Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERBEDAAN LAMA PENURUNAN NILAI PT DAN APTT PADA PASIEN STROKE ISKEMIK YANG DIBERIKAN CLOPIDOGREL DI RUMAH SAKIT FATMAWATI TAHUN 2023 Setiadi, Feri; Luthfianti Asna, Novi; Niken Oktovina, Magdalena; Irawati, Maysam
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 9 No 2 (2024): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v9i2.415

Abstract

Stroke iskemik merupakan kondisi di mana terjadi gangguan atau kerusakan pada jaringan otak akibat terhambatnya aliran darah menuju otak, yang mengakibatkan sel-sel saraf dan sel-sel lainnya mengalami gangguan karena kekurangan pasokan oksigen yang dibawa oleh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan lama penurunan nilai PT dan APTT pada pasien stroke iskemik yang diberikan clopidogrel di Rumah Sakit Fatmawati tahun 2023. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan survei. Jenis penelitian menurut tingkat eksplanasi pada penelitian ini adalah penelitian komparatif dengan menggunakan waktu penelitian cross sectional, yaitu melakukan observasi terhadap data pasien dengan melihat catatan rekam medis pasien. Pengambilan data yang digunakan adalah retrospektif yang dianalisis dengan cara analisis univariat deskriptif melihat demografi pasien (usia, jenis kelamin), penyakit penyerta, penggunaan jenis obat lain selain clopidogrel pada pasien stroke iskemik, serta analisis bivariat melihat perbedaan lama penurunan nilai PT dan APTT sebelum dan sesudah penggunaan clopidogrel pada pasien stroke iskemik dengan mengevaluatif dari data rekam medis pasien menggunakan statistik Wilcoxon. Sampel yang digunakan adalah pasien rawat inap dengan diagnosa stroke iskemik di Rumah Sakit Fatmawati menggunakan total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah terbanyak pasien berjenis kelamin laki-laki sebanyak 32 pasien (62,7%). Stroke iskemik paling banyak terjadi di usia > 60 tahun sebanyak 32 pasien (62,7%). Penyakit penyerta terbanyak pada pasien hipertensi sebanyak 13 pasien (25,5%). Penggunaan golongan obat terbanyak antihipertensi sebanyak 82 obat dengan jenis obat amlodipine sebanyak 24 (12,4%). Berdasarkan hasil uji Wilcoxon didapatkan nilai P value > 0,05 pada nilai PT dan APTT kelompok hari I, II, dan III yang menunjukkan tidak ada perbedaan lama penurunan nilai PT dan APTT pada pasien stroke iskemik yang diberikan clopidogrel di Rumah Sakit Fatmawati tahun 2023.
STUDI KASUS EFEK SAMPING DIABETES MELITUS, HIPERTENSI, DAN INFEKSI PADA PASIEN SYSTEMIC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE) DENGAN PENEKAN IMUN METILPRENISOLON Wan Yik Sin, Cindy; Magdalena Niken Oktovina; Imam Adi Wicaksono
Jurnal Farmasi Klinik Best Practice Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Farmasi Klinis Best Practice Volume 4 No. 1 Juni 2025
Publisher : RSUP Fatmawati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58815/jfklin.v4i1.60

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kompleks yang menyerang berbagai sistem tubuh. Penyakit ini ditandai dengan pembentukan autoantibodi patogenik terhadap asam nukleat dan protein pengikatnya akibat adanya intoleransi terhadap komponen tubuh. Pasien SLE membutuhkan penekan imun untuk mengurangi inflamasi akibat autoantibodi tersebut serta digunakan berkepanjangan untuk mencegah perburukan kondisi dan mengurangi resiko kekambuhan. Salah satu obat penekan imun yang menjadi tatalaksana penyakit SLE ialah kortikosteroid seperti metilprednisolon (MP). Sayangnya, walaupun terdapat penggunaan regimen obat MP, namun penggunaan MP jangka panjang dapat meningkatkan resiko munculnya berbagai Efek Samping Obat (ESO). Efek samping MP yang dialami salah satu pasien di Rumah Sakit (RS) Fatmawati meliputi diabetes, hipertensi, dan infeksi. Dari hasil studi kasus tersebut, mekanisme ESO yang terjadi meliputi efek mineralokortikoid dan juga glukokortikoid dari kortikosteroid. Kerusakan organ dan perubahan fisiologi tubuh merupakan mekanisme utama dari efek tersebut. Upaya meminimalisasi ESO pada penggunaan MP jangka panjang meliputi penggunaan dosis minimal yang efektif, prinsip tappering off, dan penggunaan steroid-sparing-agent perlu diupayakan untuk meminimalisasi efek samping tersebut.
Analisis efektivitas terapi dan biaya penggunaan kelasi besi pada pasien thalassemia anak Triwardiani, Rika; Rusdi, Numlil Khaira; Syaripuddin, Muhamad; Oktovina, Magdalena Niken
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1707

