Claim Missing Document
Check
Articles

PENERAPAN INQUIRY BASED LEARNING BERORIENTASSI VLOG UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA SISWA KELASS VIII C SMPN 4 KUTA UTARA Ni Made Mellia Putri Pradnyandari; I Nyoman Adi Susrawan; I Nyoman Suparsa
JIPBSI (Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol. 12 No. 1 (2026): JIPBSI
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unmas Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This study aimed to improve the speaking skills of eighth-grade students at SMP Negeri 4 Kuta Utara through the implementation of Inquiry-Based Learning oriented toward Vlog media. The research employed a Classroom Action Research design based on the Kemmis and McTaggart model conducted in two cycles, including planning, action, observation, and reflection. The participants were 30 students. Data were collected through observation, speaking tests, questionnaires, and documentation, and analyzed using qualitative and quantitative techniques. The results showed an improvement in students’ speaking skills, indicated by an increase in the average score from 68.23 in the pre-cycle to 77.53 in Cycle I and 84,36 in Cycle II, with classical mastery reaching 83%. Therefore, Inquiry-Based Learning oriented toward Vlog media is effective in enhancing students’ speaking skills. This improvement was also reflected in the positive responses given by the students, with 90% of them showing positive perceptions toward the learning process. These results were supported by the implementation of structured learning steps, including orientation, peer learning activities, problem formulation, hypothesis formulation, data collection, hypothesis testing, and drawing conclusions. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VIII C SMP Negeri 4 Kuta Utara melalui penerapan metode Inquiry Based Learning berorientasi Vlog. Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, tes keterampilan berbicara, angket, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa, yang ditandai dengan kenaikan nilai rata- rata siswa sedari 68,23 pada pra-siklus menjadi 77,53 pada siklus I dan meningkat menjadi 84,36 pada siklus II. Ketuntasan belajar klasikal mencapai 83%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan metode Inquiry Based Learning berorientasi media Vlog efektif digunakan dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Hal ini juga dapat dilihat dari respons positif yang diberikan oleh siswa yaitu sebanyak 90% respons positif yang diberikan, dan didukung oleh penerapan langkah - langkah pembelajaran berupa orientasi, pembelajaran dengan rekan sejawat, perumusan masalah, perumusan hipotesis, pengumpulan data, uji hipotesis dan kesimpulan.
Bahasa Ronggga sebagai Bahasa Vokalik I Nyoman Suparsa
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5182

Abstract

This study aims to find out whether the Rongga language (hereinafter abbreviated as bR) is a vocal language, and the reasons why bR is said to be a vocal language. This study uses a qualitative method. Data was collected using observation methods, field linguistics, literature assisted by elicitation techniques, record keeping, and recording. Data were analyzed qualitatively and presented descriptively. Based on the results of this study it was found that bR is a vocal language. This is based on (1) segmentation the series of letters <mb>, <nd>, <ngg> constitute a sound segment: labial prenasal inhibition [ᵐb], alveolar prenasal inhibition [ⁿd], and velar prenasal inhibition [ᵑg] so that the word -words in bR like <mbalu> are pronounced as [ᵐbalu] 'storm', <ndate> [ⁿdate] 'create', and <nggare> [ᵑgare] 'gali', and are not pronounced as [ǝmbalu], [ǝndate], and [ǝngare]. (2) Based on the canonical pattern of syllables and words, bR has a canonical pattern that always ends in a vowel, and, (3) every word from the Indonesian language that ends in a consonant, both in the middle and final positions of syllables and words when absorbed in bR always conforms to the canonical pattern of bR syllables and words. For example, <pagar> [paɠa].'fence', <adat> [aɗa] 'custom', <easy> [gapa] 'easy'. Thus, the Rongga language is a vocalic language. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bahasa Rongga (selanjutnya disingkat bR) merupakan bahasa vokalik, dan alasan bR mengapa dikatakan sebagai bahasa vokalik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode observasi, linguistik lapangan, kepustakaan dibantu teknik elisitasi, pencatatan, dan perekaman. Data dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa ternyata bR merupakan bahasa vokalik. Hal ini didasarkan pada (1) secara segmentasi rangkaian huruf <mb>, <nd>, <ngg> merupakan sebuah segmen bunyi: hambat pranasal labial [ᵐb], hambat pranasal alveolar [ⁿd], dan hambat pranasal velar [ᵑg] sehingga kata-kata dalam bR seperti <mbalu> dilafalkan sebagai [ᵐbalu] ‘badai’, <ndate> [ⁿdate] ‘buat’, dan <nggare> [ᵑgare] ‘gali’, dan tidak dilafalkan sebagai [ǝmbalu], [ǝndate], dan [ǝnggare]. (2) Secara pola kanonik sukukata dan kata, bR mempunyai pola kanonik yang selalu berakhir dengan vokal, dan, (3) setiap kata dari bahasa Indonesia yang berakhir dengan konsonan, baik pada posisi tengah maupun akhir sukukata dan kata ketika terserap dalam bR selalu menyesuaikan diri dengan pola kanonik sukukata dan kata bR. Contohnya <pagar> [paɠa].’pagar’, <adat> [aɗa] ‘adat’, <gampang> [gapa] ‘gampang’. Dengan demikian, bahasa Rongga merupakan bahasa vokalik.