Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Adaptasi Morfologi dan Fisiologi Bibit Kopi di Dataran Rendah Rini Sulistiani; Wan Arfiani Barus; Sri Utami; Rony Alparizi
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 26, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrium.v26i2.16629

Abstract

Kemampuan daya adaptasi antara kopi Arabika dan Robusta akan mengalami perubahan dan cenderung menurun bila ditanam dataran rendah. Hal ini akan mempengaruhi produktivitas tanaman kopi, sehingga perlu penanganan dan pengelolaan budidaya tanaman secara tepat agar produksi biji kopi tetap stabil. Tujuan penelitian untuk mengetahui daya adaptasi tanaman kopi dengan memberikan perlakuan untuk mendukung pertumbuhan bibit agar mampu menyesuaikan diri ketika ditanam dataran rendah. Penelitian menggunakan rancangan Split Split Plot Design dengan Petak Utamanya adalah varietas (Arabika Ateng Super dan Robusta Lampung). Faktor anak petaknya adalah POC limbah tahu (0, 100, 200, dan 300 ml/L). Faktor anak-anak petaknya NPK majemuk (0, 9, 18, dan 27 g/tanaman). Setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati, morfologi daun, tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot basah tanaman, kandungan klorofil pada umur 2, 4, 6, dan 8 minggu setelah tanam (MST). Hasil analisis data dengan Analisis of Variance, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test dan regresi korelasi. Hasil penelitian menunjukkan varietas, Nitrogen dan limbah tahu berpengaruh nyata pada parameter yang diamati. Secara umum Robusta dan Arabika mampu beradaptasi pada saat pembibitan di dataran rendah. Arabika dapat menjadi pilihan bibit yang dikembangkan karena memiliki kadar klorofil daun lebih banyak walaupun tanpa pemberian pemupukan NPK. Limbah tahu dengan konsentrasi 300 ml/L dapat meningkatkan jumlah dan luas daun serta kadar klorofil.
THE GROWTH RESPONSE AND YIELD OF WHITE EGGPLANT (Solanum melongena L.) TO THE APPLICATION OF CORN COB BOKASHI AND LIQUID ORGANIC FERTILIZER OF TEMPEH WASTE Priatmojo, Tito; Sulistiani, Rini; Julia, Hilda
Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 12 No. 2 (2024): Jurnal Al Ulum: LPPM Universitas Al Washliyah Medan
Publisher : UNIVERSITAS AL WASHLIYAH (UNIVA) MEDAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47662/alulum.v12i2.644

Abstract

White eggplant is a horticultural commodity that is widely distributed and consumed in Indonesia. It is included in hybrid varieties that have nutrients such as vitamins, calcium, phosphorus and fat. This study aims to obtain the maximum dose of corn cob bokashi and concentration of tempeh waste Liquid Organic Fertilizer (LOF) to increase the growth and yield of white eggplant (Solanum melongena L.). This study used a Randomized Block Design consisting of two factors, namely corn cob bokashi and LOF tempeh waste. Corn cob bokashi consists of levels: 0, 60, 90 and 120 g/plant. While for LOF tempeh waste consists of levels: 0, 250, 500 and 750 ml/polybag. The parameters observed were plant height, stem diameter, fruit diameter, number of fruits per plot, and fruit weight per plot. Observational data were analyzed using an analysis of variance and followed by a difference of means test according to Duncan's Multiple Range Test at p<0.05. The interaction of corn cob bokashi and tempeh waste LOF had no significant effect on all parameters. The recommended application of corn cob bokashi is 60 g/plant and LOF tempeh waste as much as 300 ml/polybag to obtain the optimum weight of eggplant fruit.
Differences in Growth and Yield of Moringa Oleifera Leaves by Immersing Seeds and Variations of Planting Medium Sulistiani, Rini; Surianto, Surianto; Novita, Aisar; Siregar, Sasmita; Rasyidi, Ahmad Fadhillah
Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 24 No 3 (2024)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jppt.v24i3.3440

