Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

PENGARUH EDUKASI MENGGUNAKAN MEDIA LEMBAR BALIK TENTANG TUBERKULOSIS TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA KELUARGA PASIEN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGKAAN BONDOWOSO Hasanah, Uswatun; Rachman, Moh. Zainol; Wahyuni, Tavip Dwi; Wandi, Wandi
Jurnal Pendidikan Kesehatan (e-Journal) Vol. 13 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Kesehatan (E-Journal)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jpk.v13i2.3969

Abstract

Tuberculosis (TB) is an infectious disease that attacks the lung parenchyma caused by Mycobacterium Tuberculosis. The purpose of the study was to determine the effect of the flip sheet media about tuberculosis on the knowledge and attitudes of the patient's family in the working area of the Nangkaan Bondowoso Health Center. This type of research used quantitative research with Pre-experimental research design one group pre test and post test design. The population in this study were patient families from the Nangkaan Health Center work area as many as 30 respondents using total sampling. Data collection techniques during the study were obtained when conducting education, namely by filling out pre-test and post-test questionnaires. Based on the results of hypothesis testing, it is known that there is an influence of the flip sheet education media on efforts to increase knowledge and attitudes in the families of tuberculosis patients, this is seen through the level of significance obtained p-value = 0.000, thus this study rejects Ho, meaning that there is an influence of media in increasing knowledge and attitudes, it is known that there is an increase of 29% in the level of knowledge and it is known that there is an increase of 6% in the attitude of the families of tuberculosis patients who have been given education through the flip sheet media..
PENGUATAN TRANSFORMASI KESEHATAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN KAPASITAS KADER POSYANDU MELALUI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENURUNAN RESIKO DIABETES MELLITUS TYPE 2 DI KELURAHAN BALEARJOSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS POLOWIJEN: PENGUATAN TRANSFORMASI KESEHATAN MELALUI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENINGKATAN KAPASITAS KADER POSYANDU MELALUI PEER EDUCATOR DALAM UPAYA PENURUNAN RESIKO DIABETES MELLITUS TYPE 2 DI KELURAHAN BALEARJOSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS POLOWIJEN Yudiernawati, Atti; Suryani, Pudji; Wahyuni, Tavip Dwi
Jurnal Produk Pengabdian Masyarakat indonesia Vol 2 No 2 (2025): JPPMI- April 2025
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.810028/jppmi.v2i2.76

Abstract

Upaya penurunan risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) memerlukan pendekatan yang komprehensif, termasuk penguatan transformasi kesehatan berbasis masyarakat. Penelitian atau program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui metode peer educator sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam menurunkan risiko DMT2 di Kelurahan Balearjosari, wilayah kerja Puskesmas Polowijen. Metode yang digunakan meliputi pelatihan kader dengan pendekatan edukatif-partisipatif, di mana para kader dilatih menjadi pendidik sebaya (peer educator) yang mampu menyampaikan informasi terkait pencegahan DMT2 secara efektif kepada masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri kader dalam melakukan edukasi kesehatan serta perubahan perilaku masyarakat ke arah gaya hidup sehat. Program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan kader melalui model peer educator dapat menjadi strategi efektif dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan primer dan menurunkan risiko DMT2 di tingkat komunitas. Rekomendasi diarahkan pada replikasi model ini di wilayah lain dengan karakteristik serupa serta dukungan berkelanjutan dari lintas sektor.
EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING PADA REMAJA PUTRI: EDUKASI PENCEGAHAN STUNTING PADA REMAJA PUTRI Wahyuni, Tavip Dwi; yono, Jupri; Rachman, Moh. Zainol; Yudiernawati, Atti
Jurnal Produk Pengabdian Masyarakat indonesia Vol 2 No 2 (2025): JPPMI- April 2025
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.810028/jppmi.v2i2.77

Abstract

Pengabdian masyarakat Edukasi pencegahan stunting pada remaja putri di SMK Nusa Poncokusumo, pendampingan dan sosialisasi kepada remaja putri dengan jumlah peserta 30 remaja putri, dilaksanakan pada tanggal 30 Juli 2025 dan bertempat di ruang sekolah SMK Nusa Poncokusumo. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan mulai pukul 08.00-16.00 WIB dan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan remaja putri, 3 orang dosen pengabdian masyarakat dan 2 dua orang mahasiswa. Metode yang dilakukan dalam kegiatan tersebut adalah presentasi/tatap muka dengan alat bantu LCD dan Proyektor. Pengetahuan remaja putri di SMK Nusa Poncokusumo, meningkat terbukti dengan hasil nilai pre test yang hanya rata-rata nya 51,25% meningkat rata-rata 91,25% pada saat post test. Hal ini membuktikan bahwa remaja putri di SMK Nusa Poncokusumo sudah memiliki kemampuan yang baik terkait dengan pengetahuan Edukasi pencegahan stunting pada remaja putri.
THE EFFECT OF ALOE VERA TOWARD THE NUMBER OF FIBROBLASTS ON THE WOUND INCISION OF WISTAR RAT'S (RATUS NORVEGICUS) Fatmawati, Chusnul Nur; Retnanin, Ekowati; Wahyuni, Tavip Dwi
Journal of Vocational Nursing Vol. 1 No. 1 (2020): May 2020
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jovin.v1i1.19905

