Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

KOMUNITAS BURUNG DI RUANG TERBUKA HIJAU PEMAKAMAN KOTA BANJAR PROVINSI JAWA BARAT Insan Kurnia
Gunung Djati Conference Series Vol. 35 (2023): Seminar Nasional Biologi (SEMABIO) Tahun 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunitas burung dapat terbentuk di berbagai tipe habiat dan lanskap perkotaan. Ruang Terbuka Hijau (RTH) berperan penting termasuk terhadap kelangsungan komunitas burung termasuk keberadaan RTH pemakaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komunitas burung di RTH pemakaman Kota Banjar Provinsi Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2022 di 18 RTH pemakaman. Data diambil dengan menjelajah seluruh wilayah TPU untuk mengambil data burung dan kondisi habitatnya. Data dianalisis dengan chi-square, indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kemerataan jenis (E), dan indeks kesamaan komunitas (IS). Burung yang dijumpai di seluruh RTH pemakaman terdiri dari 23 jenis yang berasal dari 15 suku dan6 ordo. Jenis yang dijumpai di setiap lokasi RTH bervariasi mulai dari hanya dua jenis (TPU Baturaja Galuh, TPU Junti, dan TPU Purwaharja) hingga 14 jenis (TPU Santiong). Jenis yang paling luas penyebarannya adalah Walet linchi (Collocalia linchi) (17 lokasi) diikuti Cinenen pisang (Orthotomus sutorius) (13 lokasi), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) (11 lokasi), dan Burungmadu sriganti (Cinnyris jugularis) (10 lokasi), sementara empat jenis burung hanya dijumpai di satu RTH pemakaman yaitu Wiwik lurik (Cacomantis sonneratii), Wiwik uncuing (Cacomantis sepulcralis), Kedasi hitam (Surniculus lugubris), dan Takur ungkut-ungkut (Megalaima haemacephala).  Seluruh RTH pemakaman di Kota Banjar menjadi habitat jenis burung yang beragam sehingga mampu membentuk komunitas burung dengan perbedaan sesuai kondisi habitatnya. Komunitas dapat terjaga dan meningkat dengan pembinaan habitat pada RTH pemakaman
Nilai Willingness To Pay Birdwatching di Indonesia Insan Kurnia; Harnios Arief; Ani Mardiastuti; Rachmad Hermawan
Jurnal Ilmu Lingkungan Vol 22, No 2 (2024): March 2024
Publisher : School of Postgraduate Studies, Diponegoro Univer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jil.22.2.302-312

Abstract

Birdwatching merupakan wisata pengamatan burung di alam bebas. Penelitian aspek penawaran telah banyak dilakukan, namun penelitian aspek permintaan masih sangat terbatas termasuk nilai willingness to pay (WTP). Penelitian bertujuan untuk menganalisis nilai WTP birdwatcher di Indonesia. Penelitian dilakukan pada Februari sampai Mei 2020 menggunakan kuesioner tertutup secara online dengan responden dari seluruh Indonesia. Nilai WTP dihitung dengan travel cost method (TCM) dari 1.062 responden yang mengisi kuesioner lengkap. Nilai rerata nilai WTP untuk setiap aspek adalah Rp 2.577.872,00 (aspek peralatan), Rp 1.482.257,00 (aspek perlengkapan khusus), Rp 1.772.410,00 (aspek transportasi), Rp 868.738,00 (aspek penginapan), Rp 918.832,00 (aspek makan dan minum), serta Rp 622.881,00 (aspek pemanduan). Proporsi nilai WTP paling tinggi adalah aspek perlengkapan (31%), sementara paling rendah adalah aspek biaya pemandu (8%). Nilai WTP meningkat seiring jarak lokasi tujuan birdwatching dari domisili. Semakin jauh tujuan maka nilai WTP juga semakin tinggi. Nilai WTP paling rendah adalah tujuan lingkungan rumah sebesar Rp 2.114.286,00 dan nilai paling tinggi adalah tujuan luar negeri sebesar Rp 23.583.333,00. Nilai total WTP untuk setiap individu birdwatcher adalah sebesar Rp 8.243.690,00.
Efek Forest Healing terhadap Psikologi Perasaan Wisatawan: The Effect of Forest Healing on Psychological in Tourists' Feelings Insan Kurnia; Putri Adira Paramita; Thoha Bastian Khatami
Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan Vol. 10 No. 2 (2023): Daun: Jurnal Ilmiah Pertanian dan Kehutanan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/daun.v10i2.4618

