Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

GAMBARAN KEKUATAN KELUARGA PADA ETNIS JAWA: STUDI PADA KASUS TUNGGAL Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v1i2.1473

Abstract

Family Strengths Framework mengulas lebih banyak tentang kekuatan positif yang dimiliki oleh keluarga dan anggota keluarga di dalamnya, sehingga dapat bertahan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus tunggal yang bertujuan untuk menggali perspektif partisipan terhadap kekuatan keluarga dengan latar belakang budaya Jawa. Partisipan dipilih karena merepresentasikan keluarga harmonis yang dilatarbelakangi oleh budaya Jawa. Penelitian dilakukan di Yogyakarta. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan adanya satu temuan khas yaitu konsep “Iso lan Gelem”, atau dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “Bisa dan Mau”. Konsep “Iso lan Gelem” ini merupakan kekuatan positif keluarga dari partisipan, yang selama ini digunakan oleh partisipan sebagai acuan dalam hidup berkeluarga. Konsep “Iso lan Gelem” yang dikemukakan oleh partisipan memiliki kesepadanan makna dengan 5 dimensi dari Family Strengths Framework, yaitu: (a) komunikasi positif, (b) apresiai dan afeksi, (c) kemampuan untuk mengatasi stres dan krisis secara efektif, (d) kesejahteraan Spiritual, dan (e) komitmen. Sedangkan 1 dimensi dalam Family Strengths Framework yang tidak ditemukan pada data dari partisipan adalah dimensi “menikmati waktu bersama”.
PENGUKURAN KEPUASAN PASIEN RAWAT-INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA Gunawan, Shirly; R. Aritonang R., Lerbin; Keni, Keni; Risnawaty, Widya
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.553 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v1i1.1891

Abstract

This community service aims to measure the level of satisfaction of inpatients in the Tarakan Region General Hospital, Jakarta based on the assessment of satisfaction instruments distributed in the form of questionnaire sheets to 218 inpatients from all rooms. Components assessed in this satisfaction instrument include 5 dimensions, consisting of Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance and Empathy. The evaluation results of this instrument showed a satisfaction index of 81% for Tangibles, 82.7% for Reliability, 78.8% for Responsiveness, 84% for Assurance, and 80.9% for Empathy. In general, the majority of inpatients are satisfied with the quality of services provided by the Tarakan Regional General Hospital, Jakarta.ABSTRAK:Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan, memiliki tanggung jawab dalam memberikan layanan kesehatan yang bersifat perorangan secara paripurna, seperti layanan rawat inap. Keberadaan dan keberlangsungan usaha suatu rumah sakit sangat ditentukan oleh tingkat kepuasan pasien terhadap layanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Layanan suatu rumah sakit dianggap baik, tidak hanya dinilai dari kelengkapan fasilitas yang disediakan, melainkan juga tergantung dari sikap dari sumber daya manusia yang terlibat dalam layanan kesehatan tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien rawat-inap Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Jakarta berdasarkan penilaian instrumen kepuasan yang didistribusikan berupa lembar kuesioner kepada 218 pasien rawat-inap dari seluruh ruangan. Komponen yang dinilai dalam instrumen kepuasan ini meliputi 5 dimensi yang terdiri dari Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance dan Empathy. Hasil evaluasi instrumen ini menunjukkan indeks kepuasan 81% untuk Tangibles, 82,7% untuk Reliability, 78,8% untuk Responsiveness, 84% untuk untuk Assurance, serta 80.9% untuk Empathy. Secara umum, sebagian besar pasien rawat-inap puas atas kualitas layanan yang diberikan Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Jakarta.
Peer Counselor Training for High School Students in West Jakarta Risnawaty, Widya; Kartasasmita, Sandi; Suryadi, Denrich
MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 3 No 2 (2019): MITRA: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitra.v3i2.350