Abstract

Introduction: Incision is a wound caused by a sharp object, for example in surgery. The characteristics of the wound are pain, open wounds, and the length of the wound is greater than in it. Handling the wound there are various ways, one of which is using Aloe Vera. The aim of this study was to determine the effect of topical Aloe vera gel concentration of 10%, 20%, and 40% to determine the amount of fibroblast tissue in wistar strain rats (Rattus orvegicus) in incisions. Methods: This study uses an experimental design with a sample of 75 rats divided into 5 groups; 0.9% NaCl group, 1% tulle-framycetin sulfate group, 10% Aloe vera group, 20% Aloe vera group and 40% Aloe vera group. Samples of incisional wound skin were performed on days 3.7, and 12. All data were processed and analyzed statistically using SPSS 20. Based on microscopic observations at 10 times per field of view, the highest number of fibroblasts given at NaCl was given on the day 12th is 28.98 per field of view, treatment using tulle-framycetin sulfate 1% is 34.5 per field of view, treatment using Aloe vera 10% is 17.32 per field of view, treatment using Aloe vera 20% is 33, 9 per field of view while the treatment using Aloe vera was 40% ie 18.7 per view. Results : The results of the study with the Independent T-test and Paired T-test showed that the results of fibroblast tissue between 0.9% NaCl group, 1% tulle-framycetin sulfate, 10% Aloe vera, 40% Aloe vera with 20% Aloe vera there were differences which were significant (p <0.05) where 20% Aloe vera gave effective results in the wound healing process. Conclusion : This study concluded that 20% of Aloe vera can be used as an alternative choice of wound healing. In the next study it is expected to examine the variable TGF (Transforming Growth Factor) that affects cell growth in wound healing.
Learning innovation using augmented reality for interactive learning experiences Yudiernawati, Atti; Wahyuni, Tavip Dwi; Suryani, Pudji
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 13 No. 1 (2025): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1142300

Abstract

This study explores the potential of learning innovations using Augmented Reality (AR) to enhance the interactive learning experience in educational settings. AR, a technology that overlays digital information on the real world, provides immersive and engaging experiences that support diverse learning styles. This qualitative research employs a literature review methodology to analyze and synthesize findings from various studies on AR in education. The literature highlights the growing interest in AR as an educational tool, focusing on its ability to increase student engagement, improve knowledge retention, and foster active participation. AR enables learners to interact with 3D models, simulations, and other dynamic content, making abstract concepts more accessible and understandable. Additionally, AR promotes collaboration among students, allowing for shared learning experiences in both physical and virtual spaces. Despite its advantages, challenges such as technological accessibility, high implementation costs, and the need for teacher training remain barriers to widespread adoption. This paper discusses the implications of AR for educators and policymakers and suggests directions for future research to address these challenges. The findings underscore the transformative potential of AR in reshaping traditional learning environments, paving the way for more interactive and personalized learning experiences. By integrating AR, educators can create more engaging and effective learning experiences that cater to the needs of 21st-century learners.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (DIABETES MELLITUS TIPE 2) DI KELURAHAN CEMORO KANDANG KOTA MALANG: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR (DIABETES MELLITUS TIPE 2) DI KELURAHAN CEMORO KANDANG KOTA MALANG Milwati, Susi; Yudiernawati, Atti; Wahyuni, Tavip Dwi; Suyanto, Edi
Jurnal Produk Pengabdian Masyarakat indonesia Vol 2 No 1 (2024): JPPMI- April 2024
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.810028/jppmi.v2i1.41

