Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT KERUSAKAN HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN BLANAKAN DAN KECAMATAN LEGONKULON, KABUPATEN SUBANG Dida Soraya; Otong Suhara Djunaedi; Ankiq Taofiqurohman
Jurnal Perikanan Kelautan Vol 3, No 4 (2012)
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan pesisir adalah suatu kawasan yang labil dan mudah mengalami perubahan, karena merupakan tempat bertemunya daratan dan lautan, dimana garis pertemuan itu dinamakan garis pantai. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan  program ArcGIS dari data citra Landsat 7 ETM+ dan data luasan mangrove tahun 1996, 2002 dan 2011. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar perubahan garis pantai yang terjadi di kecamatan Blanakan dan kecamatan Legon kulon, serta pengaruh ekosistem hutan mangrove terhadap perubahan garis pantai yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah overlay garis pantai dari data citra Landsat 7 ETM+ tahun 1996, 2002 dan 2011, penelitian lapangan serta metode analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan regresi linear untuk mengetahu hubungan antara penurunan luasan mangrove dengan perubahan garis pantai. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebagian besar kecamatan Blanakan mengalami akresi dengan rata-rata nilai perubahan garis pantainya sejauh 360.57 meter selama kurun waktu 15 tahun, sedangkan sebagian besar kecamatan Legonkulon mengalami abrasi dengan nilai rata-rata perubahan garis pantainya sejauh 350.18 meter. Pengaruh kerusakan hutan mangrove terhadap perubahan garis pantai yang terjadi di kecamatan Blanakan adalah sebesar 41% sedangkan di kecamatan Legonkulon sebesar 68%. 
SPATIAL ANALYSIS OF SHORELINE CHANGES IN THE COASTAL OF SUBANG DISTRICT, WEST JAVA Ankiq Taofiqurohman; M. Furqon Azis Ismail
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 4 No. 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1421.524 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v4i2.7790

Abstract

ABSTRACT Observation of coastal shoreline changes in the Subang District was conducted using Digital Shoreline Analysis System Program based on the satelite images of Landsat TM from 1996 to 2010. The purpose of this study was to determine the distance of shoreline change. Methods used in this study were field survey and regression analysis of shoreline data. The results of this study indicated the existence of a region experiencing accretion and abrasion. The maximum width of accretion of the coast was 1,051.55 meter while the maximum abration was 1,206.83 meter. Coastal shoreline change in Subang District occurred mainly due to the development activities such as residential construction, altering the coastal mangrove to ponds and rice paddies, and sediment transport from the river around Subang District. Keywords: shoreline, Subang District, satelite images, accretion, abration
Nilai Bahaya Rip Current untuk Wisata Pantai di Pantai Pangandaran, Jawa Barat Vira Annisa Rachma; Ankiq Taofiqurohman; Sri Astuty; Wahyuniar Pamungkas
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.32375

