Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Cultural Lexicon of the Tayuban Tradition in Ngoreyan Hamlet, Ngandong Village, Gantiwarno District, Klaten Regency, Boxing: Ethnolinguistic Studies Dwi Larasati; Hendrokumoro Hendrokumoro
Interdisciplinary Social Studies Vol. 5 No. 1 (2025): Regular Issue: October-December 2025
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/iss.v4i4.958

Abstract

This research aims to identify and describe the cultural lexicon and cultural meaning contained in the tayuban tradition that takes place in Ngoreyan Hamlet, Ngandong Village, Gantiwarno District, Klaten Regency. This study uses a descriptive method with a qualitative approach. The data in this study is in the form of vocabulary related to the elements of the tayuban tradition, including equipment, actors, and procedures or implementation processes. Data was obtained through observation, interview, recording, and recording techniques of informants who were directly involved in the implementation of the tradition. Furthermore, the data were analyzed using an interactive qualitative analysis model from Miles and Huberman. The results of this study show that there is a distinctive cultural lexicon in the tayuban tradition that reflects the names of equipment, actors, and procedures for its implementation, which contain cultural values and local wisdom of the local community.
Referential Semantics of Coastal Toponyms: A Case Study Central Java Zulfa, Ilma; Hendrokumoro, Hendrokumoro
Journal of Language and Literature Studies Vol. 5 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/z9xrhk88

Abstract

Toponymy is a branch of linguistics that examines the interrelationship between language, culture, and environment through place naming. In coastal regions, place names often reflect geographical features, natural elements, and community perceptions of their surroundings. This study aims to uncover the referential meanings embedded in coastal toponyms by employing a referential semantics approach. The analysis interprets the relationship between the linguistic form of each toponym and its real-world referent, while classifying naming motivations using the Australian National Placenames Survey (ANPS) typology. The findings reveal that referential meanings predominantly represent denotative and ecological relations, indicating that coastal toponyms are grounded in physical and environmental features. This is evident from the dominance of the Descriptive category (50.0%), followed by the Associative (20.5%) and Evaluative (15.9%) categories. These categories reflect not only geographical and ecological characteristics but also cultural associations and value-laden expressions embedded in naming practices. Beyond its theoretical contribution, this study offers practical implications for cultural heritage preservation. The analysis of semantic motivations behind place naming can serve as a linguistic foundation for documenting traditional toponyms, supporting local government efforts to standardize and preserve place names, and strengthening intangible cultural heritage initiatives in coastal communities. The findings also highlight the need to safeguard environmentally based toponyms that encode ecological knowledge, particularly in areas undergoing environmental change and urban development.
Pola Penamaan Nama Desa Berunsur Air di Kabupaten Demak Ilma Zulfa; Hendrokumoro, Hendrokumoro
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.8068

