Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PENGARUH VARIASI KANDUNGAN BAHAN PENGISI TERHADAP KRITERIA MARSHALL PADA CAMPURAN LAPIS ASPAL BETON-LAPIS ANTARA BERGRADASI HALUS Ator, Praesillia Christien; Waani, Joice E.; Kaseke, Oscar H.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 12 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asphalt Concrete-Binder Course (AC-BC) atau Laston (Lapis aspal beton-lapis antara). Campuran ini terdiri dari agregat kasar, agregat halus dan filler (bahan pengisi). Menurut Spesifikasi Bina Marga 2010 revisi 3, filler adalah bahan yang 100% lolos saringan No.100 dan tidak kurang 75% lolos saringan No.200. Dalam pelaksanaan pembuatan campuran beraspal panas menggunakan alat AMP (Asphalt Mixing Plant) kemungkinan terjadi fluktuasi kandungan filler. Pengaruh dari variasi kandungan filler dalam campuran ini yang akan diteliti terhadap kriteria Marshall. Dalam penelitian ini digunakan material agregat yang berasal dari desa Lolan dan telah melalui proses pemeriksaan sesuai dengan persyaratan agregat dalam campuran. Berdasarkan gradasi dicari komposisi campuran agregat dengan variasi kadar aspal kemudian diuji Marshall untuk mendapatkan kadar aspal terbaik. Berdasarkan gradasi yang diperoleh dan kadar aspal terbaik dibuat campuran yang mengikuti gradasi ideal, tetapi untuk membuat variasi filler pada ukuran saringan terbawah filler dan dua saringan sebelumnya turut divariasikan, setelah itu dibuat benda uji dengan variasi filler 2%,4%,6%,8%,10% terhadap berat total agregat kering. Hasil pengujian Marshall menunjukkan bahwa pada kadar filler 2% sampai dengan 10% nilai stabilitas adalah 1604 kg sampai dengan 2496 kg, nilai flow adalah 3,27 mm sampai dengan 4,35 mm, nilai VFB adalah 60,85% sampai dengan 83,09%, nilai ratio filler-bitumen efektif adalah 0,41 sampai dengan 2,03, hasil tersebut menunjukkan semakin tinggi kadar filler nilai stabilitas, flow, VFB dan ratio filler-bitumen efektif meningkat. Sedangkan pada kadar filler 2% sampai dengan 10% nilai VIM adalah 7,58% sampai dengan 2,56% dan nilai VMA adalah 19,35% sampai dengan 15,14%, menunjukkan semakin tinggi kadar filler nilai VIM dan VMA menurun. Kadar filler yang terbaik memenuhi seluruh kriteria Marshall ada pada range tertentu dan dalam penelitian ini dibatasi oleh persyaratan nilai ratio filler-bitumen efektif, maka range kadar filler terbaik berada antara 5% sampai dengan 7%. Kata Kunci : AC-BC, Filler (Bahan Pengisi), Kriteria Marshall
PENGARUH HUBUNGAN BEBAN LALU LINTAS & CBR SUBGRADE TERHADAP DESAIN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN BARU PADA DAERAH IKLIM I & DAERAH IKLIM II Wowor, Flandieh S. E.; Waani, Joice E.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 1 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam menghitung desain tebal perkerasan lentur, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah faktor kondisi lingkungan, dalam hal ini menyangkut iklim dan curah hujan. Pada beberapa tahun terakhir kita sering mendengar bahkan membahas tentang perubahan iklim atau yang dikenal dengan climate change. Menurut penelitian dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) yang dimuat dalam situsnya, salah satu dampak dari climate change adalah perubahan pola curah hujan dalam skala global. Hal ini menyebabkan terjadinya peralihan, dimana daerah yang awalnya memiliki tingkat curah hujan rendah akan mengalami perubahan tingkat curah hujan menjadi tinggi.Perhitungan desain tebal perkerasan lentur jalan baru dengan metode AASHTO 1972 mempertimbangkan faktor regional dalam hal ini iklim & curah hujan. Dimana untuk daerah iklim I dengan tingkat curah hujan < 900 mm/thn digunakan FR = 1 sedangkan daerah iklim II dengan tingkat curah hujan > 900 mm/thn digunakan FR = 1.5. Untuk perhitungan dengan metode AASHTO 1986 diperkenalkan konsep koefisien drainase untuk mengakomodasi kualitas sistem drainase yang dimiliki perkerasan jalan.Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data-data yang akan digunakan seperti CBR tanah dasar, beban lalu lintas, ZR, S0, ∆Psi, koefisien drainase, material lapis perkerasan, Mr , dll. Dimana data yang digunakan bersifat asumsi untuk menggambarkan beberapa kondisi dilapangan yang mungkin terjadi pada waktu yang akan datang. Dari hasil perhitungan menunjukkan bahwa tebal total perkerasan menggunakan metode AASHTO 1972 untuk daerah iklim I, dengan variasi CBR tanah dasar dan variasi beban lalu lintas adalah berkisar 32 ~ 73.5 cm sedangkan untuk daerah iklim II, dengan variasi CBR tanah dasar dan variasi beban lalu lintas adalah berkisar 32.5 ~ 78 cm. Kemudian menggunakan metode AASHTO 1986, dengan variasi CBR tanah dasar dan variasi beban lalu lintas didapatkan tebal perkerasan total,untuk tipe Granular Roadbase – Structrual Surface adalah berkisar 33.5  ~ 60 cm sedangkan untuk tipe Cement Treated Base – Structrual Surface, adalah berkisar 28 ~ 55 cm.. Dari hasil analisa data maka didapatkan perbandingan tebal total perkerasan dengan variasi nilai CBR tanah dasar dan beban lalu lintas. Serta didapatkan model matematis yang dapat digunakan untuk memperkirakan tebal total dengan nilai CBR tanah dasar yang lain. Kata Kunci: curah hujan, CBR tanah dasar, tebal lapis perkerasan, AASHTO
ANALISA KINERJA SIMPANG TIDAK BERSINYAL DI RUAS JALAN S.PARMAN DAN JALAN DI.PANJAITAN Rorong, Novriyadi; Elisabeth, Lintong; Waani, Joice E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 3, No 11 (2015): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persimpangan adalah bagian dari ruas jalan dimana arus dari berbagai arah atau jurusan bertemu. Itulah sebabnya di persimpangan terjadi konflik antara arus dari jurusan yang berlawanan dan saling memotong, sehingga mengakibatkan  terjadinya kemacetan di sepanjang lengan simpang. Begitu juga pada simpang empat lengan tak bersinyal di ruas jalan DI.Panjaitan dan jalan S.Parman terjadi kemacetan yang disebabkan oleh berkurangnya lebar efektif jalan karena adanya parkir dibadan jalan. Pada simpang tak bersinyal di jalan DI.Panjaitan-jalan S.Parman terjadi kemacetan  yang di sebabkan oleh hambatan samping, tingginya populasi kendaraan yang tidak di imbangi dengan ketersediaan infrastruktur (prasarana) jalan yang memadai. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kinerja simpang empat lengan tak bersinyal tersebut berdasarkan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 dan menganalisa persimpangan untuk meningkatkan kinerja simpang empat lengan tak bersinyal tersebut. Analisis hasil penelitian menunjukan kinerja simpang untuk kondisi simpang tak bersinyal pada keadaan eksisting dengan adanya parkir disisi jalan yang mengurangi lebar efektif, didapat  jumlah arus total 2050 smp/jam, kapasitas (C) = 2140 smp/jam dan derajat kejenuhan (DS) = 0,958. Melebihi batas kejenuhan yang disarankan oleh Manual Kapasitas Jalan Indonesia yaitu  > 0,75 dan 0,803 pada alternatif pelarangan parkir nilainya  > 0,75 pada kondisi belum ada jalan alternatif yang lain dimana jalan boulevard dua dan jembatan soekarno. Karena itu perlu ditinjau kembali simpang empat lengan di ruas jalan S.Parman – DI.Panjaitan setelah dibukannya jalan boulevard dua dan jembatan soekarno. Pada simpang empat lengan di ruas jalan S.Parman - jalan DI.Panjaitan perlu di rencanakan gedung parkir/ lahan parkir karena di lokasi tersebut adalah lokasi pertokoan. Kata Kunci : Kinerja, Simpang Empat Lengan, Tak Bersinyal,