Abstract

Hutan adalah ekosistem khas yang berbeda dengan ekosistem lainnya sehingga mampu memberikan nilai jasa ekosistem yang berbeda juga termasuk untuk kegiatan forest healing, suatu bentuk pemanfaatan hutan sebagai media untuk penyembuhan yang terkait dengan aspek fisiologis maupun mental. Kawasan Resort Selabintana dan Resort Situgunung Taman Nasional Gunung Gede Panngrango memiliki beragam potensi sumberdaya alam untuk kegiatan forest healing. Oleh karena itu, diperlukan penelitian awal untuk mengetahui perubahan psikologi wisatawan setelah mengikuti kegiatan forest healing sebagai dasar pengembangan forest healing di kawasan ini. Penelitian dilaksakan pada bulan April-Mei 2022 terhadap responden sukarela sebanyak 30 orang untuk setiap resort. Responden diminta untuk mengikuti kegiatan forest healing kemudian diukur perubahan perasaan sebanyak 21 aspek melalui kuesioner dengan skala jawaban 1-4. Sebelas bentuk kegiatan menjadi pilihan ujicoba forest healing oleh responden, dengan pilihan paling banyak adalah berjalan di hutan diikuti mencium aroma hutan. Seluruh aspek perasaan yang diukur dinilai berubah oleh responden, baik bersifat positif maupun negatif. Satu aspek perasaan berubah secara positif menurut seluruh responden (kesehatan), sementara 20 perasaan lain dinilai secara positif maupun negatif oleh responden. Dua belas perasaan dinilai stabil atau tidak berubah dengan perasaan kesejahteraan dinilai paling banyak tidak berubah oleh responden. Perubahan perasaan positif paling tinggi adalah perasaan kesenangan (3,27), sementara perubahan secara negatif paling tinggi adalah kesedihan (2,27) yang bermakna mengurangi kesedihan.
Preferensi Masyarakat Terhadap Potensi Maskot Wisata di Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat Kurnia, Insan; Munajat, Chery Pixy Redaniar; Untari, Rini
Jurnal Kajian Pariwisata Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Pariwisata
Publisher : LPPM STP ARS Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jiip.v5i1.952

Abstract

The mascot is the personification of an object that you want to represent and has important value in tourism as part of city branding. The mascot is related to regional identity and is widely known by the public. The research aims to identify the potential of maskots and people's preferences for mascots in Sukabumi City. The research was conducted in February-June 2021 with the stages of (1) identifying potential maskots, (2) direct observation, and (3) identifying preferences through a questionnaire with a likert scale of 1-4 from 263 respondents from the people of Sukabumi City. There were 30 potential mascot objects identified, consisting of 12 culinary objects, eight building objects, seven flora objects, and three transportation objects. All of these objects can still be found and are in the Sukabumi City. Overall, the highest preference for tourism mascot potential was mochi (????̅=3.75; n=256) while the lowest was the Post Office (????̅=2.48; n=192).
KEANEKARAGAMAN AMFIBI DAN REPTIL DI KAWASAN WISATA SITU BAGENDIT DAN SEKITARNYA, KABUPATEN GARUT PROVINSI JAWA BARAT Kurnia, Insan; Nurfadhilah, Nyimas Aisyah; Syahrahmani, Aluna; Liani, Hikmah Rachma; Lawana, Dewa Dzullfadhil; Nathaniel, Bernado Raphael
Wanamukti: Jurnal Penelitian Kehutanan Vol. 27 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Winaya Mukti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35138/wanamukti.v27i1.689