Abstract

Seeds are generally used for moringa cultivation. However, the seeds produced have a fairly hard seed coat, thus affecting germination and seed vigor. The research by immersing seeds with plant growth regulators (PGR) and a comparison of the composition of planting medium need experimentation to get the maximum PGR concentration and the right composition of the planting medium to grow. The study was conducted using a Split Plot Design with the main plots PGR consisting of Z1 (freshwater), Z2 (Coconut liquid), and Z3 (GA3). The subplot is Plant Medium consisting of M1 (soil: sand: manure-1:1:2); M2 (soil: sand: manure-1:2:1); M3 (soil: sand: manure-2:1:1). Data were examined by Analysis of Variance and continued by DMRT at α 5%. The results of the analysis showed that PGR had a significant effect on plant height, stem diameter, and root length. The composition of the planting medium caused significant differences in plant height, stem diameter, number of leaves, and fresh and dry leaf weight. The interaction between the planting medium and PGR caused differences in stem diameter at 2 and 8 weeks after planting. The recommended PGR treatment is freshwater for longer roots and taller plants. M1 planting media produced the most number and weight of leaves. The combination treatment of Z3M2 produces the largest stem diameter.
Berpartisipasi Dalam Aksi Penanaman Pohon Dan Susur Sungai Belawan Ketaren, Bunga Raya; Novita, Aisar; Triyanti, Vitri Renny; Lubis, Efrida; Julia, Hilda; Sulistiani, Rini; Munar, Asritanarni; Cemda, abdul Rahman; Tarigan, Dafni Mawar; Barus, Wan Arfiani
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 6, No 2 (2024): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Oktober)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v6i2.18769

Abstract

Menanam pohon dilakukan dalam bentuk kepedulian manusia terhadap bumi yang akan memberikan kesejahteraan yang baik bagi manusia. Majelis Wilayah (MW) Korps Alumni HMI (KAHMI) Sumatera Utara (SUMUT), Forum Alumni HMIwati (Forhati) SUMUT, Forum DAS, Kelompok Konservasi, Pecinta Alam, Pelajar dan Warga Masyarakat melakukan aksi penanaman pohon di sekitar pinggir sungai dan melakukan susur sungai. Pengabdian masyarakat ini bertujuan memperbaiki lingkungan hidup yang sehat, memperbaiki fungsi hutan, mencegah erosi, memperbaiki kualitas udara. Pengabdian masyarakat ini dilakukan di Jl. PDAM Tirtanadi Gg. Lembah Berkah, Sunggal, Medan, Indonesia. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode terjun langsung kelapagan berbaur dengan masyarakat. Hasil yang diperoleh dalam pengabdian masyarakat ini berupa penanaman pohon didaerah pinggir Sungai Belawan dan Penyusuran sungai Belawan. Oleh sebab itu, pengabdian masyarakat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat diseputaran pinggiran Sungai Belawan.
COMPARATIVE STUDY ON YIELD OF EDIBLE LOCAL MUSHROOM USING DIFFERENT CARRIERS OF SPAWN Sulistiani, Rini; Hakim, Juanda; Khulidin, Khairul Asfamawi; Othman, Abu Bakar
Jurnal Al Ulum LPPM Universitas Al Washliyah Medan Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Al Ulum: LPPM Universitas Al Washliyah Medan
Publisher : UNIVERSITAS AL WASHLIYAH (UNIVA) MEDAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47662/alulum.v13i1.799

Abstract

Spawn quality is an important factor that affects the final yield in mushroom production. As most mushroom spawns are in the form of cereals, wheat grain, sorghum and corn seeds that are used as a carrier for growth of mushroom mycelium. Inoculation of the grain spawn into media bags is an essential process. This inoculation process requires skill and focus to avoid contamination and wastage of time and material. Pellet spawn can be made by using sawdust, rice straw or wood (dowel) as carrier. This makes it simple to hold and inoculate due to its firm form instead of using grain spawn. Strains of selected edible mushrooms such as Pleurotus pulmonaris, Pleurotus florida and Schizophyllum commune are cultivated with wood pellet for mycelia colonisation. Mycelium colonisation on pellet (pellet spawn) is used for inoculation into substrate bag. The cost of pellet spawn production is 30% cheaper in mass production instead of grain spawn. The inoculation of pellet spawn into mushroom bag substrate are relatively easier and faster compared to use of grain spawn. Moreover, innoculation time on each bag could be reduced up to 40% compared with the conventional method. The production and use of pellet spawn among mushroom growers are still rare. Due to this, the use of pellet spawn is seen as an easy innoculation alternative, efficient and practical to mushroom growers.
Seleksi Bacillus sp. sebagai Penambat NPK dan Menghambat Aktivitas Jamur Hasibuan, Etti Suriani; Sulistiani, Rini; Haron, Farah Farhanah
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 28, No 1 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrium.v28i1.21533

