Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Transmisi Budaya Ngawan Pada Masyarakat Pesisir Desa Seraya Kabupaten Karangasem Tiara Astyaputri; Ida Ayu Alit Laksmiwati; Aliffiati Aliffiati
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i1.6068

Abstract

Terjadi fenomena penurunan jumlah nelayan Desa Seraya, Kabupaten Karangasem, Bali. Desa Seraya merupakan salah satu desa yang memiliki wilayah pesisir dan terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Aktivitas melaut ini dikenal dengan sebutan ngawan, yang diambil dari kata awan yang artinya ikan tongkol, sehingga ngawan diartikan pula sebagai kegiatan mencari ikan tongkol. Penurunan jumlah nelayan di Desa Seraya dibuktikan pada Data Profil Desa tahun 2023, yang mencatat pada tahun 2018 terdapat masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan berjumlah 150 orang. Namun pada tahun 2023, jumlahnya menurun sampai pada angka 73 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk transmisi budaya ngawan di wilayah pesisir Desa Seraya dan menjelaskan implikasi dari mekanisme proses transmisi terhadap keberlangsungan budaya ngawan di Desa Seraya. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode etnografi serta studi pustaka dalam menjawab pertanyaan yang ada pada rumusan masalah. Penelitian ini menggunakan teori kebudayaan Roger Keesing dan teori transmisi budaya Meyer Fortes. Hasil penelitian ini menunjukkan para nelayan mempelajari cara alat-alat yang digunakan dan cara penggunaannya, pengetahuan lokal yang ada di dalam budaya ngawan melalui proses imitasi, identifikasi dan sosialisasi yang telah dilakukan sejak kecil melalui aktivitas sehari-hari. Namun seiring dengan perkembangan zaman, proses transmisi budaya ngawan mengalami keterhambatan dikarenakan adanya perubahan pandangan hidup para pemuda yang diharapkan menjadi penerus dari budaya ngawan. Para pemuda kini melihat budaya ngawan sebagai kegiatan mencari nafkah yang dapat digantikan dengan pekerjaan lain. Hal ini didukung dengan para nelayan yang berfokus pada pemenuhan pendidikan anak-anak mereka agar bisa mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.
Budaya dan Identitas Lokal: Keberlanjutan Batik Banyuwangi melalui Kolaborasi Perajin di Desa Tampo Dwi Mayuka Vernita; Ni Made Wiasti; Aliffiati Aliffiati
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 12: November 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v2i12.2405

Abstract

Batik is a culturally rich traditional textile art form in Indonesia. In 2009, UNESCO officially recognised batik as a non-material cultural heritage. In the midst of changing times and globalisation trends, batik's role in representing Indonesia's cultural identity has become increasingly important. However, batik artisans in the Tampo area of Banyuwangi face a number of challenges in maintaining this tradition. To overcome these challenges and maintain the sustainability of Banyuwangi batik, an in-depth research is needed. This research aims to identify the challenges by batik artisans in Tampo Village, exploring the strategies they use to support the preservation and development of Banyuwangi batik. This research uses a qualitative approach with data collection that include observation, interviews, literature study. The data obtained will be analysed to identify the patterns and strategies used by batik artisans in Tampo Village. This research will provided in-depth view of the preservation and development of Banyuwangi batik and the efforts of the artisans to keep this cultural tradition alive. From the results of this study, the strategies for handling these obstacles are maintaining product quality, making modern motifs, affordable prices, using social media, and government support.
Eksistensi Virtual Youtuber Zen Gunawan dalam Perspektif Generasi Milenial Kota Denpasar Nir Ariant Septa Cahaya Gemiling; Aliffiati Aliffiati; Ida Bagus Oka Wedasantara
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 1: Desember 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v3i1.2499

