Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Preferensi Masyarakat Terhadap Potensi Maskot Wisata di Kota Sukabumi Provinsi Jawa Barat Kurnia, Insan; Munajat, Chery Pixy Redaniar; Untari, Rini
Jurnal Ilmiah Ilmu Pariwisata Vol 5 No 1 (2023): Jurnal Kajian Pariwisata
Publisher : LPPM STP ARS Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/jiip.v5i1.952

Abstract

The mascot is the personification of an object that you want to represent and has important value in tourism as part of city branding. The mascot is related to regional identity and is widely known by the public. The research aims to identify the potential of maskots and people's preferences for mascots in Sukabumi City. The research was conducted in February-June 2021 with the stages of (1) identifying potential maskots, (2) direct observation, and (3) identifying preferences through a questionnaire with a likert scale of 1-4 from 263 respondents from the people of Sukabumi City. There were 30 potential mascot objects identified, consisting of 12 culinary objects, eight building objects, seven flora objects, and three transportation objects. All of these objects can still be found and are in the Sukabumi City. Overall, the highest preference for tourism mascot potential was mochi (?????=3.75; n=256) while the lowest was the Post Office (?????=2.48; n=192).
URBAN ECOTOURISM: TANTANGAN DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT KAMPUNG WISATA KOTA BOGOR Helianthi Dewi; Occy Bonanza; Bedi Mulyana; Insan Kurnia; Dyah Prabandari
Bogor Hospitality Journal Vol 7 No 1 (2023): Bogor Hospitality Journal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Pariwisata Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55882/bhj.v7i1.78

Abstract

The success of urban ecotourism in tourism villages requires community participation, both in developing tourism activities and businesses and in tourism management. The research aims to analyze three aspects, namely natural and cultural potential, the obstacles faced by the community in managing tourism villages, and the potential for community participation in managing tourism villages. The research was conducted in two tourism villages located in the center of Bogor City, namely Pulo Geulis Village and Labirin Village. Primary data was collected by distributing questionnaires to community respondents and analyzed descriptively using the Kruskal Wallis test. The study shows that cultural potential is more likely to be utilized in an effort to improve the community's economy and attract tourist visits. Community participation is still limited to Kompepar membership and food and beverages providers. The low participation is strongly suspected because the income derived from the tourism business is still unable to meet daily needs. Continuous coaching and increasing synergy between communities in tourism villages is an important thing to do to increase community participation in tourism development.
Potensi Keanekaragaman Jenis Burung Untuk Birdwatching di Resort Situgunung dan Resort Cimungkad Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Insan Kurnia; Bagas Aldiantara Mulawi
Jurnal Biologi dan Pembelajarannya (JB&P) Vol 10 No 1 (2023): APRIL 2023
Publisher : Universitas Nusantara PGRI Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29407/jbp.v10i1.19365

Abstract

Birds have ecological, economic, and socio-cultural roles. Birdwatching is use of birds for tourism by seeing or hearing bird directly in nature. The GGPNP has potential for developed as a birdwatching destination. The research aims to identify the bird diversity and their distribution for the development of birdwatching at the Situgunung Resort and the Cimungkad Resort, GGPNP. The research was conducted in April-June 2022 in seven tracks using the IPA method. Qualitative data analysis was carried out on the bird status, while quantitative data analysis was carried out for diversity index, evenness index, and encounter opportunities. The bird diversity found was 50 species from 23 families and seven orders spread over seven observation tracks. Thirteen bird species are protected, three species are the CITES Appendix II, and two species are the IUCN Red List. The most common bird species were found on the Orchid Tourism Track while the least were found on the Cimungkad Tourism Track. Natural forest habitats support a wider variety of birds than any other habitat. The diversity index and evenness index are the high category. Most of the bird species fall into the category of very hard to find. All tracks have the potential to be developed as birdwatching routes.
Keanekaragaman Jenis Capung (Ordo Odonata) di Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis Provinsi Jawa Barat Pathiyatul Azkia; Insan Kurnia; Yun Yudiarti
Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol 5 No 1 (2024): Spizaetus: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Nusa Nipa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55241/spibio.v5i1.360