Abstract

Penyakit layu bakteri, terutama yang disebabkan oleh Fusarium solanum, telah menjadi ancaman serius bagi petani di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh Fusarium solanum pada tanaman sulit dikendalikan yang menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi sektor pertanian di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi spesies bakteri Bacillus terpilih (bakteri cereus, bakteri megaterium, dan bakteri licheniformis) sebagai agen pengendali hayati untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dan aktivitas antijamur. Penelitian ini menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial, setiap perlakuan dilakukan sebanyak empat kali ulangan. Parameter yang diamati adalah uji antagonis yaitu diameter jamur, radius dan zona hambat. Parameter uji antijamur yaitu diameter jamur pada media. Parameter untuk uji kemampuan pertumbuhan tanaman yaitu pertumbuhan ketiga bakteri. Analisis data menggunakan uji Tukey sistem SAS. Melalui uji kultur ganda, ditemukan bahwa semua spesies Bacillus terpilih mampu menghambat pertumbuhan Fusarium solanum. Selain itu, uji produksi senyawa volatil menunjukkan bahwa Bacillus sp. menghasilkan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan jamur. Selanjutnya, uji kemampuan pertumbuhan tanaman menunjukkan bahwa Bacillus sp. memiliki kemampuan untuk memperbaiki nitrogen, melarutkan fosfat, dan kalium. Temuan ini menunjukkan bahwa Bacillus sp. terpilih memiliki potensi besar sebagai alternatif pengendalian hayati yang ramah lingkungan untuk mengelola layu bakteri pada tanaman dan meningkatkan pertumbuhan tanaman.
The difference in leaves production, protein and calcium of Moringa oleifera under modification planting media, application of PGR and nitrogen SULISTIANI, RINI; YUSUF, MUKHTAR; SARAGIH, SYAIFUL AMRI
Jurnal Natural Volume 24 Number 1, February 2024
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v24i1.32403

Abstract

Moringa has many ingredients of nutrients that are beneficial for food sources and nutrients that have not been widely cultivated. The nutritional content, benefits and high demand for Moringa abroad will open large opportunities for exporting Moringa flour. Foods full of nutrition will support the maintenance of good public health. For this reason, it is necessary to study and research cultivation techniques that produce high Moringa leaves and can be available sustainably. Production of Moringa leaves as a source of secondary metabolites can be increased by modifying the planting media and applying Plant Growth Regulator (PGR) and Nitrogen. The study used Split Split Plot Design with the main plot immersion by PGR, consisting of 3 types, namely: G1 (Fresh water), G2 (Coconut water), and G3 (GA3). The subplot was the treatment of planting media with two types: M (soil: sand: manure = 1:1:2); M (soil: sand: manure = 1:2:1). The sub subplots were N (urea) fertilizer, with four levels: N0 (0 g/plant); N1 (5 g/plant); N (10 g/plant); and N (15 g/plant). Each treatment combination goes over three times. The agronomic parameters observed were plant height, the number of leaves, fresh crop weight, and root volume, and the biochemical parameters observed were chlorophyll, protein, and calcium levels. The composition of the planting media caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 weeks after planting (WAP), the number of leaves at 4 WAP, and root length at 10 WAP. Growth Regulators significantly affected plant height at 4, 6, and 10 WAP, the number of leaves at 4 WAP, and root length at harvest. Nitrogen fertilization caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 WAP, volume, and root length at harvest (10 WAP). The combination of Planting media, PGR, and Nitrogen treatments caused significant differences in plant height at 4, 6, and 10 WAP and the number of leaves at 6 WAP. Laboratory analysis in this study showed high calcium and protein in Moringa leaves.
Kadar Klorofil Daun Bibit Kelor (Moringa oleifera L.) pada Berbagai Dosis Kompos Fadillah Rasyidi, Ahmad; Sulistiani, Rini; Iqmal bin Jalani, Syazrul
AGRIUM: Jurnal Ilmu Pertanian Vol 27, No 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/agrium.v27i1.17486