ANALISIS PERHITUNGAN TEBAL LAPIS TAMBAHAN (OVERLAY) PADA PERKERASAN LENTUR DENGAN MENGGUNAKAN MANUAL DESAIN PERKERASAN JALAN 2013 (STUDI KASUS : RUAS JALAN KAIRAGI – MAPANGET) Romauli, Theresia Dwiriani; Waani, Joice E.; Sendow, Theo K.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 4, No 12 (2016): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manual Desain Perkerasan Jalan No, 02/M/BM/2013 (Bina Marga 2013), memberikan suatu pendekatan perencanaan dan desain untuk merencanakan tebal lapis tambah (overlay) pada struktur perkerasan jalan serta menanggulangi isu empat tantangan yang berkaitan dengan kinerja aset jalan, yaitu beban berlebih, temperatur perkerasan tinggi, curah hujan tinggi, dan tanah lunak. Keempat tantangan tersebut dideskripsikan dengan chart secara komperehensif. Pedoman desain perkerasan yang ada diantaranya Pd T-05-2005-B (Bina Marga 2005) dan No.002/P/BM/2011 (Bina Marga 2011) tetap valid namun harus memenuhi persyaratan sesuai ketentuan dalam manual ini. Berdasarkan data lendutan balik Benkelman Beam tahun 2015 yang diperoleh dari P2JN Bina Marga Provinsi Sulawesi Utara, maka dilakukan studi kasus ruas jalan Kairagi - Mapanget untuk melihat hasil perhitungan tebal lapis tambah dari setiap metode tersebut, membandingkan dan memilih tebal desain yang akan dipakai. Hasil analisa lendutan menyatakan bahwa menurut Bina Marga 2005 menghasilkan nilai dwakil = 1,25 mm dan nilai CF = 0,21 mm, menurut Bina Marga 2011 menghasilkan nilai dwakil = 1,29 mm dan nilai CF = 0,21 mm, dan menurut Bina Marga 2013 menghasilkan nilai dwakil = 1,45 mm dan nilai CF = 0,24 mm. Hasil survey lalu lintas di bulan Juli 2016 menyatakan bahwa LHR pada lajur rencana, untuk maksud perhitungan CESA, adalah sebesar 10.273 kendaraan per hari dengan proporsi LV = 93,8% dan HV = 6,2% tanpa memperhitungkan MC. Untuk perhitungan CESA, digunakan umur rencana 10 tahun dan pertumbuhan lalu lintas i  = 3,5%. Perhitungan CESA menurut Bina Marga 2005 adalah sebesar 5.206.601 ESAL, menurut Bina Marga 2011 adalah sebesar 3.384.337 ESAL, dan menurut Bina Marga 2013 CESA4 adalah sebesar 5.425.870 ESAL dan CESA5 adalah sebesar 9.766.566 ESAL. Perbedaan perhitungan nilai CESA adalah karena penentuan angka ekivalen dan nilai VDF yang berbeda untuk tiap-tiap metode. Hasil perhitungan tebal lapis tambah menurut Bina Marga 2005 menghasilkan tebal lapis tambah setebal 12,0 cm, Bina Marga 2011 setebal 17,5 cm, dan Bina Marga 2013 setebal 12,5 cm. Dengan memperhatikan faktor koreksi terhadap MAPT, maka tebal lapis tambah menurut Bina Marga 2013 yaitu setebal 12,5 cm adalah yang dipilih sebagai lapis tambah pada ruas jalan Kairagi - Mapanget.   Kata kunci : Bina Marga 2013, tebal lapis tambah perkerasan, Overlay, CESA, Benkelman Beam
EVALUASI VOLUMETRIK MARSHALL CAMPURAN ASPAL PANAS DENGAN ROADCELL-50 SEBAGAI BAHAN ADITIF Waani, Joice E.
JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING Vol 2, No 4 (2012): JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran aspal panas adalah campuran perkerasan jalan yang umum digunakan di Indonesia. Penggunaan material agregat lokal dalam campuran ini akan membawa keuntungan dari segi efisiensi anggaran, mengingat dalam campuran aspal panas penggunaan agregat mencapai 92-96% dari total volume campuran (Mathew, 2009). Namun demikian, karakteristik fisik agregat yang kurang akan mengakibatkan karakteristik mekanik dari campuran menjadi lemah. Oleh karena itu, penambahanroadcell-50 dalam campuran dimaksudkan untuk meningkatkan karakteristik mekanik campuran.Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa karakteristik mekanik campuran aspal panas yang menggunakan material agregat lokal dengan penambahan roadcell-50 sebagai bahan aditif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan karakteristik mekanik dan karakteristik fisik dari campuran aspal panas.Keywords: evaluasi volumetrik, campuran aspal panas, Roadcell-50.