Abstract

Amphibians and reptiles are two groups of wildlife that are ecologically close and related to aquatic ecosystems.  Setu Bagendit is a freshwater ecosystem with a variety of other habitats around it.  The research aims to analyze diversity of amphibians and reptiles in Setu Bagendit Tourism Area and its surroundings. The research was carried out in June 2023 using a combination of a 100 meter transect method and time search of 30 minutes.  Data analysis was carried out qualitatively and quantitatively by diversity index (H'), evenness index (E) and similarity index (SI). There were a total of 18 species of amphibians and reptiles from two orders and 11 families. All species are cosmopolitan, that widely distributed with high adaptability to live in disturbed habitats and close to human living environments. The values of H' obtained ranged from 0.56-2.37, while E values obtained ranged from 0.78-0.87.  The SI ranges from 0.00-0.64.
Keanekaragaman Capung (Odonata) pada Taman di Kota Bogor Armanda, Dievo Al Qodri; Kurnia, Insan; Muzoffar, Ferdi; Sofyan, Michael Ghibran Putra; Napitupulu, Boni Fargas
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11119

Abstract

Kawasan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi bagian penting dari ekosistem perkotaan. Kawasan RTH berperan secara ekologis, ekonomis, maupun sosial budaya. Capung (Odonata) merupakan unsur ekosistem yang dapat dijumpai di ekosistem perkotaan termasuk RTH. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies capung di taman Kota Bogor. Penelitian dilaksakan pada Bulan Januari 2023 di 44 taman yang ada di Kota Bogor yang terbagi menjadi taman kota (21 taman), taman perumahan (21 taman), dan dua hutan kota. Data capung diambil dengan sensus seluruh area taman yang diamati Lima spesies capung ditemukan di 10 taman Kota Bogor, sementara 34 taman tidak dijumpai spesies capung. Spesies yang dijumpai yaitu Orthetrum sabina, Orthetrum testaceum, Pantala flavescens, Neurothemis ramburii, dan Libellago lineata. Total individu yang ditemukan di seluruh taman sebanyak 50 individu, dengan Pantala flavescens merupakan spesies dengan jumlah individu paling banyak yaitu 37 individu. Nilai H’ untuk seluruh lokasi taman yaitu 0,89 dan nilai E yaitu sebesar 0,55. Spesies yang paling banyak tersebar yaitu Pantala flavescens ditemukan di tujuh taman, sementara empat spesies lain ditemukan antara 1-3 taman.
KEANEKARAGAMAN JENIS CAPUNG DI LANSKAP PERTANIAN GOALPARA-PERBAWATI KABUPATEN SUKABUMI PROVINSI JAWA BARAT Ibnusivva, Caesar Adhitya; Kurnia, Insan
BIOLOVA Vol. 4 No. 2 (2023): Volume 4 Nomor 2 Agustus 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/biolova.v4i2.3653

Abstract

Capung merupakan serangga yang berperan penting secara ekologi sebagai predator terutama bagi serangga hama baik di habitat perairan maupun habitat terestrial. Lanskap pertanian Goalpara-Perbawati Kabupaten Sukabumi memiliki sejarah panjang pemanfaatannya sebagai lahan budidaya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman jenis capung di lanskap pertanian Goalpara-Perbawati. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari-Mei 2022 di lima habitat yaitu kebun teh, kebun kopi, kebun Bunnga, Kebun Sayur, dan Danau. Data capung diambil dengan metode transek berukuran 100x20 meter selama 10 menit setiap transek. Data habitat mencakup deskripsi vegetasi dominan, suhu udara, kelembaban udara, dan kecepatan angin. Data dianalisis dengan nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) dan kemerataan jenis (E). Kekayaan jenis capung yang dijumpai sebanyak 16 jenis dari dua sub-ordo dan lima famili. Capung paling banyak dijumpai di habitat danau (13 jenis). Jenis Orthetrum sabina dapat dijumpai di seluruh tipe habitat, sementara jenis lain hanya dijumpai di satu sampai empat habitat. Secara keseluruhan diperoleh nilai H’ sebesar 1,82 dan nilai E sebesar 0,66. Nilai H’ tertinggi yaitu habitat danau (H’=2,07) sedangkan yang terendah yaitu habitat kebun teh (H’=0,85). Sementara nilai E yang tertinggi yaitu habitat danau (E=0,81) sedangkan yang terendah yaitu habitat kebun bunga serta kebun kopi sebesar E=0,71.
Burung Lanskap Pedesaan di Wilayah Sukabumi Provinsi Jawa Barat Assaf, Bilal Maulana; Kurnia, Insan
Bioscientist : Jurnal Ilmiah Biologi Vol 12, No 2 (2024): December
Publisher : Department of Biology Education, FSTT, Mandalika University of Education, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/bioscientist.v12i2.11947