Abstract

Prevalensi Penyakit Tidak Menular (PTM) terus mengalami kenaikan dari hasil Riskesdas 2018 dibandingkan Riskesdas 2013, antara lain stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Berdasarkan pemeriksaan gula darah, diabetes melitus naik dari 6,9% menjadi 8,5%; dan hasil pengukuran tekanan darah, hipertensi naik dari 25,8% menjadi 34,1%. Kenaikan prevalensi penyakit tidak menular ini berhubungan dengan pola hidup, antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, kurangnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi buah dan sayur. Tingginya prevalensi Diabetes Mellius (DM) karena kurangnya pemahaman dalam mengenali resiko DM , dan yang paling penting pada pengendalian resiko Diabetes mellitus. Keadaan diatas akan menambah beban masalah kesehatan masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa promosi kesehatan dan pencegahan yang telah ada kurang dapat berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kegiatan ini akan dilakukan melalui mobilisasi masyarakat untuk ikut terlibat mulai dari perencanaan hingga evaluasi kegiatan, melalui edukasi, pelatihan dan pendampingan, sehingga diharapkan program ini akan terus berlanjut secara swadaya oleh masyarakat meskipun kegiatan pengabdian telah selesai.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PROMOSI KESEHATAN PENCEGAHAN RISIKO PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA REMAJA MASJID AT TAQWA TUMPANG KABUPATEN MALANG: PROMOSI KESEHATAN PENCEGAHAN RISIKO PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE 2 PADA REMAJA MASJID AT TAQWA TUMPANG KABUPATEN MALANG Dwi Wahyuni, Tavip; Suryani, Pudji; Zainol Rachman, Moh
Jurnal Produk Pengabdian Masyarakat indonesia Vol 1 No 2 (2024): JPPMI- Oktober 2024
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.810028/jppmi.v1i2.53

Abstract

Diabetes mellitus tipe 2 telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin mengkhawatirkan, termasuk di Indonesia. Remaja, sebagai kelompok yang rentan, perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya pencegahan penyakit ini. Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) “Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Promosi Kesehatan Pencegahan Risiko Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Remas Masjid AT Taqwa Tumpang Kabupaten Malang”, dengan tujuan melatih Remas Dalam Promosi Kesehatan Pencegahan Risiko Diabetes Mellitus. Dengan pemberdayaan Remas AT-Taqwa berupa pelatihan tentang Promosi Kesehatan, Konsep Diabetes Mellitus Tipe 2 Dan Pencegahan Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2, diharapkan Anggota Remas AT-Taqwa mempunyai pengetahuan dan pemahaman tentang Promosi Kesehatan, Pengetahuan dan Ketrampilan Pencegahan Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2. Sehingga Anggota Remas AT-Taqwa dapat memberikan edukasai kepada teman-teman sebayanya, keluarganya dan masyarakat sekitarnya, yang akhirnya dapat berkontribusi dalam penurunan angka kejadian dan pencegahan Diabetes Mellitus tipe 2 di Wilayah Tumpang Kabupaten Malang. Program pemberdayaan masyarakat menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan remaja tentang pencegahan diabetes mellitus tipe 2.
MODEL PROMOSI KESEHATAN BERBASIS PELATIHAN KADER DAMPAKNYA TERHADAP KOMPETENSI SKRINING DAN PENCEGAHAN DIABETES MELITUS TIPE 2: PROMOSI KESEHATAN BERBASIS PELATIHAN KADER DAMPAKNYA TERHADAP KOMPETENSI SKRINING DAN PENCEGAHAN DIABETES MELITUS TIPE 2 Wahyuni, Tavip Dwi; Yudiernawati, Atti; Suryani, Pudji; Setiawan, Aziz
JURNAL TEKNOLOGI KONSEPTUAL DESAIN Vol 2 No 3 (2026): JTKD- Maret 2026
Publisher : CV.G-Techsolutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1980/jurnalteknologikonseptualdesign.v2i3.109

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) meningkat secara global dan kader kesehatan berperan strategis dalam pencegahannya, namun kompetensinya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh model promosi kesehatan berbasis pelatihan kader menggunakan booklet terhadap peningkatan kompetensi skrining dan pencegahan DMT2 pada kader di PKM Rampal Celaket. Desain quasi-experimental one group pretest-posttest digunakan dengan sampel kader yang diambil secara total sampling. Intervensi berupa pendidikan dan pelatihan selama 2 hari dengan metode partisipatif. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: 72,5% kader masuk kategori baik untuk pengetahuan dan keterampilan setelah intervensi. Uji Wilcoxon menghasilkan nilai *p* = 0,000 (pengetahuan) dan *p* = 0,005 (keterampilan). Kesimpulan: model ini efektif meningkatkan kompetensi kader. Diperlukan pelatihan berkelanjutan, supervisi puskesmas, dan kolaborasi multisektoral.
PENGARUH INTERAKSI ANTARA PROJECT BASED LEARNING DAN DIRECT INSTRUKSIONAL SERTA GAYA KOGNITIF TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MAHASISWA Yudiernawati, Atti; Wahyuni, Tavip Dwi; Suryani, Pudji
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i2.10241

