Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Menjaga relasi manusia dengan alam: Konstruksi ekoteologis pada religi budaya "Allah Dalam Tubuh" Masyarakat Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud Meily Meiny Wagiu; Jekson Berdame; Subaedah Luma
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 2: Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i2.263

Abstract

Awareness of preserving nature and maintaining ecological harmony is essential to address the current environmental issues. This perspective can be seen in one of the local beliefs of the Musi Village community, which is the belief in "God Within the Body" (ADAT). Although ADAT belief is not one of the recognized six religions, it is a cultural heritage or local belief. ADAT's belief in principles and behavior contains ecological values that regulate the relationship between God and humans, humans with each other, and humans with nature. This research aims to reflect an ecoteological This qualitative studywisdom, particularly in Musi Village, Lirung District, Talaud Regency. This qualitative study uses descriptive methods based on literature review, observation, and interview data. The results of this study are expected to construct an ecoteology based on local culture.AbstrakKesadaran menjaga alam dan keselarasan ekosistem sangat perlu demi mengatasi permasalahan ekologis saat ini. Cara pandang ini dapat diihat pada salah satu kepercayaan lokal masyarakat Desa Musi, yaitu kepercayaan "Allah Dalam Tubuh" (ADAT). Sekalipun kepercayaan ADAT tidak termasuk dalam enam agama yang diakui, namun ini adalah aliran kepercayaan yang menjadi warisan budaya atau kepercayaan lokal. Kepercayaan ADAT dalam prinsip dan perilaku hidup mengandung nilai ekologi yang saat baik, yang mengatur hubungan antara Allah dan manusia, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan sebuah refleksi kajian ekoteologis yang berbasis pada kearifan budaya lokal, khususnya di Desa Musi, Kecamatan Lirung, Kabupaten Talaud. Ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode deskriptif, berbasis pada kajian literatur, yang juga mempergunakan data hasil observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengonstruksi sebuah bentuk ekoteologi yang berbasis pada budaya lokal
Membangun Perilaku Beragama yang Moderat melalui Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Kristiani pada Tradisi Budaya Lokal di Minahasa Semuel Selanno; Meily Meiny Wagiu; Subaedah Luma; Wolter Weol
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 6, No 2: Oktober 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v6i2.202

Abstract

Religious behavior is not only influenced by religious activities carried out in places of worship but also in educational spaces, from the basic level to higher education. To alleviate various acts of violence in the name of religion, the government has launched a religious moderation program to accept and respect differences in religious identity amid pluralism. This article offers a construction of multicultural Christian education based on valuable local wisdom in shaping moderate religious behavior, especially in Christia-nity. Using a constructive descriptive method through literature review to obtain information related to moderation and multicultural education, this study found that local cultural wisdom, especially in Minahasa, is rich in values that promote togetherness and respect for differences. Therefore, a cultural or local wisdom approach in constructing Christian religious education can shape moderate religious behavior. AbstrakPerilaku beragama tidak hanya dipengaruhi dari kegiatan keagamaan yang dilakukan di tempat-tempat ibadah, melainkan juga di ruang pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dalam rangka meredakan berbagai aksi kekerasan atas nama agama, maka pemerintah mancanangkan program moderasi beragama, yang bertujuan untuk dapat menerima dan menghormati perbedaan identitas agama di tengah pluralitas. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi pendidikan kristiani multikultural yang berbasis pada kearifan lokal yang berguna membentuk perilaku beragama yang moderat, khususnya dalam konteks Kekristenan. Dengan menggunakan metode deskriptif konstruktif melalui penelusuran literatur guna memperoleh informasi terkait moderasi dan pendidikan multikultural, penelitian ini mendapati bahwa kearifan budaya lokal, khususnya di Minahasa, sarat dengan nilai-nilai yang mengusung kebersamaan dan menghormati perbedaan. Itu sebabnya, kami menyimpulkan bahwa pendekatan budaya atau kearifan lokal dalam mengonstruksi pendidikan agama kristiani mampu membentuk perilaku beragama yang moderat.