Claim Missing Document
Check
Articles

Efek Ekstrak Limbah Cair Empulur Batang Sagu Baruk (Arenga microcarpha) Terhadap Fotoreduksi Besi(III) Ginting, Haider Ali; Rorong, Johnly Alfreds; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.12285

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan fenolik, flavonoid, dan tanin dari limbah cair empulur batang sagu baruk dan menguji kemampuanya dalam fotoreduksi Fe3+. Empulur batang sagu baruk diekstrak dengan pelarut akuades secara maserasi selama 2 jam. Selanjutnya ekstrak hasil maserasi dianalisis kandungan fitokimia fenolik, flavonoid dan tanin dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian fotoreduksi dilakukan pada cahaya fluorescent dengan konsentrasi 1000 mg/L selama 5 jam dengan variasi pH 4, 5, 6, 7 dan 8 serta kapasitas daya 42, 62 dan 104 Watt. Analisis ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk menunjukkan konsentrasi fenolik 112,04 mg asam galat/L konsentrasi flavonoid 30,10 mg kuersetin/L dan konsentrasi tanin 22,02 mg katekin/L.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak limbah cair empulur batang sagu baruk pada pH 6 dengan kapasitas daya 104 Watt mempunyai kemampuan yang paling baik untuk mereduksi Fe3+ dibandingkan dengan ekstrak lainya.Research had been carried out to analyze the photochemicals phenolic, flavonoids, and tanins in liquid waste of pith trunk sago baruk and to test its ability in photoreduction. Pith trunk extracted with aquadest in maceration for two hours. The extracts resulted were then analyzed for phenolic, flavonoids and tanins phytochemicals using spectrophotometer UV-Vis. The photoreduction tests performed on fluorescent light with concentration of 1000 mg/L for five hours with variation pH 4, 5, 6, 7 and 8 and on energy capacities of 42, 62 dan 104 Watt. Analysis of liquid waste of pith trunk sago baruk extract showed that phenolic concentration was 112,04 mg gallic acid/L, flavonoid concentration was 30,10 mg quersetin/L and tannin concentration was 22,02 mg chatechin/L. The results showed that extract liquid waste pith trunk sago baruk at pH 6 with energy capacities 104 Watt had best ability in photoreduction Fe3+.
Kinetika Fotodegradasi Remazol Yellow Menggunakan Zeolit A Terimpregnasi TiO2 Titdoy, Suhardi; Wuntu, Audy D.; Kamu, Vanda S.
Jurnal MIPA Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.5.1.2016.11192

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang kinetika fotodegradasi remazol yellow dengan menggunakan zeolit A terimpregnasi TiO2. Jumlah TiO2 divariasikan dalam perbandingan berat zeolit A : TiO2 sebesar 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, dan 1:1,4 g/g. Eksperimen kinetika dilakukan melalui penentuan konsentrasi remazol yellow yang tersisa setelah interaksi zeolit A : TiO2 dengan larutan remazol yellow yang disinari UV pada waktu 10, 20, 30, 40, 50, 60, dan 90 menit. Selanjutnya data dianalisis mengikuti model kinetika reaksi orde-1. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin tinggi jumlah TiO2 dalam material  zeolit A : TiO2 maka semakin kecil laju fotodegradasi. Perbandingan berat 1:0,4 menghasilkan laju fotodegradasi paling besar dengan konstanta laju sebesar 0,0184 menit-1.A research on photodegradation kinetics of remazol yellow using TiO2-impregnated A-type zeolite has been done. The amount of TiO2 was varied in weight ratio of zeolite A : TiO2 which were 1:0.4, 1:0.6, 1:0.8, 1:1, 1:1.2, and 1:1.4 g/g. Kinetics experiment was performed by determining the concentration of remazol yellow remained after the interaction of zeolite A : TiO2 with remazol yellow solution that is illuminated by UV-light at 10, 20, 30, 40, 50, 60 and 90 minutes. Data obtained was analyzed using first-order reaction kinetics model. The results showed that the higher the amount of TiO2 in the mixture of zeolite A : TiO2 material, the smaller the rate of photodegradation. The weight ratio of 1:0.4 produced the greatest rate of photodegradation with rate constant of 0.0184 min­­­­-1.
Analisis Kandungan Formalin Dan Boraks Pada Ikan Asin Dan Tahu Dari Pasar Pinasungkulan Manado Dan Pasar Beriman Tomohon Ma’ruf, Hasna; Sangi, Meiske S.; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.6.2.2017.17073

