Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Partisipasi Petani Peternak dalam Mengembangkan Sapi Eksotik melalui Inseminasi Buatan di Desa Jembatan Kembar Timur Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat Jalal, Zul; Yasin, M.; Rengganis, Baiq Santi
Astina: Jurnal Ekonomi Utama Vol 2 No 3 (2023): Jurnal Ekonomi Utama (Juria)
Publisher : CV. Astina Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55903/juria.v2i3.133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat partisipasi petani peternak dalam pemgembangan sapi ekskotik melalui inseminasi buatan (IB); penilaian petani peternak terhadap pengembangan sapi eksotik melalui IB ditinjau dari aspek sosial, aspek teknologi dan aspek ekonomis; dan untuk mengetahui korelasi antara penilaian dan tingkat partisipasi petani peternak terhadap pengembangan sapi eksotik melalui IB. Penelitian dilakukan di Desa Jembatan Kembar Timur Kecamatan Lembar Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan menggunakan metode survei. Penentuan lokasi penelitian ini dilakukan secara Purposive. Jumlah responden yang diambil sebanyak 50 orang dengan metode Proporsional Random Sampling. Analisis data yang digunakan adalah analisis skor (score analysis) dengan skala likert dan analisis korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat partisipasi petani peternak dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB 36% sangat konsisten, 16% konsisten, 14% cukup konsisten, 8% tidak konsisten, dan 26% sangat tidak konsisten. Penilaian petani terhadap aspek sosial dalam pengembangan sapi eksotik melalui IB menunjukkan bahwa 26% sangat menerima, 68% menerima, dan 6% cukup menerima. Penilaian petani terhadap aspek teknik dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB 34% sangat mudah, 22% mudah, 16% agak sulit , 14% sulit, dan 14% sangat sulit. Penilaian petani terhadap aspek ekonomi dalam pengembangan sapi eksotik melalui IB 20% sangat menguntungkan, 14% menguntungkan, 48% cukup menguntungkan dan 18% tidak menguntungkan. Penilaian petani terhadap seluruh aspek, 38% sangat baik, 48% baik, dan 16% cukup baik. Korelasi antara penilaian petani dari aspek sosial dengan partisipasi peternak dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB menunjukkan korelasi yang cenderung sangat rendah (rs=0,224). Korelasi antara penilaian dari aspek teknis dengan partisipasi peternak dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB menunjukkan korelasi yang cenderung kuat( rs=0,640). Korelasi antara penilaian dari aspek ekonomi dengan partisipasi peternak dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB menunjukkan korelasi yang cenderung cukup kuat (rs=0,495). Korelasi antara penilaian dari semua aspek dengan partisipasi peternak dalam mengembangkan sapi eksotik melalui IB menunjukkan korelasi yang cenderung kuat (rs=0, 668).
Analisis Rantai Pasok Usaha Tani Semangka Varietas Praya (Study Kasus Di Desa Pengantap) Kecamatan Sekotong Kabupaten Lombok Barat Sianim, Sianim; Rosadi, Narita Amni; Rengganis, Baiq Santi
Spectrum: Multidisciplinary Journal Vol. 1 No. 3 (2024): Spectrum: Multidisciplinary Journal
Publisher : Sapta Arga Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,05% pada tahun 2023, dengan kontribusi yang signifikan dari sektor pertanian, termasuk buah semangka. Meskipun demikian, usahatani semangka di daerah penelitian belum dikembangkan secara optimal, dengan produktivitas yang masih rendah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik survei, melibatkan 25 responden yang dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan bersih rata-rata petani semangka adalah Rp. 53.750.000 per hektar, dengan efisiensi yang tinggi dalam rantai pasok. Dua saluran pemasaran utama diidentifikasi: saluran pertama melibatkan petani, pengepul, dan pengecer, sedangkan saluran kedua melibatkan petani dan pengepul langsung ke konsumen akhir. Analisis menunjukkan bahwa saluran pemasaran pertama menghasilkan nilai share petani sebesar 86,69%, sementara saluran kedua menghasilkan 92,00%. Kedua saluran pemasaran dianggap efisien dengan nilai farmer’s share di atas 50%. Untuk meningkatkan efisiensi dan keuntungan, disarankan agar petani mempertimbangkan strategi pemasaran langsung kepada pedagang besar atau pengecer. Penelitian ini menyoroti pentingnya pengembangan teknik budidaya dan pengelolaan lahan yang lebih baik untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani semangka di Kabupaten Lombok Barat.
Analisis Rantai Pasok (Supply Chain) Jagung Varietas Bisi 22 Di Desa Babussalam Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat Fahrurrozi, Fahrurrozi; Yasin, M; Rengganis, Baiq Santi
Anthronomics: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia Vol 1 No 3 (2024): Anthronomics: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia
Publisher : Sapta Arga Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rantai pasok adalah semua kegiatan atau usaha yang melibatkan pihak yang memproduksi dan atau yang menghasilkan barang atau jasa, mulai dari produsen atau supplier bahan baku sampai pada konsumen akhir. Jagung varietas Bisi 22 merupakan jenis jagung hibrida, varietas ini memiliki produktivitas tinggi, ketahanan akan hama dan penyakit, serta cocok ditanam di lahan sawah irigasi maupun tandah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk rantai pasok dan efisiensi pemasaran jagung. Penelitian ini dilakukan di Desa Babussalam Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, dimulai dari bulan Maret sampai dengan Mei tahun 2024 dengan pengkajian metode deskriptif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Pemilihan sampel pada penelitian ini menggunakan metode random sampling, dan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 30 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa, ada 2 bentuk saluran pemasaran, yaitu saluran pemasaran bentuk I yang dimulai dari petani ke pedagang pengepul, dan dari pedagang pengepul ke konsumen akhir. Saluran pemasaran bentuk II, yaitu petani menjual jagung ke pedagang pengepul, kemudian pedagang pengepul ke pedagang besar, dan pedagang besar ke konsumen akhir. Margin pemasaran pada saluran pemasaran bentuk I sebesar Rp. 2.300.000, dan margin saluran pemasaran bentuk II sebesar Rp. 2.500.000. Farmer share pada saluran pemasaran bentuk I sebesar 46,5%, dan pada saluran pemasaran bentuk II sebesar 44,4%. Tingkat efisiensi pemasaran pada saluran pemasaran bentuk I sebesar 1,2%, dan pada saluran pemasaran bentuk II sebesar 1,7%. Dalam hal ini, pemasaran jagung melalui saluran pemasaran benuk I lebih efisien daripada saluran pemasaran bentuk II.
Ayo Menanam Sacha Inchi! Pemberdayaan Masyarakat Desa Aik Bukaq Menuju Kemandirian Ekonomi dan Pariwisata Santi Rengganis, Baiq; Rahman Bilal, Fathur; Zulisnaeni, Lalu; Hadi, M. Irzan; Setiyorini, Setiyorini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (JPMN) Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus 2024 - Januari 2025
Publisher : Lembaga Otonom Lembaga Informasi dan Riset Indonesia (KITA INFO dan RISET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35870/jpmn.v4i2.3091