Abstract

Generasi milenial cenderung menghabiskan waktunya untuk menjelajahi dunia digital saat ini, mereka melakukan berbagai aktivitas yang mempengaruhi nilai kebudayaan, merubah aktivitas dan pandangan individu terhadap fenomena kebuadayan menjadi terdistosi dan terkadang menghilangkan identitas suatu kebudayaan yang mereka miliki. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya realitas maya sebagai sebuah sumber individu menerima dan mencerna informasi dalam suatu fenomena. Fenomena dalam penelitian ini adalah eksistensi Vtuber Zen Gunawan yang menggunakan identitas dan ikon kebudayaan lokal Bali di tengah beragamnya Vtuber dengan aspek kebudayaan asing dengan tujuan penelitian ini untuk mengetahui pandangan generasi milenial terhadap Vtuber Zen Gunawan serta implikasinya pada dunia nyata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah etnografi virtual yang masuk dalam kategori metode penelitian kualitatif. Metode penelitian ini merekam bagaimana suatu budaya itu dapat berinteraksi dan membentuk struktur realitas sosial secara siber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perspektif generasi milenial khususnya kota Denpasar yang ada di grup Discord fans Zen Gunawan maupun official Maha5 memberikan tanggapan yang positif dengan adanya penggunaan ikon kebudayaan lokal Bali. Mereka juga memberikan tanggapan seperti implikasi fenomena Vtuber terhadap karir maupun peluang kerja hingga peluang penuturan budaya di media maya dan pengembangan pendidikan. Hal ini dikarenakan mereka melihat Zen Gunawan sebagai kreator konten yang memiliki citra yang humoris dan bijak.
Keberadaan Ritual Oke Saki pada Masyarakat Beo Kalo, Desa Lentang, Kecamatan Lelak Kabupaten Manggarai Maria Calin De Putri; Ida Bagus Oka Wedasantara; Aliffiati Aliffiati
Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jdan.v3i1.1841

Abstract

Oke saki believed by the community Live If is one of the efforts or ways of the local community to erase sins or remove all mistakes made by ancestors as an effort to prevent bad luck or disaster for the next generation. RitualOke Sakicarried out from generation to generation based on local beliefs, especially community beliefsLiveRegarding supernatural powers that are still practiced today, even though currently the majority of them have embraced Catholicism. The results of this study reveal that the background of societyLiveIf you are still carrying out the ritualOke Sakinamely, the belief in legends or curses, to avoid disasters, and efforts to overcome life's problems. So that the ritualOke SakiThis is still carried out today by the communityLiveIf. RitualOke Sakiplays an important role in the survival of the local community because by carrying out ritualsOke SakiThis local community can overcome the disasters that happen to their descendants, because it is believed that if the ritual is carried outOke SakiIf this is not carried out, it will have a bad impact on their generations up to seven generations. Ritual Oke Saki which is part of the community's traditionLiveKalo is a ritual related to the elimination of sins or mistakes made by the ancestors of the local community which resulted in their descendants experiencing and bearing the sins they committed.
Revitalisasi Kampung Adat di Beo Ruteng Pu’u Manggarai Nusa Tenggara Timur Reinaldis Merciayu Parna Jeltiung; Aliffiati Aliffiati; Diaz Restu Darmawan
Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya Vol. 3 No. 1 (2025): Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jdan.v3i1.1902

Abstract

Revitalization of traditional villages is one of the efforts to preserve local culture, which is now being actively promoted in various regions, including in Beo Ruteng Pu’u, Manggarai, East Nusa Tenggara. This study aims to describe the form of revitalization taking place in the traditional village of Beo Ruteng Pu’u. The theoretical framework used in this research is Anthony F.C. Wallace’s Revitalization Movement Theory, which helps to understand both the forms of revitalization. A qualitative research method was employed, with data collected through observation, in-depth interviews with traditional elders, members of the Beo Ruteng Traditional Institution, and local residents, as well as document analysis. The findings reveal that the revitalization program includes physical improvements to the traditional village, such as repairing damaged structures and constructing access roads as part of a cultural romanticism movement. Non-physical developments also accompany the physical revitalization, including the strengthening of customary values and increasing cultural knowledge among the younger generation. Overall, the revitalization in Ruteng Pu’u serves as an example of successful development based on local culture. The synergy between formal structures and traditional wisdom has made the development process more meaningful and sustainable.