Abstract

The present community service activities were held to provide peer counselor training for high school Students in West Jakarta. Results from our survey showed several problems such as high achievement demand from parents, disparity between peer groups, and verbal abuse from parents. Despite these problems, students prefer to share their problems with their peers to consulting their problems with the Guidance and Counseling (GC) teacher, subject teacher, or homeroom teacher. To address this problem, the solution offered was to prepare assistance for GC teachers by giving training to selected students so that they are able to help other students, that is as peer counselors. Students who were trained must pass a selection process to meet standard qualifications as peer counselors. The peer counselor training aimed to provide competency-based knowledge and skills as a counselor. The task of these peer counselors was to act as peer assistants who can accommodate stories and complaints from peers based on basic counselling skills. Peer counselors are expected to help reduce psychological tension experienced by peers in need. The implementation stages included the following: socializing the program, implementation of training with 14 sessions, practices and supervisions, and evaluation program. Through the training, the students were successfully introduced to simple theories and counseling skills to trainees. After 6 simulated exercises, each participant experienced better counseling skills. However, to keep improving their skills, it is necessary that the trainees be given a periodic training and a strong support from the school, especially from GC teachers.
STUDI DESKRIPTIF-KOMPARATIF SIMTOM KECEMASAN DAN DEPRESI PADA MAHASISWA/I DI UNIVERSITAS X Chandra, Vivian; Satiadarma, Monty P.; Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 1 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i1.7531.2020

Abstract

College students are facing transitions in many aspects, and one of them is the educational challenges. Various types of academic stress may cause anxiety and depression. Hence, it is necessary to provide a description of anxiety and depression prevalences for further interventions. Researchers used DASS as screening instrument and gathered data from 371 students. From these findings, there were more students with anxiety or depression symptoms than those who did not. Anxiety was most found in moderate degree; while depression was most found in mild degree. Such results indicated that mental health awareness and psychological services are necessary to be endorsed for the sake of students’ wellbeing. Mahasiswa merupakan kelompok populasi yang mengalami transisi dalam berbagai aspek, salah satunya adalah dalam tantangan pendidikan. Ragam tantangan dalam dunia perkuliahan berpotensi untuk menyebabkan permasalahan psikologis, seperti stress dan depresi. Oleh karena itu, perlu diperoleh gambaran mengenai simtom kecemasan dan depresi guna ditindaklanjuti. Peneliti menggunakan kuesioner DASS sebagai instrument skrining pada 371 mahasiswa. Dari hasil temuan, ternyata lebih banyak mahasiswa/i yang mengalami simtom kecemasan atau depresi dibandingkan yang tidak mengalami simtom. Tingkat kecemasan yang paling prevalen adalah taraf sedang; taraf depresi yang paling prevalen adalah taraf ringan. Berdasarkan pemaparan data, kesadaran akan kesehatan mental dan layanan psikologis perlu untuk digalakkan demi kesejahteraan mental mahasiswa.
PENGARUH ART THERAPY TERHADAP PREGNANCY-SPECIFIC DISTRESS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI KEHAMILAN PERTAMA Anastasia Nadya Caestara; Monty P. Satiadarma; Widya Risnawaty
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v3i1.3485

Abstract

Pregnancy-specific distress (PSD) yang merupakan perasaan khawatir atau terganggu terkait gejala fisik, perubahan bentuk tubuh, perubahan hubungan interpersonal dengan orang lain, proses persalinan, kesehatan bayi, cara merawat bayi, dan risiko dari perawatan medis yang dilakukan pada masa kehamilan. PSD dapat diatasi dengan art therapy dalam bentuk menggambar dan melukis agar partisipan dapat mengekspresikan perasaan negatif yang menyebabkan PSD. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan apakah art therapy dengan menggambar dan melukis berpengaruh dalam menurunkan PSD. Karakteristik partisipan penelitian adalah perempuan dewasa awal yang sedang hamil pertama kali, memiliki usia kehamilan trimester pertama, dan mengalami PSD yang diukur dengan alat ukur Revised Prenatal Distress Questionnaire (NuPDQ). Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method dengan desain one-group pretest posttest design. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 6 orang partisipan. Hasil penelitian menunjukkan art therapy efektif untuk menurunkan PSD pada seluruh partisipan. Art therapy dapat membantu partisipan mengekspresikan emosi dengan menggambar dan melukis. Pregnancy-specific distress (PSD) is a feeling of worry or disturbance related to physical symptoms, changes in body shape, changes in interpersonal relationships with others, labor, baby's health, how to care for babies, and the risk of medical care during pregnancy. PSD can be overcome with art therapy in the form of drawing and painting so that participants can express negative feelings that cause PSD. The purpose of this study is to prove whether art therapy by drawing and painting has an effect in reducing PSD. Characteristics of study participants were early adult women who were expecting for the first time, had gone through first trimester gestational age, and experienced PSD as measured by the Revised Prenatal Distress Questionnaire (NuPDQ). This research utilized mix method approach with one-group pretest posttest design. The sampling technique used was purposive sampling. The number of samples in this study were 6 participants. The result showed that art therapy was effective in reducing PSD in all participants. Art therapy can help participants express emotions by drawing and painting. 
PENGUJIAN RELIABILITAS ALAT UKUR THE PARENTING STYLES AND DIMENSION QUESTIONNAIRE (PSDQ) Widya Risnawaty; Agustina Agustina; Denrich Suryadi
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 5, No 1 (2021): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v5i1.10019.2021

