ke Yogyakarta akan meningkat dari tahun ke tahun.Kata kunci : etika, komukasi, pengemudi becak, icon pariwisata, budaya, pariwisataYogyakarta is a tourism city with riches culture.Tourism developed thoroughly withbased on culture.It means the development of tourism continue to be based on culture value ofYogyakarta.Pedicabs as a traditional transportation is one of tourism icon in Yogyakarta.Design of pedicabs with the driver also as well as to determine improving tourism inYogyakarta. One of the things it is all about ethics communicate with tourists both domestic andforeign.Ethics communication should be put forward because determine the meaning oftourism as a whole. Communication that puts forward standard ethics going to create a moodthat safe comfortable and peaceful so that the tourists felt like linger traveled in Yogyakarta.Hope in the future is tourists who come to Yogyakarta will increase from year to year.Keywords : Ethics, communication, the pedicab driver, a tourism icon, culture, tourism
MORALITAS DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI YOGYAKARTA Sudarsih, Sri; Widisuseno, Iriyanto
Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 2 (2024): HARMONI
Publisher : Departemen Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/hm.8.2.132-136

Abstract

ABSTRACTPengabdian masyarakat ini terfokus pada moralitas dalam pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Tujuan pengabdian masyarakat ini memberikan wawasan kepada para pengemudi becak wisata mengenai pentingnya mengedepankan sikap-sikap yang mencerminkan moralitas karena pengemudi becak merupakan salah satu pelaku pariwisata sehingga menentukan juga wajah Yogyakarta sebagai kota pariwisata. Yogyakarta di samping sebagai kota pariwisata, juga sebagai kota pelajar. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah memebrikan ceramah dan diskusi yang sifatnya interaktif. Diskusi interaktif bertujuan agar para peserta lebih mudah memahami materi dan implementasinya terutama kaitannya dengan pelayanan terhadap para wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Moralitas menjadi landasan pengembangan pariwisata di Yogyakarta, artinya sikap–sikap moral yang tinggi menjadi sesuatu yang imperatif atau keharusan kaitannya dengan pelayanan terhadap wisatawan. Prinsip filosofi Hamemayu Hayuning Bawana (Senantiasa mengusahakan kebaikan dunia) tidak terlepas dengan prinsip Mangasah Mingising Budhi (Senantiasa memperbaiki ketajaman budi) dan Memasuh Malaning Bumi (Membersihkan dunia dari segala bentuk ketidakbaikan). Prinsip ini dapat ditafsirkan senantiasa memelihara kebaikan dunia dan memperbaiki diri.Kata kunci: moralitas, pariwisata, pengemudi becak, Yogyakarta.ABSTRACTThis community service focuses on morality in developing tourism in Yogyakarta. The aim of this community service is to provide insight to tourist pedicab drivers regarding the importance of prioritizing attitudes that reflect morality because pedicab drivers are one of the tourism actors, thus also determining the face of Yogyakarta as a tourism city. Yogyakarta, apart from being a tourism city, is also a student city. The method used in this community service is to provide interactive lectures and discussions. The interactive discussion aims to make it easier for participants to understand the material and its implementation, especially in relation to services for tourists visiting Yogyakarta. Morality is the basis for tourism development in Yogyakarta, meaning that high moral attitudes are something that is imperative or a necessity in connection with services to tourists. The philosophical principle of Hamemayu Hayuning Bawana (Always seeking the good of the world) is inseparable from the principles of Mangasah Mingising Budhi (Always improving the sharpness of the mind) and Memasuh Malaning Bumi (Cleansing the world from all forms of unkindness). This principle can forever preserve the good of the world and improve oneself.Keywords: morality, tourism, becak driver, Yogyakarta.