Abstract

Moringa oleifera (kelor) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia dan memiliki kandungan nutrisi beragam sehingga banyak masyarakat yang membutuhkannya. Kelor membutuhkan klorofil untuk berfotosintesis sehingga pertumbuhan dan perkembangannya berjalan dengan baik. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis kompos yang menunjang fungsi fisiologis kelor, sehingga membentuk kadar klorofil secara maksimal. Penelitian karakter klorofil dengan kompos sebagai perlakuan merupakan usaha memperbaiki aktivitas biologi tanah dan penyediaan unsur hara sehingga kadar klorofil meningkat untuk memacu laju fotosintesis. Kompos merupakan hasil dekomposisi organisme seperti tumbuhan dan hewan, yang mengandung unsur hara makro dan mikro serta memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan empat taraf kompos (0, 50, 100 dan 150 g/tanaman). Hasil analisis kadar klorofil dan intensitas warna daun berbeda nyata akibat perlakuan kompos, namun kompos memberikan hasil yang tidak nyata pada pigmen karotenoid. Kompos berpengaruh nyata terhadap jumlah klorofil daun pada tanaman kelor, yaitu: kandungan klorofil relatif dengan Soil Plant Analysis Development (SPAD), kadar klorofil a, klorofil b dan klorofil total yang diekstraksi menggunakan spektrofotometer dengan larutan Dimethyl Sulfoxide (DMSO). Pemberian kompos 110,80 g/tanaman menghasilkan kadar klorofil relatif maksimum 36,19 unit SPAD. Pemberian kompos 119,90 g/tanaman menghasilkan kadar klorofil a maksimum 25,64 mg/L. Peningkatan dosis kompos menurunkan nilai luminositas (L), nilai a* dan nilai b*. Nilai-nilai tersebut menunjukkan warna daun dari terang menjadi lebih gelap, hijau ke arah abu-abu dan kuning ke arah abu-abu, yang mengindikasikan bahwa kadar klorofil daun makin meningkat akibat perlakuan yang diberikan.
PENANAMAN AKAR WANGI (VETIVERIA ZIZANIOIDES) DI TANAM EDUKASI DAN KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN LEMBAH JUHAR Novita, Aisar; Munar, Asritanarni; Nasution, Lita; Arfiani Barus, Wan; Mawar Tarigan, Dafni; Sulistiani, Rini; Julia, Hilda; Lubis, Efrida; Raya Ketaren, Bunga
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 5 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i5.1760-1767

Abstract

Konservasi sumber daya tanah adalah perlindungan sumber daya alam tanah. Hal ini dicapai dengan menghilangkan atau mengurangi dampak manusia terhadap lingkungan alam, pemanenan sumber daya lahan yang bertanggung jawab, serta upaya konservasi yang bertujuan untuk membalikkan kerusakan manusia terhadap sumber daya lahan. Konservasi dan pelestarian lingkungan menawarkan dua pendekatan tentang bagaimana mengelola lahan publik secara bertanggung jawab. Pengabdian Masyarakat ini bertujuan untuk melakukan penanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) di taman edukasi dan konservasi sumber daya lahan Lembah Juhar, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan berupa penanaman 200 bibit tanaman akar wangi yang dilakukan di taman edukasi dan konservasi sumber daya lahan Lembah Juhar, Kabupaten Langkat bersama dengan beberapa praktisi dan akademisi dari berbagai institusi di daerah Sumatera Utara dalam rangka Hari Air Sedunia, selain itu pengabdian masyarakat ini juga memberikan sosialisasi mengenai tanaman akar wangi kepada masyarakat sekitar lahan Lembah Juhar, Kabupaten Langkat mengenai pentingnya konservasi dan pelestarian lingkungan yang sekaligus dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sebagai taman edukasi.
Pemanfaatan Melati Air Echinodorus Paleofolius sebagai Fitoremediasi Kadar Chemical Oxigen Demand Limbah Cair di Wisata Sawah Pematang Johar Wizni Fadhillah; Rini Susanti; Wahyuni Umami Harahap; Rini Sulistiani; Sri Utami; Widihastuty
Jurnal Abdimas Mahakam Vol. 9 No. 02 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24903/jam.v9i02.3552

Abstract

Wisata sawah Pematang Johar terletak di  Desa Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara. Ketersediaan air bersih yang  sangat minim di sekitar lahan sawah, menjadi alasan utama pengabdian dilaksanakan. Pengabdian bertujuan untuk menambah pengetahuan mitra dalam memanfaatkan melati air sebagai fitoremediator limbah  yang masuk ke areal  wisata, limbah yang kotor dan berbau menjadi bersih dan layak untuk digunakan. Kontribusi tim pengabdian kepada mitra  berupa sosialisasi dan edukasi tentang melati air sebagai fitoremediator. Kegiatan dilaksanakan di hari jum’at, 3 Januari 2025 di saung tengah sawah, dihadiri 20 orang yaitu mitra dalam hal ini perangkat Desa dan kader posyandu. Chemical Oxygen Demand (COD) merupakan parameter  dalam pengujian kualitas air.  Metode yang digunakan dalam kegiatan PKM ini adalah: 1).Sosialisai dan edukasi, 2).Metode constructure wetland (Lahan basah buatan untuk mengolah limbah cair industry dan limbah cair domesik)  3) Analisa limbah. Kadar COD limbah awal 395,5 mg/L (diatas standard mutu air limbah) menjadi 96 mg/L (dibawah standard mutu limbah). Limbah yang berwarna hitam dan berbau busuk menjadi tak berbau dan tak berwarna. Melati air mampu menurunkan kadar COD, warna dan bau limbah cair.