Abstract

Parenting pattern is a treatment of parents in terms of educating children, which includes a variety of behaviors to influence the behavior of the child. In today's society there is still a phenomenon where parents use violence to punish children, and is often interpreted as an educational punishment.There are still parents who do not realize that educating with violence can have a psychological impact on the child and potentially create problematic behaviors, trauma experiences to severe psychological disorders. The purpose of this study is to conduct psychometric tests on measuring instruments namely, Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ). Psdq measuring instrument used is the result of adaptation from Riany (2018) so it is already in the form of Indonesian language and indeed for use in Indonesia. This research uses quantitative method with sampling technique which is purposive sampling. The content validity test is conducted using an expert test of the statements in the questionnaire. The results of the evaluation from experts state that the whole item can be used without revision. The number of participants involved as many as 2153 participants consisting of father / mother. Research sites include Jakarta, Bandung, and Purwokerto. Reliability tests performed using internal consistency coefficient tests with Cronbach's alpha.. The results showed that 3 dimensions (permissive, authoritative, and authoritarian) in PSDQ proved to be valid and reliable. Total items in PSDQ measurement now 31 items, that means drop 1 item. Pola asuh merupakan suatu perlakuan orang tua dalam hal mendidik anak, yang meliputi beragam perilaku guna mempengaruhi perilaku anak. Dalam kondisi masyarakat saat ini masih ditemukan fenomena dimana orang tua menggunakan kekerasan untuk menghukum anak, dan seringkali dimaknai sebagai hukuman yang mendidik. Masih ada orang tua yang belum menyadari bahwa mendidik dengan kekerasan dapat menimbulkan dampak psikologis bagi anak dan berpotensi menciptakan perilaku-perilaku bermasalah, pengalaman trauma hingga gangguan psikologis berat.Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan uji psikometri pada alat ukur yaitu, Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ). Alat ukur PSDQ yang digunakan adalah hasil adaptasi dari Riany (2018) sehingga sudah dalam bentuk bahasa Indonesia dan memang untuk digunakan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Uji validitas isi dilakukan dengan menggunakan uji pakar terhadap pernyataan dalam kuesioner. Hasil evaluasi dari pakar menyatakan bahwa keseluruhan butir dapat digunakan tanpa revisi. Jumlah partisipan yang dilibatkan sebanyak 2153 partisipan yang terdiri dari ayah/ibu. Lokasi penelitian meliputi Jakarta, Bandung, dan Purwokerto. Uji reliabilitas yang dilakukan menggunakan uji koefisien konsistensi internal dengan Cronbach’s alpha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 dimensi (permissive, authoritative, authoritarian) dalam alat ukur PSDQ terbukti valid dan reliabel. Jumlah butir berkurang 1 butir, sehingga jumlah butir yang awalnya 32 berubah menjadi total 31 butir.
PELATIHAN KONSELING BAGI KOMUNITAS PEMERHATI KELUARGA KATOLIK DI JAKARTA Widya Risnawaty; Denrich Suryadi
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.815 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8000