Abstract

Keselamatan para wisatawan adalah hal yang paling penting dalam mengelola kawasan wisata. Rip current merupakan bahaya yang signifikan bagi para pengunjung pantai dan telah memakan banyak korban di seluruh dunia. Riset ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan nilai bahaya Rip Current serta mengidentifikasi waktu yang aman untuk wisata di Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Pelaksanaan riset berlangsung dari bulan Januari – Mei 2020. Metode riset yang digunakan adalah metode kuantitatif. Pengolahan data dan penilaian bahaya rip current berdasarkan Rip Current Hazard Assessment Guide (RNLI-UK). Parameter yang digunakan dalam riset ini adalah tinggi dan periode gelombang pecah, kecepatan jatuh sedimen, dan nilai tunggang pasut. Hasil riset menunjukan bahwa nilai bahaya rip current di Kawasan Wisata Pantai Barat Pangandaran, Jawa Barat sebesar 3 sampai dengan 4; yang dikategorikan ke dalam tingkat berbahaya sampai tingkat sangat berbahaya dengan faktor yang paling mempengaruhi adalah tinggi gelombang. Nilai bahaya rip current tertinggi (sangat berbahaya) berada di Bulan Juni hingga Oktober. Waktu yang dinilai relatif lebih aman untuk wisata berdasarkan hasil assesment nilai bahaya rip current adalah pada Bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, November serta Desember.The safety of tourists is the most important thing in tourism management. Rip current is a significant danger for beach visitors and has many casualties around the world. This research aims to get an index of Rip Current and identify the safety period for tourism in Pangandaran Beach. This research was conducted from January – May 2020. Methods of this research were using quantitative method. Processing data and getting an index for hazardous of Rip Current based on the Rip Current Hazard Assesment Guide (RNLI-UK). The parameters used in this research are height and period of the breaker wave, sediment fall velocity, and tide range. The result of this research are shown as an index of rip current’s hazardous 3 to 4; whereas 3 means hazardous and 4 as categorized very hazardous with the wave height as the most affecting factor. The safety periods for tourism based on the results of an index for hazardous occurs in January, February, March, April, May, November, and December.  
Penilaian Kuantitatif Risiko Wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran Raihan Dikara; Ankiq Taofiqurohman; Iskandar iskandar
Buletin Oseanografi Marina Vol 11, No 1 (2022): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v11i1.34095

Abstract

Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata pesisir yang terletak di Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat dan merupakan salah satu obyek wisata unggulan di Provinsi Jawa Barat. Tetapi wisata di Pantai Pangandaran memiliki potensi bahaya fisik dan dalam beberapa kasus menimbulkan korban jiwa. Riset ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya fisik pantai bagi keselamatan pengunjung, menilai tingkatan risiko dari potensi bahaya fisik pantai bagi keselamatan pengunjung, dan menentukan penyebab tingginya risiko wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran. Metode yang digunakan riset ini adalah metode assessment. Data yang digunakan pada assessment tingkat risiko pantai yaitu: jumlah pengunjung, jumlah lifeguard, panjang pantai, jumlah rambu, penggunaan lifejacket, kecelakaan wisatawan, tipe pantai, dan tinggi gelombang. Hasil riset menunjukkan Kawasan Wisata Pantai Pangandaran termasuk kedalam tipe pantai longshore bar and trough. Kawasan Wisata Pantai Pangandaran termasuk kedalam kategori multiple fatalities dengan nilai R (tingkat risiko) lebih dari 200 di semua pantai pada periode low season ataupun high season. Khusus Pantai Barat pada periode high season kategori menurun menjadi fatal. Terdapat perbedaan nilai R yang signifikan pada kedua periode. Perbedaan nilai R menunjukan Kawasan Wisata Pantai Pangandaran relatif lebih aman pada periode high season. Penyebab utama dari tingginya tingkat risiko wisata di Kawasan Wisata Pantai Pangandaran adalah jumlah personil lifeguard dan rambu-rambu peringatan yang tidak mencukupi. Pangandaran Beach is one of the coastal tourism objects located in Pangandaran Regency, West Java Province and it is one of the leading tourism object in West Java Province. Tourism in Pangandaran has beach-physical potential hazard and some case of it creating casualties. This research aims to identify the potential physical hazards of the beach for the safety of visitors, assess the risk level of beach-physical potential hazard for the safety of visitors, and determine the cause of the high number of tourism risk in the Pangandaran Beach Tourism Area. The method used in this research is the assessment method. The data used in the assessment of the level of beach risk are:  number of visitors, number of lifeguards, beach length, number of signages, lifejacket usage, tourist accident, beach type, and wave height. Research results show that Pangandaran Beach Tourism Area belonged to longshore bar and trough beach type. Pangandaran Beach Tourism Area is belonged to multiple fatalities category with an R value (risk level) more than 200 on all beaches either on low season or high season. At high season period on West Beach the category shift to fatal. There is a significant difference in R value between two periods. The difference in value of R shows that Pangandaran Beach Tourism Area is relatively safer during the high season period. The main cause of the high number of tourism risk in the Pangandaran Beach Tourism Area are the insufficient number of lifeguard and warning signs.
Penentuan Tipe Pantai di Kawasan Pantai Wisata Batu Karas, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat Annisa Putri Fitrian; Ankiq Taofiqurohman; Yeni Mulyani; Wahyuniar Pamungkas
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 3 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i3.31990