Abstract

Ikan asin dan tahu merupakan sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, mudah diperoleh, dan harganya murah. Bahan pangan ini, cepat mengalami proses pembusukan yang disebabkan oleh pertumbuhan mikroorganisme, oleh sebab itu produsen ikan asin dan tahu sering menggunakan bahan pengawet agar produk ini tidak cepat rusak, terutama bahan pengawet yang tidak diizinkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara kualitatif keberadan formalin dan boraks pada ikan asin dan tahu serta menentukan secara kuantitatif jika produk pangan tersebut positif mengandung formalin dan boraks. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan asin dan tahu yang diperoleh dari pasar Pinasungkulan Manado dan pasar Beriman Tomohon. Untuk analisis kualitatif formalin digunakan kit pengujian dan pereaksi Schiff sedangkan untuk analisis secara kuantitatif formalin digunakan spektrofotometer UV-Vis. Untuk analisis kualitatif boraks digunakan kertas tumerik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan asin yang dijual di pasar Pinasungkulan Manado dan Pasar Berimam Tomohon tidak mengandung boraks tetapi positif mengandung formalin dengan kadar rata-rata 0,099-0,289 ppm sedangkan tahu yang dijual di pasar Pinasungkulan Manado dan pasar Berimam Tomohon tidak terdeteksi mengandung formalin dan boraksSalted fish and tofu are sources of proteinconsumed by most people in Indonesia for their price and availability. These products, however, are easily deteriorated by microorganism activity and the producers tend to use preservatives to avoid the product degradation. In fact, some producers use chemicals which are prohibited for preservation because of their effects on human health. This research was aimed to qualitatively test the presence of formaldehyde and borax and to quantitatively examine the concentration of these chemicals in salted fish and tofu when the qualitative test showed positive result. Samples used in this research were salted fish and tofu obtained from traditional markets Pinasungkulan Manado and BerimanTomohon. Test kit and Schiff solution were used in qualitative test and spectrophotometer UV-Vis was used in quantitativetest of formaldehyde. Tumeric paper, on the other hand, was used qualitative analysis of borax. The results showed that salted fish obtained from Pinasungkulan Manado and Beriman Tomohondid not contain borax, but containedformaldehyde at the level of 0,099-0,289 ppm. On the other hand, tofu obtained from the traditional markets did not find to contain
Aktivitas Antibakteri Komposit Ag – Tulang Ikan Cakalang pada Staphylococcus aureus Pandelaki, Elmi C.J.; wuntu, Audy D.; Aritonang, Henry F.
Jurnal MIPA Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.7.2.2018.21436

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antibakteri komposit Ag – tulang ikan cakalang pada Staphylococcus aureus. Tulang ikan cakalang dikeringkan, dihaluskan dan diayak 65 mesh kemudian dicampur dengan larutan perak nitrat dengan perbandingan Ag : tulang ikan sebesar 5:1 , 4:2, dan 3:3  selama 1 jam pada suhu 70 ℃. Campuran kemudian di kalsinasi pada suhu 650 ℃ selama 2 jam. Uji aktivitas antibakteri dari komposit yang terbentuk dikerjakan dengan metode sumuran menggunakan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antibakteri pada perbandingan 4:2 dengan lama waktu pencampuran 1 jam paling efektif untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambat sebesar 25 mm. Penelitian ini menunjukkan valorisasi dari produk sampingan industri makanan seperti tulang ikan untuk membentuk bahan yang berpotensi berharga sebagai bahan implan tulang yang resistan terhadap infeksi bakteriResearch has been conducted to determine the antibacterial activity of Ag - Bone skipjack tuna toward Staphylococcus aureus. Skipjack tuna bone dried, mashed and sifted 65 mesh then mixed with silver nitrate solution with a ratio of Ag : fish bones of 5:1, 4:2, and 3:3 for 1 hour at 70 ℃. The mixture was then calcined at 650 ℃ for 2 hours. Antibacterial activity test of the composites formed was done by the method of wells using the bacteria Staphylococcus aureus. The results showed that antibacterial activity at a ratio of 4: 2 with a one-hour mixing time was most effective for inhibiting Staphylococcus aureus bacteria with a 25 mm inhibition zone diameter. This study shows the valorization of food industry byproducts such as fish bones to form potentially valuable ingredients for bone implants resistant to bacterial infections
Aktivitas Fotokatalitik TiO2 – Karbon Aktif dan TiO2 – Zeolit pada Fotodegradasi Zat Warna Remazol Yellow Poluakan, Michelle; Wuntu, Audy; Sangi, Meiske S.
Jurnal MIPA Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.4.2.2015.9038