Abstract

Capung (Ordo Odonata, Insecta) merupakan bagian penting ekosistem sebagai predator serangga hama, indikator kualitas perairan, serta standar penilaian kerusakan lingkungan Capung dapat dijumpai pada berbagai lingkungan termasuk pedesaan.  Penelitian bertujuan menganalisis keanekaragaman jenis capung di Kecamatan Rancah.  Penelitian dilaksanakan pada Maret-Mei 2022 di 10 tipe habitat mencakup 152 lokasi dan 677 jalur.  Data capung diambil dengan metode jalur berukuran 100x20 meter.  Analisis kuantitatif dilakukan dengan (1) uji chi-square, (2) indeks keanekaragaman jenis (H’), (3) indeks kemerataan jenis (E), dan (4) indeks kesamaan komunitas (IS).  Jenis capung yang dijumpai sebanyak 17 jenis dari dua sub-ordo dan lima suku.  Jenis paling banyak dijumpai di habitat Sungai (14 jenis) sedangkan yang paling sedikit dijumpai di habitat kebun singkong, kebun cokelat, dan permukiman yaitu masing-masing sebanyak empat jenis.  Uji chi-square untuk jumlah jenis dan jumlah individu berbeda signifikan antar tipe habitat.  Nilai H’ untuk seluruh lokasi yaitu sebesar 1,72 dan nilai E sebesar 0,61.  Nilai IS berkisar antara 0,27-1,00.  Tiga tipe habitat yaitu habitat kebun talun, hutan sengon, dan lapangan memiliki nilai IS=1,00.  Nilai IS yang digambarkan dengan dendogram, menunjukkan dua kelompok komunitas capung, yaitu komunitas capung habitat akuatik dan komunitas capung habitat terestrial.
Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan Tradisional Ayam Ubek di Kecamatan Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat Putri Keiko Ayudia Rizky Rahmadilla; Maisya Sabillah; Frida Chairani; Adel Davesky Kayabi; Insan Kurnia
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 26 No. 1 (2024): Juni (2024)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v26i1.9561

Abstract

Pengobatan ayam ubek adalah warisan budaya asli Minangkabau yang berhubungan dengan praktik pengobatan tradisional.  Pengobatan ini menggunakan ayam sebagai alat diagnosa dan dilanjutkan dengan penggunaan obat herbal.  Saat ini hanya sedikit yang tersisa diantaranya terdapat di Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar.  Persepsi masyarakat menjadi penting dalam bagian upaya melestarikan pengobatan ini.  Penelitian dilakukan pada Bulan Januari 2024 dengan wawancara terhadap 60 masyarakat mennggunakan wawancara tertututp (close ended) terhadap tujuh indikator dengan skala likert 1-4.  Nilai persepsi tertinggi masyarakat untuk setiap aspek yaitu ilmu yang diturunkan secara turun temurun bukan merupakan pengobatan modern (aspek keaslian), memiliki biaya yang terjangkau sesuai kondisi ekonomi masyarakat (aspek kemudahan), efektif menggunakan ayam kampung (aspek efektivitas), penggunaan doa khas yang dipanjatkan kepada Allah SWT (aspek keunikan), tanpa adanya penggunaan bahan kimia obat (aspek keamanan), tujuan doa adalah Allah SWT (aspek kepercayaan),dan dapat dilakukan berulang kali baik untuk sakit yang sama jika belum sembuh ataupun pada kasus penyakit lain (aspek fleksibilitas).
Co-Authors Adel Davesky Kayabi Aida Zuleika Khurotul Aeni Alan Wasahlan Alda Rizkia Nikmatila Ani Mardiastuti Anjar Malik Hidayat Armanda, Dievo Al Qodri Arraniri, Fahma Faradisa Assaf, Bilal Maulana Azkia, Pathiyatul Azzahra, Rizky Nur Andhini Bagas Aldiantara Mulawi Bakhtiar Rifai Budi Prasetyo Dea Amanda Dhava, Rafif Aulia Diandra Fauzia Lestari Dwi W Idaman Dwi Yandhi Dyah Prabandari Eliza Nur'Aini Elllysa, Siti Eltriadi, Piero Nandata Ervina Asti Ningrum Fajari, Miftah Falahudin Fajri, Muhammad Nur Febriyanti, Eka Nur Ferdian, Muhammad Habyeb Firdaus, Muhammad Firdaus Frida Chairani Gilang F Ramdhan Grace S Saragih Hadi Guna Erwahyudi Harnios Arief Helianthi Dewi Hendrio Fadly Hermawan, Rachmad Ibnusivva, Caesar Adhitya Indah Ayu Kusuma Jelika Restiana Suherman Jihad, Nidaul Kania Sofiantina Rahayu Kardina, Jessi Raisa Komarudin Komarudin Lantang, Muhammad Ammar Gema Lawana, Dewa Dzullfadhil Liani, Hikmah Rachma M Sabta Nugraha Maisya Sabillah Monica Ramadyan Affandi Muhammad Nur Fajri Munajat, Chery Pixy Redaniar Muzoffar, Ferdi Napitupulu, Boni Fargas Nathaniel, Bernado Raphael Novita Rahmawati Nurfadhilah, Nyimas Aisyah Occy Bonanza Pathiyatul Azkia Prabandari, Dyah Prayogo, Erik Putri Adira Paramita Putri Keiko Ayudia Rizky Rahmadilla Putri, Ardaneswara Qohhar, Jamal Abdul Rahadian Bimo Wicaksono Raja Rhamdany Harahap Ramdhani, Rafy Rijal, Maulki Fahru Rika S Dewi Rosalia, Melva Ruri Risnawati Satriawan, Muhammad Husein Sofyan, Michael Ghibran Putra Syahrahmani, Aluna Thoha Bastian Khatami Tyas D Djuanda Udi Kusdinar Untari, Rini Wawan G Gunawani Wicaksono, Rahadian Bimo Widodo, Gatot Wulandari Dwi Utari Yudiarti, Yun Yun Yudiarti