Abstract

Rural landscapes are part of man-made landscapes as a result of conversion of natural landscapes due to human needs. Birds respond positively to these changes as ecosystem components that are able to adapt and survive in rural landscapes. The countryside in the northern part of the Sukabumi is located between the natural landscape of Mount Gede and the rural landscape of Sukabumi City. The research aims to analyze the diversity of bird in the rural landscape of the Sukabumi Area. Research in the form of direct observation was carried out in February-May 2022.  Bird data was taken using the point count method in the morning and evening. Qualitative analysis was carried out by describing and looking at the protection status. Quantitative analysis was carried out using (1) chi-square test, (2) Margalef Index (DMg), (3) Shannon-Wiener Index (H'), (4) venness index (E), and similarity index community (IS). There were 43 species of birds found from nine orders and 23 families. Five species birds are protected by the Indonesian Government. A total of 25 species (58%) are members of the Order Passeriformes. The majority are terrestrial birds, there is only one species that is considered a water bird, namely Von Schrenck’s Bittern (Ixobrychus eurhythmus). The DMg value obtained was 2.23-6.45, while the H' value obtained was 1.70-3.24, while the E value obtained was 0.74-09.90. The IS values obtained ranged from 0.24-0.58 with the highest similarity between the rice field habitat and the vegetable farm habitat.
Preferences of Indonesian Birdwatchers Toward Locations, Target Birds, and Buddies Kurnia, Insan; Arief, Harnios; Mardiastuti, Ani; Hermawan, Rachmad
Jurnal Sylva Lestari Vol. 12 No. 3 (2024): September
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v12i3.898

Abstract

Birdwatching focuses on observing wild birds. Nevertheless, previous studies were still focused on the supply aspect. Meanwhile, the demand aspect is still limited, including in Indonesia. Furthermore, understanding birdwatchers’ preferences can lead to market segmentation. Therefore, this study aimed to analyze the preferences of Indonesian birdwatchers towards location, bird targets, and buddies. Data on the demographics and preferences of Indonesian birdwatchers were collected from 1,203 respondents using an online questionnaire. Data were analyzed using Chi-Square and the Generalized Linear Model. The results revealed that most respondents prefer destinations outside the biogeographic region, with Papua being the most preferred location. Overall, birds of the Paradisaeidae family were chosen by the largest number of respondents, followed by the Accipritidae family. Variables that significantly influence the preference of birdwatching destination based on the distance taken, age, domicile, income, organization, and expertise of the birdwatchers. Locations that are further away attract young respondents who live in urban areas, have higher incomes, are members of organizations, and have high birdwatching skills. The bird species and locations preferred by the birdwatcher can be used as a basis for developing birdwatching destinations according to the birdwatcher’s preferences. Keywords: bird, birdwatching, demographic, location, preference
Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional Ayam Ubek di Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat Rahmadilla, Putri Keiko Ayudia Rizky; Sabillah, Maisya; Chairani, Frida; Kayabi, Adel Davesky; Kurnia, Insan
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 26 No. 1 (2024): Juni (2024)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v26i1.9561