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas fotokatalitik dari modifikasi katalis dan adsorben TiO2 – karbon aktif dan TiO2 – zeolit pada degradasi zat warna remazol yellow. Penelitian ini menggunakan metode fotodegradasi dengan iradiasi sinar UV. Zeolit sintetis dibuat dari campuran larutan silikat dan larutan aluminat dan karbon aktif yang digunakan adalah arang komersil. Sintesis TiO2 – zeolit dibuat dengan melarutkan TiO2 dan zeolit dalam etanol absolut 99% kemudian dikalsinasi. Sintesis TiO2 – karbon aktif dilakukan dengan cara sonifikasi. Selanjutnya proses fotodegradasi oleh sinar UV terhadap remazol yellow yang dibuat dengan variasi konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TiO2 – karbon aktif mendegradasi remazol yellow dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan TiO2 – zeolit. Persentasi remazol yellow terdegradasi oleh TiO2 – zeolit yang tertinggi sebesar 83% pada konsentrasi awal 20 ppm dan untuk TiO2 – karbon aktif mampu mendegradasi sampai 95% pada konsentrasi awal 30 ppm.A research has been conducted to determine photocatalytic activities of photocatalyst and adsorbent modifications of TiO2 - Activated Carbon (TiO2-AC) and TiO2 - Zeolite . This study was done using photodegradation methode by UV light irradiation. Synthetic zeolite was made from mixture of silicat solution and aluminat solution and activated carbon used was obtained from commercial charcoal. The synthesis of TiO2 – zeolite was made by dissolving TiO2 and zeolite in absolute ethanol 99% and then calcinated. The synthesis of TiO2 – activated carbon was made by sonification. The following process was photodegradation by UV light irradiation on remazol yellow dye with various concentration of 2, 4, 6, 8, 10, 20, 30, 40, and 50 ppm. The results showed that TiO2-AC was capable of degradating remazol yellow more than TiO2 – Zeolite could do. The highest percentage of remazol yellow degradated by TiO2 – Zeolite was 83% on initial concentration of 20 ppm, whereas TiO2-AC could do 95% on initial concentration of 30 ppm.
Fotodegradasi Zat Warna Metanil Yellow Menggunakan Fotokatalis TiO2-Karbon Aktif Togas, Christmas; Wuntu, Audy D.; Koleangan, Harry S. J.
Jurnal MIPA Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.3.2.2014.5857

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mempelajari pengaruh penambahan karbon aktif (KA) pada fotokatalis TiO2 serta aktivitas fotokatalitiknya dalam proses fotodegradasi zat warna metanil yellow. Penelitian diawali dengan pembuatan KA dari tempurung kelapa, kemudian dilakukan modifikasi fotokatalis TiO2–KA. Eksperiman fotodegradasi metanil yellow oleh fotokatalis TiO2–KA dilakukan dengan perbandingan berat TiO2:KA sebesar 9,9:0,1 dan 9,5:0,5 dan konsentrasi metanil yellow 2–50 ppm, serta variasi waktu penyinaran sinar UV selama 1, 2, 3, 4, 5, 19 dan 20 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase proses fotodegradasi tertinggi diperoleh pada perbandingan berat TiO2:KA (9,9:0,1) dan aktivitas fotodegradasi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya waktu penyinaran.A research had been conducted to study the effect of the addition of activated carbon (AC) on TiO2 photocatalyst and its photocatalytic activity in photodegradation process of metanil yellow dye. The research was performed through the preparation of activated carbon from coconut shell and modification of photocatalyst TiO2–AC. Experiment of metanil yellow photodegradation by photocatalyst TiO2–AC was performed at the weight ratio of TiO2:AC of 9,9:0,1 and 9,5:0,5 with the concentrations of metanil yellow of 2–50 ppm, and time variations of UV rays irradiation of 1, 2, 3, 4, 5, 19 and 20 hours. The results showed that the highest percentage of photodegradation process obtained at the weight ratio of TiO2:AC of 9,9:0,1 and the photodegradation activity was increased along with increasing irradiation time
AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK AIR TEPUNG PELEPAH AREN (Arenga pinnata) Onggeteua, Fita M.; Sangi, Meiske S.; Wuntu, Audy D.
CHEMISTRY PROGRESS Vol 13, No 1 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.13.1.2020.30207