ANALISA KINERJA PERKERASAN JALAN DITINJAU DARI BESARNYA VOLUME KUMULATIF LALU LINTAS DAN FAKTOR LINGKUNGAN Studi Kasus: Ruas Jalan Worang Bypass – Minahasa Utara Sasuwuk, Gianina K. G.; Waani, Joice E.; Rumayar, Audie L. E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 1 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam RAPBN 2018 pembangunan infrastruktur jalan membutuhkan anggaran sebesar Rp161,2. Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mendapatkan jumlah anggaran paling besar yakni Rp104,2 triliun naik 2,6% dari anggaran APBNP 2017. Keseluruhan panjang jalan di Indonesia sepanjang 537.892 km, dan kondis jalan rusak ringan sampai rusak berat mencapai 300,3 km. Dari data-data tersebut dapat dilihat betapa mahalnya preservasi dan pembangunan jalan baru di Indonesia.Ruas jalan Worang Bypass Minahasa Utara merupakan penghubung antara dua kota besar di Sulawei Utara yaitu Manado dan Bitung sehingga ruas jalan ini sering dilintasi oleh kendaraan besar bermuatan berat, hal tersebut memberikan pengaruh terhadap kinerja perkerasan pada ruas jalan Worang Bypass. Kinerja perkerasan yang dimaksudkan adalah fungsi dari kemampuan relative dari perkerasan untuk melayani lalu lintas dalam suatu periode tertentu yang ditentukan berdasarkan kondisi fungsional yang menyangkut pada kerataan, kekesatan permukaan perkerasan (Indeks Permukaan (IP) dan Road Condition Index (RCI)) dan kondisi struktural yang menyangkut pada kekuatan dan daya dukung perkerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh beban lalu lintas serta keaadanan lingkungan terhadap tingkat pelayanan jalan.Untuk menghitung kumulatif beban sumbu standar atau Cummulative Equivalent Standar Axle Load (CESA) dihitung berdasarkan Manual Desain Perkerasan (MDP) 2017, pengujian lendutan dilakukan menggunakan alat Benkelman Beam (BB) dan pengerjaan serta pengolahan data dilakukan berdasarkan metode Pd T-05-2005-B. Penentuan Indeks Permukaan dilakukan dengan menggunakan grafik hubungan International Roughness Index (IRI) dan IP yang bersumber dari National Cooperative Highway Research Program 2001(NCHRP).Dari hasil perhitungan CESA menunjukkan terjadinya peningkatan volume lalu lintas pada ruas jalan Worang Bypass selama umur rencana 10 tahun, dan berdasarkan data curah hujan 5 tahun terakhir menunjukkan bahwa pada lokasi penelitian memiliki intensitas curah hujan yang cukup tinggi 200 mm- 330 mm per tahunnya, selain itu ruas jalan Worang Bypass tidak memiliki sistem drainase yang baik. Kontak yang terjadi antara air dan aspal secara terus menurus serta disertai dengan beban lalu lintas yang terus bertambah mengakibatkan terjadinya penurunan fungsi pelayanan jalan yang ditandai dengan turunnya nilai IP setahun setelah jalan dioverlay. Rata-rata nilai IRI pada ruas jalan Worang Bypass adalah 3,2 m/km dengan IP 2,2 yang menyatakan fungsi pelayanan jalan berada pada status cukup. Hal tersebut menyatakan bahwa beban lalu lintas yang terus bertambah serta disertai dengan kondisi lingkungan yang kurang baik akan mempengaruhi tingkan pelayanan suatu jalan. Kata Kunci: Indeks Permukaan (IP), International Roughness Index (IRI), Cummulative Equivalent Standar Axle Load (CESA)
PENGARUH BEBAN GANDAR KUMULATIF TERHADAP PENURUNAN KINERJA JALAN (STUDI KASUS: RUAS JALAN MANADO-BITUNG & RUAS JALAN BETHESDA) Emor, Enjelina K. M.; Lalamentik, Lucia G. J.; Waani, Joice E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 6, No 4 (2018): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pergerakan barang di Indonesia yang menggunakan moda angkutan darat (jalan) berpengaruh terhadap beban lalu lintas di jalan raya sehingga mempercepat tingkat kerusakan jalan. Ruas Jalan Manado-Bitung banyak dilewati berbagai jenis kendaraan, bukan hanya