Abstract

Aik Bukaq Village in Central Lombok has great potential in developing the tourism sector and economic independence through community empowerment. One commodity that has high economic value and great potential is the Sacha Inchi plant (Plukenetia volubilis). This plant is known to be rich in omega-3, omega-6 and omega-9, as well as high in protein, so it has a high selling value on the global market. However, public knowledge about the cultivation and processing of Sacha Inchi is still limited. Therefore, this research aims to increase community capacity in cultivating Sacha Inchi as a first step towards economic independence and developing agro-based tourism in Aik Bukaq Village. The methods used in this program include outreach, technical cultivation training, field assistance, and counseling about the economic benefits and potential in tourism. Outreach was carried out to introduce Sacha Inchi to the community, followed by technical training which included planting, care and harvesting techniques. Field assistance is carried out regularly to ensure the correct application of techniques and monitor plant development. Apart from that, education was carried out about market opportunities and how to use Sacha Inchi as a tourist attraction that can increase tourist visits. The results of this program show an increase in community knowledge and skills in Sacha Inchi cultivation. Some people are starting to see the economic potential of this plant and are taking the initiative to develop small businesses based on Sacha Inchi. In addition, several local tourism businesses are interested in including Sacha Inchi as part of the agro tourism packages offered to tourists. Thus, community empowerment through Sacha Inchi cultivation can be a strategic step in realizing economic independence and supporting the development of sustainable tourism in Aik Bukaq Village.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGUATAN KELEMBAGAAN DALAM BIDANG MANAJEMEN KEUANGAN PADA KOPERASI PRODUSEN KELOMPOK TANI DESA SAJANG KECAMATAN SEMBALUN KABUPATEN LOMBOK TIMUR Fathurrahman, Fathurrahman; Rengganis, Baiq Santi; Novida, Sari
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2577