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antiinflamasi dari beberapa dosis ekstrak fraksi air tepung pelepah aren terhadap tikus putih galur wistar (Rattus norvegicus L.) yang diinduksi karagenan berdasarkan nilai persen inhibisi radang. Metode yang digunakan untuk pengujian antiinflamasi adalah dengan induksi karagenin 1% sebanyak 0,5 mL pada telapak kaki belakang hewan uji 1 jam sebelum perlakuan terhadap tikus diberikan secara peroral. Hasil penelitian menunjukkan dosis yang paling bagus dalam menghambat inflamasi yaitu dosis 30% dimana mempunyai nilai persen inhibisi udem lebih tinggi dari kontrol positif (Na-diklofenak). Pada uji Kolmogorov-Smirnov, data persen inhibisi udem pada semua kelompok uji dari jam 1 sampai ke 6 terdistribusi normal (ρ≥ 0.05). Pada uji Homogenitas Levene, data persen inhibisi udem pada semua kelompok uji dari jam 1 sampai ke 6 terdistribusi homogen (ρ≥ 0.05). Pada uji One-way ANOVA, nilai signifikan dari persentase inhibisi udem jam ke-1 sampai jam ke-6 yaitu berbeda secara bermakna (ρ≤0,05). Pada uji BNT (LSD), dosis 30% memiliki nilai signifikan (ρ≤ 0.05). Sedangkan dosis 20% dan 25% tidak memiliki nilai signifikan. Maka dapat disimpulkan bahwa data persen inhibisi udem telapak kaki tikus dengan dosis 30% berbeda secara bermakna.The present  study aimed to discuss the anti-inflammatory activity of several doses of extract of water fraction of palm sugar flour on rats of Wistar (Rattus norvegicus L.) strain induced carrageenan based on percent inhibitory inflammation values. The method used to test anti-inflammatory is by induction of caragenin 1% by 0.5 mL on the soles of the test animal's feet 1 hour before evaluation of rats given orally. The results showed that the best dose against inflammation was the 30% dose which had a higher percent inhibition value than positive control (Na-diclofenac). In the Kolmogorov-Smirnov test, percent data inhibited in all test groups from 1 to 6 hours were normally distributed (ρ≥0.05). In the Levene Homogeneity test, percent inhibition data in all test groups from 1 to 6 hours were homogeneously distributed (ρ≥0.05). In the One-way ANOVA test, the significant value of the percentage of inhibition of the 1st to 6th hour edema was different from the contribution (ρ≤0.05). In the LSD test (LSD), a dose of 30% has a significant value (ρ≤0.05). While the doses of 20% and 25% have no significant value. Then it can be concluded that the percent data inhibits rat foot edema at a dose of 30% significantly different. 
PEMBUATAN NANOKOMPOSIT KITOSAN/TiO2/Ag DAN ANALISIS AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI Bungan, Gladys K; Aritonang, Henry F; Wuntu, Audy D
CHEMISTRY PROGRESS Vol 14, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/cp.14.1.2021.34128