Abstract

Pengobatan ayam ubek adalah warisan budaya asli Minangkabau yang berhubungan dengan praktik pengobatan tradisional.  Pengobatan ini menggunakan ayam sebagai alat diagnosa dan dilanjutkan dengan penggunaan obat herbal.  Saat ini hanya sedikit yang tersisa diantaranya terdapat di Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar.  Persepsi masyarakat menjadi penting dalam bagian upaya melestarikan pengobatan ini.  Penelitian dilakukan pada Bulan Januari 2024 dengan wawancara terhadap 60 masyarakat mennggunakan wawancara tertututp (close ended) terhadap tujuh indikator dengan skala likert 1-4.  Nilai persepsi tertinggi masyarakat untuk setiap aspek yaitu ilmu yang diturunkan secara turun temurun bukan merupakan pengobatan modern (aspek keaslian), memiliki biaya yang terjangkau sesuai kondisi ekonomi masyarakat (aspek kemudahan), efektif menggunakan ayam kampung (aspek efektivitas), penggunaan doa khas yang dipanjatkan kepada Allah SWT (aspek keunikan), tanpa adanya penggunaan bahan kimia obat (aspek keamanan), tujuan doa adalah Allah SWT (aspek kepercayaan),dan dapat dilakukan berulang kali baik untuk sakit yang sama jika belum sembuh ataupun pada kasus penyakit lain (aspek fleksibilitas).
Co-Authors Aida Zuleika Khurotul Aeni Alan Wasahlan Alda Rizkia Nikmatila Ani Mardiastuti Anjar Malik Hidayat Armanda, Dievo Al Qodri Arraniri, Fahma Faradisa Assaf, Bilal Maulana Azkia, Pathiyatul Azzahra, Rizky Nur Andhini Bagas Aldiantara Mulawi Budi Prasetyo Chairani, Frida Dea Amanda Putri Dhava, Rafif Aulia Diandra Fauzia Lestari Dwi W Idaman Dwi Yandhi Dyah Prabandari Dyah Prabandari Eliza Nur'Aini Elllysa, Siti Eltriadi, Piero Nandata Ervina Asti Ningrum Fajari, Miftah Falahudin Fajri, Muhammad Nur Febriyanti, Eka Nur Ferdian, Muhammad Habyeb Gatot Widodo Gatot Widodo Gilang F Ramdhan Grace S Saragih Hadi Guna Erwahyudi Harnios Arief Helianthi Dewi Hendrio Fadly Hermawan, Rachmad Ibnusivva, Caesar Adhitya Indah Ayu Kusuma Jelika Restiana Suherman Jihad, Nidaul Kania Sofiantina Rahayu Kardina, Jessi Raisa Kayabi, Adel Davesky Komarudin Komarudin Lantang, Muhammad Ammar Gema Lawana, Dewa Dzullfadhil Liani, Hikmah Rachma M Sabta Nugraha Monica Ramadyan Affandi Muhammad Firdaus Muhammad Nur Fajri Munajat, Chery Pixy Redaniar Muzoffar, Ferdi Napitupulu, Boni Fargas Nathaniel, Bernado Raphael Novita Rahmawati Nurfadhilah, Nyimas Aisyah Occy Bonanza Prayogo, Erik Putri Adira Paramita Putri, Ardaneswara Qohhar, Jamal Abdul Rahadian Bimo Wicaksono Rahmadilla, Putri Keiko Ayudia Rizky Raja Rhamdany Harahap Ramdhani, Rafy Rifai, Bakhtiar Ahmad Rijal, Maulki Fahru Rika S Dewi Rosalia, Melva Ruri Risnawati Sabillah, Maisya Satriawan, Muhammad Husein Sofyan, Michael Ghibran Putra Syahrahmani, Aluna Thoha Bastian Khatami Tyas D Djuanda Udi Kusdinar Untari, Rini Wawan G Gunawani Wicaksono, Rahadian Bimo Widodo, Gatot Wulandari Dwi Utari Yudiarti, Yun