Abstract

Bahasa merupakan refleksi dari kenyataan sosial yang merepresentasikan hubungan manusia dengan lingkungan alam dan sosial-budayanya. Penamaan unsur geografis, termasuk nama desa, tidak terlepas dari pengalaman ekologis dan historis masyarakat penuturnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pola penamaan nama desa yang berunsur air di Kabupaten Demak. Data penelitian diperoleh dari laman Badan Pusat Statistik Kabupaten Demak, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Demak, Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, pemerintah desa di Kabupaten Demak, serta wawancara dengan narasumber yang memahami sejarah dan kondisi wilayah setempat. Data dianalisis menggunakan teori linguistik ekologis Haugen (1972) untuk melihat keterkaitan bahasa dengan lingkungan, serta teori variasi bahasa Holmes (1992) untuk mengidentifikasi variasi bentuk dan penggunaan bahasa dalam penamaan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penamaan desa berunsur air di Kabupaten Demak mencerminkan kondisi ekologis wilayah pesisir dan perairan, serta pengalaman sosial masyarakatnya. Secara struktural, penamaan tersebut didominasi oleh pola pemajemukan nomina + adjektiva (N + Adj) sebagai bentuk yang paling umum digunakan. Selain itu, ditemukan variasi leksikal sebagai penanda unsur air, seperti banyu, kali, tlogo, tambak, kedung, dan karang, yang masing-masing merepresentasikan karakteristik geografis, fungsi lingkungan, dan nilai budaya lokal.   Penelitian ini berkontribusi pada kajian linguistik ekologis dan toponimi dengan mengungkap pola pemajemukan dan variasi leksikal penanda unsur air dalam nama desa di Kabupaten Demak, yang merefleksikan relasi antara struktur kebahasaan, kondisi ekologis pesisir, dan pengalaman sosial masyarakat setempat.
Tipe dan Pola Reduplikasi Bahasa Rote Boik, Susi Yanti; Hendrokumoro, Hendrokumoro
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 5.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to identify the types and patterns of reduplication in the Rote language. The methods used to collect data are the introspection method and the listening and note-taking method. The data sources of this study consist of oral data sources and written data sources. The collected data are analyzed using the distribution method and the direct element technique, then presented formally and informally, namely by using ordinary words and by using signs or symbols. The results of the study show that the types of reduplication of BR reduplication consist of the type of reduplication based on form, the type of reduplication based on foci, the type of reduplication based on directional elements, and the type of reduplication based on word classes. The type of reduplication of BR based on form is divided into two, namely full reduplication and partial reduplication. Full reduplication consists of full reduplication itself which occurs in all word classes, full reduplication with phoneme changes, namely vowel phonemes, and full reduplication with the addition of affixes. Meanwhile, partial reduplication is only found in verbs and adjectives. In addition, there are two types of reduplication based on foci: initial reduplication and final reduplication. Other types of BR reduplication include those based on direction, namely leftward reduplication and rightward reduplication, and those based on word class. This type of reduplication is seen in verbs, nouns, adjectives, adverbs, numerals, and interrogatives. There are also BR reduplication patterns: full reduplication, full reduplication with affixes, full reduplication with vowel or consonant changes, or both, prefix-syllable reduplication/leftward reduplication, suffix-syllable reduplication/rightward reduplication, CV-form reduplication, CV-form reduplication with affixes, CV-form reduplication, and KKKV-form reduplication.
Kajian Sosiolinguistik terhadap Interferensi Bahasa Jawa ke dalam Bahasa Indonesia di Podium Nasional: Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo Yona Tirta Sari; Hendrokumoro Hendrokumoro
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 2 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Tiga (3) Negara: Indonesia, Taiwan dan Jor
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/vx5gsq88

Abstract

Indonesia memiliki banyak bahasa. Menurut data yang tercatat di Ethnologue saat ini terdapat 713 bahasa di Indonesia yang satu di antaranya yaitu bahasa Jawa (Eberhard, Simons, & Fennig, 2023). Penggunaan bahasa Jawa di Yogyakarta sangat lestari. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan data yang tercatat di Badan Pusat Statistik yang menunjukkan bahwa persentase penduduk usia10 tahun ke atas yang menggunakan bahasa daerah di DIY yaitu 91.44% (Badan Pusat Statistik, 2024). Sementara itu, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 pasal 28  menyebutkan bahwa bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri (Pemerintah Republik Indonesia, 2009). Dalam pidato kenegaraan, presiden wajib menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar agar tidak terjadi interferensi. Interferensi terjadi karena pengaruh besar bahasa ibu sehingga dalam berujar terucap kode-kode dari bahasa ibunya (Rahardi, 2010). Namun demikian, dalam praktinya, penutur bahasa tidak selalu terlepas dari kemungkinan terjadinya interferensi, sehingga menarik untuk dikaji keberadaan interferensi dalam video pidato perdana Presiden Prabowo untuk mengidentifikasi jenis interferensi serta faktor sosial yang memengaruhi terjadinya interferensi dalam pidato Presiden Prabowo tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiolinguistik. Peneliti mengumpulkan data dengan teknik simak, catat, dan studi pustaka lalu menganalisisnya menggunakan teknik agih BUL (Sudaryanto, 2015). Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk-bentuk interferensi serta mengklasifikasikannya berdasarkan jenis-jenis interferensi (Chaer & Agustina, 2004), lalu dijelaskan menggunakan teori internal bunyi (Anttila, 1989). Pada bab dua, analisis dilakukan dengan menemukan faktor sosial yang memengaruhi terjadinya interferensi menggunakan teori dimensi sosial (Holmes, 2013). Berdasarkan penelitian yang dilakukan, ditemukan interferensi fonologis, morfologis, dan morfofonologis bahasa Jawa ke dalam bahasa Indonesia pada pidato perdana Presiden Prabowo. Faktor sosial yang memengaruhi interferensi tersebut dapat terjadi yaitu skala jarak sosial, skala status sosial, dan skala fungsionalitas.