Abstract

Pantai merupakan salah satu objek wisata alam yang paling diminati pengunjung, namun memiliki risiko bahaya tersendiri yang patut diwaspadai. Risiko bahaya yang melekat dimiliki oleh setiap pantai adalah bahaya akibat karakteristik fisik pantai. Pantai Wisata Batu Karas merupakan salah satu objek wisata pantai terfavorit di Jawa Barat dengan peningkatan jumlah pengunjung setiap tahunnya. Selain memiliki berbagai daya tarik wisata, Pantai Batu Karas memiliki risiko bahaya fisik. Risiko bahaya fisik yang dominan di pesisir selatan Jawa Barat, termasuk Pantai Wisata Batu Karas, adalah gelombang pecah karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang memicu risiko gelombang tinggi. Keselamatan wisata merupakan hal yang harus diutamakan untuk mencegah kerugian yang mungkin terjadi akibat risiko bahaya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penilaian bahaya fisik pantai untuk selanjutnya dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengelolaan wisata pantai. Riset ini bertujuan untuk menentukan tipe pantai Batu Karas sebagai langkah awal penilaian bahaya fisik pantai akibat gelombang pecah di Pantai Wisata Batu Karas. Riset ini dilakukan pada bulan Januari – Mei 2020, dengan area yang diteliti adalah sepanjang Pantai Wisata Batu Karas. Metode yang digunakan dalam riset ini yaitu metode kuantitatif, selanjutnya dilakukan penentuan tipe pantai yang mengacu pada metode yang dikembangkan oleh Short (1996). Parameter yang digunakan dalam riset ini adalah tinggi dan periode gelombang pecah, kecepatan jatuh sedimen, dan nilai tunggang pasut. Hasil yang didapatkan dari riset ini adalah Pantai Batu Karas memiliki tipe pantai longshore bar and trough, yang selanjutnya dapat digunakan untuk penilaian tingkat bahaya fisik di Pantai Wisata Batu Karas. Beach is one of the most popular natural attractions for visitors, but has its own dangers that need to be watched out for. The inherent hazard risk possessed by each beach is the danger due to the physical characteristics of the beach. Batu Karas Tourism Beach is one of the most favorite beach attractions in West Java with an increasing number of visitors every year. Apart from having various tourist attractions, Batu Karas Tourism Beach also has a risk of physical danger. The dominant physical hazard risk on the southern coast of West Java, including Batu Karas Tourism Beach, is the breaking waves because it is directly adjacent to the Indian Ocean which triggers a high risk of waves. Tourism safety is a matter that must be prioritized to prevent losses that may occur due to hazard risks. This can be done by assessing the physical hazard of the beach which can then be used as a consideration in the management of beach tourism. This research aims to determine the type of beach as an initial step to assess the physical beach hazards in Batu Karas Beach, Pangandaran Regency, West Java. This research was conducted from January – May 2020 and focused on the Batu Karas shoreline area. Quantitative method was used to determine the beach type by referring to the method developed by Short (1996). The parameters used in this research are height and period of the breaker wave, sediment fall velocity, and tide range. The result shows that Batu Karas Beach has longshore bar and trough type, which can then be used for assessing the level of physical hazards at Batu Karas Tourism Beach.
Identifikasi Kondisi Kesehatan Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu Ankiq Taofiqurohman; Ibnu Faizal; Kholid Agil Rizkia
Buletin Oseanografi Marina Vol 10, No 1 (2021): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v10i1.32169