kendaraan berdimensi kecil tetapi juga kendaraan berdimensi besar. Ruas Jalan Bethesda memiliki volume kendaraan yang cukup besar namun sebagian besar kendaraan yang melewati ruas jalan ini adalah kendaraan berdimensi kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar beban lalu lintas, besar penurunan kinerja jalan, serta membandingkan tingkat kerusakan kedua ruas jalan tersebut dengan menghubungkan besarnya beban lalu lintas masing-masing jalan.Dalam penelitian ini data yang diambil dari lokasi penelitian adalah volume lalu lintas, data lendutan Benkelman Beam, serta data International Roughness Index (IRI) jalan. Analisis data dimulai dengan menghitung Cumulative Equivalent Single Axle Load (CESA) berdasarkan Bina Marga 2013, kemudian menghitung lendutan balik dari hasil pengujian dengan alat Benkelman Beam (BB) menggunakan metode Pd T-05-2005-B, serta menetukan Indeks Permukaan berdasarkan nilai IRI dengan menggunakan grafik hubungan Indeks Permukaan (IP) dan IRI yang bersumber dari National Cooperative Highway Research Program (NCHRP).Penurunan kinerja untuk ruas jalan Manado-Bitung dan ruas jalan Bethesda hampir sama dilihat dari besarnya lendutan dan Indeks Permukaan kedua ruas jalan tersebut, walaupun ruas jalan Manado-Bitung memiliki lalu lintas yang lebih besar dengan persentase 19,2% kendaraan berat yang melintas dan sudah 2 tahun di overlay dibandingkan dengan Ruas Jalan Bethesda yang lalu lintasnya lebih kecil dengan persentase 3,7 % kendaraan berat yang melintas dan baru tahun pertama di overlay. Hal ini membuktikan bahwa kerusakan jalan tidak hanya dipengaruhi besar beban lalu lintas, melainkan juga kualitas struktur perkerasan jalan. Kata Kunci: Beban Lalu Lintas, Lendutan, IRI, Indeks Permukaan
ANALISA PRODUKTIVITAS ALAT BERAT UNTUK PEKERJAAN PEMBANGUNAN JALAN (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jalan Lingkar SKPD Tahap 2 Lokasi Kecamatan Tutuyan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur) Kulo, Edi Nurhadi; Waani, Joice E.; Kaseke, Oscar H.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 5, No 7 (2017): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pekerjaan teknik sipil berskala besar perlu menggunakan alat berat. Alat berat menurut fungsinya masing-masing antara lain alat penggali, pemuat, pengangkut, penghampar, dan alat pemadat. Alat harus digunakan secara efisien sehingga pengguna perlu mengetahui kemampuan alat, jenis-jenis alat, keterbatasan alat, serta biaya operasional alat. Produktivitas alat berat bergantung pada jenis atau type alat, metode kerja, kondisi medan kerja, serta waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis alat yang dibutuhkan, serta kapasitas produksi alat berat pada Proyek Pembangunan Jalan Lingkar SKPD Tahap 2 di Kecamatan Tutuyan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Sesuai dengan waktu (durasi) kontrak dan kuantitas pekerjaan utama (major item), pekerjaan galian dijadwalkan 45 hari kerja dengan kuantitas pekerjaan 23.128 m3; pekerjaan timbunan dijadwalkan 33 hari kerja dengan kuantitas pekerjaan 11.181 m3; pekerjaan lapis pondasi agregat dijadwalkan 30 hari kerja dengan kuantitas pekerjaan 866 m3; pekerjaan perkerasan aspal dijadwalkan 11 hari kerja dengan kuantitas pekerjaan 564 m3. Produksi Asphalt Mixing Plant dan Crusher tidak ditinjau.  Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data yang ada dilapangan kemudian dilakukan analisis kapasitas produksi, keseimbangan penggunaan alat, serta harga satuan alat sesuai teori yang dirangkum dari berbagai sumber untuk menunjang analisis yang dilakukan.Dari hasil analisis diperoleh jenis alat berat yang akan digunakan beserta kapasitas produksi dari masing-masing alat sesuai dengan pekerjaan utama yaitu Pekerjaan Galian kapasitas produksi Hydraulic Excavator 150,22 m3/jam, Dump Truck 57,73 m3/jam. Pekerjaan Timbunan Pilihan kapasitas produksi Wheel Loader 23,22 m3/jam, Dump Truck 14,36 m3/jam, Motor Grader 1863 m3/jam, Vobration Roller 51,86 m3/jam. Pekerjaan Lapis Pondasi Agregat Wheel Loader 23,22 m3/jam, Dump Truck 5,39 m3/jam, Motor Grader 1397,3 m3/jam, Vobration Roller 51,86 m3/jam. Pekerjaan Perkerasan Aspal Dump Truck 6,78 m3/jam, Asphalt Finisher 39,69 m3/jam, Tandem Roller 45,9 m3/jam, Pneumatic Tired Roller 56,7 m3/jam.Dapat disimpulkan sesuai dengan waktu yang ditentukan serta kapasitas produksi dari masing-masing alat, waktu puncak berada pada hari yang ke 66 sampai 75 sesuai kontrak dengan kuantitas produksi 577,52 m3/hari karena pada hari tersebut terjadi 2 jenis pekerjaan yang dilaksanakan dilapangan sehingga alat yang dibutuhkan untuk hari tersebut yaitu Hydraulic Excavator 1 unit, Dump Truck 5 unit, Wheel Loader 1 unit, Motor Grader 1 unit, Vibratory Roller 1 unit. Kebutuhan alat dapat ditanggulangi karena kapasitas Dump Truck kurang lebih hampir sama dengan kuantitas produksi yaitu 576,72 m3/hari, sedangkan kapasitas alat lain melebihi kuantitas produksi. Kata Kunci:     Produktivitas Alat Berat, Pembangunan Jalan,Excavator, Loader, Roller
KAJIAN PENGGUNAAN AGREGAT BATU GUNUNG UNTUK BAHAN CAMPURAN AC (STUDI KASUS AGREGAT DESA MOLOBOG DAN DESA KAKASKASEN) Mandang, Ovelia Gizella; Lalamentik, Lucia G. J; Waani, Joice E.
JURNAL SIPIL STATIK Vol 7, No 12 (2019): JURNAL SIPIL STATIK
Publisher : JURNAL SIPIL STATIK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Campuran aspal panas pada umumnya terdiri dari ±95% agregat dan ±5% aspal dimana agregat sebagai komponen terbesar menentukan kemampuan perkerasan dan aspal sebagai bahan pengikat dari agregat. Agregat yang baik digunakan untuk perkerasan jalan dilihat dari nilai berat jenis dan penyerapan serta abrasi. Akan tetapi tidak semua material local yang berasal dari daerah tertentu memenuhi spesifikasi. Untuk itu demi mengurangi biaya konstruksi maka agregat dengan kualitas yang baik sedapat mungkin diperoleh dari sumber terdekat dari lokasi pekerjaan. Oleh karena itu sifat – sifat fisik dan mekanik agregat dalam campuran sangat perlu di perhatikan agar mendapatkan campuran yang kuat dan tahan lama.Campuran aspal panas merupakan satu jenis dari lapis perkerasan lentur yang terdiri dari campuran aspal keras dan agregat. Dalam campuran aspal panas agregat merupakan factor utama penentu dari kinerja campuran. Agregat dari batu sungai ataupun batu gunung bisa digunakan sebagai material perkerasan jalan apabila memenuhi syarat spesifikasi yang berlaku. Penelitian ini menggunakan agregat batu gunung yang berasal dari desa Molobog dan desa Kakaskasen dengan bahan pengikat aspal penetrasi 60/70. Pemeriksaan awal agregat dilakukan untuk menentukan apakah agregat dari Molobog dan agregat dari Kakaskasen memenuhi syarat untuk digunakan dalam campuran aspal panas. Selanjutnya dilakukan rancangan campuran berdasarkan komposisi gradasi gabungan yang telah dibuat dimana rancangan campuran ini dilakukan untuk menentukan kadar aspal rencana untuk kedua campuran aspal yang menggunakan agregat yang berbeda. Kadar aspal yang diperoleh akan digunakan dalam campuran dan melalui pengujian Marshall akan diperoleh nilai besaran Marshall dan kadar aspal terbaik.Diperoleh dari hasil penelitian ini untuk kedua material yang mempunyai gradasi dan kadar aspal rencana yang sama dan penambahan PC sebesar 1% dengan kadar aspal terbaik 6% untuk material dari Kakaskasen, didapatkan nilai stabilitas sebesar 1297 kg; flow= 3.8mm; VIM = 4.7%; VMA= 15.15%; VFB = 67.60%; density = 2.09 gr/cc; rasio filler = 1.01 dan kadar aspal terbaik 5.6% untuk material dari Molobog didapatkan