Abstract

Koperasi produsen Bumi Tani Lestari Indonesia adalah koperasi produsen kopi yang berskala provinsi dengan anggota yang terdaftar sebanyak 37 orang. Koperasi produsen ini berada di Dusun Sajang Desa Sajang, Kecamatan Sembalum Kabupaten Lombok Timur. Koperasi masih terdapat beberapa kekurangan dalam tata kelola manajemen koperasi khususnya manajemen keuangan, seperti manajemen koperasi belum berjalan secara baik, petani kesulitan menghitung biaya dan pendapatan usaha tani kopi, dan koperasi kesulitan melakukan pencatatan transaksi dan pembukuan usaha yang baik. Tujuan dari pelaksanaan PKM ini adalah untuk memberikan pemahaman dalam menegelola koperasi khususnya dalam bidang manajemen keuangan. Metode yang digunakan adalah metode pelatihan yang berbentuk penyuluhan, pendampingan, dan bantuan material (fasilitasi) dengan melibatkan mitra secara aktif dalam perencanaan, pelak- sanaan, dan evaluasi sesuai kebutuhannya dan mampu mandiri setelah kegiatan PKM berakhir. Perumusan masalah dan penggalian solusi alterna- tifnya dilakukan secara FGD (Focus Group Discussion). Hasil dari kegiatan pelatihan dasar manajemen keuangan koperasi dapat memberikan manfaat terhadap meningkatnya pemahaman dan pengetahuan manajemen keuangan koperasi secara konseptual dan teknikal. serta diterapkannya pada studi kasus yang sedang terjadi pada koperasi.
Trigona Honey Bee Cultivation Business Contribution (Trigona Sp) on The Income of Farm Households in Pemepek Village Pringgarata Sub-District Central Lombok Regency Sari, Dewi Sahmin Puspita; Rosadi, Narita Amni; Rengganis, Baiq Santi
Implikasi: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia Vol 1 No 2 (2023): Implikasi: Jurnal Manajemen Sumber Daya Manusia
Publisher : Management Science Doctoral Program, Pasundan University, Bandung, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56457/implikasi.v1i2.455

Abstract

The objectives of this research are: (1) To determine the costs and income of honey bee cultivation businesses Trigona sp In Pemepek Village, Pringgarata Sub-District, Central Lombok Regency; (2) Knowing the magnitude of the contribution of the honey bee cultivation business Trigona sp on farmer household income; (3) Knowing what obstacles are faced by honey bee cultivation businesses Trigona sp. In this research the method used is the descriptive method. Determination of the sample area was carried out using purposive sampling, while the data collection technique was carried out using a census. The research results show that: (1) Average production costs for honey bee cultivation businesses Trigona sp amounting to IDR 134,663,- per one production or IDR 403,989,- per year (3 production times). The average honey production produced is 0.11 liters per stop or 2.15 liters per production or 6.45 liters per year with a price at the farmer level of IDR 300,000, so that the average revenue is IDR 646,000 per one. times production or IDR 1,938,000 per year. And the average income of honey bee farmers is IDR 511,337 per production or IDR 1,534,011 per year. (2) Contribution of honey bee business Trigona sp to farmer household income of IDR 1,501,789,- or 14.11% of the total income of IDR 10,874,204,- per year, which comes from farming IDR 5,085,193,- or 46.76% and non-agricultural business IDR 4,255,000,- or 39.13%; (3) The main obstacles faced by honey bee business actors Trigona sp are weak financial management of honey bee cultivation businesses, reduced raw materials for bees' main consumption which are produced from various trees or plants that produce resin, nectar and pollen, reduced honey stocks, the presence of pests and diseases, low consumer confidence in the quality of honey.
Ayo Menanam Sacha Inchi! Pemberdayaan Masyarakat Desa Aik Bukaq Menuju Kemandirian Ekonomi dan Pariwisata Santi Rengganis, Baiq; Rahman Bilal, Fathur; Zulisnaeni, Lalu; Hadi, M. Irzan; Setiyorini, Setiyorini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nusantara (JPMN) Vol. 4 No. 2 (2024): Agustus 2024 - Januari 2025
Publisher : Lembaga Otonom Lembaga Informasi dan Riset Indonesia (KITA INFO dan RISET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35870/jpmn.v4i2.3091

Abstract

Aik Bukaq Village in Central Lombok has great potential in developing the tourism sector and economic independence through community empowerment. One commodity that has high economic value and great potential is the Sacha Inchi plant (Plukenetia volubilis). This plant is known to be rich in omega-3, omega-6 and omega-9, as well as high in protein, so it has a high selling value on the global market. However, public knowledge about the cultivation and processing of Sacha Inchi is still limited. Therefore, this research aims to increase community capacity in cultivating Sacha Inchi as a first step towards economic independence and developing agro-based tourism in Aik Bukaq Village. The methods used in this program include outreach, technical cultivation training, field assistance, and counseling about the economic benefits and potential in tourism. Outreach was carried out to introduce Sacha Inchi to the community, followed by technical training which included planting, care and harvesting techniques. Field assistance is carried out regularly to ensure the correct application of techniques and monitor plant development. Apart from that, education was carried out about market opportunities and how to use Sacha Inchi as a tourist attraction that can increase tourist visits. The results of this program show an increase in community knowledge and skills in Sacha Inchi cultivation. Some people are starting to see the economic potential of this plant and are taking the initiative to develop small businesses based on Sacha Inchi. In addition, several local tourism businesses are interested in including Sacha Inchi as part of the agro tourism packages offered to tourists. Thus, community empowerment through Sacha Inchi cultivation can be a strategic step in realizing economic independence and supporting the development of sustainable tourism in Aik Bukaq Village.
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN PETANI KOPI TERHADAP PENANGANAN KOPI PASCA PANEN MENGGUNAKAN TEKNIK ANAEROB Nirmawati, Nirmawati; Rengganis, Baiq Santi
AGRIBIOS Vol 23 No 1 (2025): JUNI
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v23i1.6129