Abstract

Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau di perairan utara Jakarta yang memiliki daya tarik wisata terutama untuk snorkeling dan diving dengan adanya terumbu karang, salah satunya adalah Pulau Sepa. Ekosistem terumbu karang merupakan ekosistem yang rentan mengalami degradasi oleh berbagai faktor. Kegiatan snorkeling menjadi salah satu  ancaman yang terjadi pada terumbu karang, oleh karena itu diperlukan pengukuran mengenai kondisi kesehatan ekosistem terumbu karang, khususnya Pulau Sepa kepulauan Seribu, sebagai bentuk integrasi konservasi ekosistem dan pengelolaan wisata. Riset ini dilakukan di Pulau Sepa, Taman Nasional Kepulauan Seribu pada Bulan Maret-Agustus 2020. Wilayah yang diamati merupakan spot snorkeling pada kedalaman 1-5 m pada 10 stasiun penelitian  , dengan mengklasifikasikan warna kesehatan dan juga tipe karang menggunakan klasifikasi dari Coral Watch.  Skor warna kesehatan terumbu karang pada zona snorkeling Pulau Sepa, didominasi dengan kondisi kurang sehat pada skor warna 4, dengan dominasi tipe karang branching dan boulder dan sedikit tipe pertumbuhan plate dan soft. Kriteria kesehatan terumbu karang mayoritas berada pada kurang sehat, sedikit sehat dan tidak ditemukan yang tidak sehat. Rincian kriteria kesehatan terumbu karang kurang sehat di temui pada stasiun 1-10 dengan masing masing persentase 92%, 72%, 100%, 94%, 78%, 94%, 100%, 100%, 67%, dan 89%, untuk rincian kriteria kesehatan terumbu karang sehat pada stasiun 1-10 dengan masing-masing persentase 8%, 28%, 0%, 6%, 22%, 6%, 0%, 0%, 33%, 11%. Faktor lingkungan seperti kecerahan yang dipengaruhi oleh sedimentasi serta tekanan antropogenik dari aktivitas manusia mempengaruhi kondisi tutupan karang di pulau ini. The Thousand Islands are a group of islands in the northern waters of Jakarta which have tourist attractions, especially for snorkeling and diving with the presence of coral reefs, one of which is Sepa Island. Coral reef ecosystem is an ecosystem that is prone to degradation by various factors. Snorkeling activities are one of the threats that occur on coral reefs, therefore it is necessary to measure the health condition of coral reef ecosystems, especially Sepa Island, the Thousand Islands, as a form of integration of ecosystem conservation and tourism management. This research was conducted on Sepa Island, Thousand Islands National Park on March - August 2020. The area observed is a snorkeling spot at a depth of 1-5 m at 10 research stations, by classifying the color of health and also the type of coral using the classification from Coral Watch. The coral reef health color score in the Sepa Island snorkeling zone, was dominated by unhealthy conditions at a color score of 4, with a dominance of branching and boulder coral types and few plate and soft growth types. The majority of coral reef health criteria are unhealthy, slightly healthy and not found unhealthy. Details of the health criteria for unhealthy coral reefs were found at stations 1-10 with each percentage of 92%, 72%, 100%, 94%, 78%, 94%, 100%, 100%, 67%, and 89%, respectively. details of health criteria for healthy coral reefs at stations 1-10 with each percentage of 8%, 28%, 0%, 6%, 22%, 6%, 0%, 0%, 33%, 11%. Environmental factors such as clarity which influenced by sedimentation and anthropogenic factors from human activities affect the condition of coral cover on this island.
Penilaian Keselamatan Wisata Berdasarkan Parameter Gelombang di Pantai Parigi, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat Ankiq Taofiqurohman; Mochamad Rudyansyah Ismail
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.5559