Abstract

ABSTRACT Problem-solving ability is a fundamental competency that university students must possess to meet the demands of analysis and decision-making in professional contexts. The development of this ability is influenced not only by the learning strategies applied but also by individual cognitive characteristics. This study aims to examine the effects and interaction between Project Based Learning and Direct Instruction models and students’ cognitive styles on problem-solving ability. The research employed a quasi-experimental approach with a 2×2 factorial design involving 87 students from the Health Promotion Study Program. Cognitive styles were classified into field independent and field dependent using the Group Embedded Figure Test, while problem-solving ability was assessed through scenario-based tests. The data were analyzed using two-way ANOVA. The findings indicate that students taught using Project Based Learning demonstrated higher problem-solving ability compared to those taught using Direct Instruction. In addition, students with a field independent cognitive style performed better than those with a field dependent style. Further analysis revealed a significant interaction between learning models and cognitive styles. These findings suggest that the effectiveness of learning strategies in enhancing problem-solving ability depends on the alignment between instructional approaches and students’ cognitive characteristics. ABSTRAK Kemampuan pemecahan masalah menjadi kompetensi esensial bagi mahasiswa dalam menghadapi tuntutan analisis dan pengambilan keputusan di dunia profesional. Pengembangan kemampuan ini tidak hanya dipengaruhi oleh strategi pembelajaran yang digunakan, tetapi juga oleh karakteristik kognitif individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh serta interaksi antara model pembelajaran Project Based Learning dan Direct Instruction dengan gaya kognitif mahasiswa terhadap kemampuan pemecahan masalah. Penelitian menggunakan pendekatan quasi-experimental dengan rancangan faktorial 2×2 yang melibatkan 87 mahasiswa Program Studi Promosi Kesehatan. Gaya kognitif diklasifikasikan menjadi field independent dan field dependent menggunakan Group Embedded Figure Test, sedangkan kemampuan pemecahan masalah diukur melalui tes berbasis skenario. Data dianalisis menggunakan two-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengikuti Project Based Learning memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dibandingkan dengan Direct Instruction. Selain itu, mahasiswa dengan gaya kognitif field independent menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan field dependent. Analisis lebih lanjut mengungkap adanya interaksi signifikan antara model pembelajaran dan gaya kognitif. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bergantung pada kesesuaian antara strategi pembelajaran dan karakteristik kognitif mahasiswa.
Efektivitas In-House Training terhadap Peningkatan Kapasitas Kader dalam Deteksi Dini dan Pengelolaan Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Yudiernawati, Atti; Wahyuni, Tavip Dwi; Abiddin, Andi Hayyun
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 5 (2026): Volume 8 Nomor 5 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i5.25150

Abstract

ABSTRACT Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence and poses a major public health challenge. Early detection and management of T2DM risk factors at the community level are essential strategies to reduce disease burden. Health cadres play a strategic role in promotive and preventive services; however, limited knowledge and skills often hinder optimal implementation. This study aimed to improve the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors through In-House Training. This study employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design. The intervention consisted of educational sessions, interactive discussions, and practical training on T2DM risk factors and community-based screening techniques. Knowledge and skills were measured before and after the training using structured assessment tools. The results showed a significant improvement in both knowledge and skills after the training. The mean knowledge score increased from 55.4 ± 12.7 (pretest) to 82.1 ± 10.3 (posttest) (p 0.001). Similarly, the mean skill score improved from 48.7 ± 11.2 to 78.6 ± 9.5 (p 0.001), indicating a statistically significant enhancement in cadre capacity. In-House Training is an effective and practical approach to strengthening the capacity of health cadres in early detection and management of T2DM risk factors. This strategy may support sustainable community-based diabetes prevention and control programs. Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus, Health Cadres, Early Detection, In-House Training.  ABSTRAK Diabetes Mellitus Tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat. Deteksi dini serta pengelolaan faktor risiko DMT2 di tingkat komunitas merupakan strategi penting untuk menurunkan beban penyakit. Kader kesehatan memiliki peran strategis dalam pelayanan promotif dan preventif, namun keterbatasan pengetahuan dan keterampilan sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2 melalui In-House Training. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan one-group pretest–posttest. Intervensi meliputi pemberian materi edukatif, diskusi interaktif, dan pelatihan praktik terkait faktor risiko DMT2 serta teknik skrining sederhana berbasis komunitas. Pengetahuan dan keterampilan kader diukur sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan instrumen penilaian terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor pengetahuan dan keterampilan kader setelah pelatihan. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 55,4 ± 12,7 (pretest) menjadi 82,1 ± 10,3 (posttest) (p 0,001). Rata-rata skor keterampilan juga meningkat dari 48,7 ± 11,2 menjadi 78,6 ± 9,5 (p 0,001), yang menunjukkan peningkatan kapasitas kader secara bermakna. In-House Training merupakan pendekatan yang efektif dan aplikatif dalam meningkatkan kapasitas kader kesehatan dalam deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko DMT2. Strategi ini berpotensi memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian diabetes secara berkelanjutan di tingkat komunitas. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe 2, Kader Kesehatan, Deteksi Dini, In-House Training.