Abstract

Penelitian tentang pembuatan nanokomposit kitosan/TiO2/Ag telah dilakukan dengan menggunakan TiO2sebanyak6 gram dan konsentrasi AgNO3 yaitu 5 mM menggunakan metode reduksi dan impregnasi. Nanokomposit yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan X-Ray diffractometry (XRD), Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive x-Ray Spectroscopy (SEM-EDS) dan menganalisis aktivitasnya sebagai anti bakteri terhadap Staphylococcus aureus (Gram positif) dan Escherichia coli (gram negatif). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran nanokomposit yang dihasilkan sebesar 56,93 nm. Difraktogram XRD muncul puncak karakteristik partikel TiO2 tetapi partikel Ag kurang terlihat jelas. Namun, berdasarkan data EDS, kedua partikel ini ditemukan pada membran kitosan. Ini menunjukkan bahwa sangat sedikit partikel Ag yang terbentuk atau keterbatasan alat XRD dalam mendeteksi sejumlah kecil partikel. Namun demikian, nanokomposit menunjukkan kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan kedua bakteri ini.ABSTRACTResearch on the manufacture of chitosan/TiO2/Ag nanocomposites has been carried out using 6 grams of TiO2 and 5 mM AgNO3 using reduction and impregnation methods.The resulting nanocomposites were characterized using X-Ray diffraction (XRD), Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive x-Ray Spectroscopy (SEM-EDS) and analyzed their activity as anti-bacteria against Staphylococcus aureus (Gram positive) and Escherichia coli (gram negative).The results showed that the resulting nanocomposite size was 56.93 nm. The XRD diffractogram showed the peak characteristics of TiO2 particles but the Ag particles were less visible.However, based on EDS data, the two particles were found on the chitosan membrane. This indicates that very few Ag particles are formed or the limitations of XRD devices in detecting a small number of Ag particles.However, the nanocomposites demonstrated their ability to inhibit the growth of these two bacteria.
Kualitas Air Sungai Dimembe Di Sekitar Pertambangan Emas Tanpa Izin Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara Makatipu, Christian D.; Koleangan, Harry S.J.; Wuntu, Audy
Jurnal MIPA Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.8.2.2019.23512

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menentukan tingkat pencemaran air sungai Dimembe  dengan Parameter yang diukur adalah pH, TDS, TSS, DO, BOD, COD serta penentuan kadar logam yaitu Hg, Pb, Cd, Mn dan Cu. Hasil pengujian setiap parameter pada keempat titik sampel secara berturut-turut sebagai berikut : pH : T1 (7,4) T2 (7,06) T3 (7,14) dan T4 (7,35). COD : 2, 8, 3 dan 3 mg/L. BOD : 1, 1,2, 1 dan 1 mg/L. DO : 6,44, 6,64, 6,85 dan 6,64 mg/L.   TSS : 11, 10,5, 12 dan 9,5 mg/L. TDS : 210, 198, 230 dan 242 mg/L. Hg : < 0,0004 mg/L pada keempat titik sampel. Cu :< 0.0004 mg/L pada keempat titik sampel. Pb : T1 < 0,0006 mg/L, T4 < 0,0008 mg/L sedangkan untuk T2 dan T3 tidak terbaca pada alat yang digunakan karena jumlah kandungan logamnya sedikit. Mn :< 0,0008 mg/L pada setiap titik sampel. Cd : 0.002, 0.002, 0.002, dan 0.0014 mg/L. Hasil pengujian untuk setiap parameter dan kandungan logam memiliki nilai yang tidak melewati batas standar baku mutu yang ditetapkan dalam PP No. 82 Tahun 2001 sehingga dapat dinyatakan kualitas air sungainya masih baikResearch has been carried out to determine the level of contamination of Dimembe river water with the parameters measured are pH, TDS, TSS, DO, BOD, COD and determination of metal content namely Hg, Pb, Cd, Mn and Cu. The test results for each parameter on the four sample points are respectively as follows: pH: T1 (7.4) T2 (7.06) T3 (7.14) and T4 (7.35). COD: 2, 8, 3 and 3 mg / L. BOD: 1, 1,2, 1 and 1 mg / L. DO: 6.44, 6.64, 6.85 and 6.64 mg / L. TSS: 11, 10,5, 12 and 9.5 mg / L. TDS: 210, 198, 230 and 242 mg / L. Hg: <0,0004 mg / L on all four sample points. Cu: <0,0004 mg / L on all four sample points. Pb: T1 <0,0006 mg / L, T4 <0,0008 mg / L while for T2 and T3 it is not readable on the tool used because of the small amount of metal content. Mn: <0,0008 mg / L at each sample point. Cd: 0.002, 0.002, 0.002, and 0.0014 mg / L. The test results for each parameter and metal content have values that do not exceed the limits of the quality standard set in PP No. 82 of 2001 so that the river water quality can be stated is still good
Pemurnian Kondensat Hasil Pembuatan Gula Aren (Arenga pinnata) dengan Menggunakan Arang Aktif Tidore, Rosdiana; Pontoh, Julius S.; Wuntu, Audy D.
Jurnal MIPA Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jm.1.1.2012.429