Abstract

Parigi Beach is one of the beach tourism destinations in West Java. Parigi Beach is in Kabupaten Pangandaran where is facing directly to the Indian Ocean; hence the beach wave is high and risks for beach tourism activity. Beach hazard in Parigi Beach is frequent on long holiday seasons. The research aim is to assess beach tourism safety based on wave parameters and find out the cause of danger. The result shows that Parigi Beach is an intermediate rhythmic bar and beach, which average of the breaking wave height reaches to 1,87 meter and occur beach cusps formation. The beach safety levels exhibit that low safety condition exists from March to November, while from December to February, the beach condition was categorized as moderate safety for coastal tourism activity. Rip current and shore break as the main factor of hazard beach tourism from January to February, whereas from Maret to December, hazard factors in Parigi Beach was rip current and plunging high wave. Pantai parigi merupakan salah satu tujuan wisata pantai di Jawa Barat. Pantai Parigi berada di Kabupaten Pangandaran yang letaknya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga gelombang di Pantai Parigi relatif tinggi dan berisiko untuk kegiatan wisata pantai. Kecelakaan wisata pantai di Pantai Parigi sering terjadi saat musim libur panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat keselamatan wisata pantai tiap bulan berdasarkan parameter gelombang dan mengetahui faktor penyebab bahaya yang terjadi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pantai Parigi termasuk ke dalam tipe pantai intermediate rhythmic bar and beach dengan tinggi gelombang pecah rata-rata mencapai 1,87 meter serta terdapat jejak gelombang berbentuk busur di pantainya.  Untuk tingkat keselamatan wisata pantai, keadaan kurang aman di Pantai Parigi terjadi dari mulai Maret hingga November, sedangkan dari Desember hingga Februari dikategorikan pada situasi cukup aman. Faktor penyebab bahaya wisata pantai adalah Rip current dan shorebreak yang muncul pada bulan Januari dan Februari, sementara pada bulan Maret hingga Desember faktor penyebab bahaya adalah rip current dan gelombang tinggi dengan tipe plunging.
Sebaran Spasial Suhu, Salinitas dan Densitas di Perairan Kepulauan Sangihe Talaud Sulawesi Utara Mochamad Furqon Azis Ismail; Ankiq Taofiqurohman
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 2 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i2.7290

Abstract

The Sangihe Talaud waters are part of the toll road of the Indonesian Throughflow, which has an important role in the transport of seawater properties from the Pacific Ocean to the Indian Ocean. To understand the distribution pattern of physical oceanography parameters namely temperature, salinity, density around the waters of Sangihe Talaud, the research expedition Widya Nusantara Expedition (EWIN) has been conducted using the research vessel Baruna Jaya VIII. The temperature, salinity, and density of the seawater were measured using the CTD Seabird 911plus instrument at 33 stations distributed on the Sangihe Talaud waters. The results of the temperature analysis showed the presence of surface temperature zoning between the Sulawesi Sea and the north of the Maluku Sea, while the salinity distribution showed a low to high salinity gradient from the east to the west side of the Sangihe Talaud waters. The density distribution represents three zones of surface density detected in the north of the Maluku Sea, the northeast side and the west side of the Sangihe and Talaud waters.  Perairan kepulauan Sangihe Talaud merupakan bagian dari jalur tol laut Arus Lintas Indonesia yang memiliki peran penting dalam transpor properti air laut dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia. Untuk mengungkap pola sebaran parameter oseanografi fisik seperti suhu, salinitas dan densitas laut di perairan kepulauan Sangihe Talaud, telah dilakukan kegiatan penelitian Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya VIII. Suhu, salinitas, dan densitas air laut diukur dengan menggunakan instrumen CTD Seabird 911Plus pada 33 stasiun pengamatan yang tersebar di perairan Kepulauan Sangihe Talaud. Hasil Analisa suhu menunjukan adanya zonasi sebaran suhu permukaan antara laut Sulawesi dan utara Laut Maluku, adapun sebaran salinitas menunjukan adanya gradien salinitas rendah ke tinggi dari sisi timur ke sisi barat perairan kepulauan Sangihe Talaud. Sedangkan sebaran densitas laut memperlihatkan adanya tiga zonasi densitas permukaan yang terdeteksi di utara Laut Maluku, sisi timur laut dan sisi barat perairan kepulauan Sangihe Talaud.
Shoreline Change Analysis of Pontang Cape of Serang Regency of Banten Province Abdurrahman Al Farrizi; Ankiq Taofiqurohman; Subiyanto Subiyanto
Journal Omni-Akuatika Vol 16, No 2 (2020): Omni-Akuatika November
Publisher : Fisheries and Marine Science Faculty - Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.oa.2020.16.2.800