Abstract

The family, as the smallest unit in society, is the main foundation of healthy and mature personal growth. Therefore, the functioning of the family must be kept and maintained. But in reality, every family faces various challenges. The Catholic Church is very concerned and strives to keep the Catholic family survive and carry out its functions properly. One effort undertaken by the Jakarta Archdiocese Family Apostolic Commission (Kom-KK KAJ) is to provide assistance for families who are having psychological problems in the form of counseling by trained lay counselors. The purpose of this PKM activity is to address the needs of partners related to the importance of knowing how to do counseling in a non-professional context. These lay counselors are non-professionals who have a concern to help others, especially in terms of family assistance. Therefore, Kom-KK KAJ believes that these lay counselors need to be equipped with basic knowledge about the process and how to provide basic counseling so that they can immediately provide assistance. The PKM activities carried out took the form of 16 hours of basic training divided into 2 days of implementation. The number of participants participated was 20 participants. Training is given in the form of theory (60%) and practice (40%). Related to the training material provided includes knowledge of lay counselors and Community Observer Communities, basic theories in counseling, and basic counseling skills include interviews, observation, active listening, paraphrasing, problem identification, and empowerment of counselee. The results show that there is a significant difference between before being given intervention and afterwardABSTRAK:Keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat menjadi fondasi utama pertumbuhan pribadi yang sehat dan matang. Oleh karena itu keberfungsian keluarga harus terus dijaga dan dipelihara. Namun pada kenyataanya, setiap keluarga menghadapi tantangan yang beragam. Gereja Katolik sangat peduli dan berupaya untuk menjaga agar keluarga Katolik tetap dapat bertahan dan menjalankan fungsinya dengan baik. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta (Kom-KK KAJ) adalah memberikan pendampingan bagi keluarga yang sedang memiliki masalah psikologis dalam bentuk konseling yang dilakukan oleh para konselor awam terlatih. Tujuan diselenggarakannya kegiatan PKM ini guna menjawab kebutuhan mitra terkait dengan pentingnya mengetahui cara melakukan konseling dalam konteks non-profesional. Para konselor awam ini adalah para non-profesional yang memiliki kepedulian untuk membantu sesama khususnya dalam hal pendampingan keluarga. Oleh karenanya, KOM-KK KAJ berpendapat bahwa para konselor awam ini perlu dibekali dengan pengetahuan dasar mengenai proses dan cara pemberian konseling dasar agar segera dapat memberikan bantuan pendampingan. Kegiatan PKM yang dilangsungkan berbentuk pelatihan dasar selama 16 jam yang terbagi dalam 2 hari pelaksanaan. Adapun jumlah peserta ikut serta sebanyak 20 orang peserta. Pelatihan diberikan dalam bentuk teori (60%) dan praktik (40%). Terkait dengan materi pelatihan yang diberikan meliputi: pengetahuan mengenai konselor awam dan Komunitas Pemerhati Keluarga, dasar-dasar teori dalam konseling, dan ketrampilan dasar konseling meliputi wawancara, observasi, mendengarkan aktif, memparaphrasekan, identifikasi masalah dan pemberdayaan konseli. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum diberikan intervensi dan sesudahnya.
HUBUNGAN FAMILY COMMUNICATION PATTERNS (FCP) DENGAN POTENSI DEPRESI PADA MAHASISWA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 Candra, Rizech; Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i3.18724.2022

Abstract

Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan terhadap sebagian besar aspek kehidupan, tidak terkecuali kondisi kesehatan mental. Salah satu gangguan kesehatan mental yang meningkat selama masa pandemi ini adalah Depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara Family Communication Patterns (FCP) dengan potensi depresi pada mahasiswa selama masa pandemi Covid-19. Partisipan penelitian ini berjumlah 304 partisipan yang terdiri dari 211 partisipan perempuan, dan 93 partisipan laki-laki. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Revised Family Communication Patterns (RFCP) yang dikemukakan oleh Ritchie & Fitzpatrick pada tahun 1990 digunakan untuk mengukur pola komunikasi keluarga dan Center for Epidemiological Studies-Depression (CES-D) yang dikembangan oleh Lenore Sawyer Radloff tahun 1977 digunakan untuk mengukur potensi depresi partisipan. Dari hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian (H1) diterima. Analisis penelitian menggunakan teknik analisis Spearman Correlation, hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi signifikan antara dimensi conversation orientation (CV) dengan potensi depresi yang menghasilkan r (304) = - 0.001, dengan nilai sig = 0.990 (p > 0.05). Sedangkan korelasi antara conformity orientation (CF) dengan potensi depresi menunjukkan r (304) = + 0.447 dan nilai sig = 0.001 (p < 0.005), yang berarti terdapat korelasi positif signifikan antara dimensi CF dengan potensi depresi mahasiswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pola komunikasi keluarga memiliki hubungan terhadap potensi depresi pada mahasiswa.
GAMBARAN RESILIENSI EMERGING ADULTS YANG MENGALAMI PENGABAIAN EMOSIONAL AKIBAT PERCERAIAN ORANG TUA Thiadi, Rachel Christi; Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 6 No. 3 (2022): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v6i3.19147.2022