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memproses kondensat hasil pengolahan gula aren melalui proses pemurnian dengan menggunakan adsorben arang aktif dari tempurung kelapa, menganalisis komponen kimia penyebab bau pada kondensat dengan teknik HPLC (High Performance Liquid Chromatography) serta menganalisis daya serap beberapa jenis arang aktif dari tempurung kelapa. Arang aktif yang digunakan memiliki daya serap yang bervariasi, yaitu 37-45%, 45-55%, 56-63% dan 70-85%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arang aktif dari tempurung kelapa dapat digunakan dalam proses pemurnian kondensat dan berdasarkan hasil analisis HPLC (Hig Performance Liquid Chromatography) terdapat tiga senyawa kimia yang menyebabkan bau pada konsendat. Arang aktif yang memiliki kapasitas adsorpsi yang besar yaitu arang aktif dengan daya serap 70-85% mampu menghilangkan bau hingga volume kondensat 4.497mL/g arang aktif.
Co-Authors Abdul R.H. Korompot Andre G Kalensun Bando, Reksih Evander Bolilera, Theressa Bungan, Gladys K Christmas Togas Colling, Erningsi Dewi A Bukasa Djoni Hatidja Djoni Hatidja Edi Suryanto Edi Suryanto Feti Fatimah Ghazaly R. Umaternate Grace Aprianne Bellatrix Patiung Guntur Pasau Haider Ali Ginting, Haider Ali Harry Koleangan Harry S. J. Koleangan Harry S.J Koleangan Harry S.J Koleangan Harry S.J. Koleangan Harry S.J. Koleangan Henry Aritonang Henry F. Aritonang, S.Si., M.Si. Herling D. Tangkuman Jacobus, Meyffi Merrylin Jemmy Abidjulu Johnly Alfreds Rorong Julius Pontoh Julius S. Pontoh Kakame, Dewi Y. N. Koleangan, Harry Korompot, Abdul R.H. Kumanaung, Maureen Lengkong, Vanda Lidya I Momuat Lidya I. Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lidya Irma Momuat Lusiana Eka Sari Maanari, Chaleb Paul Ma’ruf, Hasna Makatipu, Christian D. Marini Runtu Mariska Margaret Pitoi Martin Aprilino Tambunan, Martin Aprilino Maureen Kumaunang Maureen Kumaunang Max R.J. Runtuwene Meiske S Sangi Meiske S Sangi Meiske S. Sangi Meiske Sientje Sangi, Meiske Sientje Michelle Poluakan, Michelle Mira Marlinda Muzakir Rahalus, Muzakir Norrytha L Wuntu Onggeteua, Fita M. Pandelaki, Elmi C.J. Pangajow, Stoflly E. M. Prasetyo, Yudhie E Pujiarti, Pujiarti Rizky B. Holle Rosdiana Tidore Runtu, Marini Sanusi Gugule Silvana Yoce Tuwohingide Stifanus Billy Pelle Suhardi Titdoy, Suhardi Syamsi, Ibnu Darmawan Talita Kojong Taringan, Agres K. Tatinting, Gabriel Dinnydio Tumbel, Elsa D. Tumbelaka, Riddel M M Y Tumbelaka, Riddel M.M.Y. TUMUAHI, FIRGIN PRITTY DEISYELLA Vanda Kamu Vanda Lengkong Vanda S Kamu Vanda S. Kamu Vanny H. Siwi Wuntu, Norrytha L Wuntu, Norrytha L. Yudhie E Prasetyo