Abstract

Coastal areas, being vulnerable to environmental problems, have one of the most frequent problems which are the change in the shorelines. Shoreline changes, namely abrasions, can cause problems such as land degradations or loss of land in a coastal zone. This problem occurs in many areas, one of which is Pontang Cape. This study aims to determine the distance and rate of shoreline changes that occured in the Cape and its surroundings, as well as explaining the analysis points based on similar studies that had been conducted. This research used ArcMap software and Digital Shoreline Analysis System (DSAS) toolset to determine the distance and rate of shoreline changes for 19 years (1999-2018). Based on the results, there were two shoreline segments where different phenomena of shoreline change took place, namely Banten Bay (accretion) and Pontang Cape-Lontar (abrasion). The most likely causes of changes in the shorelines are sediment runoffs from rivers that lead to bay and sediment transports that affect Banten Bay accretions, while sea sand mining and conversions of mangrove swamps into fishery ponds are factors affecting abrasions in Pontang Cape.Keywords: Abrasion, Accretion, Pontang Cape, Banten Bay, DSAS
Penilaian tingkat risiko terumbu karang akibat dampak aktivitas penangkapan ikan dan wisata bahari di Pulau Biawak, Jawa Barat Ankiq Taofiqurohman
Depik Vol 2, No 2 (2013): August 2013
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.231 KB) | DOI: 10.13170/depik.2.2.722

Abstract

Abstract. Risk assesment of a habitat and its mappingis considerably important in environment appraisal. Biawak Island is a conservation and touristic area, one of its purpose is to bring positive influence to marine resource, both ecologically and economically. Biawak Island is inhibited by coral reefs, where human activities often occurs. Field survey was held during February 2013 in Biawak Island. The observation purpose was to assess coral reef risk in the islandby comparing three marine activities: fishing, diving, and snorkeling. Spatial modelling showed that every coral reef area in Biawak Island had high risk level, especially the southern part. Euclidean calculation result indicated that fishery had been the most influential activity toward coral reef habitat in Biawak Island.Keyword: Biawak Island; Coral reef; Risk assessment. Abstrak . Penilaian risiko terhadap suatu habitat dan pemetaannya sangat penting dalam penilaian keadaan lingkungan. Pulau Biawak merupakan daerah konservasi dan pariwisata, yang salah satu tujuannya adalah untuk memberikan dampak positif pada sumber daya laut baik ekologi maupun ekonomi. Pulau Biawak dikelilingi oleh terumbu karang dan banyak aktivitas manusia terjadi pada terumbu karang tersebut.Survey lapangan telah dilaksanakan pada bulan Februari 2013 di Pulau Biawak. Penelitian ini bertujuan untuk menilai risiko terumbu karang di Pulau Biawak, dengan membandingkan tiga aktivitas kelautan yaitu penangkapan ikan, menyelam dan snorkeling. Pemodelan spasial menunjukan bahwa semua kawasan terumbu karang di Pulau Biawak pada tingkat kondisi risiko tinggi, terutama di daerah selatan. Hasil perhitungan Euclidean menunjukan bahwa kegiatan penangkapan ikan memberikan dampak yang paling tinggi terhadap habitat terumbu karang di Pulau BiawakKata kunci: Pulau Biawak; Terumbu karang; penilaian risiko.