Abstract

Background: Thalassemia is a genetic disease that requires regular blood transfusions, which can lead to iron accumulation in the body. This accumulation can be managed with iron chelation therapy, such as deferiprone and deferasirox. Purpose: To analyze the effectiveness of iron chelation therapy and the cost of iron chelation in pediatric thalassemia patients. Method: This study was conducted retrospectively using medical records of pediatric thalassemia patients who underwent iron chelation therapy at Fatmawati Hospital between June and August 2024. Results: Deferasirox was more effective than deferiprone in reducing serum ferritin levels. In terms of cost, deferiprone was more economical than deferasirox, thus providing economic benefits to patients. Conclusion: Deferasirox can be the primary choice of iron chelation therapy in pediatric thalassemia patients, considering clinical effectiveness and cost-efficiency.   Keywords: Cost of Iron Chelation; Pediatric Thalassemia Patients; Therapy.   Pendahuluan: Thalassemia merupakan salah satu penyakit genetik yang memerlukan transfusi darah rutin, sehingga dapat menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh. Penumpukan ini dapat diatasi dengan terapi kelasi besi, seperti deferiprone dan deferasirox. Tujuan: Untuk menganalisis efektivitas terapi dan biaya penggunaan kelasi besi pada pasien thalassemia anak. Metode: Studi dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien thalassemia anak yang menjalani terapi kelasi besi di Rumah Sakit Fatmawati pada periode Juni–Agustus 2024. Hasil: Deferasirox lebih efektif dibandingkan deferiprone dalam menurunkan kadar ferritin serum. Dari sisi biaya, deferiprone lebih ekonomis dibandingkan deferasirox, sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi pasien. Simpulan: Deferasirox dapat menjadi pilihan utama terapi kelasi besi pada pasien thalassemia anak dengan mempertimbangkan efektivitas klinis dan efisiensi biaya.   Kata Kunci: Biaya Penggunaan Kelasi Besi; Pasien Thalassemia Anak; Terapi.
TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP PASIEN DIABETES MELLITUS PADA PENGGUNAAN VCO DI PUSKESMAS RAWA MEKAR JAYA Fahriati, Andriyani Rahmah; Rubiana, Amalia Cinta; Oktovina, Magdalena Niken; Hartono, Irwan; Aulia, Gina; Saputri, Dea Maulidi; Fu'adah, Intan Tsamrotul
PHRASE (Pharmaceutical Science) Journal Vol 5, No 2 (2025): Pharmaceutical Science Journal Vol 5 No 2, 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52031/phrase.v5i2.1177

Abstract

Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by hyperglycemia accompanied by abnormal carbohydrate, fat, and protein metabolism. Diabetic foot ulcers are a common complication of diabetes. Diabetic wound care is not solely handled with antibiotics; wound care is mandatory. In diabetic wound care practices, the use of VCO (Virgin Coconut Oil) is often chosen because it maintains wound moisture and is more economical. Knowledge and attitudes are important factors to analyze in supporting therapy. The purpose of this study was to analyze the level of knowledge and attitudes of diabetes mellitus patients regarding the use of VCO at the Rawa Mekar Jaya Community Health Center. This study used a prospective observational research method. Patient samples were selected using a non-random sampling technique (purposive sampling) and must meet the inclusion criteria. The sample consisted of 121 DM patients. The results showed that 78 respondents had good knowledge, of which 62 respondents (51.2%) had a good attitude towards the use of VCO, and 16 respondents (13.2%) showed a poor attitude. Meanwhile, there were 43 respondents with less knowledge, of which 16 respondents (13.2%) had a good attitude and 27 respondents (22.3%) had a less than good attitude. It is known that respondents who have good knowledge, their attitudes towards the use of VCO also increase, as indicated by the results of the bivariate analysis, where the p-value is 0.000 (p 0.05) so it is concluded that there is a relationship between the level of knowledge and the attitudes of diabetes patients on the use of VCO about their treatment.