Abstract

Knowledge level of farmers in post-harvest coffee handling in Sajang Village, Sembalun District, East Lombok Regency. This study aims to determine the level of knowledge of farmers in handling post-harvest coffee using anaerobic techniques in Sajang Village, Sembalun District, East Lombok Regency. Sampling in this study was done by taking all the population into respondents, namely farmers who are members of the Bumbi tani lestari Indonesia farmer group in Sajang Village, Sembalun District, East Lombok Regency as many as 40 people. Data analysis used in this research is quantitative descriptive data analysis. The results showed that the level of knowledge of farmers in handling post-harvest coffee using anaerobic techniques which include sorting is known to be high with a value of 3 with a percentage of 57%, fermentation is known to be medium with a value of 2 with a percentage of 50%, drying is known to be high with a value of 3 with a percentage of 55%, storage and skin grinding is known to be medium with a value of 2 with a percentage of 63%.
SUPPLY CHAIN MANAJEMEN KOPI ORGANIK SERTA POTENSI PENGGORGANISASIAN BAGI PRODUSEN KECIL DI KAWASAN PARIWISATA UTARA LOMBOK TENGAH Rengganis, Baiq Santi; Nirmawati, Nirmawati
AGRIBIOS Vol 23 No 1 (2025): JUNI
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v23i1.6131

Abstract

The aim of this research is to understand the various value chains that exist in the coffee business in and around the Central Lombok Tourism Area, especially in the northern part. Furthermore, this research also aims to determine the feasibility of organizing small farmers in organic coffee production groups in the tourism area and to determine the performance of coffee supply chain management. Analysis of market demand in the Northern Tourism Area of ​​Central Lombok in terms of the last two years obtained using secondary data from related institutions and primary data obtained from coffee producers in the tourism area. To find out the spread of the coffee business, semi-structured interviews were conducted at each coffee retailer. The function of each actor is carried out through structured interviews and observations. This research also relies on focus group discussions in each village with producers to understand market relationships and the difficulties faced. The research results show that the marketing chain ! considered more effective than channel II, then the actor who plays a very important role in the coffee supply chain is KWT Rinjani and supply chain management shows a figure of 25.88%, which means that the coffee classification is considered very good with an average SCMPI of 3.192.
ANALISIS MANAJEMEN RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN MANAGEMENT) PADI PASCA PANEN DI PENGGILINGAN PADI (STUDI : KECAMATAN PRINGGASELA) Muhammad Hamsyuni; Baiq Santi Rengganis
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

: Dalam rantai pasok terdapat tiga aliran yang harus dikelola yaitu aliran produk, aliran uang dan informasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui aliran produk, aliran keuangan dan aliran informasi padi pasca panen pada penggilingan padi serta menganalisis efisiensi saluran pemasaran dalam rantai pasok padi pasca panen. Metode penelitian adalah deskriptif dan analitik sedangkan metode pengambilan sampel adalah teknik purposive sampling dan snowball sampling. Analisis yang digunakan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan pertama yang terlibat dalam rantai pasok beras yaitu petani, penggilingan padi, tengkulak, pedagang pengecer, dan konsumen. Kedua pola saluran rantai pasok memiliki tiga pola saluran, yaitu : aliran produk dimulai dari petani menjual gabah ke penggilingan padi dan tengkulak, kemudian gabah tersebut diolah menjadi beras dan di jual kepada pedagang pengecer dan konsumen. Aliran keuangan dua pola saluran sama-sama menguntungkan. Aliran informasi yang terjadi mengalir dua arah petani dengan penggilingan padi, petani dengan tengkulak, penggilingan padi dengan tengkulak, penggilingan padi dengan pedagang pengecer, dan pedagang pengecer dengan konsumen. Margin tataniaga untuk masing-masing saluran ternyata berbeda. Pada saluran satu besar margin totalnya yaitu Rp3.300 per kg pada saluran dua margin totalnya sebesar Rp1.100 per kg dan saluran terakhir margin totalnya sebesar Rp2.000 per kg. Petani padi mendapat nilai tambah 15%, penggilingan padi medapat nilai tambah 49%, Tengkulak mendapat nilai tambah 16% dan pedagang pengecer mendapat nilai tambah sebesar 20%