Abstract

Pengabaian emosional merupakan salah satu bentuk penganiayaan anak yang paling sering terjadi di Indonesia. Namun, penelitian terdahulu lebih banyak membahas gambaran resiliensi pada individu yang mengalami bentuk penganiayaan anak lain, seperti: kekerasan fisik, kekerasan emosional, dan kekerasan seksual. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran resiliensi pada individu, khususnya emerging adults, yang mengalami pengabaian emosional akibat perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sebelum memperoleh partisipan, peneliti menyebarkan kuesioner skrining untuk mengidentifikasi calon partisipan yang memenuhi kriteria high-conflict divorce. Kuesioner ini dibutuhkan karena pengabaian emosional cenderung terjadi pada saat orang tua mengalami konflik selama perceraian. Berdasarkan hasil seleksi, peneliti menemukan lima subjek yang kemudian diarahkan untuk proses wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa pengabaian emosional dapat menimbulkan dampak emosi bagi subjek, seperti: marah, sakit hati, kecewa, dan benci terhadap orang tua. Subjek perlu mengembangkan keterampilan pengendalian impuls (impulse control), regulasi emosi (emotion regulation), empati (empathy), dan penjangkauan (reaching out) agar dapat menjadi resilien. Emerging adults yang resilien adalah mereka yang mampu mengendalikan dorongan yang muncul akibat pengabaian emosional, mengekspresikan emosi dengan cara yang tepat, memahami tindakan pengabaian yang dilakukan orang tua, serta mengakses dukungan sosial dari anggota keluarga selain orang tua dan teman sebaya.
HUBUNGAN ANTARA FUNGSI KELUARGA DENGAN KONTROL DIRI REMAJA Kusmaharani, Berliana Beta; Risnawaty, Widya
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol. 8 No. 1 (2024): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora , dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v8i1.27889.2024

Abstract

Terjadi salah satu fenomena di sekolah X mengenai kontrol diri siswa/i yang buruk. Melihat dari fenomena tersebut, peneliti menemukan latar belakang terkait kondisi keluarga dari siswa/I di sekolah X yang dapat menjadi salah satu pemicu kontrol diri yang buruk. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara fungsi keluarga dengan kontrol diri pada remaja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif korelasi dengan metode sampling non probability sampling yang merupakan teknik pengambilan sampel dengan cara memberikan kuesioner kepada populasi, tetapi tidak seluruh populasi dapat menjadi sampel penelitian. Partisipan penelitian ini mengambil populasi sebanyak 156 partisipan di sekolah X dengan kriteria siswa/I kelas 10, 11, dan 12, serta berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Alat ukur yang digunakan adalah The Family APGAR: A Proposal for a Family Function Test and Its Use by Physicians dengan 5 butir pernyataan dan alat ukur Brief Self-Control Scale dengan 13 butir pernyataan. Pengujian pada penelitian ini dilakukan teknik uji korelasi Spearman-Rho dengan hasil koefisiensi korelasi sebesar 1.000. Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara fungsi keluarga dengan kontrol diri remaja, karena nilai dari korelasi yang didapat > 0.50. Hal ini juga menunjukan bahwa semakin tinggi fungsi keluarga, maka remaja semakin memiliki kontrol diri yang tinggi, begitu juga sebaliknya.