nilai stabilitas sebesar 1330 kg; flow = 2.7mm; VIM = 4.5%; VMA = 15.3%; VFB = 65.1%; density = 2.156 gr/cc; rasio filler = 1.129.Material yang berasal dari Molobog mendapatkan kadar aspal terbaik 5.6% lebih kecil dibandingkan dengan material dari Kakaskasen yaitu 6% dikarenakan memiliki berat jenis dan penyerapan serta abrasi yang berbeda. Untuk perencanaan campuran beraspal panas khususnya lapis perkerasan AC – BC ini sebaiknya menggunakan material yang mempunyai sifat fisik dan mekanik yang baik agar umur perkerasan jalan tahan lama. Kata Kunci: AC – BC, Agregat, Pengujian Marshall
Tinjauan Kinerja Bundaran Tiga Lengan Dengan Simulasi Karakteristik Arus Lalu Lintas Pada Bundaran Patung Tololiu Kota Tomohon Wuwung, Victorie Harly; Waani, Joice E.; Jansen, Freddy
JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING Vol 8, No 2 (2018): JURNAL ILMIAH MEDIA ENGINEERING
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportation system in a region, act as a vein and also tools to measure the development progress of that particular region, therefore the system growth is usually corelates the growth of other sectors in society, such as economy, social, culture, politics and citizenship, thus the transportation system becomes a deciding factor of a regional growth. A good transportation system is able to ensure the mobility of goods, service and people in an effective, efficient, safe, comfortable integrated andsustainable. One way to achive that is through traffic control, in which the Tololiu Roundabout in Tomohon city as a crossing point that connects Tomohon city and other administrative regions in North Sulawesi, whereas the current roundabout requires data to be able to be adapted with theincreasing regional growth.      The purpose of this research is expected to describe the existing Level of Service (LoS) of the roundabout and predicts the future condition up to 2022 and able to be used as an accountable data for future growth of Tomohon city. The method applied in this research are literature study, primary and secondary data collection, data analysis using MKJI 1997 method and software simulation using AutoCAD 2017, Microsoft Excel2016 and Synchro Studio 9,0.      AutoCAD used to simplify the roundabout geometric analysis, Microsoft Excel used to calculate the MKJI 1997 RWEAV-I and RWEAV-II form and Synchro studio 9,0 used to create a real-time simulation of the traffic characteritics in the field of study.      The result of the MKJI 1997 analysis coupled with the regional demografic data to predict the future condition up to 2022 shows that the Degree of Saturation (DS), exceeded the boundary threshold of 0,75 in the year of 2019 and so is adviced to apply a geometric and/or volume engineered solution. The result of the Synchro Studio 9,0 simulation shows B grade LoS for the existing data of 2015, but exceeded the boundary threshold of DS in US HCM 2010 method in the following year.The different result by the two methods analyses are due to the different parameters incorporated in both method where the US HCM 2010 in Synchro 9,0 is leaning on Delay Control (and more complex parameters) and the MKJI 1997 mothod rely on the Volume and Capacity. Either way, the study and analysis show that the Tololiu Roundabout in Tomohon city is in need of re-engineering in order to adapt to the future regional growth by applying geometric road widening, no-parking zone, volume divertion through the two minors approach available and also a social education of the roundabout rules and regulation coupled with the good-will of the government to provide the neccesarry facility and tools for the roundabout. Keywords: Tololiu Roundabout, Level of Service (LoS), Degree of Saturation (DS), US HCM, MKJI.